Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Jonathan Arnold : Dari ‘Belenggu Salib’ Menuju ‘Keteduhan Islam’

Kisah berikut ini adalah kisah seorang mualaf dari kota Malang mantan Pendeta Militan pelaku Pemurtadan yang banyak mengandung pelajaran berharga dan bahan renungan bagi kita bersama, berikut penuturannya.

Saya dilahirkan 14 Juli 1943 di kota Malang Jawa Timur, hari Minggu pukul 09.00 WIB saat lagu kidung suci dikumandangkan di Gereja. Ayah saya seorang militer AD yang ditokohkan dan disegani oleh warga Kristiani (Protestan). Hidup dalam kedisiplinan yang tinggi adalah ciri keluarga kami. Sebagai seorang anggota militer, ayah saya telah menerapkan kedisiplinan yang tinggi dalam kehidupan kami dan sebagai seorang Kristiani yang ditokohkan, maka ayah saya termasuk yang sangat tidak bersahabat dengan umat Islam. Saya masih ingat betapa hebatnya orang tua menanamkan kebencian-kebencian dalam hati saya terhadap Islam. Menurut penuturan ibu, hal itu bermula dari tingkah laku oknum-oknum orang Islam yang banyak membikin sakit hati ayah. Itulah sebabnya saya dilarang bergaul dengan mereka dan selalu diawasi dengan ketat.
Pada usia tiga bulan saya di babtis di gereja GPI Malang dengan nama Jonathan Arnold. Tiga tahun kemudian saya mulai sekolah di sekolah Minggu ( Zondaag School ) di gereja, sampai kemudian melanjutkan ke SMP dan SLTA Kristen.

1. Menjadi Pengkabar Injil
Kelebihan-kelebihan saya dalam sastra, kelancaran lidah saya dalam menyampaikan nas-nas suci BIBLE, ditunjang dengan keberanian dan penampilan saya yang meyakinkan, maka beberapa sesepuh Gereja menyatakan bahwa saya cocok sekali untuk menjadi pengkabar Injil. Inilah alasan ayah saya mengirim saya ke sekolah Theologia di kota Batu Malang. Nilai akhir yang gemilang dan suksesnya theater yang saya tangani, para pendeta dan tokoh gereja mendesak orang tua saya agar mau mengirimkan saya ke Universitas Leiden-Belanda. Perjalanan ke negeri Kincir Angin saya lewati dengan mulus, saya memilih jurusan Pekabaran Injil dan Filosofia, prinsip mata kuliahnya tidak jauh berbeda dengan yang saya terima di STI Batu Malang.
Setelah lulus dari Belanda, saya diangkat menjadi pendeta di kabupaten Lumajang pada akhir tahun 1967, saya langsung membentuk misi pekabaran yang sering dikenal dengan istilah kristenisasi, apa yang saya lakukan ini bukanlah hal yang baru. Hal ini telah dilakukan sejak zaman Belanda.

2. Perjalanan hidupku sebagai penginjil
Saya susun personil-personil yang cukup terlatih, terampil dan mau bekerja untuk Tuhan, ramah tamah, murah senyum dan tak kalah pentingnya bekal yang harus dimiliki anggota misi adalah sabar dan tahan pukul. Karena tugas mereka memang sangat berat. Mereka harus berani menyampaikan berita dari Allah dengan ‘door to door system’, Semua harus dilaksanakan dengan iklash, bersih hati dan senang. Karena Tuhan Yesus ( padahal Yudas-lah yang memanggul salib) telah rela memanggul salib sengsaranya yang cukup jauh. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk berberat hati.

3. Mencari kelemahan orang Islam
Sebelum operasi benar-benar mulai, saya tebarkan anggota misi untuk meneliti dari dekat kehidupan orang-orang muslim. Ternyata ada 3 kelemahan :
Pertama, Banyak orang Islam yang ikut-ikutan, Islamnya hanya Islam KTP dan tidak paham tentang Islam.
Kedua, seringkali terjadi perpecahan antar umat Islam.
Ketiga, banyak umat Islam yang serakah, tamak, bakhil tidak mau menolong fakir miskin dan yatim piatu. Dengan tiga faktor ini saya mulai misi, darah militer orang tua rupanya mengalir dalam tubuh saya, seperti seorang jendral mengatur pasukan tempur, saya sebar anggota saya ke daerah-daerah terpencil, berpendidikan rendah dan berekonomi rendah.

4. Strategi memurtadkan orang Islam
Saya menyebut misi ini dengan sebutan ‘Operasi Simpati’, yaitu agar memperoleh simpati orang-orang Islam dengan jalan menolong fakir miskin. Dana yang kami peroleh cukup besar, karena di samping bersumber dari jemaat sendiri juga dari luar negeri seperti : Belanda, Amerika dan Australia. Saya juga berpesan kepada anggota misi agar segala sesuatunya tidak berkesan menarik orang masuk Kristen. Yang kesulitan biaya untuk sekolah diberi bea siswa, yang sakit diberi obat-obatan, yang susah dihibur, yang lapar diberi makan, yang lemah ekonomi diberi modal, bahkan yang keluarganya matipun ditolong dalam biaya dan pelaksanaan pemakaman, maka operasi simpati ini tampak dari luar sebagai operasi kemanusiaan, sehingga orang Islam banyak yang tertarik masuk Kristen tanpa dipaksa.
Hasilnya sangat mengagumkan, dalam waktu singkat dapat memurtadkan hampir 1000 orang. Namun saya belum puas dengan hasil ini, saya meragukan kemurtadan mereka, apakah karena ekonomi atau benar-benar ikhlas masuk Kristen. Maka saya bikin formula baru yaitu saya kembangkan pergaulan bebas muda-mudi ala barat, saya kenalkan valentine day, pakaian dan kesenian barat, kebudayaan hingga olahraga dan kegiatan-kegiatan lainnya yang mencuri waktu sholat hingga banyak anak-anak tidak sholat dan mengaji, padahal, hal tersebut sebelumnya telah menjadi budaya umat Islam.

5. Usaha saya melemahkan pondok pesantren
Penyusunan sistem, metode, personil untuk pelayanan pekerjaan Tuhan juga telah saya persiapkan sangat matang, bahkan gerejapun sudah saya dirikan lengkap dengan sekedul kegiatannya. Dalam perjalanan pengkabaran Injil ke daerah Jember saya rencanakan hendak melemahkan pondok-pondok pesantren, terutama pondok pesantren Kyai Haji Ahmad Shiddiq. Di sinilah saya bertemu dengan gadis berkerudung putih, pertemuan yang kemudian membuahkan pernikahan antara pendeta dan gadis muslimah. Saya dapat menikahinya karena berpura-pura telah masuk Islam dengan surat palsu yang saya bikin di penghulu Jatiroto.
Rumah tangga berjalan aman hanya beberapa hari saja. Sebab masing-masing punya akidah yang tidak bisa dipertemukan, kebencian saya terhadap Islam makin lama semakin tidak bisa ditutup-tutupi, terjadilah pertengkaran demi pertengkaran dan setiap kali saya marah, istri saya tidak pernah melawan, yang dilakukannya yaitu langsung shalat dan baca Al-Qur’an. Dari sinilah timbul keinginan saya yang makin lama makin keras untuk mengetahui kandungan Al-Qur’an, maka saya pinjam AL-Qur’an yang ada terjemahannya terbitan dari DEPAG.

6. Hatiku mulai mendapat petunjuk
Terus terang saya belum pernah membaca Al-Qur’an, kalau membuang hampir tiap hari, pada suatu malam terjadilah sesuatu yang aneh, saat semua orang tidur nyenyak, sepi dan hening. Al-Qur’an saya buka dan seluruh tubuh saya seolah gemetar semua, ketika saya buka persis pada halaman yang ditandai benang pembatas yaitu surat Ar-Rahman, saya terpana dengan keindahan bahasa Al-Qur’an yang di ulang-ulang walau kalimatnya sederhana ‘Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan”.
Lembar demi lembar saya buka, dan sampailah pada ‘surat Maryam’, Maryam ibunya Yesus dikisahkan dalam Al-Qur’an lebih terhormat, suci, luhur dan mulia dari pada kisah Maryam dalam Alkitab.
Begitu juga dengan sifat Tuhan dalam Al-Qur’an, Tuhan itu Esa adanya, ini berarti tidak boleh ada alternatif lain selain Allah SWT. Berbeda dengan Alkitab yang menyatakan Tuhan itu tiga yang amat tidak logis, apalagi doktrin Tuhan trinitas tersebut baru ada 325 tahun setelah Yesus diangkat kelangit. Al-Qur’an mengisahkan Allah itu kekal, yang membedakan antara makhluk dengan Tuhan, tetapi dalam Alkitab dikisahkan Tuhan telah mati di salib dan Tuhan dikisahkan kalah berkelahi dengan Ya’kub. Masih banyak hal-hal logis yang tidak saya jumpai dalam Alkitab yang membuat imanku mulai goyah.
Hari masih pagi ketika itu, langit tampak cerah dan matahari begitu hangatnya, semalaman saya tidak dapat tidur dengan pikiran yang kalut. Kemarin saya bertengkar dengan istriku, seperti biasa karena keyakinan yang berbeda. Pagi itu istriku minta dipulangkan ke rumah orang tuanya, karena tidak kuat menahan perasaan karena suami selalu memojokkan bahkan menghina keyakinan.
“Maaf Mas, saya mau nikah sama Mas karena kehendak orang tua. Di Islam hukumnya anak harus nurut sama orang tua. Saya sudah taat, tetapi rupanya saya mau diKristenkan, maaf Mas, bagi saya lebih baik kehilangan Mas dari pada harus kehilangan Iman-Islam. Besok setelah sholat subuh antarkan saya kembali ke orang tua.”
Besok harinya, tiba-tiba istri saya sudah siap untuk minta dipulangkan ke orang tuanya. “Kamu harus tetap tinggal di rumah ini bersama saya”, kata-kataku memulai dan dia menatapku dengan tajam. “Sampai perasaanku hancur, sampai imanku hancur...?”, tanyanya. “Tidak...!!!, aku tidak akan berbuat sekasar itu lagi terhadapmu, aku berjanji didepan Tuhan, kau bebas dengan agamamu, bahkan kau bebas membaca kitab sucimu. Tadi malam kitab itu telah aku baca, isinya luar biasa dan benar mutlak. Tapi maaf, aku masih belum yakin, bahwa Islam agama yang benar, aku akan menyelidiki” jawabku menjelaskan pada istriku. “Kalau Islam yang benar Mas ?” tanya istriku. “Kalau Islam yang benar maka aku akan masuk Islam, tetapi kalau ternyata Islam yang salah atau keliru, maka kamu harus masuk gereja” jawab saya menantang.

7. Iman saya mulai goyah dan tertarik dengan agama Islam
Saya mulai membeli buku-buku Islam, minta bantuan ke kedutaan-kedutaan Islam, bagian penerangan Kerajaan Islam Saudi Arabia. Saya datang ke pondok-pondok pesantren mulai dari Banyuwangi sampai ke Kediri. Tidak ada waktu yang berlalu kecuali saya isi dengan belajar perbandingan agama, saya bertekad mencari kebenaran. Saya tidak ingin membohongi hati nurani.
Banyak sekali kebenaran hakiki yang saya jumpai dalam Al-Qur’an, semakin lama semakin nampak kejanggalan-kejanggalan dalam Alkitab. Dalam Alkitab banyak sekali pertentangan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya, banyak juga berkisah tentang pornografi dan mensifati Tuhan dengan sifat yang mustahil, belum lagi Alkitab tidak ditulis dalam bahasa Yesus. Kejanggalan-kejanggalan ini membuat saya semakin bernafsu mencari sampai dimana kekeliruan-kekeliruan Alkitab.

8. Aku resmi keluar dari Gereja Protestan
Pada suatu malam saya bermimpi melihat menara gereja saya yang dikerubuti burung-burung. Langit mendadak terbuka, Para malaikat dan bidadari turun, dan seorang bidadari cantik menyanyikan lagu yang amat merdu, sampai saya terjaga dari tidur, dan masih kedengaran suara bidadari itu. Setelah saya amati, ternyata suara itu adalah suara istri saya yang sedang membaca Al Qur’an. Sejenak kemudian istri saya membangunkan saya “Mas… katanya ingin ketemu Tuhan, mari silakan”. Malam itu saya bangun, di luar hujan deras diselingi petir menyambar-nyambar. Saya bangun dan cuci muka lalu duduk di atas sajadah yang biasa digunakan istri saya sholat. Saya memang sering bangun tengah malam. Kalau istri saya sholat, saya cuma berdo,a saja. Sementara hujan belum reda saya khusu’ berdo.a sampai tidak terasa air mata saya berlinang, saya memohon kepada Tuhan, “Ya Tuhan tolonglah saya, berilah petunjuk kepada saya, kalau memang benar Yesus itu Tuhan, tetapkan hati saya, akan tetapi kalau bukan tolong beri saya petunjuk kepada siapa saya harus menyembah”. Tiba-tiba badan saya menggigil, keringat dingin mengucur amat derasnya, kembali terngiang suara kiai-kiai, ulama-ulama, yang pernah berdialog dengan saya bahkan suara dari buku-buku Islam yang saya pelajari, seolah semua berkata “Islam adalah agama yang benar”.
Lalu secepatnya saya menulis surat kepada Dewan Gereja Jatirto Lumajang dengan tembusan ke Jakarta, saya menyatakan keluar dari gereja protestan, dan ketika membaca surat saya, istri saya terkejut dan berkata, “Terlalu cepat pernyataan ini, sudahkah Mas pikirkan benar?”. Saya jawab, “Bagiku bahkan terlalu lamban, sekian lamanya aku terombang ambing antara kebenaran dan ketidak benaran, aku sudah tak sanggup lagi membohongi diri sendiri”. “Sudah mantap benar Mas?”, tanya istri saya, “Yah, aku mantap bahwa Islam adalah agama yang benar!”. Jawab saya, “Kalau begitu mari saya bimbing membaca syahadat”. Lalu istri saya berwudhu dan sholat dua rakaat. Sementara itu saya melihat lonceng di dinding menunjuk pukul 02.10 WIB dini hari. Usai ia sholat, tangan saya dijabat, katanya, “Mari saya bimbing masuk Islam, disaksikan oleh Allah, seluruh malaikat, Nabi dan Rasul, termasuk junjungan kita Nabi Muhammad saw, coba tirukan : Asyhadu anllaa Ilaaha illallaah, Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”. Istri saya tak kuat menahan air matanya jatuh bercucuran. Dan sejak itu tersiarlah berita dari mulut ke mulut, “Jonathan masuk Islam...”. Majalah dan surat-kabar juga turut meramaikan. Ayahpun akhirnya mengetahui kalau saya masuk Islam dan memanggil saya pulang, ayah menyodorkan majalah ke hadapan saya dan saya menganggukkan berita tentang saya. Ayah marah sekali dan wajahnya nampak merah padam. Ayah saya marah sekali, “Terlalu gila kamu...Biaya ayah habis banyak karena kamu. Ini berarti kamu telah mengkhianati cita-cita orang tua. Sekarang aku perintahkan kamu pulang kembali ke Malang dan kembali ke Gereja !!!”. Saya hanya dapat menundukkan kepala dan tidak berani menatap wajah ayah yang merah padam itu. Saya jawab, “Tidak ayah, saya sudah menyatakan masuk Islam dan saya sudah berjanji mati bersama Islam”. Ayah saya semakin berang dan tiba-tiba menggedor meja, “Terlalu gila...jadi kau sudah benar-benar hendak meninggalkan gereja?”. Saya hanya bisa menganggukkan kepala, langsung ayah saya menyahut tidak senang, “Baiklah kalau kamu sudah tidak bisa diatur lagi, kamu tidak usah mengaku orang tua di sini, keluar!!! Dan jangan menginjakkan kakimu lagi di rumah ini”.

9. Saya diusir dan kerja di pabrik gula
Sejak itu saya diusir dan sayapun meninggalkan rumah . Di Jatiroto, saya ajak istri saya untuk segera meninggalkan rumah dinas Gereja. Tidak ada yang saya bawa dari rumah itu, sebab saya memang merasa semua kekayaan di rumah itu milik gereja. Selanjutnya, saya ditolong oleh orang-orang Islam, ditempatkan di rumah dinas PG Jatiroto yang kebetulan tidak ada yang menempati.
Alhamdulillah, berkat perjuangan tokoh-tokoh Islam akhirnya saya masuk dan menjadi karyawan PG Jatiroto. Saya mulai belajar sholat dan membaca Al-Qur’an, dibawah tuntunan istri saya sendiri.
Satu ketika, disaat lagi asyik-asyiknya belajar sholat, datanglah adik saya yang anggota marinir dua jip lengkap dengan anggota-anggotanya. Agaknya keluarga saya di Malang tetap akan memaksa saya kembali ke Malang dan kembali mengelola gereja. Saat itu dengan tegas saya jawab, ”Maaf, saya sudah memilih Islam dan berjanji mati dengan Islam!”. Agaknya sudah diatur sebelumnya, begitu mendengar jawaban saya, ia langsung membuka sabuk kopelreim dan dipukul-pukulkan di kepala saya dan saya terjatuh ke lantai dengan berlumuran darah. Saya baru sadar kembali setelah di RS Jatiroto.
Kala itu, ulama-ulama dan tokoh-tokoh agama Islam sama berdatangan menjenguk saya di RS Jatiroto. Setelah peristiwa itu, beberapa ulama dan kyai mulai menampilkan saya di masjid-masjid untuk memberikan kesaksian tentang kebenaran ajaran Islam. Atas bimbingan dan dorongan dari mereka itulah saya akhirnya lebih giat lagi mempelajari, memperdalam Al-Qur’an dan Hadits.
Saya mulai dikenal masyarakat Islam secara luas, waktu-waktu saya terisi dengan acara-acara pengajian, dari kampung ke kampung, dari pesantren ke pesantren, dari kota ke kota, Jawa Timur, Bali, Lombok, Sumatera Selatan, Kalimantan dan Alhamdulillah sampai ke Malaysia.
Bapak M. Nasir dengan Dewan Dakwah Islamiyah (DDII) nya mendengar cerita tentang saya dan pada tanggal 29 Agustus sampai dengan 8-9-1991 saya mendapat kehormatan diundang pada kesempatan Silaaturrahmi Jamaah Muhtadien di Cisalopa, Bogor Jawa Barat, dimana pada kesempatan itu dihadiri pula oleh para Pengurus Rabithah Al-Alam Islamy dari Saudi Arabia.

10. Bergabung ke jamaah Muhtadien
Forum silaturrahmi Jamaah Muhtadien ini adalah suatu acara yang diselenggarakan oleh orang-orang yang telah mendapat hidayah dari Allah SWT yang kemudian masuk Islam, mereka terdiri dari bekas orang-orang Kristen, Pendeta maupun Pastur.
Sejak itu, setiap kali diundang pengajian, saya selalu dipanggil dengan “Haji Muhammad Abdillah”, sebenarnya saya merasa sangat malu, karena saya belumlah menunaikan ibadah haji ke tanah suci.
Pada suatu malam, sepulang dari acara pengajian, sebelum berangkat tidur saya menyempatkan diri untuk melaksanakan sholat tahajjud. Pada saat sholat itulah, sengaja saya menangis dihadapan Allah SWT, saya bermunajat, memohon kemurahan Allah SWT agar saya dapat menunaikan ibadah haji.
Setelah sekian puluh kali hal ini saya lakukan, Allah Yang Maha Rahman dan Rahim mendengar munajat saya dan Alhamdulillah pada musim haji tahun 1992, di suatu pagi sekitar tiga hari setelah hari raya Idul Fitri, datang kepada saya sepucuk surat undangan dari Raja Fadh Arab Saudi yang isinya mengundang saya untuk menunaikan ibadah haji.
Allah sungguh Maha Besar, saya seolah dalam mimpi ketika tiba-tiba saya sudah bersujud di Masjidil Haram persis di muka Ka’bah. Kala itu air mata saya tak terbendung lagi, mengalir deras membasahi pipi dan seolah-olah menjeritkan suara hati saya, “Yaa Allah, pada akhirnya telah sampailah perjalanan saya yang sangat meletihkan dari Yerusalem ke Tanah Suci Mekkah, ampuni dan terima taubat hambamu ini dan jadikan hambamu ini termasuk golongan haji yang mabrur…Amien Ya Robbal Alamin..”. (al-islahonline)

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaana-Ka Allaahumma wabihamdi-Ka asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta astaghfiru-Ka waatuubu ilai-Ka.

Wedhus gembel bawa 5 Al-Qur'an

SLEMAN, KOMPAS.com - Keluarga Ponimin terjebak selama empat jam di dalam rumah saat wedhus gembel Gunung Merapi menyerang.
Kepada Tribunnews.com di lokasi pengungsian, tokoh spiritual Kaliadem sekaligus calon juru kunci Gunung Merapi pengganti almarhum Mbah Maridjan ini menceritakan kisahnya.

Suhu saat itu sudah sangat panas, beberapa bagian rumah keluarga Ponimin rusak setelah genteng kaca pecah terkena awan panas.
"Dari genteng yang pecah itu, pasir dan abu panas masuk ke dalam plafon. Akibatnya, sebagian plafon ambrol," kata Lilik, anak Ponimin.
Meski pada saat itu suhu diperkirakan sekitar 600 derajat celsius, tiga dus air mineral tidak menguap, begitu pula pakaian, dan tiga sepeda motor yang diparkir dalam rumah.
Keanehan lain yang terjadi saat itu, kata Lilik, anak Ponimin melihat mendadak muncul kitab suci Al Quran di dalam kamar yang mereka pakai.
"Al Quran tersebut biasa tidak ada di kamar itu. Tiba-tiba saat itu ada di dekat kami. Kalau tak salah jumlahnya lima," katanya meyakinkan.
Tak ingin terus-menerus berada dalam rumah, keluarga Ponimin mencoba meninggalkan tempat itu dengan menggunakan mobil Toyota Avanza silver yang terparkir di garasi.
Namun, baru berjalan beberapa meter dari halaman rumah, mobil tersebut tidak mampu bergerak lagi.
"Ban depan meleleh kena jalanan dipenuhi abu dan pasir panas. Tak lama kemudian, giliran ban belakang ikut meleleh dan meledak," kenang Lilik.
Baru beberapa menit berada dalam mobil, keluarga Poniman tak tahan hawa panas yang menyergap. Tak ada jalan lain, mereka harus meninggalkan mobil dan kembali ke rumah.
Bagaimana caranya? Rupanya, ada saat ada akal. Bantal yang ada dalam mobil dipakai sebagai alas tumpuan kaki agar tidak kepanasan.
Kembali ke kamar semula, keluarga abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu lagi-lagi disergap ketidakpastian. Mereka kemudian memutuskan untuk meninggalkan rumah dengan berjalan kaki.
Sebelumnya, ada seorang relawan, Pandu Nugraha, yang mencoba membantu keluarga Ponimin.
"Relawan itu datang ke rumah kami mengendarai sepeda motor trail. Ia membawa oksigen sesuai permintaan kami. Sepatu boot yang dikenakannya meleleh," ujar Lilik.
Sepada motor ditinggalkan begitu saja di luar rumah sehingga dalam waktu singkat hancur terkena awan panas.
"Relawan tersebut dan seorang tetangga bernama Pak Tris bersama keluarga kami kemudian memutuskan keluar dari rumah dengan berjalan kaki, sekitar pukul 23.00 WIB, Selasa. Ibu terpaksa digendong relawan karena kakinya berdarah," kata Lilik.
Untuk melawan abu dan pasir panas yang menutup jalan, Lilik mengambil sejumlah batalan kursi sofa sebagai alas.
Keluarga Ponimin, Pak Tris, dan relawan berjalan dengan menginjak bantalan sofa secara estafet sejauh sekitar 500 meter.
Selanjutnya mereka berjalan kaki tanpa alas bantal sekitar 1 km menuju kaki Gunung Merapi.
"Bapak hanya mampu jalan kaki sekitar 500 meter karena kakinya terbakar ketika berjalan di atas pasir panas. Beliau berhenti di sebuah tempat parkir," kata Lilik.
Keluarga itu kemudian dapat dievakuasi menggunakan mobil jemputan dan dilarikan ke RS Panti Nugroho di Kecamatan Pakem, Sleman.
Selanjutnya Ponimin yang mengalami luka bakar di kaki dan pantat dirawat di klinik dr Ana Ratih Wardhani, di Kecamatan Ngemplak, Sleman. (Febby Mahendra/Krisna)

Sumber : http://tribunnews.com

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaana-Ka Allaahumma wabihamdi-Ka asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta astaghfiru-Ka waatuubu ilai-Ka.

Bersabar Menghadapi Ujian

Ketahuilah, semua yang terjadi di alam ini telah ada ketetapannya. Tidak ada satu perkara pun yang bergeser dan menyimpang dari apa yang telah ditetapkan Allah SWT. Allah telah menetapkan takdir seluruh makhluk, semenjak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah telah menetapkan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim)

Dalam kaitan ini, maka wajib bagi seluruh manusia untuk beriman kepada takdir Allah, yang baik maupun yang buruk. Allahlah yang telah membagi rezeki, menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji hamba-Nya, menentukan apakah seorang hamba tersebut termasuk yang bahagia atau sengsara ketika di dunia. Allah juga telah menetapkan ajal seseorang, dan memastikan pula tempat tinggalnya di akhirat kelak, surga ataukah neraka. Semua yang terjadi adalah berdasarkan iradah-Nya, kehendak Allah.
Kemudian, sebagaimana yang kita rasakan, manusia hidup di dunia ini tak pernah lepas dari kesusahan, kesengsaraan dan kesedihan. Ini semua merupakan ujian yang selalu datang silih berganti. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah/2: 155).

Hikmah yang bisa diambil dengan adanya berbagai cobaan ini, ialah untuk membedakan antara orang yang benar dan orang yang dusta dalam pengakuannya terhadap keimanan kepada Allah. Allah SWT berfirman :
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al Ankabut /29:2-3).

Dengan adanya cobaan, maka seseorang akan mengetahui tentang dirinya dan hakikat keimanannya. Seseorang tidak bisa mengaku telah benar-benar beriman kepada Allah, sebelum datang ujian kepada dirinya dan ia pun mampu untuk bertahan dengan kesabaran.
Ibnul Jauzi berkata, “Barangsiapa yang menginginkan selalu mendapatkan kekekalan dan kesejahteraan tanpa merasakan cobaan, maka dia belum memahami hakikat hidup dan penghambaan diri kepada Allah.”

Begitu pula dengan seorang mukmin. Dia pun mendapatkan ujian, dan tidak lain kecuali sebagai tarbiyah, bukan sebagai siksa. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ujian, baik dalam keadaan suka maupun duka.
“Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al A’raf /7: 168).

Sesuatu yang kita benci terkadang membawa kebaikan, dan sesuatu yang kita sukai terkadang berujung dengan kesengsaraan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan kita dalam firman-Nya :
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.” (QS. Al Baqarah/2: 216)

Setelah memahami, bahwa dunia ini penuh ujian, maka marilah kita mempersiapkan diri sebelum cobaan itu benar-benar datang. Yaitu dengan mempertebal keimanan kepada Allah. Sehingga saat menghadapi cobaan, kita tidak berkeluh-kesah, dan semua akan terasa ringan. Kita harus yakin, ujian atau musibah itu pasti ada akhirnya. Jangan sampai musibah tersebut membuat kita menjadi gelap mata, sehingga mulut mengeluarkan perkataan yang dapat membinasakan. Atau jangan sampai perbuatan kita membuat diri menjadi binasa. Ringankanlah setiap beban dengan selalu mengingat pahala dan ridha yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ingatlah orang-orang yang sabar dalam menghadapi musibah, ia dijanjikan oleh Allah dengan pahala yang besar, bahkan akan dilipatgandakan dengan yang lebih besar lagi. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
“Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka,” (QS. Al Qashash/28: 54).

Dengan cobaan ini pun, derajat seseorang akan terangkat. Pahalanya akan ditambah, dan dosa-dosanya akan dihapuskan. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang orang yang paling berat cobaannya. Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“Para nabi, kemudian orang yang terbaik lalu yang baik. Seseorang akan diberi cobaan sesuai dengan (kadar) diennya (agamanya). Jika agamanya kuat, maka cobaan aka berat. Namun bila agamanya lemah, maka dia akan diuji sesuai dengan diennya. Cobaan itu akan senantiasa ada pada diri seseorang mukmin, sehingga dirinya dibiarkan berjalan di muka bumi dengan tidak memiliki dosa.” (HR. at Tirmidzi: 8/417)

Cobaan itu memang berat dan menyesakkan sehingga tidak setiap orang mampu menghadapinya. Lihatlah, bagaimana berat dan sedihnya Nabi Adam as ketika dikeluarkan dari surga untuk menempati dunia. Padahal beliau telah lama tinggal di surga dan sudah merasakan berbagai kenikmatan. Begitu juga Nabi Ibrahim as. Yaitu tatkala beliau dibakar api oleh kaumnya, serta ketika disuruh menyembelih anak semata wayangnya yang paling beliau kasihi. Lihatlah Nabi Ayyub as, ketika mendapat cobaan sakit sampai sekian tahun. Ingatlah ketika Nabi Yunus as, ketika berada dalam perut ikan, ingatlah Nabi Yusuf as, ketika difitnah dan dimasukkan penjara sampai sekian tahun. Begitu pula yang dialami Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam ketika berdakwah di tengah-tengah kaum jahiliyah kafir Quraisy. Maka benarlah sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan bagi dirinya, maka orang tersebut akan diberi cobaan.” (HR. Bukhari).

Jika kita ditimpa cobaan, maka tetaplah bersabar. Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Semua cobaan pasti ada akhirnya, dan pasti ada jalan keluarnya. Putus asa bukanlah sifat seorang mukmin. Kenapa kita harus meratapi satu atau dua cobaan, kemudian melalaikan nikmat-nikmat Allah lainnya yang begitu banyak jumlahnya? Cobalah hitung, berapa banyak nikmat yang telah kita peroleh, sejak kita dilahirkan sampai sekarang ini? Dengan selalu berdo’a, Allah pasti mendengar dan pasti akan mengabulkan permintaan kita, yaitu dengan meringankan atau menghilangkan cobaan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al An’am/ 6:17).

Lihatlah usaha para suri tauladan kita, yaitu para Nabi ketika mereka mendapatkan cobaan dari Allah. Sebagai contoh, yaitu Nabi Ayyub as. Ketika anaknya meninggal dunia satu persatu, dan beliau pun menderita sakit yang sangat parah, beliau tidak putus asa. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisahkannya dalam al Qur’an :
“Ya'qub berkata : "Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. Yusuf / 12:83).

Keadaan dan nasib seseorang suatu saat pasti ada perubahan. Seorang yang berbahagia, ialah orang yang senantiasa mampu menjaga ketakwaannya kepada Allah, meskipun ia didera berbagai musibah. Maka, marilah kita menjaga ketakwaan kepada Allah dalam setiap kondisi. Tidak ada kesempitan, kecuali pasti ada keluasannya. Tidak ada rasa sakit, kecuali pasti ada kesembuhannya. Tidak ada kefaqiran, kecuali ada kekayaan. Dan begitulah seterusnya.
Akhirnya, marilah kita renungkan perkataan Nabi Dawud bin Sulaiman as. Beliau berkata, “Yang menjadi dasar ketakwaan seseorang itu ada tiga : (1) memperbagus tawakkal terhadap apa yang belum didapat, (2) memperbagus ridha dari apa yang telah didapat, dan (3) memperbagus sabar dari apa yang terlewatkan.”

Wallahu a’lam bish-Shawab.
Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka wa-atuubu ilaika.

Menata Pikiran Ketika Sakit

Banyak hal yang tidak kita inginkan tiba-tiba datang menimpa. Hal tersebut sering menyebabkan tertekannya perasaan yang berujung pada penderitaan. Salah satunya adalah penyakit. Ya, saat-saat kita ditimpa sakit. Adalah lazim bila sebagian kita jatuh mengeluh tatkala sakit. Tubuh lunglai, wajah kuyu, dan pudar cahayanya.
Sebenarnya, yang paling berbahaya adalah bila kita tidak bisa me-manage pikiran dengan baik. Biasanya menerawang jauh, realitas yang ada didramatisasi, segalanya dipersulit, hingga makin parah dan menegangkan. Orang yang terkena gejala tumor misalnya, akan menjadi sengsara jika yang menjadi buah pikirannya adalah sesuatu yang lebih mengerikan dari kondisi sebenarnya. Ah, jangan-jangan tumor ganas. Bagaimana kalau merambat ke seluruh tubuh, sehingga harus dioperasi? Lalu, bagaimana kalau operasinya gagal? Belum lagi biayanya yang pasti akan sangat mahal. Bila hal ini terjadi, maka orang tersebut akan jauh lebih menderita daripada kenyataan sebenarnya.
Hal ini terjadi karena kesalahan cara berpikir. Ia belum paham terhadap hikmah dari sakit yang menimpa, sehingga salah dalam menyikapinya. Hasilnya jelas, rugi dunia akhirat. Sikap semacam ini harus kita buang jauh-jauh. Memang benar kita harus sehat. Sebab dengan badan sehatlah gerak hidup kita menjadi lancar. Kalau pun tubuh kita harus sakit, suatu saat nanti, maka hati kita harus tetap berfungsi dengan baik.

Bagaimana menyiasatinya?
Pertama, yakin bahwa hidup akan selalu dipergilirkan. Mungkin sekarang kita sehat, tapi esok hari kita sakit. Ini sebuah keniscayaan. Allah SWT berfirman, “Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS Al-Baqarah [2]: 155).
Kedua, yakin bahwa semua yang terjadi ada dalam genggaman Allah SWT. Difirmankan, “Kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang) dan (mengetahui pula) hari (saat manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS An-Nuur [24]: 64).
Alam semesta berikut isinya benar-benar milik Allah SWT. Dialah yang menciptakan, mengatur dan mengurusnya setiap saat. Sedangkan kita, jangankan membuat, menggambarnya saja tidak mampu. Sekali lagi, semuanya ada dalam genggaman Allah SWT. Dia kuasa melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya, tanpa dapat dicegah, ditolak dan dihalangi. Begitu pula kalau Allah menghendaki kita sakit. Sangat wajar, karena tubuh kita adalah milik Allah SWT. Kenapa kita harus putus asa? Ibarat seseorang menitipkan baju kepada kita. Kalau suatu saat diambil, kurang layak bila kita menahannya.
Ketiga, yakin bahwa Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Dia Maha Tahu akan keadaan tubuh kita. Semua yang ditimpakan kepada kita sudah diukur dengan sangat sempurna dan mustahil "overdosis". Difirmankan, "Allah SWT tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapatkan pahala dari kebaikan yang diusahakannya dan mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya." (QS Al-Baqarah [2]: 286).
Karena itu, sangat tidak tepat bila kita membebani pikiran dengan mendramatisasi masalah apalagi sampai berburuk sangka kepada Allah SWT. Tentu, akan lebih baik bila kita kerahkan segala potensi yang ada untuk meraih hikmah di balik semua kejadian.
Sahabat, bila kita telah memahami hikmahnya, sakit bisa kita nikmati sebagai ujian kesabaran serta sarana pengugur dosa-dosa kita. Bukankah kita selalu merindukan ampunan-Nya? Inilah salah satu bentuk pengabulan do’a kita tersebut.
Rasulullah SAW bersabda, "Ketika seseorang ditimpa penderitaan (sakit), maka Allah mengutus dua Malaikat kepadanya. Dia berfirman,”Dengarkanlah apa kata hamba-Ku ketika ditengok orang-orang”. Jika ia mengucapkan alhamdulillaah, maka Allah berfirman kepada dua Malaikat tersebut, “Sampaikanlah kepadanya, jika Aku mematikannya karena penyakitnya, maka ia pasti masuk syurga. Dan jika Aku sembuhkan, maka pasti daging dan darahnya akan Aku ganti dengan yang lebih baik dari asalnya, serta Aku jadikan penderitaan (penyakitnya) sebagai penebus dosa-dosanya." (HR Al Faqih).
Hikmah lainnya, sakit bisa dijadikan sebagai sarana tafakur. Dengan sakit, kita dapat terhindar dari kemaksiatan yang mungkin akan kita lakukan ketika sehat. Kita menjadi insyaf akan penting dan mahalnya harga kesehatan yang seringkali kita sia-siakan.
Sakit pun bisa menjadi jalan rezeki bagi dokter dan petugas kesehatan, sekaligus menjadi ladang amal bagi mereka bila ikhlas. Sedangkan bagi kita, berobat jadi ladang pahala ikhtiar. Soal sembuh tidaknya, serahkan kepada Allah semata. Pahala ikhtiar akan kita dapatkan sepanjang ikhtiar yang kita lakukan sesuai ketentuan-Nya. Insya Allah

Oleh : Abdullah Gymnastiar

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaana-Ka Allaahumma wabihamdi-Ka asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta astaghfiru-Ka waatuubu ilai-Ka.

Jangan Merasa Paling Suci

Dua orang laki-laki bersaudara bekerja pada sebuah perusahaan dan sama-sama tekun belajar Ilmu Agama Islam. Keduanya juga sama-sama mengamalkan ilmunya dalam kehidupan mereka sehari-hari semaksimal mungkin. Mereka acap kali harus berjalan kaki untuk sampai ke rumah guru ngajinya tempat mereka menimba ilmu agama. Jaraknya sekitar 10 km dari rumah peninggalan orang tua mereka. Suatu ketika sang Kakak berdo’a memohon rejeki kepada Allah swt agar dapat membeli sebuah mobil, supaya dapat dipergunakan untuk sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi mengaji. Allah swt mengabulkannya, tak lama kemudian sebuah mobil dapat dia miliki karena mendapatkan bonus dari perusahaannya bekerja. Lalu sang Kakak berdo’a memohon agar diberi seorang istri yang sempurna, Allah pun mengabulkannya, tak lama kemudian sang Kakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik jelita serta baik akhlaknya.
Kemudian berturut-turut sang Kakak berdo’a memohon kepada Allah swt agar memiliki sebuah rumah tempat tinggal yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan lain-lain. Dengan i’tikad supaya bisa lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah swt. Dan Allah swt selalu mengabulkan semua permintaannya itu.

Sementara itu sang Adik tidak ada perubahan sama sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang dulu dia tempati bersama dengan kakaknya. Namun karena kakaknya sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga dia tidak dapat mengikuti pengajian, maka sang Adik sering kali harus berjalan kaki untuk pergi mengaji menuju rumah guru mereka. Suatu hari sang Kakak merenung dan membandingkan perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya. Dia teringat kalau adiknya selalu membaca tulisan pada selembar kertas saat dia berdo’a, menandakan adiknya tidak pernah hafal bacaan untuk berdo’a. Lalu datanglah ia kepada adiknya untuk menasehati adiknya supaya selalu berdo’a kepada Allah swt dan berupaya untuk membersihkan hatinya, karena dia merasa adiknya masih berhati kotor sehingga do’a-do’anya tidak dikabulkan oleh Allah azza wajalla.
Sang adik terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali mempunyai kakak yang begitu perhatian dan sangat menyayanginya, diapun mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas nasihat itu.

Hingga suatu saat sang Adik meninggal dunia, sang Kakak pun merasa sedih karena sampai meninggalnya sang Adik itu belum ada perubahan sama sekali pada nasibnya sehingga dia merasa yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor hatinya sehubungan do’anya tidak pernah terkabul. Sang Kakak kemudian membereskan rumah peninggalan orang tuanya sesuai dengan amanah adiknya untuk dijadikan sebuah mesjid. Ketika sedang membereskan segala sesuatu, tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh adiknya yang berisi tulisan do’a, diantaranya surah Al-Fatihah, Shalawat, do’a untuk kedua orang tua, untuk guru mereka, do’a keselamatan dan ada kalimat di akhir do’anya : “Ya Allah, tiada sesuatupun yang luput dari pengetahuan-Mu, ampunilah aku dan kakakku, kabulkanlah segala do’a kakakku, bersihkanlah hatiku dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku didunia dan akhirat,”

Sang Kakak tertegun sambil berlinang air mata dan haru biru memenuhi dadanya, tak terduga olehnya ternyata adiknya selama ini tidak pernah sekalipun berdo’a untuk memenuhi nafsu duniawinya. Justru adiknya selalu berdo’a agar semua do’a kakaknya dikabulkan oleh Allah swt, dan agar kakaknya diberi kemuliaan dunia akhirat. Subhaanallaahil ‘adhiim...

Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Kita Bertanya, Al-Qur'an Menjawab

Kita selalu bertanya dan Al-Qur'an sudah menjawabnya.

1. KITA BERTANYA : MENGAPA AKU DIUJI?
AL-QUR’AN MENJAWAB :
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,"Kami telah beriman", sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."
[Surah Al-Ankabut ayat 2-3]

2. KITA BERTANYA : MENGAPA UJIAN SEBERAT INI?
AL-QUR’AN MENJAWAB :
"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya,"
[Surah Al-Baqarah ayat 286]

3. KITA BERTANYA : MENGAPA AKU TAK DAPAT APA YANG AKU IDAM-IDAMKAN?
AL-QUR’AN MENJAWAB :
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
[Surah Al-Baqarah ayat 216]

4. KITA BERTANYA : MENGAPA AKU MERASA FRUSTRASI?
AL-QUR’AN MENJAWAB :
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman."
[Surah Al-Imran ayat 139]

5. KITA BERTANYA : BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA?
AL-QUR’AN MENJAWAB :
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sholat; dan sesungguhnya shalat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyu"
[Surah Al-Baqarah ayat 45]

6. KITA BERTANYA : APA YANG AKU DAPAT DARIPADA SEMUA INI?
AL-QUR’AN MENJAWAB :
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka.
[Surah At-Taubat ayat 111]

7. KITA BERTANYA : KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?
AL-QUR’AN MENJAWAB :
“Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal."
[Surah At-Taubat ayat 129]

8. KITA BERKATA : AKU TAK TAHAN...
AL-QUR’AN MENJAWAB :
"......dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir."
[Surah Yusuf ayat 12]

9. KITA BERTANYA : MENGAPA HATI INI TIDAK TENANG?
AL-QUR’AN MENJAWAB :
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”
[Ar-Ra'd ayat 28]

Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Keajaiban Puasa

Matematika Al-Qur’an
Syahru dalam bahasa Indonesia berarti bulan. Kata syahru disebut 12 kali dalam Al-Qur’an. Ternyata ini adalah rahasia Tuhan, bahwa dalam satu tahun terdapat 12 bulan. Kata ayyam berarti hari-hari. Disebutkan 365 kali di dalam Al-Qur’an. Lagi-lagi ini jumlah hari dalam satu tahun lebih kurang 365. Sedangkan dalam bentuk kata tunggal kata yaum yang berarti hari, disebutkan sebanyak 30 kali di dalam Al-Qur’an. Jumlah kata itu menunjukkan banyaknya hari dalam satu bulan. Subhaanallah...Inilah matematika yang tersingkap dari Al-Qur’an. Al-Qur’an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad pada malam 17 Ramadhan di Gua Hira, di bukit Jabal Nur dengan perantaraan Malaikat Jibril. Al-Qur’an adalah pedoman hidup untuk keselamatan umat manusia di dunia dan di akhirat.

Ramadhan berasal dari sejumlah gugus kata aksara Arab. Secara harfiah berarti pembakaran. “Ramadha” berarti membakar. Secara maknawiah Ramadhan berarti masa pembakaran dosa-dosa dengan menahan lapar dan dahaga serta hal-hal yang membatalkan puasa agar terwujud sifat taqwa. Taqwa berarti kemampuan mengerjakan hal-hal yang diperintahkan Allah serta menjauhi semua larangan-Nya.
Ramadhan berasal dari akar kata Ra, Ma, Dha dan Nun. Ra maksudnya berpuasa karena “Ridhallah”, artinya puasa untuk mencari ridha Allah. Bukan karena manusia. Puasa adalah rahasia antara mukmin dengan Allah. Sebab betapa bisa seorang berbohong dia berpuasa atau tidak dan hanya dirinya serta Allah saja yang tahu. “Puasa itu untuk-Ku,” kata Allah.
Ma maksudnya “Maghfiratullah”, artinya ampunan dari Allah.
Ramadhan adalah bulan perlombaan untuk mencapai derajat taqwa. Karena sebuah perlombaan, maka ada hadiahnya. Hadiahnya adalah taqwa. Sebaik-baik pakaian atau perhiasan adalah taqwa.
Karena Ramadhan bersifat lomba tentu ada yang kalah dan ada yang menang. Yang menang biasanya berjumlah amat sedikit.
Kita tentu tidak mau kalah dalam ibadah puasa. Karena kalau kalah, sama saja dengan lapar dan dahaga yang sia-sia. Kalau hal itu yang terjadi maka kita rugi besar.
Akar kata terakhir dari Ramadhan adalah nun. Nun menyiratkan “Nikmatullah, artinya nikmat dari Allah. Bagi orang yang berpuasa, tegukan pertama ketika berbuka puasa betapa nikmatnya. Terlebih nikmat kegembiraan mendapat ridha dan surga-Nya kelak. Sesedikit apapun harta benda akan besar artinya. Bahkan secara psikologis puasa mendekatkan hubungan antara si kaya dan si miskin.
Di dalam Ramadhan juga ada malam lailatul qadar. Malam ini adalah malam kenikmatan bagi umat Muhammad SAW. Karena malam kemuliaan lebih baik nilainya dari ibadah 1000 bulan atau 84 tahun.

Hikmah puasa secara medis
Dalam keadaan normal, tubuh kita mendapatkan energi dan nutrisi yang berasal dari luar tubuh, melalui makanan, minuman dan radiasi. Bagaimana ketika kita sedang puasa di siang hari?
Ketika kita puasa di siang hari, dimana tidak ada asupan makanan, aktifitas akan membakar energi hingga habis. Pertama-tama energi diperoleh dari glukosa hasil makan (sahur). Setelah habis, energi diperoleh dari glikogen dalam darah. Bila kandungan glikogen berkurang, baru otak menyatakan lapar dan otak menyuruh kita makan. Bila kita sedang berpuasa otak akan menghidupkan program autolisis.

Apakah Autolisis itu?
Semua makhluk bumi (ular, sapi, ulat, jerapah, gajah, lebah dan semua makhluk hidup lainnya) dibekali dengan sistem (fithrah) autolisis yang khas. Secara sederhana autolisis adalah sistem automatisasi dalam tubuh yang memformat ulang kondisi tubuh ke kondisi ideal. Apa yang terjadi dengan Autolisis pada manusia?
Ketika autolisis diaktifkan, maka ia segera beraksi :
1. Autolisis akan mencari database rancangan dasar (fithrah) manusia. Secara keseluruhan ada sekitar 50 trilliun sel penyusun tubuh yang terdiri dari sekitar 200 jenis sel. Autolisi berbekal data detail setiap sel tubuh.
2. Autolisis mengerti bagaimana seharusnya kondisi sehat dari setiap jenis sel, di bagian tubuh mana seharusnya sel itu berada, berapa banyak jumlah tiap jenis sel yang ideal bagi tubuh. Selanjutnya ia akan menghampiri sel-sel liar yang tidak terdapat dalam daftar fithrah, mengubah asam amino dan asam laktat menjadi gula.
Bila sel-sel liar habis, ia akan mendatangi timbunan lemak dalam tubuh dan membakar (oksidasi lemak) menjadi keton.
Dengan demikian Autolisis akan menghilangkan sel-sel rusak, mati dan benjolan tumor serta timbunan lemak yang sering menjadi sarang zat beracun.

Sistem Pencernaan istirahat
Sel-sel liar dan lemak yang telah dihancurkan akan dibawa ke hati. Saat kita puasa, hati tidak disibukkan oleh makanan hasil serapan dari usus. Oleh karena itu hati akan bekerja penuh menyaring racun-racun hasil autolisis. Yang selanjutnya racun akan dibuang keluar tubuh, disinilah proses detoksifikasi (penghilangan racun) terjadi.
Lalu darah akan dipenuhi energi dan nutrisi yang sehat dan berkualitas tinggi. Sehingga penggantian sel mati, perbaikan sel rusak, dan pembentukan sel baru, terjadi dengan kualitas prima. Tubuh kita segera memiliki sel-sel baru dengan kualitas fithrah, sehat dan berfungsi baik kembali.
Ketika kita berpuasa, energi yang dihemat dari sistem pencernaan, akan digunakan untuk aktifitas sistem kekebalan tubuh dan proses berpikir oleh otak.
Dengan puasa, penyakit lebih mudah disembuhkan, dengan puasa kita lebih mudah menerima pelajaran maupun saat berpikir.

Autolisis hanya terjadi dengan Niat
Autolisis hanya akan aktif bila kadar glikogen darah berkurang dan otak menyimpulkan bahwa kita lapar dan harus makan, dan kita berniat tidak makan alias berpuasa.
Autolisis tidak akan terjadi ketika tidak ada niat berpuasa, saat kita lapar otak memerintahkan organ-organ pencernaan bersiap-siap maka, liur, lambung, hati, dan usus ramai-ramai mengeluarkan enzim dan beraktifitas. Bila tidak ada makanan masuk, maka lambung dan usus akan sakit, kita akan kena maag atau radang usus.

Saat puasa, kendalikan emosi
Emosi berlebihan akan menguras energi, otak akan menyerap energi cukup besar. Otak juga akan memerintahkan jantung untuk berdetak lebih cepat sehingga semakin banyak energi terkuras.
Emosi negatif akan membawa kita pada kondisi stress, yaitu kondisi emosi yang biasanya terjadi karena stimulus dari luar diri kita yang kemudian disambut dengan respons yang tidak menyeimbangi stimulus tersebut, sehingga kondisi otak akan terganggu. Stress menyebabkan otak mengkonsumsi energi dalam jumlah banyak.
Oleh karena itu sudah selayaknya saat puasa kita tidak mengumbar emosi negatif seperti marah, iri, dengki, sombong, takut dll. Hadapi hal kurang menyenangkan dengan sabar.
Tumbuhkan dan tebarkan emosi positif, seperti tersenyum, optimis, membantu orang lain, melakukan amal kebaikan, bersedekah, dll.
Euphoria sebagai ekspresi kegembiraan yang diungkapkan berlebihan, juga menyedot banyak energi. Sebaiknya hadapi semua hal yang menyenangkan hati dengan bersyukur.
Semoga puasa kita diterima olehNya.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Hilangkan Nyeri dengan Dzikir


“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”(QS. Ar-Ra’du : 13)

Berdzikir sejak dulu dikenal sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kini seorang dokter spesialis saraf dari Rumah Sakit Satyanegara Sunter, Arman Yurisaldi Saleh, mengungkapkan bahwa dzikir mampu menyehatkan saraf. Hal itu terbukti setelah ia melakukan penelitian terhadap pasien-pasien yang ia tangani. Ternyata pasien yang sering berdzikir mengalami perbaikan lebih cepat dibandingkan dengan pasien yang tidak suka berzikir.
Misalnya, beberapa pasien yang mengalami gangguan saraf seperti penderita alzheimer dan stroke, akan membaik kondisinya setelah membiasakan berdzikir dengan mengucapkan kalimat tauhid “laa ilaaha illallah” dan kalimat istigfar “astaghfirullaahal ‘adhiim”.
Menurutnya, setelah ditinjau dari sudut ilmu kedokteran kontemporer, pengucapan “laa ilaaha illallaah” dan “astaghfirullaahal ‘adhiim” dapat menghilangkan nyeri dan bisa menumbuhkan ketenangan serta kestabilan saraf bagi penderita. Sebab, dalam kedua bacaan dzikir tersebut terdapat huruf jahr yang dapat mengeluarkan CO2 dari dalam otak.
Arman menemukan dalam kalimat “laa ilaaha illallaah” terdapat huruf jahr yang diulang tujuh kali yaitu huruf lam, dan “astaghfirullaahal ‘adhiim” terdapat huruf ghayn, ra, dan dua buah lam sehingga ada empat huruf jahr yang harus dilafalkan keras sehingga kalimat dzikir tersebut akan mengeluarkan karbondioksida lebih banyak saat udara dihembuskan keluar mulut.
Dan CO2 yang dikeluarkan oleh tubuh tidak mempengaruhi perubahan diameter pembuluh darah dalam otak. Sebab, bila proses pengeluaran CO2 kacau, maka CO2 yang ke luar juga kacau sehingga menyebabkan pembuluh darah di otak akan melebar berlebihan ketika kadar CO2 di dalam otak menurun.
Sehingga, ungkap Arman, dilihat dari tinjauan ilmu saraf terdapat hubungan yang erat antara pelafalan huruf (makharij al-huruf) pada bacaan dzikir dengan aliran darah pernapasan ke luar yang mengandung zat CO2 (karbondiokida) dan proses yang rumit di dalam otak pada kondisi fisik atau psikis seseorang.
Efeknya, ketika seseorang melakukan dzikir secara intens dan khusyuk seraya memahami artinya, pembuluh darah di otak akan membuat aliran karbondioksida yang ke luar dari pernapasan menjadi lebih banyak. Kadar karbondioksida dalam otak pun akan turun secara teratur. Dengan begitu tubuh akan segera menunjukkan kemampuan refleks kompensasi.
‘‘Saya sering menyaksikan terjadinya perubahan yang cukup besar ke arah penyembuhan pada pasien-pasien yang terbiasa berdzikir dengan khusuk dibanding pasien yang tidak pernah berdzikir meskipun keduanya memiliki gejala penyakit yang sama,” ungkap Arman.
''Sebagai seorang dokter spesialis saraf, hampir setiap hari saya bertemu dengan pasien mengeluhkan rasa nyeri atau sakit di kepalanya, atau keluhan-keluhan lain yang berhubungan dengan gangguan jaringan saraf,'' lanjutnya.
''Alhamdulillah, lewat buku Berdzikir untuk Kesehatan Saraf (Zaman: 2010), saya berhasil mengungkap keajaiban dzikir tersebut terhadap kesehatan serta penyembuhan penyakit saraf yang sering diderita pasien seperti nyeri (nyeri kepala tipe tegang, migrain, fibromialgia, nyeri sendi, nyeri neuropati akibat kencing manis kronis, nyeri pinggang akibat iritasi akar saraf atau saraf terjepit), lumpuh karena stroke, depresi pasca stroke, gangguan pikiran dan emosi, serta gangguan tidur (insomnia),” tuturnya sambil menunjukkan buku yang akan diseminarkan di Makassar akhir Juli tahun ini.


Sumber : http://republika.co.id
Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Tafakur

‘Tafakkur (merenung) satu jam, itu lebih baik dari ibadah satu tahun”. Sepintas, ungkapan Imam Syafi’i itu berlebihan. Bagaimana mungkin sebuah amal yang dilakukan hanya dalam rentang satu jam, bisa lebih baik daripada ibadah selama satu tahun ?
Ungkapan Imam Syafi’i tersebut tentu tidak disampaikan dalam konteks perbandingan yang saling menafikan antara satu dengan yang lainnya. Imam Syafi’i tidak mengajak agar orang melaksanakan tafakkur satu jam, kemudian tidak perlu beribadah selama satu tahun. Beliau hanya ingin menekankan pentingnya merenung, menghisab diri, introspeksi, mengevaluasi amal yang telah lalu, menekuri hidup dan seterusnya. Sikap ini sangatlah penting dan bahkan menjadi syarat seseorang agar mampu memiliki kualitas ibadah yang lebih baik.
Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan agar kita terbiasa mengambil pelajaran dari masa lalu, baik dari apa yang telah dilakukan diri sendiri, maupun oleh orang lain.

Pertama; Merenung, bermuhasabah atau mengevaluasi amal dalam satu hari.
Kebiasaan seperti inilah yang dilakukan oleh para Sahabat yang menurut Rasulullah mereka sebagai ahli surga. Dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah menyinggung kedatangan sahabat calon penghuni surga itu di dalam majelis para sahabat. Ahli surga itu ternyata bukan ahli ibadah yang kuantitas ibadahnya melebihi para sahabat lain. Ia hanya kerap melakukan evaluasi diri menjelang tidurnya setiap malam lalu ia hapus semua rasa gundahnya pada sesama muslim.
Dalam kitab ‘Bukaaul Mabrur’ yang mengulas tentang tangisan orang-orang sholih disebutkan perkataan salafussholih : “Para orang tua kami selalu menghitung diri dari apa yang mereka perbuat dan apa yang mereka ucapkan, kemudian mereka menulisnya dalam sebuah daftar. Setelah sholat ‘Isya, mereka mengeluarkan daftar amal dan ucapannya tersebut kemudian menimbangnya. Jika amalan yang diperbuat itu buruk, maka mereka segera bertaubat dan beristighfar memohon ampun kepada Allah. Namun jika amalan itu baik dan perlu disyukuri, merekapun bersyukur kepada Allah hingga mereka tidur. Kami pun mengikuti jejak mereka. Kami mencatat apa yang kami perbuat dan menimbangnya”.

Kedua; Memiliki agenda harian untuk mengevaluasi amal-amal yang telah dilakukan.
Agenda harian ini berisi daftar amal harian yang dianggap wajib untuk dilakukan. Misalnya; memulai suatu pekerjaan dengan Bismillah, membaca Istighfar minimal 100 kali, membaca Al-Qur’an sekian halaman, dsb. Sebaliknya catat pula alasan, masalah dan hambatan yang menjadikan kita tidak mampu menunaikan amal-amal harian tersebut. Mencatat hambatan amal-amal baik akan menjadi bahan pengalaman agar bisa diantisipasi pada waktu selanjutnya.
Sebagaimana setiap orang akan menerima lembaran-lembaran amalnya selama di dunia pada pengadilan akhirat nanti, setiap muslim sangat dianjurkan untuk menghitung-hitung sendiri amal-amalnya sejak di dunia. Tujuannya jelas, agar segala keburukan tidak terulang lagi, dan segala kebaikan terpelihara bahkan lebih baik lagi. Sahabat Umar r.a memberi nasehat, “Haasibuu anfusakum qobla an tuhaasabuu”. Hisablah amal-amal kalian sendiri, sebelum amal-amal kalian di hisab (oleh Allah di hari kiamat).”
Imam Hasan Al Bashri mengatakan, “Sesungguhnya penghisaban di hari kiamat akan ringan bagi kaum yang telah menghisab amalannya di dunia, begitu pula sebaliknya penghisaban di hari kiamat akan berat bagi orang yang tidak menghisab amalannya di dunia”.

Ketiga; Biasakan menilai dan mempertajam pengendalian diri sendiri.
Seseorang yang takjub dengan pribadi Hasan Al-Bashri pernah bertanya, “Siapa yang mendidikmu memiliki pribadi seperti ini ?”. Hasan Al-Bashri menjawab pendek. “Diriku sendiri”. “Bagaimana bisa seperti itu?”, tanya orang itu lagi. Hasan menguraikan, “Jika aku melihat keburukan pada orang lain, aku berusaha menghindarinya. Jika aku melihat kebaikan pada orang lain, aku berusaha mengikutinya. Dengan begitulah aku mendidik diriku sendiri…”
Sikap Ulama sholih generasi tabi’in itu jelas menekankan pentingnya seseorang mengambil pelajaran dari sebuah peristiwa. Teorinya sederhana, yaitu meniru yang baik dan menghindari yang tidak baik. Tapi hasilnya, prinsip itulah yang menghadirkan pribadi yang menakjubkan. Apa yang melatarbelakangi Hasan Al-Bashri berprinsip seperti itu ? Tidak lain untuk menghindari kekeliruan masa lalu, baik yang dilakukan diri sendiri maupun orang lain. Itu kuncinya, sehingga dari hari ke hari ia selalu berupaya memperbaiki kepribadiannya..

Keempat; Sadarilah bahwa belajar dari pengalaman akan menambah kedewasaan dan kebijakan dalam menyikapi hidup.
Semakin banyak orang bercermin terhadap masa lalu, maka ia akan semakin bijaksana dalam menentukan langkah. Saat mendapat kelapangan, seseorang tidak mudah larut oleh kesenangan. Ia berfikir bahwa rizki manusia ada kalanya lapang dan ada kalanya sempit. Saat medapat kesulitan, ia juga tidak mudah hanyut. Karena ia berfikir bahwa kesulitan akan silih berganti dengan kemudahan. Perbandingan seperti ini membuat seorang mukmin tetap bersyukur apapun kondisi yang ia alami. Itulah variasi dan itulah wujud kesempurnaan hidup sehingga saling melengkapi. Tanpa sikap seperti ini orang akan mudah terkena penyakit jiwa. Mudah gelisah dan selalu merasa tidak puas. Ia bahkan sulit merasa bahagia karena selalu terombang-ambing oleh dinamika hidup itu sendiri.

Kelima; Ketahuilah bahwa dalam batas tertentu kesalahan dan kekeliruan adalah lumrah.
Allah SWT tidaklah menciptakan manusia sempurna. Selalu saja ada manusia yang lebih disini dan kurang disana. Atau sebaliknya, lebih disana dan kurang disini. Sehingga prinsipnya jangan takut gagal dalam beramal. Tidak jarang, kegagalan dan kesalahan merupakan batu loncatan ke arah kebaikan. Setidaknya ia menjadi semangat dan motifasi untuk melakukan penebusan. Makna ini antara lain yang terkandung dalam pesan Rasulullah agar kita mengiringi segala keburukan yang kita lakukan dengan kebaikan. “Bertakwalah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada. Dan ikutilah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan”. (HR.Bukhari dan Muslim)

Keenam; Selami (pelajari) sejarah orang-orang yang hidup di masa lalu.
Dengan mengetahui masa lalu, berarti seseorang memiliki modal informasi berharga sebagai bekal perjalanan yang ia lakukan di masa mendatang. Peristiwa apapun, baik dilakukan oleh sebuah generasi maupun orang perorang, harus menjadi cermin perbandingan melangkah ke depan. Kehidupan ini tak ubahnya cermin pengulangan masa lalu. Silih berganti antara keberhasilan dan kegagalan, kemenangan dan kekalahan, kebahagiaan dan kesedihan. Semua berputar dan berganti bagai pergantian siang dan malam. Firman Allah SWT, “Dan hari-hari itu kami pergilirkan di antara manusia…” (QS.Al Imran:140).
Itulah hikmah penjabaran sejarah perjuangan para Rasul dan Nabi yang tertuang dalam Al-Qur’an. Allah SWT membina mental perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya melalui uraian panjang tentang perjuangan para Nabi dan Rasul sebelum mereka. Jejak sejarah perjuangan itulah yang akan menjadi rambu bagi umat manusia sepanjang zaman dalam menegakkan kebenaran.
Fir’aun hanya satu tokoh sejarah yang diungkapkan Al-Qur’an. Ia merupakan simbol penguasa yang melakukan kekejaman dan penindasan terhadap rakyat, sekaligus memusuhi ajaran Allah SWT yang dibawa oleh nabiyullah Musa as. Melihat sejarah sepak terjang Fir’aun, manusia diajak memahami bagaimana bahayanya kejahatan yang datang dari sebuah kekuasaan. Lebih berbahaya dari kejahatan berupa pembunuhan atau perampokan. Kisah Fir’aun juga memberi gambaran kepada para penegak kebenaran bahwa mereka akan selalu menghadapi gembong-gembong kejahatan. Karena setiap zaman memiliki ‘Fir’aun’ nya sendiri.

Ketujuh; Seringlah berdiskusi, bertukar pengalaman, saling menasehati dengan orang-orang sholih tentang berbagai fenomena hidup.
Seorang pemikir menyebutkan, “Manusia itu ibarat burung yang bersayap sebelah”. Tak mungkin bisa terbang, jika ia tak memiliki sayap pasangannya. Maka, ia hanya bisa terbang kalau mau berpelukan erat-erat dan berkerjasama dengan orang lain. Begitulah analoginya, setiap orang memerlukan bantuan orang lain untuk bisa berhasil dalam hidup. Apa artinya?
Setiap orang harus saling memberi dan membantu satu sama lain. Rasulullah mengistilahkan hal ini dengan sabdanya, “Setiap mukmin adalah cermin bagi saudaranya yang lain”. Cermin, sumber informasi paling akurat dan jujur tentang berbagai fenomena. Cermin tempat memperoleh penilaian tentang diri, kapanpun dan dimana pun. Cermin juga pandai menyimpan informasi hanya pada pihak yang langsung terkait dengan informasi itu.
Roda kehidupan takkan pernah berhenti bergulir. Hari demi hari terus berjalan. Tugas kita adalah memanfaatkan kesempatan hari ini untuk menyongsong hari esok. Terlalu banyak pelajaran yang seharusnya membuat kita menjadi lebih baik dari yang telah lalu. Terlalu banyak pelajaran yang seharusnya menjadikan kita berhati-hati dan berhitung matang untuk melangkah. Terlalu banyak peringatan untuk menyadarkan kita agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Rasulullah saw. pernah bersabda, “Tafakkaruu fii khalqillaahi wa-laa tafakkaruu fiilaahi, berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah.” Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas ini menurut Syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’ish Shaghir dan Silsilatu Ahaadits Ash-Shahihah berderajat hasan.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Keajaiban Sujud


MASUK ISLAMNYA Dr. FIDELMA (AHLI SYARAF AMERIKA)

Timbulnya suatu penyakit pada umumnya disebabkan oleh peredaran darah yang tidak lancar. Pembuluh darah yang menyempit merupakan salah satu penyebabnya. Sementara olah raga diantaranya berfungsi sebagai salah satu jalan untuk meningkatkan kinerja jantung agar bekerja secara optimal. Jantung akan memompa darah dengan kuat sehingga distribusi pasokan oksigen bisa merata ke seluruh bagian tubuh. Aliran darah diibaratkan seperti halnya aliran sungai. Jika sungai tersebut mengalir dengan lancar, maka air itu pun akan bersih dan bening, tidak kotor dan bau. Air yang kotor dan bau merupakan tanda-tanda rendahnya kandungan oksigen di dalamnya. Ikan pun akan sulit untuk dapat hidup dengan normal, bahkan lebih banyak menimbulkan kematian. Sebaliknya, apabila air mengalir dengan lancar, maka banyak kehidupan di dalamnya dan berjalan dengan normal. Berbagai macam ikan dan binatang air lainnya akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Termasuk juga tumbuh-tumbuhan dapat hidup dengan hijau dan subur.
Begitulah dengan darah yang mengalir dengan lancar, akan memberikan kehidupan yang baik bagi tubuh manusia. Sel-sel tubuh akan tumbuh dengan baik, sementara sel-sel yang mati akan segera dibuang bersamaan dengan mengalirnya darah. Itulah salah satu manfaat dari peredaran darah yang normal. Tetapi, tahukah Anda bahwa ada bagian syaraf yang berada di atas (dalam otak) ternyata tidak bisa teraliri oleh darah, kecuali orang tersebut dalam keadaan sujud (shalat)?. Posisi jantung yang letaknya berada lebih rendah (di dada) tidak cukup kuat untuk memompa darah agar sampai ke seluruh bagian otak. Otak berada di atas, sedangkan jantung berada di bawah. Posisi sujud yang menempatkan kepala berada di bawah dan jantung berada di atas, membuat darah mengalir dengan deras ke seluruh bagian otak layaknya mobil yang bergerak pada jalanan yang menurun akan melaju dengan cepat walaupun tidak digas. Begitu pula dengan darah. Ia dapat mengalir dengan cepat mengangkut oksigen yang dibutuhkan oleh seluruh bagian tubuh manusia. Inilah salah satu manfaat dari sujud.
Subhaanallah....Ternyata Allah memerintahkan shalat kepada hamba-Nya itu bukan hanya sekedar beribadah semata, melainkan untuk kemaslahatan hidup manusia itu sendiri. Menurut Prof. Hembing, jantung hanya mampu memompa darah ke bagian otak sebanyak 20% dari total kebutuhan, sedangkan 80% lainnya hanya dapat dilakukan dalam keadaan sujud (shalat).
Demikianlah sunnatullah dan kuasa-Nya dalam memelihara kehidupan kita sebagai manusia. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita selalu bersyukur kepada Allah SWT yang telah memerintahkan (mewajibkan) shalat kepada kita. Bukan malah sebaliknya, bermalas-malasan untuk shalat, bahkan sebagian kaum muslimin ada yang berani meninggalkannya. Na’uudzu billaah....
Cobalah kita renungkan, seandainya otak tersebut tidak mendapat pasokan oksigen, tentu kemampuan otak itu akan menurun, daya pikir menjadi lemah dan akibatnya akan fatal. Begitu juga memori daya ingat akan berkurang kemampuannya, menurun drastis dan cepat lupa. Pada akhirnya urat syaraf menjadi rusak dan mati.
Bahwa ada bagian syaraf di dalam otak yang tidak dapat teraliri oleh darah kecuali saat orang tersebut dalam posisi sujud, ini sejalan dengan hasil penelitian Dr. Fidelma, seorang ahli syaraf dari Amerika yang beragama Kristen. Dokter tersebut sangat terkagum-kagum terhadap hasil penelitiannya sendiri. Aliran darah hanya dapat menyebar ke seluruh bagian otak hanya dalam keadaan sujud. Penelitian tersebut akhirnya membuka hatinya untuk mendapat hidayah-Nya, yaitu mengakui ketinggian dan kebenaran ajaran Islam. Penelitian tersebut akhirnya menuntunnya masuk Islam.

Dr. Muhammad Dhiyaa’uddin Hamid, dosen Jurusan Biologi dan Ketua Departemen Radiasi Makanan di Lembaga Penelitian Teknologi Radiasi menyimpulkan bahwa radiasi yang ditimbulkan oleh teknologi listrik dapat memberikan efek samping yang membahayakan organ-organ tubuh terutama otak. Khususnya bagi mereka yang tinggal di sekitar lingkungan yang memiliki tegangan listrik dan medan magnet yang tinggi, seperti di dekat gardu listik berkekuatan tinggi (SUTET).
Pasalnya, dosis radiasi listrik yang berlebihan itu dapat mengganggu fungsi organ-organ tubuh, karena dapat meningkatkan kandungan elektrik di dalam tubuh. Tapi bukan berarti bagi kita yang jauh dari gardu listrik merasa aman dari itu semua. Sebab, hampir semua peralatan rumah tangga yang kita gunakan itu menggunakan listrik, maka dalam waktu yang lama lambat laun akan sama membahayakannya. Kecuali kita hidup di daerah yang memang belum ada listrik sama sekali.
Kalau radiasi itu terus menerus dibiarkan menumpuk dalam tubuh kita, maka dapat menyebabkan kerusakan pada organ tubuh dan akhirnya akan menimbulkan penyakit modern yang disebut “perasaan sumpeg”, kejang-kejang otot, radang tenggorokan, mudah capek/ lelah, stress, migrain, sampai demensia (pikun) di usia muda. Nah, kalo dari diri kita tidak ada usaha untuk membuang tumpukan radiasi tersebut, masalahnya akan semakin besar yang berakibat pada timbulnya tumor di otak kita.
Oleh karena itu, Dr. Muhammad Dhiyaa’uddin Hamid berusaha mencari solusi untuk permasalahan tersebut yang akhirnya ditemukan satu-satunya cara adalah menghindarkan diri dari daerah dan peralatan-peralatan yang dapat menimbulkan radiasi tersebut. Tapi apakah kita mau kembali lagi ke jaman batu? Tanpa listrik?
Jangan khawatir, ada satu lagi rahasia Ilahi telah terkuak. Ternyata Allah telah memberikan solusi preventif sejak dahulu kala jauh sebelum listrik ditemukan, yakni dengan cara kita melakukan sujud. Karena pada waktu kita melakukan sujud (shalat) tentu kita akan menempelkan dahi kita ke lantai (bumi) kan?
Nah, ketika sujud kelebihan ion-ion positif yang ada di dalam tubuh kita akan mengalir ke bumi, karena tentu kita tahu bahwa bumi adalah tempat ion-ion negatif. Masih ingat pelajaran SMP tentang ion positif dan negatif? Maka terjadilah proses penetralisiran radiasi listrik dan magnet tersebut. Lebih sempurna lagi kalau kita sujud dengan menggunakan 7 anggota badan (dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut dan kedua kaki) karena akan mempercepat proses tersebut.
Dan ada lagi syaratnya bahwa ketika sujud kita harus menghadap qiblat yaitu ke arah Ka’bah. Sebab Ka’bah di Mekkah itu adalah pusat bumi di alam semesta ini! Jelas ketika kita langsung menetralisir radiasi itu langsung ke pusat dimana ion negatifnya berada akan lebih mudah proses penyembuhannya. Subhaanallah...
Inilah salah satu bukti kebesaran dan keagungan Allah melalui ajaran Islam yang mulia. Seluruh ajaran (syariat) Islam selain dikerjakan sebagai bentuk ibadah, namun hikmahnya juga merupakan rahmat kasih sayang-Nya dan untuk kemaslahatan hidup manusia itu sendiri. Shalat yang diperintahkan oleh Allah merupakan anugerah yang sangat besar yang harus disyukuri, bukan malah ditolak atau ditentang dengan cara meninggalkannya. Shalat menjadikan seseorang menjadi sehat dan segar. Shalat menjadikan otak manusia menjadi luar biasa, fresh, cerdas dan kuat. Orang yang meninggalkan shalat berarti secara sengaja telah merusak kesehatan fisiknya sendiri. Orang yang meninggalkan shalat berarti telah mendzalimi diri sendiri, kerena akan menyebabkan timbulnya kerusakan yang ditandai dengan munculnya gejala-gejala seperti cepat pusing, sakit kepala, cepat marah dan timbulnya stress. Terlebih kebinasaan dan kehinaan di akhirat kelak. Semoga kita dijadikan oleh Allah sebagai hamba yang istiqomah mendirikan shalat, utamanya dengan berjamaah sebagai perwujudan rasa syukur kepada-Nya.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Keutamaan Al-Fatihah


Arti Al-Fatihah
Disebut sebagai surat Al-Fatihah maknanya adalah pembuka kitab secara tertulis. Dengan surat inilah dibukanya bacaan dalam shalat. Surat ini disebut juga ummul kitab (induk al-Qur’an) berdasarkan pendapat jumhur ulama.
At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dan ia menshahihkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Alhamdulillaahi Rabbil’aalamin adalah Ummul Qur’aan, Ummul Kitaab dan as-Sab’ul Matsaani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) dan al-Quraanul ‘Azhiim.”
Surat Al-Fatihah disebut juga al-Hamdu dan ash-Shalah, berdasarkan sabda Rasulullah saw, ketika meriwatkan dari Rabb-Nya, Allah Swt berfirman : “Aku membagi ash-Shalaah antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Jika seseorang hamba mengucapkan ‘Alhamdulillahi Rabbil’aalamin, maka Allah Ta’ala berfirman :”Hamba-Ku telah memuji-Ku.”
Surat Al-Fatihah disebut sebagai ash-Shalaah karena termasuk syarat sahnya shalat. Surat Al-Faatihah disebut Ar-ruqyah berdasarkan hadits Abu Sa’id ketika sedang meruqyah seorang anak laki-laki yang terkena sengatan binatang berbisa dengan surat ini, maka Rasulullah SAW bersabda : “Tidakkah engkau tahu bahwa al Fatihah itu Ruqyah.”

Mengapa dinamakan Ummul Kitaab ?
Al-Bukhari berkata di awal kitab tafsir : Disebut Ummul Kitaab karena Al-Fatihah ditulis pada permulaan Al-Qur’an dan dibaca pada permulaan shalat.
Imam Ahmad meriwatkan dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW bahwa beliau berkata tentang Ummul Qur’an : “ Dia adalah Ummul Qur’an, dia adalah as-Sab’ul Matsani dan dia adalah Al-Qur’anul ‘azhim”
Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari meriwayatkan dari abu Hurairah ra dari Rasulullah SAW beliau bersabda :
“ ia adalah Ummul Qur’an, ia adalah faatihul kitaab dan ia adalah as-Sab’ul Matsani.”

Keutamaan Al-Fatihah
Imam Ahmad bin Hanbal ra, meriwayatkan dalam Musnadnya dari Abu Sa’id bin Al- Mu’alla ra ia berkata “ aku pernah mengerjakan shalat, kemudian rasulullah memanggilku, tetapi aku tidak menjawabnya hingga aku menyelesaikan shalat. Setelah itu aku mendatangi beliau, maka beliau bertanya : apa yang menghalangi untuk datang kepadaku ? maka aku menjawab : wahai Rasulullah, sesengguhnya tadi aku sedang mengerjakan shalat. Lalu beliau bersabda : bukanlah Allah SWT berfirman : hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada apa yang memberi kehidupan kepadamu (QS.Al-Anfaal : 24)
Hadits lain diriwayatkan oleh Bukhari dalam fadhaa-ilul Qur’an dari Abu Sa’id Al-Khudri ra : kami pernah melakukan perjalanan lalu kami singgah, kemudian datanglah seorang budak wanita seraya berkata : sesungguhnya kepala suku kami tersengat, dan orang-orang kami sedang tidak ada di tempat, apakah diantara kalian ada yang bisa meruqyah? Maka berangkatlah bersamanya seorang laki-laki yang kami tidak pernah menyangka bahwa ia bisa meruqyah. Kemudian ia membacakan ruqyah dan kepala suku itu pun sembuh. Lalu kepala suku itu memerintahkan agar ia diberi tiga puluh ekor kambing dan kami diberi minum susu. Setelah kembali kami bertanya kepadanya : apakah engkau memang pandai dan biasa meruqyah ?. Maka ia menjawab : aku tidak meruqyah kecuali dengan ummul kitaab (Al-Fatihah). Kami katakan : ”jangan melakukan apapun hingga kita menemui Rasulullah dan menanyakan hal itu kepada beliau. Sesampainya di Madinah kami menceritakan hal itu kepada Nabi SAW maka beliau bersabda : ”Bagaimana ia tahu bahwa surat Al-Fatihah itu adalah ruqyah ?”. Bagi-bagilah kambing itu dan berikan satu bagian kepadaku”
(Ringkasan Shahih Tafsir Ibnu Katsir jilid 1, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor 2008).

Banyak keuntungan yang kita dapatkan dari membaca, memahami, mengamalkan dengan hati yang ikhlas surat Al-Fatihah itu secara keseluruhan..
1. Surat Al-Fatihah dapat dijadikan bacaan dalam penyembuhan penyakit gigitan serangga dan sebagainya (Ruqyah)
2. Surat Al-Fatihah dapat menjadi bacaan dalam mengobati penyakit hati, keresahan, karena tipisnya keimanan.
3. Surat Al-Fatihah mencakup Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah.
4. Surat Al-Fatihah merupakan doa dan permohonan kepada Allah SAW agar selalu berada dalam lindungan-Nya dan dalam hidayah-Nya sehingga dapat menempuh jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Tips Menghadapi Amarah

Apabila kita marah, maka kita harus menenangkannya dan meredamnya agar tidak meluap hingga menimbulkan bahaya dan kerugian yang besar. Berikut beberapa tips untuk mengatasinya :

1. Berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.
Dari Sulaiman bin Shurad ra., ia mengatakan bahwa ; ”Dua orang saling mencaci maki di depan Nabi SAW, lalu salah satu dari keduanya marah, wajahnya memerah dan tegang urat-urat lehernya, maka Nabi SAW memandanginya seraya bersabda, ’Aku mengetahui suatu kalimat yang seandainya ia mengucapkannya niscaya hilang darinya apa yang didapatinya (kemarahan), yaitu aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.
2. Mengingat besarnya pahala menahan amarah.
Dari Ibnu Umar ra. Bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ”Tidak ada perbuatan menahan yang lebih besar pahalanya di sisi Allah, daripada menahan amarah yang dilakukan hamba karena mengharapkan wajah (ridha) Allah.” Juga sabdanya, ”Barangsiapa yang menahan amarahnya padahal ia mampu meluapkannya, maka Allah akan menyerunya di hadapan para makhluk pada hari Kiamat kelak, dan memberi pilihan kepadanya berupa bidadari yang disukainya.” (HR. Ahmad).
3. Diam, karena orang yang sedang marah lebih dekat kepada kesalahan. Ada ungkapan peribahasa, ”Man shomata najaa” (Barangsiapa yang diam, maka ia selamat....) Nabi SAW bersabda, ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaknya berkatalah yang baik atau diamlah.”
4. Duduk atau berbaring, lebih baik lagi tidur.
Dari Abu Dzar Al-Ghifari berkata, Rasulullah SAW bersabda, ”Jika salah seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah, jika kemarahan hilang darinya (maka itu baik), jika tidak maka tidurlah.”
5. Merenung sambil membayangkan tampang dirinya yang buruk ketika sedang marah.
6. Mengingat besarnya pahala mema’afkan, daripada meluapkan marah yang berakibat kerugian. Menahan amarah dan memiliki sifat mema’afkan (jiwa pema’af) merupakan diantara ciri-ciri orang yang bertaqwa yang dijanjikan oleh Allah berupa ampunan dan nikmat surga yang luasnya seluas langit dan bumi (lihat QS. Ali Imran : 133-134).
7. Menjauhkan diri dari mencaci (dengan kata-kata kotor) , menuduh, atau mengutuk, karena hal itu termasuk sifat-sifat orang yang dungu. Diriwayatkan dari Salman bahwa ia mengatakan, ketika seseorang mencacinya, ”Jika timbangan (kebaikanku) ringan, maka aku lebih buruk daripada apa yang kamu katakan, Sebaliknya, jika timbangan (kebaikanku) berat, maka tidak merugikanku sama sekali apa yang kamu katakan.”

Oleh : Zaenal Muttaqin Noor

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaana-Ka Allaahumma wabihamdi-Ka asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta astaghfiru-Ka waatuubu ilai-Ka.

HADO Emosi

Suasana hati (keadaan emosi) itu ada korelasinya dengan kesehatan organ tubuh seseorang. Hal tersebut disebabkan HADO (gelombang energi air) emosi itu bisa membentuk resonansi dengan organ tubuh. Berikut beberapa contoh penyakit yang diakibatkan oleh kondisi emosional seseorang :
• Orang yang tegang atau stress, HADO emosinya beresonansi dengan organ saluran kencing sehingga cenderung ingin selalu buang air. Untuk mengatasinya ia harus berusaha rileks.
• Orang yang khawatir, HADO emosinya beresonansi dengan syaraf cervical ini menyebabkan gangguan (sakit) punggung. Suasana hati yang harus dimiliki adalah easy going (memudahkan masalah).
• Orang yang mudah tersinggung HADO emosinya beresonansi dengan syaraf parasimpathetic, sehingga bisa menyebabkan insomnia (sulit tidur). Untuk mengatasinya ia harus bersikap tenang dan terbuka menerima kritik .
• Orang yang bingung, HADO emosinya beresonansi dengan syaraf autonomic yang menyebabkan terjadinya sakit pada tulang belakang. Suasana hati yang harus dimiliki adalah keinginan kuat.
• Orang yang takut berlebihan, HADO emosinya beresonansi dengan organ ginjal sehingga bisa menyebabkan penyakit ginjal. Untuk mengatasinya ia harus memiliki sifat berani dan pikiran tenang.
• Orang yang cemas, HADO emosinya beresonansi dengan perut. Ini dapat menyebabkan gangguan dyspepsia (sulit mencerna makanan). Karenanya ia harus memiliki perasaan lapang dada dan lega (jawa: legowo)
• Orang yang pemarah, HADO emosinya beresonansi dengan hati. Inilah yang merupakan penyebab timbulnya penyakit hepatitis. Suasana hati yang harus dimiliki adalah perasaan menyayangi.
• Orang yang apatis, HADO emosinya beresonansi dengan organ tulang belakang sehingga menyebabkan lemahnya vitalitas (loyo). Kondisi emosional yang harus ada yaitu semangat.
• Orang yang tidak sabar, HADO emosinya beresonansi dengan organ pankreas yang dapat mengganggu produksi hormon insulin sehingga kadar gula dalam darah sangat tinggi. Ini yang menyebabkan penyakit diabetes. Karenanya ia harus bersifat toleran dan sabar.
• Orang yang kesepian, HADO emosinya beresonansi dengan hippocampus pada otak, sehingga memori dan kontrol fungsi tubuh berkurang (dimensia senilis). Suasana hati yang harus dimiliki adalah perasaan senang atau enjoy.
• Orang yang sedih, HADO emosinya beresonansi dengan darah. Ini yang menyebabkan leukimia, karenanya ia harus berusaha memiliki perasaan menikmati.
• Orang yang iri hati, HADO emosinya beresonansi dengan kulit sehingga dapat menimbulkan gangguan penyakit kulit bernanah. Kondisi emosional yang harus dimiliki adalah perasaan berterima kasih.

Demikianlah beberapa temuan hasil ijtihad bidang kesehatan yang pernah dipopulerkan oleh Dr. Masaru Emoto dalam bukunya yang berjudul “The True Power of Water” (dengan beberapa tambahan).
Maka tidak diragukan lagi bahwa apabila kita terbiasa berpikir positif (positive thinking), maka kondisi kesehatan kita akan tetap terjaga. Inilah mungkin yang dimaksud oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya :
“ Ingatlah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Bila segumpal daging itu baik, maka seluruh tubuh itu menjadi baik. Dan apabila segumpal daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu menjadi rusak pula. Ingatlah, segumpal daging itu ialah hati “ (HR. Bukhori Muslim).

Wallaahu a'lam. Mudah-mudahan bermanfaat, Amiin...

Oleh : Zaenal Muttaqin Noor

Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Hikmah dalam Ibadah

Dengan didasari keimanan kita harus percaya dan mengakui bahwa di balik taklif kewajiban syari’at yang Allah bebankan kepada kita tersimpan rahasia dan hikmah yang luas sekali. Allah dan Rasul-Nya tidak semata-mata memerintahkan sesuatu kecuali ada hikmah dan tujuannya yang kadang karena keterbatasan ilmu kita tidak mengetahuinya. Ibadah seperti berwudhu, shalat, dan puasa ternyata dapat berfungsi sebagai perawatan dan pengobatan lahiriyah dan bathiniyah. Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah menyebutnya dengan istilah pengobatan ilahiyyah. Berikut ini sekelumit dari sekian banyak hikmah kesehatan yang terkandung dalam rahasia ibadah yang kita lakukan :
1. Berwudhu, menurut Dr. Izzenberg itu sudah cukup untuk melancarkan sirkulasi darah dan memijit otot-otot dalam tubuh kita. Secara alamiah, begitu air wudhu pertama kali menyentuh anggota tubuh yang dibasuh, disitulah aktifitas pergerakan sirkulasi darah berjalan mengikuti hukum Allah (sunnatullah). Selanjutnya bersamaan dengan itu tubuh secara otomatis mengeluarkan racun-racun (toksin) dari dalam tubuh melalui kelenjar keringat dan pori-pori kulit. Itulah sebabnya dalam berwudhu disunnahkan untuk membasuh anggota wudhu sebanyak tiga kali agar basuhan kedua dan ketiga dapat berfungsi membersihkan toksin itu dari permukaan kulit kita. Disamping itu, berwudhu juga dapat menghilangkan rasa marah, tersinggung dan gelisah karena stress atau depresi.
2. Shalat juga dianggap sebagai amalan ibadah yang paling proporsional bagi anatomi tubuh manusia. Gerakan gestur (gerakan khas tubuh) ketika shalat secara ilmiah menjadikannya sebagai gudang obat bagi berbagai jenis penyakit. Terutama sekali adalah shalat lail dan shalat shubuh yang dapat mencegah gangguan penyakit jantung (kardiovaskuler) dan kanker. Waktu sepertiga malam terakhir sampai waktu fajar adalah saat tubuh harus memproduksi zat Nitrik Oksida untuk melawan efek hormon Nor Adrenalin yang memicu naiknya tekanan darah dan pembekuan trombosit sehingga terjadi penyempitan pembuluh darah. Aktifitas yang dimulai dengan wudhu, shalat sunnah fajar, berjalan menuju ke masjid, kemudian shalat shubuh berjamaah merupakan proteksi terhadap gangguan penyakit jantung (kardiovaskuler) dan kanker.
3. Sebagai ibadah pembersih jiwa dari segala dosa, puasa juga merupakan metode perawatan rutin, reparasi, dan rekonstruksi sel-sel dalam tubuh agar kita selalu sehat dan memiliki daya tahan tubuh yang kuat. Menurut Dr. Jawwad Ash-Shawi bahwa pada saat berpuasa tubuh kita melakukan 2 hal : a). Pembentukan gugus-gugus sel baru dalam tubuh, merenovasi strukturnya, dan meningkatkan kualitas fungsionalnya. 2). Lemak-lemak diangkut ke hati, dioksidasi dan dimanfaatkan oleh hati kemudian dikeluarkanlah racun-racun (toksin) dari dalam tubuh. Bahkan menurut Dr. Mack Fadon, seorang pakar pengobatan dunia yang melakukan penelitian tentang puasa dan pengaruhnya mengatakan bahwa semua orang itu perlu puasa (tidak terkecuali non muslim) karena racun-racun makanan dan obat-obatan terakumulasi dalam tubuh sehingga memberatkannya dan menjadikannya seperti orang sakit. Dengan puasa tubuh menjadi fit, terasa ringan dan lebih kuat.

Subhaanallaah…ternyata dengan cara demikianlah Allah sebagai Rabbul ‘Aalamiin merawat hidup kita. Allah telah mewajibkan syariat, menurunkan perintah dan larangan pada hakekatnya mengandung unsur perawatan, pemeliharaan dan perlindungan terhadap keberlangsungan hidup jasmani dan rohani kita.

Oleh : Zaenal Muttaqin Noor

Demikian sekelumit hikmah mudah-mudahan bermanfaat, Amiin...
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Jangan Remehkan Kebaikan

Arti kebaikan
Kebaikan dalam terminologi Islam sering disebut dengan ”al-birru” atau ”al-ma’ruf”, yaitu segala sesuatu yang mendatangkan keridhaan Allah baik berupa keyakinan, sikap, ucapan atau perbuatan. Jika kebaikan dikerjakan dengan ikhlas Allah akan menyediakan balasan kebaikan pula kepada pelakunya baik di dunia maupun di akhirat nanti. Rasulullah SAW memotivasi kita agar gemar melakukan kebaikan dan tidak meremehkannya sekecil apapun walau hanya sekedar tersenyum atau menampakkan wajah berseri kepada sesama. Terlebih lagi pada hal-hal pokok dalam agama seperti masalah aqidah, ibadah, mu’amalah dan akhlak.
Yang kita sebut dengan kebaikan ternyata tidak mudah dikerjakan apalagi dibiasakan. Ketika kesempatan berbuat kebaikan sudah jelas ada, ladang amal shaleh terbentang luas di depan mata kebanyakan dari kita tidak langsung menyambutnya dengan suka cita kemudian menunaikannya. Bahkan yang lebih memprihatinkan kadang ada yang tidak suka dengan suatu kebaikan tapi malah membenci orang lain yang istiqomah mengerjakannya, padahal mereka adalah orang-orang beriman yang sama-sama mengharapkan surga. Misalnya saja ketika terdengar seruan adzan, apakah kita langsung menyambutnya dengan senang hati kemudian menunaikan shalat berjamaah di masjid ? Jika ya, bersyukurlah kepada Allah bahwa dengan rahmat-Nya kita masih mampu membuktikan kebenaran iman kita. Tetapi jika belum, inilah yang menjadi tugas penting kita untuk segera memperbaikinya.
Karakteristik suatu kebaikan yang diantara hikmahnya akan mendatangkan keberkahan hidup dan balasan surga bagi pelakunya kebanyakan terasa tidak enak, tidak menyenangkan, dan terasa berat. Karenanya hanya orang yang beriman dan benar-benar ikhlaslah yang dapat mewujudkannya. Sebaliknya hal-hal yang tidak baik biasanya terasa ringan, menyenangkan dan mengasyikan sehingga banyak orang yang mahir mengerjakannya bahkan menganggapnya sebagai hal yang sudah lumrah dan biasa. Nabi SAW bersabda :
Surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai , sementara neraka dikelilingi dengan syahwat. (HR. Muslim, At-Tirmidzi, dan Ad-Daarimi).

Contoh kebaikan dan hikmahnya
Orang yang benar-benar beriman akan mendasari semua yang dilakukannya dengan motivasi iman dan niat beribadah untuk memperoleh ridha dan pahala dari Allah SWT. Diantara buah manisnya adalah lebih mencintai Allah dan Rasulnya, mengakarnya yaqdzah (kesadaran) dalam hati dan sikap husnudzan kepada Allah Sang Pembuat Syari’at bahwa dibalik taklif syari’at dari Allah dan Rasul-Nya tersimpan rahasia dan hikmah yang luas sekali. Misalnya, Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa senyum kepada sesama adalah shadaqah. Bukankah tersenyum itu hal yang mudah kita lakukan ? Tersenyum yang hanya menggunakan 2 otot saja (bandingkan dengan marah yang menggunakan 13 otot dan bicara yang menggunakan 44 otot ), ternyata hanya bisa dilakukan oleh orang yang hatinya sehat, netral dan tiada beban. Tersenyum merupakan suatu daya dari kemampuan otak kanan kita yang perlu dilatih dan dibiasakan. Coba kita bandingkan dengan tersenyum di depan benda mati (kamera), mengapa terasa agak sulit ? Orang yang hatinya sakit oleh karena sifat hasad, benci, marah atau dendam sangat sulit sekali untuk tersenyum dengan tulus seolah ada dinding tebal yang menghalanginya untuk tersenyum. Penyakit hati merupakan ganjalan jiwa yang biasanya mengajak kepada tendensi negatif, ketiadaan netralitas dan sikap tidak obyektif. Senyum menjadi bernilai shadaqah apabila ia merupakan refleksi psikis yang dapat berfungsi sebagai instrumen pemecah masalah, perekat ukhwah (persaudaraan), pemelihara sillaturrahim, pengikat hubungan baik dengan teman dan tetangga, alat untuk menciptakan budaya berpikir positif dan husnudzan, dan banyak manfaat lainnya.
Contoh lain, ketika kita bersin Rasulullah SAW menganjurkan kita agar menutup mulut dan memuji Allah dengan membaca ”alhamdulillah”, sedangkan ketika menguap kita dianjurkan menahan sebisa mungkin (agar tidak jadi menguap) atau menutup mulut dengan punggung tangan kiri dan membaca ”astaghfirullaahal’adziim”. Beliau bersabda :
Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Maka apabila seseorang bersin, hendaklah ia memuji Allah (dengan mengucapkan alhamdulillah) dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim (yang mendengarnya) untuk mendo’akannya. Adapun menguap ia berasal dari setan, maka tahanlah semampu mungkin dan apabila (seseorang menguap) bersuara ”haa”, maka tertawalah setan. (Shahih Bukhari : 6223).
Juga sabdanya :
Jika salah seorang dari kalian menguap, maka tutuplah mulut dengan tangannya karena sesungguhnya setan masuk (ke dalam mulut yang terbuka). (Shahih Muslim : 2995)
Rasulullah memerintahkan atau melarang sesuatu bukan karena kemauan dan kehendaknya sendiri, melainkan atas bimbingan wahyu dari Allah SWT. Hikmahnya adalah ketika kita bersin dengan kuasa dan ilmu-Nya tubuh secara reflek otomatis mengeluarkan udara semi otonom yang mengandung bakteri/ kuman/ mikroba/ debu kotoran dari dalam rongga antar hidung, telinga dan tenggorokan dengan kecepatan 160,9 km/ jam (bahkan ada yang menyebutnya 250 km/ jam, wallaahu a’lam). Para pakar kesehatan merekomendasikan agar jangan bersin terlalu keras karena konon dapat meretakkan tulang iga. Juga jangan pernah mencoba menahan bersin, sebab menahan bersin berarti tubuh harus menahan kecepatan bersin tersebut secara tiba-tiba. Menurut John Pan MD, Kepala Pusat Pengobatan Integratif di George Washington University Medical Center bahwa menahan bersin akan memaksa bakteri/ kuman/ mikroba/ debu kotoran kembali masuk ke dalam rongga hidung dan kanal telinga sehingga bisa menimbulkan infeksi, dalam kondisi parah dapat menyebabkan pecahnya gendang telinga. Sedangkan Dr. Michael Roizen Kepala Wellness Officer Clevelend Clinics menjelaskan bahwa menahan bersin sangat membahayakan kesehatan, diantaranya dapat menyebabkan patahnya tulang rawan hidung, mimisan, pecahnya gendang telinga, vertigo, terlepasnya retina mata, atau emfisema yang berpotensi mematikan. Subhaanallah...itulah sebabnya mengapa kita diperintahkan untuk memuji Allah karena dengan bersin secara sunnatullah kita dihindarkan dari hal-hal yang membahayakan tubuh atau paling tidak terhindar dari bahaya yang lebih besar. Senada dengan anjuran mendo’akan kebaikan, di negara-negara yang berbahasa Inggris juga sering dikatakan ucapan ”God bless you” (semoga Tuhan memberkatimu) kepada orang yang bersin.
Sedangkan menguap (umumnya diasumsikan sebagai pertanda tubuh capai dan perlu istirahat) merupakan gejala yang menunjukkan bahwa otak dan tubuh membutuhkan asupan oksigen dan nutrisi. Menguap terjadi karena tubuh dalam keadaan lembab lagi kering dan residu alveoli di paru-paru miskin (kekurangan) oksigen. Ketika menguap organ pernafasan berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya melalui mulut, padahal mulut bukan difungsikan untuk itu. Jika menghirup udara dengan mulut, maka bakteri/ kuman/ mikroba/ debu kotoran (haba’) akan ikut masuk ke dalam organ pernafasan tanpa filterisasi yang mestinya melalui hidung, juga dapat menyebabkan oksigen (O2) yang kita hirup terkontaminasi oleh karbon dioksida (CO2).
Menguap merupakan isyarat pemikiran yang lalai dan tumpul (sulit berkonsentrasi), dibuai rasa ngantuk dan pertanda kemalasan. Setan akan senang bila kita malas dan tidak beribadah kepada Allah atau tidak melakukan aktifitas lain yang bermanfaat. Pada saat mulut kita terbuka setan tertawa dan masuk ke dalam tubuh kemudian dengan leluasa mengganggu kita. Kita diperintahkan menutup mulut dengan punggung tangan kiri karena menguap termasuk kebiasaan tidak baik dan merupakan perilaku yang salah secara ilmiah. Oleh sebab itu kita diperintahkan membaca istighfar memohon ampun kepada Allah dari perbuatan yang tidak baik tersebut. Sedangkan Rasulullah sendiri seperti perkataan Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kitab Fathul Baari, menyebutkan bahwa para sahabat tidak pernah melihat Rasulullah SAW menguap.
Contoh lain dari kebaikan dan hikmahnya, misalnya tentang kebiasaan makan atau minum dua orang yang berbeda. Orang pertama sering makan sesuatu sambil berdiri, terbiasa dengan tangan kiri, mungkin lupa membaca basmalah dan berdo'a sebelumnya, dan bila makanan/ minuman masih panas ia biasa meniupnya agar menjadi dingin, terasa nyaman dan tidak menyiksa lidahnya. Fenomena kebiasaan ini sepertinya sudah dianggap hal yang lumrah dan seolah telah menjadi budaya yang dibenarkan. Bukti pemandangan ini sering kita saksikan di rumah, di sekolah, di kantor, di tempat bekerja, atau di tempat-tempat umum lainnya mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan orang tua. Coba kita amati dalam tayangan televisi (yang mewakili komunitas lingkungan di luar diri kita) disadari atau tidak hampir sebagian besar kebiasaan makan/ minum seperti di atas sudah dianggap biasa. Sedangkan orang kedua sudah terbiasa makan sambil duduk, selalu dengan tangan kanan, selalu membaca basmalah dan berdo'a, serta terbiasa mununggu makanan/ minuman sampai dingin atau hangat baru kemudian dimakan.
Pada ilustrasi contoh di atas orang pertama mungkin akan berargumen bahwa kebiasaan atau cara makan itu tidaklah penting, yang penting adalah kualitas makanan ditinjau dari aspek kandungan gizinya. Esensi dari makan adalah proses pemenuhan kebutuhan nutrisi oleh tubuh untuk mensuplai kebutuhan energi, stabilitas suhu tubuh, dan regenarasi sel-sel yang secara ilmiah harus mengandung unsur-unsur yang dibutuhkan seperti karbohidrat, lemak, protein, mineral, vitamain, dsb. Alasan tersebut memang tidak salah, hanya saja ada hal yang terabaikan yakni nilai ”keberkahan” dalam makanan itu. Sedangkan orang kedua tidak menafikan esensi dan manfaat ilmiah dari makanan karena itu sebuah keniscayaan, tetapi ia juga berusaha meraih hikmah yang lebih banyak yang tidak diperoleh orang pertama. Kelebihannya antara lain :
1) Orang kedua mendasarkan niat bahwa dengan makan tubuhnya menjadi lebih kuat untuk menunaikan kewajiban beribadah, karenanya ia dapat pahala.
2) Ia melestarikan sunnah-sunnah Rasulullah SAW sebagai bukti cinta dan taat kepadanya. Taat kepada Rasullullah berarti taat kepada Allah. Inilah hakekat cinta dan ketaatan yang sesungguhnya yang karenanya ia akan selalu dicintai oleh Allah dan diampuni dosa-dosanya.
3) Ia makan dengan tangan kanan karena menyelisihi setan yang makan dengan tangan kiri. Dalam sebuah tulisan disebutkan bahwa orang yang terbiasa melakukan aktifitas dengan tangan kanan itu 9 tahun lebih panjang usianya daripada orang kidal yang populasinya hanya 13 % di dunia.
4) Ia makan sambil mengharapkan keselamatan dan keberkahan. Dengan membaca basmalah setan tidak ambil bagian dalam makanan. Apabila keberkahan ia peroleh maka hidupnya akan terasa menyenangkan karena selalu bertambah kebaikannya dan dijauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkannya.
5) Ia akan merasakan manfaat kesehatan yang plus, sebab diantara hikmah Nabi SAW melarang sesuatu pasti ada maksud dan tujuannya. Secara ilmiah medis, ketika kita bernafas dan mengeluarkan kembali udara melalui mulut maka asupan udara yang kita peroleh dan yang kita keluarkan itu berbeda. Yang kita hirup adalah oksigen (O2) dan disaring melalui hidung, sedangkan yang keluar itu udara kotor yang mengandung karbon dioksida (CO2). Jika kita meniup makanan sama artinya kita melekatkan zat karbon itu pada makanan dan kemungkinan juga melekatnya bakteri/ kuman/ mikroba/ debu kotoran (haba’) pada makanan. Disamping itu secara fisiologis posisi ideal bagi lambung dan organ pencernaan saat kita makan adalah sambil duduk, bukan dengan berdiri apalagi sambil berjalan.
Mengapa keberkahan makanan itu penting untuk kita peroleh ? Berkah secara harfiyah berarti bertambahnya kebaikan atau mendatangkan banyak kebaikan. Makanan yang berkah itu makanan yang mendatangkan manfaat kebaikan yang banyak sekali, baik di dunia bahkan sampai akhirat. Sebaliknya makanan yang tidak berkah akan mendatangkan banyak mudharat dan kerugian. Untuk itu marilah kita sadari betapa ruginya apabila kebaikan yang terlihat kecil itu sering kali kita remehkan. Sebaliknya, sekecil apapun kebaikan yang pernah kita kerjakan pasti tidak akan sia-sia melainkan sejatinya kita telah menanam benih yang akan tumbuh menjadi lebih besar dan kita akan memanen buahnya kelak di akhirat. Yang lebih menguntungkan lagi bila kita mengajak kebaikan kepada orang lain kemudian orang lain mau melakukannya, maka kita akan memperoleh pahala dari amal kebaikan yang dikerjakan oleh orang lain tersebut selama ia mengerjakannya. Berikut adalah beberapa etika lain yang harus kita biasakan dalam hal makan/ minum seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW :
1. Mencuci tangan sebelum makan
2. Membaca basmalah sebelum makan, dan membaca hamdalah sesudahnya. Jika lupa tidak membaca kita tetap diperintahkan membaca basmalah ketika teringat.
3. Makan/ minum dengan tangan kanan dan mengambil makanan yang terdekat. Rasulullah SAW bersabda :
Bacalah basmalah (jika akan makan/ minum), makanlah dengan tangan kananmu, dan ambillah makanan yang terdekat. (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Makan/ minum secukupnya, tidak berlebihan (kekenyangan) dan tidak membuang makanan. Karena hal tersebut merupakan perilaku tabdzir (pemborosan) yang disukai setan.
5. Makan dan minum sambil duduk, tidak sambil tiduran, tidak berdiri, apalagi berjalan. Sabdanya :
Janganlah salah seorang diantara kamu minum sambil berdiri. Barangsiapa lupa hendaklah menumpahkan apa yang telah diminumnya. (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
6. Makan mulai dari pinggir makanan jangan dari tengah agar keberkahan makanan itu sempurna.
7. Ketika minum janganlah bernafas dalam gelas dan jangan sekaligus, tetapi diminum dua atau tiga kali.
8. Tidak boleh mencela makanan, karena hal itu pertanda kita tidak bersyukur kepada Allah.
9. Jika makan bersama orang yang lebih tua, sebaiknya kita persilahkan mereka terlebih dahulu.
10. Dan masih banyak yang lainnya.

Demikianlah beberapa kebaikan yang harus kita biasakan dalam keseharian kita meskipun kadang terasa berat atau belum terbiasa. Sesuatu akan terasa berat apabila kita tidak terbiasa atau belum melakukannya. Agar sesuatu itu bisa dikerjakan, maka harus terbiasa. Dan sesuatu itu menjadi terbiasa, awalnya harus dipaksa. Ada ungkapan ”Possible thing is usual, and usual thing is forced”, Wallaahu a'lam. Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.

Oleh : Zaenal Muttaqin Noor

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaana-Ka Allaahumma wabihamdi-Ka asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta astaghfiru-Ka waatuubu ilai-Ka.
Powered by Blogger