Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Fitnah Dajjal



Ciri-ciri fisik dan sifat Dajjal
Diantara tanda-tanda kiamat besar adalah keluarnya Dajjal. Siapakah Dajjal itu? Dajjal adalah laki-laki keturunan Adam. Ia seorang berkulit merah, bertubuh pendek, berambut keriting, dahinya lebar, pundaknya bidang, matanya yang sebelah kanan buta, tidak menonjol keluar dan juga tidak tenggelam seperti buah anggur yang masak. Pada mata sebelah kirinya terdapat daging yang tumbuh lebih tebal dari sudutnya, diantaranya kedua matanya terdapat tulisan huruf ka-fa-ra secara terpisah yang dapat dibaca oleh setiap mu’min baik yang buta huruf maupun yang pandai menulis, ia mandul dan tidak punya anak.

Waktu dan tempat munculnya Dajjal
Dajjal akan keluar dari arah timur ( Khurasan ) dari kampung Yahudiah Asbahan (sekarang berada di perbatasan Iran dan Rusia). Kemudian ia mengembara ke seluruh negeri, tidak ada negeri yang selamat dari genggaman fitnahnya kecuali Mekkah dan Madinah, karena keduanya selalu dijaga oleh para Malaikat, ia keluar setelah kaum muslimin berhasil menaklukkan Konstantinopel.(lihat Fathul Baari 13 : 91 )

Tanda-tanda kemunculan Dajjal
Dalam hadits yang diriwayatkan dari Tamim ad-Daari disimpulkan bahwa diantara tanda-tanda kemunculan Dajjal adalah pohon-pohon kurma di desa Nakhl Baisan (Palestina) tidak bisa berbuah lagi, keringnya air danau Thabariah di Palestina dan keringnya mata air Zughar (Syiria) yang biasa mengairi perkebunan sekitarnya. ( HR Muslim 18 : 83).

Dimanakah Dajjal saat ini
Pendapat yang shahih bahwa Dajjal sudah diciptakan, saat ini ia berada di sebuah pulau terpencil dan sedang menunggu ketentuan Allah untuk dapat keluar. Hal itu sebagaimana hadits Tamim Ad-Daari yang pernah berjumpa dengan Dajjal di sebuah pulau terpencil saat perahu yang ia naiki bersama teman-temanya karam di laut. Tamim bertemu dengan Dajjal dan Al-Jasasah, sedang Dajjal saat itu kedua tanggannya terbelenggu ke kuduknya, antara kedua lutut dan mata kakinya diikat dengan rantai besi ( HR Muslim 18 : 78-83)

Keadaan dunia sebelum keluarnya Dajjal
Rasulullah SAW bersabda : “ Sesungguhnya sebelum keluarnya Dajjal adalah tempo waktu 3 tahun yang sangat sulit, dimana pada waktu itu manusia akan ditimpa oleh kelaparan yang sangat. Allah memerintahkan kepada langit pada tahun pertama untuk menahan 1/3 dari hujannya dan kepada bumi untuk menahan 1/3 dari tanamannya. Kemudian Allah memerintahkan langit pada tahun kedua agar menahan 2/3 dari hujannya dan bumi untuk menahan 2/3 dari tanamannya. Kemudian pada tahun ke 3 darinya Allah memerintahkan kepada langit untuk menahan semua air hujan, lalu ia tidak meneteskan setitik air pun dan memerintahkan bumi agar menahan seluruh tanamannya, setelah itu tidak tumbuh satu tanaman hijau pun dan semua binatang berkuku akan mati kecuali yang dikehendaki Allah SWT. Lalu dengan apa manusia hidup pada saat itu ? Beliau SAW menjawab : “ Tahlil, takbir dan tahmid adalah sama bagi mereka dengan makanan. (HR. Ibnu Majah, shahih. Lihat Ash-Shahihain No. 2457).

Lamanya Dajjal menetap di bumi
Dajjal akan tinggal di bumi selama 40 hari. Satu hari pertama bagai 1 tahun, satu hari kedua bagai 1 bulan, satu hari ke 3 bagai satu pekan. Hari-hari berikutnya sebagaimana hari biasa. Dalam keadaan seperti ini setiap muslim tetap melaksanakan shalat sebagaimana hitungan satu tahun, satu bulan, dan satu pekan. ( HR Muslim ).

Fitnah Dajjal
Dajjal akan datang dengan membawa fitnah yang sangat dahsyat, sehingga banyak manusia yang akan tertipu oleh fitnahnya. Diantara fitnah Dajjal adalah :
1. Dajjal datang dengan membawa surga dan neraka, siapa yang masuk ke surga Dajjal sesungguhnya itu adalah neraka Allah, dan siapa yang bersabar dengan neraka Dajjal, ia akan masuk sorga yang hakiki.
2. Dajjal mampu menghidupkan orang yang telah mati sehingga banyak manusia menyangka bahwa ialah Tuhan yang sesungguhnya.
3. Penduduk negeri yang disinggahi Dajjal lalu mengingkarinya, sawah ladangnya akan hancur, hewan ternaknya akan mati kelaparan, dan negerinya menjadi gersang. Sedang yang beriman pada Dajjal akan memperoleh berbagai kesenangan hidup, makanan yang melimpah, tanaman yang subur, binatang yang memiliki banyak susu.
4. Diantara fitnahnya adalah ia akan memaksa seorang manusia, lalu membunuh dan memotongnya dengan gergaji hingga tubuhnya terbelah menjadi dua, lalu ia hidupkan kembali orang tersebut dan memaksanya agar beriman kepadanya.

Para pengikut dan pendukung Dajjal
Pendukung utama Dajjal adalah 70.000 Yahudi Asbahan yang berpakaian tanpa jahitan, juga diikuti suatu kaum bermuka gelap seperti tembaga. Orang luar Arab juga banyak yang mendukung Dajjal, juga orang Turki dan manusia dari berbagai negara yang kebanyakan dari orang Arab dusun dan kaum wanita.

Terbunuhnya Dajjal di tangan Isa Al-Masih as
Pada hari terakhir dari pengembaraannya di bumi, sampailah Dajjal di Palestina, lalu bertemu dengan pasukan Al-Mahdi yang baru kembali dari penaklukkan Konstantinopel. Saat itu Al-Mahdi telah bersama Nabi Isa as. Ketika Dajjal melihat Nabi Isa as, tubuhnya meleleh seperti melelehnya garam dalam air, lalu Nabi Isa as mengejar sampai pada sebuah tempat bernama lodd, di situlah Nabi Isa as menikam Dajjal dengan tombaknya. Kemudian tombak yang berlumuran darah itu ditunjukkan kepada kaum muslimin. 70.000 kaum Yahudi pengikut Dajjal akan dibunuh semua hingga mereka bersembunyi di pohon dan batu-batu, namun benda itu dapat berbicara dan memberi tahu keberadaan orang Yahudi yang bersembunyi di baliknya, kecuali pohon Ghorqod. ( Alfitan wal- Malahim 1:128-129).

Cara berlindung dari fitnah Dajjal
Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada setiap mu’min cara berlindung dari fitnah Dajjal diantaranya adalah :
1. Membaca 10 ayat pertama dan terakhir surat Al-Kahfi
2. Membaca do’a perlindungan dari fitnah Dajjal, khususnya pada saat sujud terakhir sebelum tasyahud
3. Memantapkan iman dengan mempelajari hakikat dan fitnah Dajjal sehingga saat kemunculan ia akan mengetahui kebohongannya
4. Menetap di kota Mekkah atau Madinah
5. Berlari dan bersembunyi jika mengetahui bahwa Dajjal mendatanginya meskipun ia seorang yang kuat imannya, karena fitnah Dajjal sangat dahsyat.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Jangan Mencela Waktu


"Sial banget hari ini, kami selalu kalah jika bertanding pas hari Rabu?", ujar seseorang ketika kalah bertanding futsal.
"Bulan Suro, bulan penuh petaka!", kata seseorang yang sering menaruh sial pada bulan Suro ketika ia dapati berbagai musibah.

Bolehkah mencela waktu seperti itu?
Perlu kita ketahui bersama bahwa mencela waktu adalah kebiasaan orang-orang musyrik. Mereka menyatakan bahwa yang membinasakan dan mencelakakan mereka adalah waktu. Allah pun mencela perbuatan mereka ini. Allah Ta’ala berfirman :

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
”Dan mereka berkata : "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa (waktu)", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al Jatsiyah [45] : 24).

Jadi, mencela waktu adalah sesuatu yang tidak disenangi oleh Allah. Itulah adalah kebiasan orang musyrik dan hal ini berarti kebiasaan yang jelek. Begitu juga dalam berbagai hadits disebutkan mengenai larangan mencela waktu.
Dalam Shahih Muslim, dibawakan Bab dengan judul ’larangan mencela waktu (ad-dahr)’. Di antaranya terdapat hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
”Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mencela waktu, padahal Aku adalah (pengatur) waktu, Akulah yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Muslim no. 6000)

Dalam lafadz yang lain, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ يَقُولُ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ. فَلاَ يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ. فَإِنِّى أَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ فَإِذَا شِئْتُ قَبَضْتُهُمَا
”Allah ’Azza wa Jalla berfirman,’Aku disakiti oleh anak Adam. Dia mengatakan ’Ya khoybah dahr’ [ungkapan mencela waktu, pen]. Janganlah seseorang di antara kalian mengatakan ’Ya khoybah dahr’ (dalam rangka mencela waktu, pen). Karena Aku adalah (pengatur) waktu. Aku-lah yang membalikkan malam dan siang. Jika suka, Aku akan menggenggam keduanya.” (HR. Muslim no. 6001)

An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim (7/419) mengatakan bahwa orang Arab dahulu biasanya mencela masa (waktu) ketika tertimpa berbagai macam musibah seperti kematian, kepikunan, hilang (rusak)-nya harta dan lain sebagainya sehingga mereka mengucapkan ’Ya khoybah dahr’ (ungkapan mencela waktu, pen) dan ucapan celaan lainnya yang ditujukan kepada waktu.
Setelah dikuatkan dengan berbagai dalil di atas, jelaslah bahwa mencela waktu adalah sesuatu yang telarang. Kenapa demikian? Karena Allah sendiri mengatakan bahwa Dia-lah yang mengatur siang dan malam. Apabila seseorang mencela waktu dengan menyatakan bahwa bulan ini adalah bulan sial atau bulan ini selalu membuat celaka, maka sama saja dia mencela Pengatur Waktu, yaitu Allah ’Azza wa Jalla.
Perlu diketahui bahwa mencela waktu bisa menyebabkan kita terjerumus ke dalam dosa bahkan bisa membuat kita terjerumus ke dalam syirik akbar (syirik yang mengeluarkan pelakunya dari Islam). Perhatikanlah rincian Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Al-Qoulul Mufid ’ala Kitabit Tauhid berikut :

Mencela waktu itu terbagi menjadi tiga macam :
Pertama; jika dimaksudkan hanya sekedar berita dan bukanlah celaan, kasus semacam ini diperbolehkan. Misalnya ucapan, ”Kita sangat kelelahan karena hari ini sangat panas” atau semacamnya. Hal ini diperbolehkan karena setiap amalan tergantung pada niatnya. Hal ini juga dapat dilihat pada perkataan Nabi Luth ’alaihis salam,
هَـذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ
”Ini adalah hari yang amat sulit." (QS. Hud [11] : 77)

Kedua; jika menganggap bahwa waktulah pelaku yaitu yang membolak-balikkan perkara menjadi baik dan buruk, maka ini bisa termasuk syirik akbar. Karena hal ini berarti kita meyakini bahwa ada pencipta bersama Allah yaitu kita menyandarkan berbagai kejadian pada selain Allah. Barangsiapa meyakini ada pencipta selain Allah maka dia kafir. Sebagaimana seseorang meyakini bahwa ada sesembahan selain Allah, maka dia juga kafir.

Ketiga; jika mencela waktu karena waktu adalah tempat terjadinya perkara yang dibenci, maka ini adalah haram dan tidak sampai derajat syirik. Tindakan semacam ini termasuk tindakan bodoh (alias ’dungu’) yang menunjukkan kurangnya akal dan agama. Hakikat mencela waktu, sama saja dengan mencela Allah karena Dia-lah yang mengatur waktu, di waktu tersebut Dia menghendaki adanya kebaikan maupun kejelekan. Maka waktu bukanlah pelaku. Tindakan mencela waktu semacam ini bukanlah bentuk kekafiran karena orang yang melakukannya tidaklah mencela Allah secara langsung. –Demikianlah rincian dari beliau rahimahullah yang sengaja kami ringkas-
Maka perhatikanlah saudaraku, mengatakan bahwa waktu tertentu atau bulan tertentu adalah bulan sial atau bulan celaka atau bulan penuh bala bencana, ini sama saja dengan mencela waktu dan ini adalah sesuatu yang terlarang. Mencela waktu bisa jadi haram, bahkan bisa termasuk perbuatan syirik. Hati-hatilah dengan melakukan perbuatan semacam ini. Oleh karena itu, jagalah selalu lisan ini dari banyak mencela. Jagalah hati yang selalu merasa gusar dan tidak tenang ketika bertemu dengan satu waktu atau bulan yang kita anggap membawa malapetaka. Ingatlah di sisi kita selalu ada Malaikat yang akan mengawasi tindak-tanduk kita.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (16) إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17)
”Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan para Malaikat Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.” (QS. Qaaf [50] : 16-17)

Semoga Allah memberi taufik untuk menjaga lisan ini dari murka-Nya.

Oleh : Muhammad Abduh Tuasikal

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaana-Ka Allaahumma wabihamdi-Ka asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta astaghfiru-Ka waatuubu ilai-Ka.

Ngalap Berkah (Tabaruk)


Kaum muslimin yang semoga selalu mendapat taufik Allah Ta’ala. Pada hari yang dikatakan sakral oleh sebagian kaum muslimin, terdapat suatu kenyataan yang sangat memilukan yang menunjukkan kekurangan akal. Hari tersebut adalah tanggal siji suro (1 Muharram). Sebagian kaum muslimin yang selalu menginginkan kemudahan dalam hidupnya dan ingin mencari kebaikan malah mencarinya dengan cara yang tidak masuk akal. Mereka mencari berkah dari seekor kerbau (kebo bule) yang disebut dengan ‘Kyai Slamet’, yakni mereka saling berebut untuk mendapatkan kotoran kerbau tersebut, lalu menyimpannya, seraya berkeyakinan rizki akan lancar dan usaha akan berhasil dengan sebab kotoran tersebut. Seorang yang punya akal sehat tentu tidak mungkin melakukan hal yang demikian. Tetapi kok mereka bisa melakukan hal yang demikian?! Ke mana akal sehat mereka?!!
Itulah tabaruk (baca: mencari berkah atau ’ngalap berkah’), mereka melakukan yang demikian untuk mendapatkan berkah dari kotoran tersebut. Maka perhatikanlah pembahasan kali ini, agar kaum muslimin sekalian dapat mengetahui manakah cara mencari berkah yang dibenarkan dan manakah yang dilarang oleh agama ini.

Keberkahan hanya dari Allah
Mencari berkah atau tabaruk adalah meminta kebaikan yang banyak dan meminta tetapnya kebaikan tersebut. Dalam Al Qur’an dan hadits menunjukkan bahwasanya keberkahan hanya berasal dari Allah semata dan tidak ada seorang makhluk pun yang dapat memberikan keberkahan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Allah yang memberikan berkah, telah menurunkan Al Furqaan (yaitu Al Qur’an) kepada hamba-Nya” (Al Furqon: 1), yaitu menunjukkan banyaknya dan tetapnya kebaikan yang Allah berikan kepada hamba-Nya berupa Al Qur’an. Allah juga berfirman yang artinya,”Kami limpahkan keberkahan atasnya dan atas Ishaq” (Ash Shofaat: 113). “Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada” (Maryam: 31). Ayat-ayat yang mulia ini menunjukkan bahwasanya yang memberikan berkah hanyalah Allah. Maka tidak boleh seseorang mengatakan,’Saya memberikan berkah pada perbuatan kalian, sehingga perbuatan tersebut lancar’. Karena berkah, banyaknya kebaikan, dan kelanggengan kebaikan hanya Allah yang mampu memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Berkah yang tidak bisa berpindah secara dzat
Kaum muslimin yang semoga dirahmati Allah. Al Qur’an dan hadits menunjukkan bahwa sesuatu yang Allah halalkan sebagai berkah ada 2 macam yaitu (1) berkah dari tempat dan waktu, dan (2) berkah dari zat manusia.
Berkah yang pertama ini seperti yang Allah berikan pada Baitul Haram (ka’bah) dan sekeliling Baitul Maqdis. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami” (Al Isro’: 1). Maksud dari memberkahi tempat tersebut adalah memberikan kebaikan yang banyak dan terus menerus di tempat tersebut, sehingga para hamba-Nya senantiasa ingin dan senang berdo’a di tempat tersebut, untuk memperoleh berkah di dalamnya. Ini bukan berarti -seperti anggapan sebagian kaum muslimin- bahwa seseorang boleh mengusap-ngusap bagian masjid tersebut (seperti dinding) untuk mendapatkan berkah yang banyak. Karena berkah dari masjid tersebut bukanlah berkah secara dzatnya, tetapi keberkahannya adalah secara maknawi saja, yaitu keberkahan yang Allah himpun pada bangunan ini yaitu dengan mendatanginya, thowaf di sekeliling ka’bah, dan beribadah di dalamnya yang pahalanya lebih banyak daripada beribadah di masjid lainnya. Begitu juga hajar aswad, keberkahannya adalah dengan maksud ibadah, yaitu seseorang menciumnya atau melambaikan tangan kepadanya karena mentaati dan mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berkah yang dia peroleh adalah berkah karena mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umar radhiyallahu ‘anhu telah mengatakan, ”Sesungguhnya aku mengetahui bahwa kamu adalah batu biasa, tidak dapat memberikan manfaat, begitu juga tidak dapat mendatangkan bahaya.” (HR. Bukhari). Maksudnya, hajar aswad tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula memberikan bahaya kepada seseorang sedikit pun. Sesungguhnya hal ini dilakukan dalam rangka melakukan ketaatan kepada Allah dan mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, beliau radhiyallahu ‘anhu mengatakan,”Dan aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, maka aku juga menciummu.”
Adapun mendapatkan berkah dari waktu adalah seperti pada bulan Ramadhan. Bulan tersebut disebut dengan bulan yang penuh berkah (banyak kebaikan). Seperti di dalamnya terdapat malam lailatul qodar yaitu barangsiapa yang beribadah pada malam tersebut maka dia seperti beribadah seribu bulan lamanya.

Berkah dari para Nabi dapat berpindah secara dzat
Kaum muslimin, berkah jenis kedua ini adalah berkah yang Allah berikan pada orang-orang mu’min dari para Nabi ‘alaihimus salam. Berkah yang terdapat pada mereka adalah berkah secara dzat (dapat berpindah secara dzat). Seluruh bagian tubuh para Nabi mulai dari Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, sampai Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya adalah berkah. Di antara kaum Nabi tersebut ada yang mencari berkah dari badan mereka, baik dengan mengusap-ngusap tubuh mereka atau mengambil keringat mereka atau mengambil berkah dari rambut mereka. Semua ini diperbolehkan karena Allah menjadikan tubuh mereka adalah berkah. Sebagaimana Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, badannya adalah berkah. Hal ini dapat dilihat dalam hadits bahwasanya para sahabat Nabi mengambil berkah dari ludah dan rambut beliau. Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu, mereka saling berebut untuk mendapat bekas wudhu beliau.
Berkah secara dzat seperti ini hanya dikhususkan kepada para Nabi ‘alaihimus salam saja dan tidak diperbolehkan bagi selain mereka. Begitu juga para sahabat Nabi sekalipun atau sahabat yang paling mulia dan sudah dijamin masuk surga seperti Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma tidak boleh seorang pun mengambil berkah dari mereka karena hal seperti ini tidak pernah dilakukan oleh para sahabat yang lain kepada mereka berdua, sebagaimana mereka mengambil berkah dari rambut dan keringat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bagaimana mencari berkah dari ‘Kebo’ [?]
Sebagian kaum muslimin saat ini ketika menghadapi kesulitan dalam hidupnya, mereka malah mencari berkah dari para kyai. Mereka menyamakan/meng-qiyas-kan hal ini dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam boleh diambil rambut dan keringatnya sebagai suatu keberkahan, maka menurut mereka para kyai juga pantas untuk dimintai berkahnya baik dari ludahnya atau rambutnya. Bahkan ada pula yang mengambil kotoran kyai/gurunya untuk mendapatkan berkah, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang sufi. Tidakkah mereka tahu bahwa mencari berkah secara dzat seperti ini tidak diperbolehkan untuk selain para Nabi?!!
Qiyas (penyamaan hukum) yang mereka lakukan adalah qiyas yang keliru dan jelas-jelas berbeda. Jangankan mencari berkah dari kyai, mencari berkah dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu -sahabat yang mulia, yang keimanannya jika ditimbang akan lebih berat dari keimanan umat ini dan sudah dijamin masuk surga- saja tidak diperbolehkan karena beliau bukan Nabi dan tidak pernah di antara para sahabat yang lain mencari berkah dari beliau radhiyallahu ‘anhu. Apalagi dengan para kyai yang tingkat keimanannya di bawah Abu Bakar dan belum dijamin masuk surga, maka tidaklah pantas seorang pun mengambil berkah darinya.
Maka bagaimana pula dengan mengambil berkah dari kyai -yang tidak punya akal- seperti kerbau ‘Kyai Slamet’?!! Sungguh perbuatan ini tidaklah masuk akal dan tidak mungkin memberikan kebaikan sama sekali, tetapi malah akan menambah dosa. Dosa ini bukan sembarang dosa, namun dosa ini adalah dosa paling besar dari dosa-dosa lainnya yaitu dosa syirik dan Allah Ta’ala berfirman,”Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik. Dan Dia mengampuni dosa yang berada di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An Nisa’: 116)

Tingkat kesyirikanTabaruk (Mencari Berkah)
Syaikh Sholih Alu Syaikh hafidzohullah menjelaskan bahwa jika kita memperhatikan apa yang dilakukan oleh para penyembah kubur (yang datang ke kuburan para wali dan beribadah kepadanya, -pen) di zaman kita ini, di negeri-negeri yang di sana tersebar berbagai macam kesyirikan, kita akan mendapati di antara mereka ada yang melakukan ibadah sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang musyrik terdahulu terhadap laata, ‘uzza, dan dzatu anwat. Para penyembah kubur tersebut duduk-duduk di kuburan atau di sekeliling pagarnya, mereka berada di atas kuburan atau di celah-celah dinding yang mengelilingi kuburan. Mereka berkeyakinan apabila mereka menyentuhnya (dengan tujuan mencari berkah,-pen) seolah-olah mereka menyentuh orang yang berada dalam kuburan tersebut, terhubungkan roh mereka dengannya dan mereka meyakini bahwa orang yang berada di dalam kubur akan menjadi perantara antara mereka dengan Allah. Itulah pengagungan kepada kubur tersebut. Inilah syirik akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam,-pen) karena perkara ini mengandung ketergantungan hati kepada selain Allah dalam mengambil manfaat dan menolak bahaya serta menjadikan perantara antara diri mereka dengan Allah. Perbuatan seperti ini adalah sebagaimana yang dilakukan orang-orang musyrik dahulu (yang telah dianggap kafir oleh Allah dan Rasul-Nya,-pen). Hal ini dapat dilihat pada firman Allah yang artinya,”Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya." Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (Az Zumar: 3).

Adapun apabila mereka mengusap-ngusap kubur tersebut dan meyakini bahwa kubur tersebut adalah tempat yang penuh berkah dan hanya sebagai sebab mendapatkan berkah. Maka ini adalah syirik ashgor.
(Sebagian pembahasan di atas diambil dari kitab ‘At Tamhid lii Syarhi Kitabit Tauhid’ yang ditulis oleh Menteri Wakaf Kerajaan Saudi Arabia, Syaikh Sholih Alu Syaikh -semoga Allah menjaga beliau-)

Wahai kaum muslimin, inilah tingkat kesyirikan tabaruk. Seseorang bisa keluar dari Islam disebabkan melakukan perbuatan syirik akbar ini. Maka renungkanlah, apakah perbuatan lain yang merupakan bentuk mencari berkah seperti ‘grebeg mulud’ (tumpukan tumpeng yang saling diperebutkan pada hari ‘maulud Nabi’) termasuk mencari berkah yang disyari’atkan atau tidak. Benarkah tumpeng yang diambil berkahnya tersebut bisa melariskan dagangan, melancarkan rizki seseorang, bisa membuat seseorang mendapatkan jodoh?!!
Semoga Allah menunjukkan kita kepada kebenaran dan meneguhkan kita di atasnya. Sesungguhnya Allah menunjuki pada jalan yang lurus bagi siapa yang dikehendaki.

Oleh : Muhammad Abduh Tuasikal

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaana-Ka Allaahumma wabihamdi-Ka asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta astaghfiru-Ka waatuubu ilai-Ka.

Membangun Iman


ALHAMDULILLAH, keimanan masih melekat dalam diri kita. Sekalipun kita tinggal di gubug reot, di hotel prodeo, di hutan belantara, di padang sahara atau hotel, asal masih ada nikmat iman, itu jauh lebih berharga daripada dunia dan seisinya. Karena iman ini hanya diberikan oleh Allah SWT kepada hamba yang dipilih dan dicintai-Nya.
Rasulullah Muhammad pernah berpesan :

لَوْ كاَنَتِ الدُّنْياَ تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ ماَ سَقَى مِنْهاَ شُرْبَةَ ماَءٍ
“Kalau sekiranya kenikmatan dunia masih ada nilainya di sisi Allah seberat sayap nyamuk, Allah tidak akan memberi minum orang kafir meskipun seteguk air.” (HR. At Tirmidzi).

Sebaliknya betapa sengsara dan menderitanya hidup ini jika lepas dari iman. Apa gunanya harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, posisi yang strategis, hidup enak, tidur nyeyak, jika tidak ditemani oleh iman. Semua itu akan menggali lubang kehancuran bagi kita sendiri (istidraj). Bahkan, di dunia ini kita tidak akan mampu memaknai dan menikmati kepemilikan kita, jika iman tidak mendominasi dan menjadi panglima di dalamnya.
Oleh karena itu, mumpung kita masih sehat, memiliki harta, ada momentum dan kesempatan, mari kita mengerahkan tenaga, pikiran, waktu, dan segala potensi yang kita miliki untuk membangun keimanan kita. Pengorbanan yang kita lakukan untuk meraih manisnya iman (halawatul iman), akan mendatangkan kelezatan spiritual di dunia dan keselamatan di akhirat.

Membangun iman dalam perspektif Islam diletakkan dalam skala prioritas dalam perencanaan pembangunan, baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Pembangunan dalam aspek keyakinan ini dilakukan dengan penuh keseriusan, bukan asal-asalan. Pembangunan iman juga dilakukan secara sistemik. Seluruh komponen umat terlibat dalam menseriusi pekerjaan ini. Hal ini tercermin jelas pada perencanaan hingga sampai alokasi sumber dana dan sumber daya.
Segala kegiatan yang kontra produktif bagi akselerasi pembangunan iman ditiadakan dari diskursus perencanaan pembangunan. Jangan sampai terjadi, dengan alasan pembangunan, maksiat di buka lebar-lebar, demoralisasi dan dehumanisasi dibiarkan hanya karena perlindungan HAM. Sekedar contoh, demi menghindari mewabahnya HIV/AIDS dipersilahkan orang memakai kondom terhadap pasangannya (tanpa melihat sah dan tidaknya pasangan tersebut). Demi stabilitas politik dan keamanan politik machiavelli di halalkan.
Iman yang ditegakkan dalam kehidupan adalah iman yang hakiki, bukan iman yang bersifat formalistik. Tidak sekedar puas dengan melaksanakan kegiatan ritual, seremonial, upacara keagamaan, peringatan hari-hari besar Islam, tabligh akbar, tetapi KKN tetap dilestarikan. Membangun masjid di mana-mana, tempat ibadah megah, tetapi praktek kekerasan dan kezhaliman politik dan ketidakadilan distribusi ekonomi tetap berlangsung.

Limpahan Berkah
Pembangunan iman merupakan landasan gerak, motivasi, titik tolak (muntholaq), dalam membangun sistem kehidupan. Mengakui keberadaan Allah dan hubungan yang berketuhanan, humanisme, mengedepankan nilai-nilai kesucian, moral, keadilan, kebenaran, dan supremasi hukum. Iman memposisikan Allah sebagai Dzat yang mutlak, Maha Kuasa, Maha Adil, dan Maha Mengetahui tentang apa dan bagaimana yang terbaik bagi manusia. Tuhan memiliki segala sifat kesempurnaan dan jauh dari segala sifat kekurangan. Karenanya, topeng-topeng kemunafikan tidak lagi ditoleransi dalam pembagunan iman. Iman melahirkan manusia yang berguna sekecil apapun potensi (thoqoh) yang dimilikinya, bakat (syakilah) yang diberikan oleh Allah Swt. Iman melahirkan kekuatan dalam segala aspek kehidupan. Kekuatan material dan spiritual, idealisme dan realistik, individual dan kolektifitas. Termasuk otak dan bathin, intlektual dan keyakinan.
Iman menumbuhkan kepedulian, dedikasi, wawasan jauh ke depan, kedisiplinan, amanah, jujur, militan, integritas dan keadilan. Dengan iman mengantarkan manusia menjadi produktif, dinamis, inovatif dan kreatif. Karenanya, iman yang benar akan jauh dari sikap mental malas dan konsumtif.
Membangun iman memerlukan pengorbanan, perjuangan dan kerja keras. Pengorbanan jiwa, harta yang dilakukan untuk meraih manisnya beriman (halawatul iman) akan dibeli oleh Allah dengan surga.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.\"(QS. At Taubah : 111).

Dia telah membeli harta dan jiwa orang-orang beriman dengan surga, ini adalah permisalan dalam puncak keindahan gaya bahasa dan sastra untuk memberikan ganjaran bagi mujahid. Allah membuat perumpamaan bahwa balasan mereka dengan surga atas pengorbanan harta dan jiwa di jalan-Nya dalam bentuk transaksi jual beli.
Berkata Al Hasan : Allah membeli mereka dengan harga yang mahal, perhatikanlah kemurahan Allah. Dia yang menciptkan jiwa, Dia pula yang membelinya. Dia yang memberikan rezeki harta, Dia pula yang menghibakannya kepadanya, kemudian Dia membelinya dengan harga yang mahal demi memberikan keuntungan yang berlipat (Shafwatut Tafasir I : 564).
Iman menjadikan manusia, tenang, bahagia, lapang dada, karena telah berbuat kebaikan. Iman menyadarkan kita bahwa dunia adalah lahan ujian keikhlasan dan cobaan serta penuh dengan tantangan (QS. Al Mulk : 2).
Bahkan memandang problem sebagai peluang dan tantangan untuk meningkatkan kualitas. Dengan iman melihat setiap kejadian dengan kacamata positif dan mengembalikan seluruh persoalan kepada Allah Swt. Jika sedang tertimpa musibah dia mengatakan : innaa lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya dikembalikan). Dan apabila sedang sukses bersyukur kepada Allah. Ini adalah karunia dari Rabbku untuk mengujiku apakah saya bersyukur atau ingkar (QS. An Naml : 40).

Iman secara otomatis membuat orang lebih sabar, tahan uji dalam kesulitan dan bersyukur pada saat lapang. “Ash Shabru qorinul yaqin” (shabar adalah teman akrab keyakinan). Iman memandang fluktuasi kehidupan dengan semangat yang sama. Kegagalan dan kesuksesan akan dipergilirkan dan digulirkan oleh Allah kepada yang di kehendaki-Nya. Iman mengajarkan sikap independen. Iman melahirkan sikap optimisme dan kekuatan rohani yang maha dahsyat dalam menghadapi persoalan yang melilit kehidupan. Karena tidak ada daya dan kekuatan selain kekuatan dari Allah. Tidak ada persoalan rumit yang tidak ditemukan solusinya, jika Allah turun tangan (tadakhul rabbani).
Walhasil, iman yang mencerahkan tadi, akan membukakan limpahan berkah dari langit dan bumi. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS. Al A’raf : 96).

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl : 97). *

Oleh : Shalih Hasyim

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka wa-atuubu ilaika.

Syirik dan Bencana


Musibah dan bencana datang secara beruntun silih berganti melanda negeri ini. Tsunami di Aceh dan Mentawai, gempa di Nias, Padang, Yogyakarta, Tasikmalaya, banjir bandang Wasior, gunung Merapi, tanah longsor, angin puting beliung, banjir di mana-mana, semburan lumpur panas, kecelakaan alat transportasi di darat, laut, udara dan masih banyak lagi bencana lain yang tak terhitung jumlahnya. Mengapa bencana demi bencana terus menimpa tanah air kita ini?
Sebagai orang beriman yang bertakwa, sudah sepatutnya kita mengambil pelajaran berharga dari kejadian-kejadian ini. Selang beberapa saat setelah bencana besar terjadi, berbondong-bondonglah para pejabat atau kepala daerah mendatangi daerah bencana tersebut. Ucapan yang biasanya dilontarkan para pemimpin kepada rakyatnya yang sedang terkena bencana, "Sabar, tabah, tawakal, dan lain-lain..." yang pada intinya menghimbau agar rakyat bersabar dalam menghadapi bencana.

Kalau kita kembali ke zaman Khalifah Umar bin Khattab, yang juga merupakan Sahabat Rasulullah SAW. pada zaman tersebut juga pernah terjadi bencana berupa gempa dahsyat yang menimpa salah satu daerah yang dipimpinnya. Dan beliaupun mengunjungi daerah yang tertimpa gempa tersebut. Tetapi yang sangat berbeda dengan para pemimpin sekarang adalah perkataan yang dilontarkan oleh beliau. Khalifah Umar berkata, "Wahai rakyatku, dosa besar apakah yang kalian lakukan sehingga Allah menimpakan azab seperti ini?!".
Sebagian orang mungkin akan berpikir bahwa perkataan seperti itu sangatlah kasar dan kurang berkenan, apalagi kepada orang yang sedang tertimpa musibah. Tetapi, Khalifah Umar berkata demikian bukanlah tanpa sebab. Umar bin Khattab lebih mengajak rakyatnya agar mengintrospeksi diri, dan inilah yang seharusnya kita lakukan.
Dalam Al-Quran Surat Hud ayat 109 berbunyi : "Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara dzalim, sedangkan penduduknya orang-orang yang berbuat KEBAIKAN". Kemudian dalam Surat Al-Qashash ayat 59 disebutkan : "... dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan KEZALIMAN".

Lalu dosa besar apa yang telah dilakukan, sehingga Allah menimpakan bencana beruntun ini ? Yang paling kelihatan dan mencolok adalah dosa syirik (menyekutukan Allah). Sebelum bencana beruntun ini terjadi, sudah berpuluh-puluh tahun masyarakat daerah tertentu sering melakukan ritual “melarung kepala kerbau” ataupun melakukan “ruwatan” sebagai ritual tolak bala’ dengan tujuan agar terhindar dari berbagai bencana (padahal justru perbuatan syirik seperti inilah yang bisa mengakibatkan bencana). Perbuatan syirik semacam ini terjadi di banyak tempat di Indonesia. Ritual-ritual syirik seperti ini dan ritual-ritual lainnya yang tidak diajarkan oleh agama Islam sepertinya sudah menjadi tradisi bangsa ini dan tidak (atau kurang) diingatkan oleh ulama dan pemimpin negeri ini bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang sangat dibenci dan dimurkai oleh Allah SWT. Syirik merupakan dosa yang amat besar yang tidak terampuni, bahkan sampai-sampai Allah akan menghapus semua amalan yang telah dilakukannya jika seseorang melakukan dosa syirik. Seperti yang telah tertuang dalam QS. Az-Zumar (39) ayat yang 65 :
"... Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”.
Orang yang melakukan dosa syirik, selain amalannya dihapus semua oleh Allah, dosa-dosanya juga tidak akan diampuni oleh Allah. Dalilnya bisa kita lihat dalam surat yang ke empat surat An-Nisa ayat 48 : "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah membuat dosa yang besar".

Dan perbuatan syirik merupakan suatu KEZALIMAN yang besar. Hal ini disebutkan dalam QS. Luqman (31) ayat 13 :
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah nyata-nyata kezaliman yang besar".
Dan ini sangatlah sesuai jika kita kembali surat Al-Qashash ayat 59 disebutkan :
"... dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kedzaliman".
Jadi jangan heran jika Allah menimpakan azab pada penduduk yang telah berbuat kedzaliman.
Lalu bagaimana dengan kota-kota lainnya? Dosa-dosa besar apakah yang telah mereka lakukan? Apakah syirik, korupsi, suap menyuap, jual beli hukum, narkoba, minuman keras, judi, perzinaan, ... dan masih banyak lagi dosa-dosa bangsa ini yang tidak mungkin disebutkan satu per satu. Jadi mari kita cermati saja kesalahan apa yang kita lakukan sehingga banyak terjadi bencana di Indonesia. Mungkin ini merupakan peringatan Allah pada bangsa ini secara keseluruhan yang banyak bergelimang dosa. Atau mungkin ini sebagai wujud kasih sayang Allah untuk mengingatkan kita agar kembali mendekat kepada-Nya. Marilah kita renungi bersama dosa-dosa yang telah kita lakukan, jangan sampai Allah menimpakan adzab-Nya yang lebih keras lagi. Dan semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang amat berharga dari bencana ini. Jika kita mengaku sebagai seorang muslim, jangan sampai berbuat syirik, karena syirik merupakan salah satu pembatal keislaman seseorang. Dan sebagai penutup marilah kita berdo’a :

"Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita makan, minum dan mencukupi kita, serta memberi kita tempat tinggal. Betapa banyak orang yang tidak mendapatkan yang mencukupi dia serta memberi dia tempat tinggal". (HR. Muslim dari Anas bin Malik).
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin, serta hancurkanlah musuh-musuh agama kami. Ya Allah, ringankanlah musibah yang menimpa saudara-saudara kami di manapun mereka berada, kuatkanlah mereka wahai Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah.
Ya Allah, tenangkanlah rasa takut mereka, obatilah kelaparan dan dahaga mereka, tutupilah aurat mereka, karuniakanlah kepada mereka tempat tinggal yang baik, wahai Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah.
Ya Allah, kembalikanlah kami dan mereka kepada-Mu dengan baik, berilah kami taufik untuk bertaubat kepada-Mu, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang beriman dan mengikuti rasul-Mu Shallallahu alaihi wa Sallam, juga karuniailah kami -wahai Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah- taufik untuk mengerjakan hal-hal yang Engkau cintai dan ridhai, bantulah kami untuk melakukan kebaikan dan ketakwaan, janganlah Engkau jadikan kami bergantung kepada diri sendiri, meskipun hanya sekejap mata.
Ya Allah, ampunilah segala dosa kami, baik yang kecil maupun yang besar, yang terdahulu maupun yang akan datang, serta yang tersembunyi maupun yang terlihat. Ya Allah, sesungguhnya kami telah mendzalimi diri kami, jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihi, niscaya kami akan menjadi orang-orang yang merugi.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaana-Ka Allaahumma wabihamdi-Ka asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta astaghfiru-Ka waatuubu ilai-Ka.

Sakaratul Maut 2

"Kalau sekiranya kamu dapat melihat Malaikat-malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka serta berkata, "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar." (niscaya kamu akan merasa sangat ngeri) (QS. Al-Anfal {8} : 50).
"Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang dzalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para Malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), "Keluarkanlah nyawamu ! "Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan kerena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya". (Qs. Al- An'am : 93).

Cara Malaikat Izrail mencabut nyawa tergantung dari amal perbuatan orang yang bersangkutan. Bila orang yang akan meninggal dunia itu durhaka kepada Allah, maka Malaikat Izrail mencabut nyawanya dengan cara yang kasar. Sebaliknya, bila terhadap orang yang sholeh, cara mencabutnya dengan lemah lembut dan dengan hati-hati.
Namun demikian peristiwa terpisahnya nyawa dengan raga tetap teramat menyakitkan. "Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga ratus kali sakitnya dipukul pedang". (H.R. Ibnu Abu Dunya).
Di dalam sebuah riwayat dikisahkan, bahwa Nabi Idris as adalah seorang ahli ibadah, kuat mengerjakan sholat sampai puluhan raka'at dalam sehari semalam dan selalu berzikir di dalam kesibukannya sehari-hari. Catatan amal Nabi Idris as yang sedemikian banyak, setiap malam naik ke langit. Hal itulah yang sangat menarik perhatian Malaikat Maut, Izrail. Maka bermohonlah ia kepada Allah Swt agar di perkenankan mengunjungi Nabi Idris as di dunia. Allah Swt, mengabulkan permohonan Malaikat Izrail, maka turunlah ia ke dunia dengan menjelma sebagai seorang laki-laki tampan, dan bertamu ke rumah Nabi Idris as. "Assalamu'alaikum, yaa Nabi Allah". Salam Malaikat Izrail, "Wa'alaikum salam warahmatullaah", jawab Nabi Idris as.
Beliau sama sekali tidak mengetahui, bahwa lelaki yang bertamu ke rumahnya itu adalah Malaikat Izrail. Seperti kepada tamu yang lain, Nabi Idris as melayani Malaikat Izrail, dan ketika tiba saat berbuka puasa, Nabi Idris as mengajaknya makan bersama, namun di tolak oleh Malaikat Izrail. Selesai berbuka puasa, seperti biasanya, Nabi Idris a.s mengkhususkan waktunya untuk "menghadap" Allah sampai keesokan harinya. Semua itu tidak lepas dari perhatian Malaikat Izrail. Juga ketika Nabi Idris terus-menerus berdzikir dalam melakukan kesibukan sehari-harinya, dan hanya berbicara yang baik-baik saja.
Pada suatu hari yang cerah, Nabi Idris as mengajak "tamunya" jalan-jalan ke sebuah perkebunan di mana pohon-pohonnya sedang berbuah, ranum dan menggiurkan. "Izinkanlah saya memetik buah-buahan ini untuk kita", pinta Malaikat Izrail (menguji Nabi Idris a.s). "Subhaanallaah, (Maha Suci Allah)" kata Nabi Idris as. "Kenapa ?", Malaikat Izrail pura-pura terkejut. "Buah-buahan ini bukan milik kita", ungkap Nabi Idris as.
Kemudian Beliau berkata : "Semalam anda menolak makanan yang halal, kini anda menginginkan makanan yang haram". Malaikat Izrail tidak menjawab. Nabi Idris as perhatikan wajah tamunya yang tidak merasa bersalah. Diam-diam beliau penasaran tentang tamu yang belum dikenalnya itu. Siapakah gerangan?, pikir Nabi Idris as. "Siapakah engkau sebenarnya ?", tanya Nabi Idris as.
"Aku Malaikat Izrail", jawab Malaikat Izrail. Nabi Idris a.s terkejut hampir tak percaya, seketika tubuhnya bergetar tak berdaya. "Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku ?", selidik Nabi Idris as serius.
"Tidak", senyum Malaikat Izrail penuh hormat.
"Atas izin Allah, aku sekedar berziarah kepadamu", jawab Malaikat Izrail. Nabi Idris manggut-manggut, beberapa lama kemudian beliau hanya terdiam. "Aku punya keinginan kepadamu", tutur Nabi Idris as. "Apa itu?, katakanlah !", jawab Malaikat Izrail. "Kumohon engkau bersedia mencabut nyawaku sekarang.
Lalu mintalah kepada Allah Swt untuk menghidupkanku kembali, agar bertambah rasa takutku kepada-Nya dan meningkatkan amal ibadahku", pinta Nabi Idris as. "Tanpa seizin Allah, aku tak dapat melakukannya", tolak Malaikat Izrail. Pada saat itu pula Allah SWT memerintahkan Malaikat Izrail agar mengabulkan permintaan Nabi Idris as. Dengan izin Allah Malaikat Izrail segera mencabut nyawa Nabi Idris as sesudah itu beliau wafat. Malaikat Izrail menangis, memohonlah ia kepada Allah SWT agar menghidupkan Nabi Idris as kembali.
Allah mengabulkan permohonannya. Setelah dikabulkan oleh Allah, Nabi Idris as hidup kembali. "Bagaimanakah rasa mati itu, Sahabatku ?", tanya Malaikat Izrail.
"Seribu kali lebih sakit dari binatang hidup dikuliti", jawab Nabi Idris as. "Caraku yang lemah lembut itu, baru kulakukan terhadapmu". Kata Malaikat Izrail. Masyaa Allah, lemah-lembutnya Malaikat Maut (Izrail) itu terhadap Nabi Idris as.
Bagaimanakah jika sakaratul maut itu datang kepada kita ? Siapkah kita untuk menghadapinya.....?

Mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Sakaratul Maut


Alhamdulillahi, washsholaatu wassalaamu ‘alaa Rosuulihi, wa’alaa aalihi washohbihii ajma’iin.
Ammaa ba’du : Ayyuhal ikhwaan, Saudaraku seiman......

“Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejap, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”. (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).

Atsar (pendapat) para Sahabat Rasulullah SAW :
Ka’ab al-Akhbar berpendapat : “Sakaratul maut itu ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan ke dalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itu pun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”.
Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda-beda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekular, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan (walaupun tampak di dunianya hanya beberapa detik), seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.
Sabda Rasulullah SAW : “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon berduri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari)
Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang yang dzalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam, rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu di depan satu di belakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dan dari mulutnya keluar jilatan api. Ketika melihatnya, Ibrahim as pun pingsan tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman Allah di akhirat jauh lebih dahsyat dari itu.
Kisah ini menggambarkan bahwa melihat wajah Malaikatul Maut saja sudah menakutkan, apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita, menarik paksa ruh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentakkan tubuh kita agar ruh (yang masih cinta dunia dan enggan meninggalkan dunia) lepas dari tubuh kita, ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras.
Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan ruh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita.
Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang dzalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata) : “Keluarkanlah nyawamu ....!!!”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS Al-An’am 6:93)
(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para Malaikat dalam keadaan berbuat dzalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata) : “Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun”. (Malaikat menjawab) : “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”. Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS, An-Nahl, 16 : 28-29)
Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal. Kepada orang dzalim, si Malaikat akan berkata, “Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir kami ke tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik ! “ Ketika itulah orang yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua Malaikat itu.
Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan ruh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka”.
Dan inilah ucapan Malaikat ketika menunjukkan rumah di akhirat bagi seorang yang dzalim di neraka, “Wahai musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka”.

Saudaraku....
Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan, tapi ingatlah bahwa setiap detik yang engkau lakukan akan dimintai pertanggungjawaban. Cintailah siapapun yang engkau ingin cintai, tapi ingatlah cepat atau lambat engkau akan berpisah dengannya. Hiduplah sesukamu, tapi ingatlah semua akan berakhir dengan kematian. Demikian kira-kira pesan ta’lim dari Jibril kepada Rasulullah SAW seraya mengingatkan kita ummatnya.

Mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Sakaratul Maut

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah saw, keluarga, para sahabat dan pengikut mereka yang setia sampai hari kiamat, Amma badu :

1. Sakaratul Maut dan Kematian Kafir atau Fajir (banyak dosa)
Sesungguhnya seorang hamba yang kafir atau fajir (banyak dosa), apabila hendak meninggalkan dunia menuju akhirat, turun kepadanya para Malaikat dari langit yang sangat keras lagi berwajah hitam sambil membawa kain yang kasar dari neraka. Para Malaikat itu duduk di samping calon mayit sejauh mata memandang.
Kemudian datang Malaikat maut dan duduk di samping kepalanya seraya berkata: "Wahai jiwa yang busuk keluarlah menuju murka dan kebencian dari Allah". Ruh itupun terkejut. Lalu Malaikat mencabutnya seperti mencabut alat pemanggang yang banyak cabangnya dari kain yang basah sehingga terputuslah urat-urat dan ototnya.
Malaikat itupun mengambil ruhnya dan langsung memasukkannya ke dalam kain kasar (yang dari neraka itu). Keluar dari ruh itu bau yang sangat busuk seperti bau paling busuk yang pernah ada dimuka bumi ini. Para Malaikat lalu membawa ruh itu naik, tiadalah melalui rombongan Malaikat melainkan mereka selalu bertanya : "Ruh siapa yang busuk ini?". Para Malaikat yang membawanya menjawab : "Ini ruhnya Fulan bin Fulan", dengan menyebut panggilan-panggilan buruknya ketika di dunia. Malaikat yang membawanya menyebutkan keburukan-keburukanya selama di dunia. Keburukan-keburukannya dalam hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia bahkan dengan alam semesta.
Semua Malaikat diantara langit dan bumi melaknatinya (mengutuknya), juga semua Malaikat yang di langit. Ditutup untuknya pintu-pintu langit. Masing-masing penjaga pintu berdo’a kepada Allah agar ruh itu tidak lewat melalui pintunya.
Tatkala telah sampai di langit dunia mereka meminta agar dibuka pintunya dan ternyata tidak dibukakan. Kemudian Rasulullah saw membacakan ayat : "Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk sorga, hingga unta masuk ke lubang jarum."(QS.Al-A’raaf : 40). Lantas Allah berfirman : "Tulislah catatan amalnya di sijjiin, di bumi yang paling bawah", Kemudian dikatakan : "Kembalikan hamba-Ku ke bumi karena Aku telah berjanji bahwa Aku menciptakan mereka darinya (tanah) dan mengembalikan mereka kepadanya serta mengeluarkan mereka darinya pula pada kali yang lain."
Lalu ruhnya dilempar dari langit sehingga terjatuh ke bumi, kemudian Rasulullah saw membacakan ayat : "Dan barangsiapa menyekutukan Allah, maka seolah-olah ia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh." (QS. Al-Hajj : 31). Dikembalikan ruh itu ke jasadnya sehingga ia mendengar suara alas kaki orang-orang yang pulang dari mengantar jenazahnya.
Sekarang ia sendirian di kuburnya, gelap, sempit, pengap, ada cacing, ada kalajengking. Kemudian datanglah dua Malaikat -Munkar dan Nakir-, yang sangat keras...Dua Malaikat yang sangat keras dan membentaknya serta mendudukkannya seraya bertanya : "Siapa Rabb-mu?". Ia menjawab : "Ha...ha...Saya tidak tahuuuu.". Malaikat bertanya lagi : "Apa Dien-mu?". Ia menjawab : "Ha...ha...Saya tidak tahuuuu". Kedua Malaikat itupun bertanya lagi : "Siapa orang yang diutus kepadamu?". Ia tidak tahu namanya, lalu Malaikat mengatakan : "Muhammad!". Orang itu menjawab : "Ha...ha...Saya tidak tahuuuu, saya mendengar orang-orang mengatakan itu!". Lalu dikatakan kepadanya : "Anda tidak tahu dan tidak mau membaca (belajar).". Kemudian terdengarlah seruan dari langit : "Ia berdusta, berilah ia hamparan dari neraka dan bukakan untuknya pintu ke neraka.". Lalu sampailah kepadanya panas dan racun-racun neraka dan kuburnya disempitkan sehingga terpatah-patah tulang rusuknya.
Setelah itu datang kepadanya seorang yang berwajah buruk, berpakaian jelek dan berbau tidak enak seraya berkata : "Kabar buruk bagimu, ini adalah hari yang dijanjikan kepadamu.". Orang itu (si mayit) bertanya : "Siapa kamu? semoga Allah memberi kabar buruk kepadamu, wajahmu mendatangkan keburukan.". Ia menjawab : "Aku adalah amal burukmu, Demi Allah, aku tidak mengetahui melainkan kamu lambat dalam ketaatan kepada Allah, cepat dalam kemaksiatan, lalu Allah membalasimu dengan keburukan.". Kemudian ia (si mayit) dikuasai oleh seorang yang buta, tuli lagi bisu (maksudnya tidak berbelas kasihan) yang ditangannya ada batang besi, sekiranya dipukulkan ke gunung pasti menjadi tanah. Lalu dia memukulnya dengan sekali pukulan sehingga ia menjadi tanah, kemudian Allah mengembalikannya seperti semula. Lalu dia memukulnya lagi dengan pukulan yang lain, sehingga ia (orang kafir atau fajir) berteriak (kesakitan) dengan teriakan yang didengar oleh semua makhluk kecuali manusia dan jin. Kemudian dibukakan untuknya pintu neraka dan ia diberi hamparan dari neraka. Ia berkata : "Ya Rabb, Janganlah terjadi kiamat.". Ia tidak ingin segera kiamat karena ia yakin akan mendapat adzab yang lebih dahsyat dari adzab kubur. Tapi, Allah telah menetapkan bahwa seseorang harus tinggal di kubur dulu, di alam barzakh, sampai kiamat besar. Setelah itu dihisab dan mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuantannya. Orang kafir atau fajir akan masuk neraka jahannam yang panasnya tiada tara. Ia tidak hidup di dalamnya dengan kehidupan yang layak dan tidak pula mati yang memungkinkannya untuk beristirahat. Ia hanya merasakan siksa dan siksa. Allah sangat murka kepadanya.

2. Sakaratul Maut dan Kematian mukmin
Sesungguhnya seorang hamba mukmin apabila hendak meninggalkan dunia menuju akhirat, turun kepadanya para Malaikat dari langit yang berwajah putih seakan wajah mereka ibarat matahari. Mereka membawa kafan dan parfum dari surga. Mereka duduk di samping calon mayit sejauh mata memandang.
Kemudian datanglah Malaikat maut dan duduklah di samping kepala calon mayit seraya berkata : " Wahai jiwa yang baik, wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan dan ridha dari Allah." Maka keluarlah ruhnya dengan lembut seperti air yang menetes dari bibir tempat air. Malaikat maut-pun mengambilnya. Setelah Malaikat mengambil ruh itu maka segera di masukkan dalam kafan yang dari surga tersebut dan diberi parfum yang dari surga itu. Lalu keluarlah dari ruh itu bau yang sangat wangi seperti bau parfum yang paling wangi dimuka bumi ini.
Ketika telah keluar ruhnya maka para Malaikat diantara langit dan bumi menshalatinya. Demikian pula semua Malaikat yang di langit. Dan dibukakan untuknya pintu-pintu langit…Semua penjaga pintu tersebut berdoa kepada Allah agar ruh tersebut lewat melalui pintunya.
Para Malaikat membawa ruh itu naik ke langit. Dan tiap-tiap melalui rombongan Malaikat mereka selalu bertanya : "Ruh siapa yang wangi ini?". Para Malaikat yang membawanya menjawab : "Ini ruhnya Fulan bin Fulan", sambil menyebutkan panggilan-panggilan terbaiknya selama di dunia. Malaikat yang membawanya menyebutkan kebaikan-kebaikannya selama di dunia. Kebaikan-kebaikannya dalam hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia bahkan dengan alam semesta. Tatkala telah sampai di langit dunia para Malaikat meminta di bukakan pintunya. Malaikat penjaga pintu langit membuka pintu itu. Kemudian semua Malaikat yang ada ikut mengiringi ruh itu sampai ke langit berikutnya hingga berakhir di langit ke tujuh.
Lalu Allah berfirman : "Tulislah catatan amal hamba-Ku di Illiyyiin! "Tahukah kamu apakah Illiyyiin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis (untuk mencatat amal orang yang baik)" (QS. Al-Muthaffifiin : 19-20). Ditulislah catatan amalnya di Illiyyiin. Kemudian dikatakan : "Kembalikanlah ia ke bumi, karena Aku telah berjanji kepada mereka bahwa Aku menciptakan mereka darinya (tanah) dan mengembalikan mereka kepadanya serta membangkitkan mereka darinya pula pada kali yang lain". Ruh itu-pun dikembalikan ke bumi dan ke jasadnya. Ketika telah dikebumikan ia mendengar suara alas kaki orang-orang yang pulang dari mengantarkan jenazahnya.
Sekarang ia sendirian di kuburnya, gelap, sempit, pengap, ada cacing, ada kalajengking. Kemudian datanglah dua Malaikat -Munkar dan Nakir-, yang sangat keras. Dua Malaikat yang sangat keras dan membentaknya serta mendudukkannya seraya bertanya : "Siapa Rabb-mu?" Ia menjawab : "Rabb-ku adalah Allah." Malaikat bertanya lagi : "Apa dien-mu?" Ia menjawab : "Dien-ku adalah Islam.". Kedua Malaikat tersebut bertanya lagi : "Siapa orang yang diutus kepadamu?" Ia menjawab : "Dia adalah Rasulullah –Shallallaahu "Alaihi Wa "Ala Alihi Wa Sallam.". Malaikat bertanya lagi : "Apa amalmu?" Ia menjawab : "Aku membaca Kitab Allah, mengimani dan mengamalkannya.". Malaikat tersebut membentaknya lagi : "Siapa Rabb-mu? Apa dien-mu? Dan siapa Nabi-mu?". Itulah ujian terakhir yang menimpa orang mukmin.
Allah berfirman : "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu (dua kalimat syahadat) dalam kehidupan di dunia dan di akhirat." (QS. Ibrahim : 27). Ia pun menjawab : "Rabb-ku adalah Allah, dien-ku adalah Islam dan Nabi-ku adalah Muhammad –Shallallaahu "Alaihi Wa "Ala Alihi Wa Sallam.". Lalu ada seruan dari langit : "Hamba-Ku benar, berilah ia hamparan dan pakaian dari surga serta bukalah untuknya pintu surga." Datang dan sampai kepadanya kebahagiaan dan wangi surga. Kuburnya diluaskan sejauh mata memandang.
Kemudian datang kepadanya seorang yang berwajah baik, berpakaian indah dan baunya wangi seraya berkata : "Kabar gembira dengan sesuatu yang menyenangkan anda, kabar gembira dengan ampunan dari Allah dan surga yang penuh dengan kenikmatan selamanya, ini adalah hari yang dijanjikan kepada anda." Ia-pun bertanya : "Siapa anda ?, semoga Allah memberi kabar gembira kepada anda. Wajahmu mendatangkan kebaikan." Orang tersebut menjawab : "Aku adalah amal salehmu. Demi Allah, anda selalu bersegera dalam taat kepada Allah dan lambat dalam maksiat kepada Allah, lalu Allah-pun membalasi anda dengan kebaikan pula." Kemudian dibukakan untuknya pintu surga dan neraka seraya dikatakan : "Ini (neraka) adalah tempatmu jika kamu bermaksiat kapada Allah, Allah telah menggantinya dengan ini (surga)." Tatkala ia melihat ke dalam surga, ia pun berkata : "Ya Allah segerakanlah kiamat, agar aku kembali kepada keluargaku dan hartaku." Lalu dijawab : "Tenanglah (di kubur ini dulu)". Ia ingin segera kiamat agar bisa segera masuk ke dalam surga yang telah diperlihatkan kepadanya dan agar supaya bisa berkumpul dengan semua keluarganya kembali. Tapi, Allah telah menetapkan bahwa seseorang harus tinggal di kubur dulu, di alam barzakh, sampai kiamat besar. Setelah itu dihisab dan mendapatkan balasan yang setimpal dengan perbuantannya. Orang beriman akan masuk ke dalam surga. Memandang Wajah Allah Yang Maha Mulia. Mendapatkan Ridha Allah dan Allah tidak akan pernah lagi murka kepadanya selamanya.
Inilah perjalanan hidup yang pasti kita lalui. Ini bukanlah dongeng, tapi kenyataan. Sebagai orang yang beriman, kita harus meyakini peristiwa ghaib ini.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami yang mendatangkan bencana. Ampunilah dosa-dosa kami yang merubah karunia. Ampunilah dosa-dosa kami yang menurunkan bala". Ampunilah dosa-dosa kami yang menghalangi doa. Ampunilah semua dosa yang telah kami lakukan dan semua kesalahan yang telah kami kerjakan.
Ya Allah, sungguh kami telah menganiaya diri kami, jika Engkau tidak mengampuni dan menyayangi kami, tentulah kami termasuk orang-orang yang merugi. Ya Allah, kami telah beriman kepada-Mu, ampunilah dosa-dosa kami dan selamatkanlah kami dari api neraka.
Ya Allah, permudahlah sakaratul maut kami. Jadikanlah kematian kami husnul khotimah. Tolonglah kami agar kami mampu menjawab fitnah kubur dengan baik dan benar. Luaskan alam kubur kami seluas-luasnya sejauh mata memandang. Jadikanlah alam kubur kami sebagai taman diantara taman-taman surga. Permudahlah hisab kami. Masukkanlah kami ke dalam surga-Mu. Berilah kami rizki memandang Wajah-Mu Yang Maha Mulia. Berikanlah kepada kami Ridha-Mu yang Engkau tidak akan pernah lagi murka kepada kami setelah itu selamanya.
Ya Allah, kami mohon kepadaMu ridhaMu dan surgaMu.
Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari murkaMu dan neraka-Mu.
Ya Allah aku memohon kepada-Mu Ilmu yang bermanfaat, yang mendekatkan diri kami kepada-Mu dan kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat ilmu yang menjauhkan kami dari-Mu. Allahumma Amiin.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Kondisi Pelaku Maksiat di Padang Makhsyar

Orang yang meninggalkan shalat
Di padang mahsyar nanti, orang yang meninggalkan atau menunda-nunda shalat akan menemui hisab yang sangat sulit, ia tidak memiliki cahaya keselamatan, dikumpulkan bersama Fir’aun, Qorun, Haman, dan Ubai bin Khalaf. (HR Ad-Darimi No.2777). Sedangkan orang yang meninggalkan shalat berjamaah padahal ia tidak berhalangan, maka kelak pada hari kiamat ia akan merunduk ke bawah dan diliputi kehinaan. (QS Al-Qolam[68].42-43).

Orang yang tidak menunaikan zakat
Di hari kiamat nanti, orang-orang yang enggan membayar zakat akan mengalami keadaan sebagai berikut :
1. Emas dan perak yang tidak dizakatinya akan di panaskan dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengan dahi mereka, lambung dan punggung mereka.
2. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat.
3. Bila ia tidak menzakati binatang ternak yang seharusnya wajib dizakati, maka ia akan disungkurkan di atas wajahnya pada sebuah lubang yang luas. Kemudian binatang-binatang tadi akan menginjak dengan kukunya dan menanduk dengan tanduknya.
4. Nanti hartanya akan diwujudkan dalam bentuk ular ganas yang memiliki dua taring yang berbisa, ular itu melilitnya dan mencabik-cabiknya pada kedua sisi mulutnya. (HR Muslim no.1647,HR Bukhari no 1314).

Pelaku zina
Para pezina kelak di akhirat, hisabnya sangat buruk. Mereka akan disiksa di atas api yang menyala-nyala, berteriak histeris, dari kemaluan mereka keluar bau yang menyengat dan ghuttah (sungai di neraka yang bersumber dari kemaluan para pelacur) yang kelak di minumkan bagi peminum khamer, kemudian di dalam neraka, ular menyengat para pezina sehingga merasakan pedih sakitnya selama 1000 tahun. Lalu terkelupaslah daging-dagingnya dan akan mengalir dari kemaluannya nanah dan darah busuk. (Al-Kabaair : Imam Adz-Dzahabi).

Para pemabuk

Para pecandu minuman keras dan obat-obat yang memabukkan akan menemui hisab yang berat di padang mahsyar. Kedudukannya pada saat itu tak ubahnya seperti orang yang berbuat syirik kepada Allah. Allah SWT akan mencegahnya untuk masuk ke surga ketika melewati shirath, Malaiakat Zabaniyah akan menariknya ke sungai Khabal. Bila terus menerus mabuk, maka akan dilelehkan dengan logam dari neraka Jahanam. (Al Kabaair : Imam Az Dzahabi, HR Ahmad no. 2325)

Orang yang memakan harta riba
Di padang mahsyar, orang yang memakan harta riba akan menemui hisab yang sangat berat, ia akan dikumpulkan dalam keadaan seperti orang gila dan kerasukan setan sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah : “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila …(QS Al-Baqarah [2]:275).

Orang yang membunuh orang mu’min
Orang yang membunuh seorang mu’min akan mengalami hisab yang berat, azabnya dilipat gandakan pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina , kemudian dipertemukan dengan yang dibunuh untuk diadili. (Fathul Bari, 12/ 196).

Pelaku bunuh diri

Kelak di akhirat nanti, orang yang bunuh diri akan disiksa dengan benda yang ia gunakan untuk membunuh dirinya sendiri. “Barang siapa yang membunuh dirinya dengan benda yang tajam, maka nanti di neraka Jahanam benda itu akan ditusuk-tusukannya ke perutnya dan ia kekal di dalamnya. Barang siapa membunuh dirinya dengan racun, maka nanti di neraka Jahanam ia akan memegang racun itu dengan tangannya lalu menghirupnya dan ia kekal di dalamnya, barang siapa yang membunuh dirinya dengan terjun dari puncak gunung, maka ia nanti ia akan terjun ke dalam neraka Jahanam dan ia kekal di dalamnya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Orang yang durhaka kepada kedua orang tua
Orang ini akan menemui padang mahsyar dan hisab yang sangat berat, dan Allah tidak sudi melihat wajahnya. (Shahih Al-Jami’ As-Shaghir no. 3071).

Mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Rangkaian Peristiwa Hari Akhir

Pra Imam Mahdi
1. Invasi Irak ke Kuwait
2. Pengepungan dan embargo Barat ke Irak
3. Pengepungan Syam (Palestina)
4. Munculnya panji-panji hitam dari Timur/ Khurasan (Taliban)
5. Datangnya bendera Barat untuk menggempur Afghanistan
6. Perang dunia ke-3
7. Surutnya sungai Efrat hingga menyibakkan gunung emas dan manusia datang untuk memperebutkannya
8. Kematian seorang Khalifah (Arab)
9. Perebutan kekuasaan oleh tiga putra Khalifah untuk menguasai Ka’bah, namun tidak seorangpun yang berhasil menguasainya
10. Kejadian-kejadian aneh di bulan Ramadhan berupa gerhana matahari dan bulan, komet berekor dan suara ledakan dahsyat yang bisa didengar seluruh manusia
11. Huru hara, kekacauan dan malapetaka di bulan Syawal
12. Pertikaian dan konflik antar kabilah di bulan Dzulhijjah

Era Imam Mahdi
1. Ditenggelamkannya pasukan Arab (Sufyani) di Al-Baida Madinah saat mengejar Al-Mahdi dan pasukannya
2. Penaklukan Al-Mahdi atas Bani Kalb (pendukung Bani Sufyan)
3. Penaklukan Al-Mahdi atas Jazirah yang meliputi Saudi, Yaman, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Oman, dan seluruh kawasan Jazirah
4. Penaklukan Persi/ Iran (Syiah)
5. Kekalahan sebagian orang-orang Yahudi dan penaklukkan Israel
6. Penakulkan Baitul Maqdis dan pembebasan Masjidil Aqsa
7. Malhamah Kubra di A’maq dan Dabiq (Damaskus)
8. Penaklukan Cina dan Rusia (Khus dan Karman)
9. Penaklukan India
10. Penaklukan Konstantinopel (Turki) oleh 70.000 Bani Ishaq dengan takbir dan tahlil
11. Munculnya Dajjal dari Khurasan (perbatasan Iran dan Rusia) yang diikuti oleh 70.000 Yahudi Asbahan
12. Turunnya Isa Al-Masih di menara putih di timur Damaskus
13. Terbunuhnya Dajjal dengan pedang Isa Al-Masih
14. Perang habis-habisan melawan seluruh Yahudi yang tersisa
15. Datangnya Ya’juj dan Ma’juj
16. Penaklukan Roma (Italia)
17. Wafatnya Al Mahdi

Pasca Imam Mahdi
1. Naiknya Al-Qahthani menggantikan Al-Mahdi
2. Masa-masa aman
3. Wafatnya Isa Al-Masih
4. Terbitnya matahari dari barat
5. Keluarnya binatang dari dalam perut bumi yang dapat berbicara
6. Keluarnya asap (dukhan)
7. Datangnya angin lembut dari arah Yaman yang bertiup untuk mengambil arwah orang mu’min
8. Penghalalan Baitullah dan penghancuran Ka’bah oleh Dzul-Suwaqatain dari Habasyah
9. Kehancuran Madinah dan keluarnya seluruh manusia darinya
10. Pembenaman bumi di timur , di barat dan di tanah Arab
11. Munculnya api yang menggiring manusia ke mahsyar
12. Terjadinya kiamat, peniupan sengkakala dan kehancuran alam semesta.

Diriwayatkan dari atsar-atsar sahabat yang sebagian besar termuat dalam Kitabul Fitan Nu’aim bin Hammad (guru Imam Bukhari) sebagian sanadnya masih dipersoalkan.
Diriwayatkan dari hadits – hadits shahih yang sebagian termuat dalam shahihain, tata urutan peristiwa tidaklah mutlak, hanya pendapat sebagian ulama, (Wwallaahu a’lam).

Mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Yang Terakhir Keluar Neraka

Abu Hurairah telah menceritakan kepada Atha’ bin Yazid Al-Laitsi bahwa para sahabat telah bertanya kepada Rasullullah SAW, “Apakah engkau akan melihat Tuhan kami kelak pada hari kiamat ?” Maka Rasullullah SAW balik bertanya, “Apakah kamu sekalian merasa kesulitan melihat bulan pada malam purnama ?” Mereka menjawab, “Tidak.” Selanjutnya Rasulullah SAW, bertanya lagi, “Apakah kalian merasa kesulitan melihat matahari yang tidak ada awan yang menghalangi ?” Mereka menjawab, “Tidak.”
Mendengar jawaban itu, Rasulullah bersabda, “Seperti itulah kamu sekalian akan melihat-Nya.” Kemudian Rasulullah SAW. meneruskan perkataannya, “Pada hari kiamat nanti Allah akan mengumpulkan seluruh umat manusia, lalu Allah berfirman kepada mereka, ‘Hendaknya setiap orang mengikuti sesuatu yang disembahnya selama di dunia.’ Oleh karena itu, orang yang menyembah matahari mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan mengikuti bulan, dan orang yang menyembah berhala mengikuti berhala. Sedangkan orang-orang munafik dari kalangan umat Muhammad tetap berdiri di tempat dan tidak bergerak sama sekali (karena yang disembah oleh mereka tidak jelas).
Kemudian Allah mendatangi kaum muslimin dalam wujud yang tidak dikenali oleh mereka, seraya Allah berfirman kepada mereka, ‘Aku ini adalah Tuhanmu.’ Mendengar itu, mereka berkata, ‘Kami berlindung kepada Allah dari bujuk rayumu, dan kami akan tetap berdiri di tempat ini sampai datang kepada kami Tuhan kami yang sebenarnya.’ Kemudian Allah datang kepada mereka dalam wujud yang mereka kenal, dan Allah berfirman kepada mereka, ‘Aku ini Tuhanmu yang sebenarnya.’ Pada saat mereka mendengarnya dan mereka merasa yakin bahwa itu Tuhannya, maka mereka berkata, ‘Engkaulah Tuhan kami yang sebenarnya.’ Setelah itu mereka mengikuti-Nya.
Kemudian Allah SWT. menciptakan sebuah titian yang membentang di atas api neraka, maka aku –Rasulullah SAW.—dan umatku menjadi umat yang pertama menyeberangi titian itu. Pada saat itu tidak ada seorang pun yang dapat berbicara selain para rasul, dimana ketika itu para rasul berdoa, ‘Ya Allah, selamatkanlah, ya Allah, selamatkanlah.’ Sementara di dalam neraka Jahanam terdapat besi-besi yang melengkung bagaikan lengkungan pancing, seperti duri pohon Sa’dan (nama pohon yang berduri). Kemudian Rasulullah bertanya kepada sahabat yang hadir, ‘Apakah kalian pernah melihat duri pohon Sa’dan?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’
Mendengar hal itu, Rasulullah SAW. bersabda, ‘Seperti itulah besi-besi yang melengkung itu, hanya saja besarnya tidak terkirakan, dan hanya Allah yang mengetahui ukurannya. Besi-besi inilah yang kelak akan mengait orang-orang yang sedang meniti titian itu sesuai dengan kadar dosa masing-masing. Dimana orang yang teguh dengan amalnya akan selamat dari kaitannya, sementara orang yang berdosa akan terkait (tersangkut), tetapi akhirnya dilepaskan.
Setelah Allah selesai mengadili hamba-hamba-Nya, dan Dia berkehendak mengeluarkan penghuni neraka dengan rahmat-Nya, maka Allah memberikan perintah kepada para Malaikat-Nya untuk mengeluarkan mereka yang patut mendapat rahmat-Nya, yaitu orang yang tidak pernah menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun selama hidup di dunia. Di antara orang yang patut mendapatkan rahmat-Nya adalah orang yang mengatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah. Kemudian para malaikat yang mendapat perintah itu segera mengenali mereka, dan mereka mengenalinya melalui tanda bekas sujud yang ada pada kening mereka karena hanya bekas sujudlah bagian tubuh manusia yang tidak akan hangus dibakar api neraka, dimana Allah telah mengharamkan api neraka untuk membakarnya dan menghanguskannya.
Kemudian para Malaikat segera mengeluarkan mereka dalam keadaan yang sudah pada hangus, lalu disiramkan ke tubuh mereka air kehidupan (air pemulihan). Akibat siraman air kehidupan itulah, akhirnya mereka tumbuh dan pulih kembali seperti sediakala bagaikan tumbuhnya biji-bijian setelah terjadi banjir besar (dimana mereka tumbuh dalam keadaan masih muda dan besar).
Setelah Allah selesai mengadili dan memvonis di antara hamba-hamba-Nya, tiba-tiba terlihat seseorang (yang masih tertinggal) yang sedang mengarahkan pandangannya ke arah neraka, dan dialah orang yang paling terakhir masuk surga. Kemudian kepada Allah, dia memohon, ‘Wahai Tuhanku, palingkan mukaku dari neraka karena baunya telah meracuniku, dan kobaran apinya telah membakarku.’ Permohonan itu diulanginya berulang kali, dan akhirnya Allah berfirman kepadanya, ‘Seandainya Aku mengabulkan permintaanmu ini, apakah kiranya kamu tidak akan mengajukan permohonan yang lain ?’ Maka orang itu menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian dia berjanji dengan sungguh-sungguh kepada Allah bahwa dia tidak akan mengajukan permohonan apapun lagi.
Akhirnya permohonan itu dikabulkan Allah, dimana Allah memalingkan muka orang itu dari neraka. Akan tetapi ketika dia dihadapkan ke arah surga dan dia menyaksikan kemegahan yang ada di baliknya, maka dia terdiam dalam beberapa saat, lalu dia memohon kepada Allah, ‘Wahai Tuhanku, sampaikanlah aku ke dalam pintu surga.’ Mendengar hal itu, Allah berfirman kepadanya, ‘Bukankah kamu telah berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa kamu tidak akan memohon lagi kepada-Ku selain permohonanmu yang telah Aku kabulkan tadi ? Celakalah kamu, wahai anak Adam, kamu telah memungkiri janjimu sendiri, dan Aku tidak akan mengabulkan permohonanmu ini.’ Akan tetapi dia tetap memohon kepada Allah untuk dikabulkan permohonannya, sehingga Allah berfirman kepadanya, ‘Seandainya permohonanmu ini Aku kabulkan, apakah kamu tidak akan memohon yang lainnya lagi kepada-Ku ?’ Orang itu menjawab, ‘Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku tidak akan mengajukan permohonan lagi.’
Kemudian Allah mengabulkan permohonannya itu. Allah membawanya ke depan pintu surga. Setibanya dia di depan pintu surga, Allah membuka pintu surga itu lebar-lebar sehingga orang itu melihat keindahan dan kebahagiaan yang ada di dalamnya. Menyaksikan itu, orang itu terdiam beberapa saat, lalu memohon kepada Allah, ‘Wahai Tuhanku, masukanlah aku ke dalam surga.’ Mendengar itu, Allah berfirman kepadanya, ‘Bukankah kamu telah berjanji bahwa kamu tidak akan mengajukan permohonan lagi kepada-Ku setelah permohonanmu yang tadi Aku kabulkan ? Celaka kamu, wahai anak Adam, kamu telah memungkiri janjimu sendiri, dan Aku tidak akan mengabulkan permintaanmu itu.’
Akan tetapi orang itu terus menerus memohon kepada Allah, ‘Wahai Tuhanku, janganlah kiranya hamba-Mu ini menjadi orang yang paling celaka.’ Kemudian ia mengulang-ulang permohonannya, sehingga hal itu menyebabkan Allah tertawa. Allah berfirman kepadanya, ‘Masuklah kamu ke dalam surga.’ Pada saat orang itu masuk ke dalam surga, Allah berfirman kepadanya, ‘Sekarang angankanlah segala keinganmu.’ Kemudian orang itu memohon kepada Allah dengan mengajukan berbagai macam keinginannya dan mencita-citakan berbagai macam kenikmatan, sampai Allah mengingatkannya kepada berbagai kenikmatan yang tidak diketahuinya. Lalu Allah berfirman kepadanya, ‘Nikmatilah olehmu kemewahan dan kenikmatan yang telah disediakan ini, bahkan akan ditambah lagi dengan berbagai kenikmatan sebanyak itu pula.”
Atha’ bin Yazid berkata, “Ketika Abu Sa’id Al-Kudri mendengarkan Abu Hurairah menuturkan hadits itu, tidak ada bagian dari hadits itu yang dipertanyakannya, selain firman Allah terhadap orang tadi: ‘Nikmatilah olehmu kemewahan dan kenikmatan yang telah disediakan ini, bahkan akan ditambah lagi dengan berbagai kenikmatan sebanyak itu pula.
Abu Sa’id Al-Kudri berkata, ‘Wahai Abu Hurairah, apakah kenikmatan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat?’ Abu Hurairah menjawab, ‘Aku tidak mengetahuinya selain aku mendengarnya seperti itu dari Rasulullah SAW., dimana beliau bersabda, ‘ kemewahan dan kenikmatan yang telah disediakan ini, bahkan akan ditambah lagi dengan berbagai kenikmatan sebanyak itu pula.’ Kemudian Abu Sa’id Al-Kudri berkata, “Aku bersumpah bahwa aku telah mendengar dari Rasulullah SAW. dimana beliau bersabda, ‘Nikmatilah olehmu kemewahan dan kenikmatan yang telah disediakan ini, bahkan kenikmatan ini akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat dengan berbagai kenikmatan sebanyak itu pula.’” (Hadits shahih, Shahih Muslim nomor 182; Shahih Bukhari nomor 7437)

Ya Allah aku memohon kepada-Mu Ilmu yang bermanfaat, yang mendekatkan diri kami kepadaMu dan kami berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, ilmu yang menjauhkan kami dari-Mu. Amiin.

Mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Sumber : http://www.dakwatuna.com/2008/orang-yang-terakhir-keluar-dari-neraka/

Fitnah Dajjal

Ciri-ciri fisik dan sifat Dajjal
Diantara tanda-tanda kiamat besar adalah keluarnya Dajjal. Siapakah Dajjal itu ? Dajjal adalah laki-laki keturunan Adam. Ia seorang berkulit merah, bertubuh pendek, berambut keriting, dahinya lebar, pundaknya bidang, matanya yang sebelah kanan buta, tidak menonjol keluar dan juga tidak tenggelam seperti buah anggur yang masak. Pada mata sebelah kirinya terdapat daging yang tumbuh lebih tebal dari sudutnya, diantaranya kedua matanya terdapat tulisan huruf ka-fa-ra secara terpisah yang dapat dibaca oleh setiap mu’min baik yang buta huruf maupun yang pandai menulis, ia mandul dan tidak punya anak.

Waktu dan tempat munculnya Dajjal
Dajjal akan keluar dari arah timur ( Khurasan ) dari kampung Yahudiah Asbahan (sekarang berada di perbatasan Iran dan Rusia). Kemudian ia mengembara ke seluruh negeri, tidak ada negeri yang selamat dari genggaman fitnahnya kecuali Mekkah dan Madinah, karena keduanya selalu dijaga oleh para Malaikat, ia keluar setelah kaum muslimin berhasil menaklukkan Konstantinopel.(lihat Fathul Baari 13 : 91 )

Tanda-tanda kemunculan Dajjal
Dalam hadits yang diriwayatkan dari Tamim ad-Daari disimpulkan bahwa diantara tanda-tanda kemunculan Dajjal adalah pohon-pohon kurma di desa Nakhl Baisan (Palestina) tidak bisa berbuah lagi, keringnya air danau Thabariah di Palestina dan keringnya mata air Zughar (Syiria) yang biasa mengairi perkebunan sekitarnya. ( HR Muslim 18 : 83).

Dimanakah Dajjal saat ini
Pendapat yang shahih bahwa Dajjal sudah diciptakan, saat ini ia berada di sebuah pulau terpencil dan sedang menunggu ketentuan Allah untuk dapat keluar. Hal itu sebagaimana hadits Tamim Ad-Daari yang pernah berjumpa dengan Dajjal di sebuah pulau terpencil saat perahu yang ia naiki bersama teman-temanya karam di laut. Tamim bertemu dengan Dajjal dan Al-Jasasah, sedang Dajjal saat itu kedua tanggannya terbelenggu ke kuduknya, antara kedua lutut dan mata kakinya diikat dengan rantai besi ( HR Muslim 18 : 78-83)

Keadaan dunia sebelum keluarnya Dajjal
Rasulullah SAW bersabda : “ Sesungguhnya sebelum keluarnya Dajjal adalah tempo waktu 3 tahun yang sangat sulit, dimana pada waktu itu manusia akan ditimpa oleh kelaparan yang sangat. Allah memerintahkan kepada langit pada tahun pertama untuk menahan 1/3 dari hujannya dan kepada bumi untuk menahan 1/3 dari tanamannya. Kemudian Allah memerintahkan langit pada tahun kedua agar menahan 2/3 dari hujannya dan bumi untuk menahan 2/3 dari tanamannya. Kemudian pada tahun ke 3 darinya Allah memerintahkan kepada langit untuk menahan semua air hujan, lalu ia tidak meneteskan setitik air pun dan memerintahkan bumi agar menahan seluruh tanamannya, setelah itu tidak tumbuh satu tanaman hijau pun dan semua binatang berkuku akan mati kecuali yang dikehendaki Allah SWT. Lalu dengan apa manusia hidup pada saat itu ? Beliau SAW menjawab : “ Tahlil, takbir dan tahmid adalah sama bagi mereka dengan makanan. (HR. Ibnu Majah, shahih. Lihat Ash-Shahihain No. 2457).

Lamanya Dajjal menetap di bumi
Dajjal akan tinggal di bumi selama 40 hari. Satu hari pertama bagai 1 tahun, satu hari kedua bagai 1 bulan, satu hari ke 3 bagai satu pekan. Hari-hari berikutnya sebagaimana hari biasa. Dalam keadaan seperti ini setiap muslim tetap melaksanakan shalat sebagaimana hitungan satu tahun, satu bulan, dan satu pekan. ( HR Muslim ).

Fitnah Dajjal
Dajjal akan datang dengan membawa fitnah yang sangat dahsyat, sehingga banyak manusia yang akan tertipu oleh fitnahnya. Diantara fitnah Dajjal adalah :
1. Dajjal datang dengan membawa surga dan neraka, siapa yang masuk ke surga Dajjal sesungguhnya itu adalah neraka Allah, dan siapa yang bersabar dengan neraka Dajjal, ia akan masuk sorga yang hakiki.
2. Dajjal mampu menghidupkan orang yang telah mati sehingga banyak manusia menyangka bahwa ialah Tuhan yang sesungguhnya.
3. Penduduk negeri yang disinggahi Dajjal lalu mengingkarinya, sawah ladangnya akan hancur, hewan ternaknya akan mati kelaparan, dan negerinya menjadi gersang. Sedang yang beriman pada Dajjal akan memperoleh berbagai kesenangan hidup, makanan yang melimpah, tanaman yang subur, binatang yang memiliki banyak susu.
4. Diantara fitnahnya adalah ia akan memaksa seorang manusia, lalu membunuh dan memotongnya dengan gergaji hingga tubuhnya terbelah menjadi dua, lalu ia hidupkan kembali orang tersebut dan memaksanya agar beriman kepadanya.

Para pengikut dan pendukung Dajjal
Pendukung utama Dajjal adalah 70.000 Yahudi Asbahan yang berpakaian tanpa jahitan, juga diikuti suatu kaum bermuka gelap seperti tembaga. Orang luar Arab juga banyak yang mendukung Dajjal, juga orang Turki dan manusia dari berbagai negara yang kebanyakan dari orang Arab dusun dan kaum wanita.

Terbunuhnya Dajjal di tangan Isa Al-Masih as
Pada hari terakhir dari pengembaraannya di bumi, sampailah Dajjal di Palestina, lalu bertemu dengan pasukan Al-Mahdi yang baru kembali dari penaklukkan Konstantinopel. Saat itu Al-Mahdi telah bersama Nabi Isa as. Ketika Dajjal melihat Nabi Isa as, tubuhnya meleleh seperti melelehnya garam dalam air, lalu Nabi Isa as mengejar sampai pada sebuah tempat bernama lodd, di situlah Nabi Isa as menikam Dajjal dengan tombaknya. Kemudian tombak yang berlumuran darah itu ditunjukkan kepada kaum muslimin. 70.000 kaum Yahudi pengikut Dajjal akan dibunuh semua hingga mereka bersembunyi di pohon dan batu-batu, namun benda itu dapat berbicara dan memberi tahu keberadaan orang Yahudi yang bersembunyi di baliknya, kecuali pohon Ghorqod. ( Alfitan wal- Malahim 1:128-129).

Cara berlindung dari fitnah Dajjal
Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada setiap mu’min cara berlindung dari fitnah Dajjal diantaranya adalah :
1. Membaca 10 ayat pertama dan terakhir surat Al-Kahfi
2. Membaca do’a perlindungan dari fitnah Dajjal, khususnya pada saat sujud terakhir sebelum tasyahud
3. Memantapkan iman dengan mempelajari hakikat dan fitnah Dajjal sehingga saat kemunculan ia akan mengetahui kebohongannya
4. Menetap di kota Mekkah atau Madinah
5. Berlari dan bersembunyi jika mengetahui bahwa Dajjal mendatanginya meskipun ia seorang yang kuat imannya, karena fitnah Dajjal sangat dahsyat.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

12 Menteri Iblis

Nama-nama Menteri Iblis :
Mereka (Iblis) terdiri dari 12 menteri. Di bawah kekuasaan masing-masing menteri terdapat 100.000 panglima. Kemudian di bawah kekuasaan masing-masing panglima ada 100.000 prajurit. Setiap prajurit memiliki berbagai perilaku jahat. Sebagaimana (halnya) akal merupakan raja ma’rifat, maka hawa nafsu merupakan raja iblis. Nama para menterinya yang berjumlah dua belas itu adalah sebagai berikut :
Pertama, Kirâm ibnu Karîm. Ia pemilik akhlak terpuji dalam mencegah keburukan serta dalam memerintahkan dan melakukan kebaikan.
Kedua, Hâmah ibnu Iblis. Ia penguasa dosa-dosa besar.
Ketiga, Syaithân ibn Sauqân. Ia adalah penguasa pasar yang memerintahkan pengurangan takaran.
Keempat, Al-Zuwaygh ibn Dâmigh. Ia selalu berusaha mengadu domba dan menyebarkan fitnah.
Kelima, Ummu Rawbin. Ia menjadi provokator peperangan antar manusia dan yang selalu memerintahkan pembunuhan.
Keenam, Syaythath ibn Luwayth. Ia selalu menyerukan permusuhan dan perbuatan keji. Ketujuh, Syawqath ibn Wahab. Ia yang mencampur baurkan antar manusia serta menanggalkan nasihat dan sikap istiqamah.
Kesebelas, Qâbizh ibn Qawthil. Ia yang memerintahkan segala kejahatan, cacian, dan kebencian.
Kedua belas, Azârîn Hasûb. Ia penguasa tempat-tempat hiburan dan tempat minum-minuman keras (khamr). Ia berdiam di sana seraya memerintahkan kejahatan. Ia memiliki pasukan telanjang dan pekerja lain yang menggoda dan melenakan manusia lewat musik dan hiburan.

Dari menteri iblis yang kedua belas inilah berbagai macam jenis hiburan bermula. Ada nama pekerja, pemusik, dan pemilik tempat hiburan di antara iblis ini. Mereka adalah makhluk terlaknat yang paling utama. Salah satu di antara mereka adalah Abû Samlaqah. Abû Samlaqah inilah yang pertama kali memeras air hujan, lalu membuat ragi, meminumnya, dan bernyanyi. Ia pula yang pertama kali berkeringat. Dengan kedua telapak tangannya, ia memetik anggur, memerah air anggur, dan meminum dari air perasan anggur itu. Kemudian ia meletakkannya di bawah anggur, menutupi kepalanya dengan sebuah daun, dan beberapa hari kemudian ia kembali. Saat kembali, minuman tersebut tampak mengeluarkan busa. Ia meminumkan kepada saudaranya Shihâb hingga mabuk. Lalu ia bernyanyi. Oleh karena itulah, saudaranya disebut ‘Azâf alias Hafâf (nama sebelumnya adalah Masqash).

Wamzah ibn al-Harts, pemain Barbath yang pertama kali.
Suatu saat Wamzah mendatangi Hafâf. Lalu Hafâf memberinya minum dari minumannya. Seketika itu, ia terbang dan jatuh pada sebuah pulau di lautan. Ia menetap di dalamnya selama setahun dan berpikir tentang sesuatu yang bisa dilakukannya.
Tiba-tiba pada suatu hari, ia mendengar suara sendu dan indah. Ia mendengar suaranya dan tertarik padanya. Ia pun segera meraut sebatang kayu yang diikat dengan benang dari kulit pohon. Kemudian ia membentuknya menjadi seperti sebuah kecapi. Setelah itu, ia mengambil senar dari ekor kuda.


Lûqas ibn Lâqis, pemain seruling pertama.
Suatu hari ia melewati Hafâf yang sedang memainkan musik. Ia mendengar suara yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Ia pun mendekat dan meminum minuman yang tidak pernah ia minum sebelumnya. Akibatnya, ia melayang hingga menuju negeri Babil. Ia berdiam di sana selama setahun seraya berpikir untuk membuat sesuatu. Kemudian pada suatu malam ia mendengar suara lalat. Ia lalu mengambil sebatang bambu dan melubanginya. Setelah itu, ia meniupnya.
Abu Laysam, pemain gendang pertama.
Ia adalah yang pertama kali membuat gendang. Alkisah, pada suatu hari ia menghamparkan ekornya ke wadah kaca milik Hafâf. Lalu Hafâf memukul wadah tersebut dengan tangannya. Ternyata wadah tadi berbunyi. Mendengar itu, ia pun segera mengganti ekor tersebut dengan kulit.

Iblis yang menghuni tempat-tempat tertentu :
Iblis yang bernama Al-Qashqâm ibn al-Qast menghuni tempat sampah. Ia memercikkan air kencing ke pakaian. Setan bernama Dafûf ibn al-Qârib menghuni dapur. Ia menyibukkan para wanita untuk membuat marah majikan dan suami, serta menghuni periuk dengan menggaraminya. Lalu Al-Riyâdh ibn al-Damdân yang mengurusi harta dan simpanan. Al-Râqtib Syû menghuni kamar kecil. Al-Dahhâk ibn al-Maqthâb menghuni gang dan jalan dengan mengantar orang-orang yang mabuk menuju rumah mereka. Al-‘Ashûf ibn al-Jadd menghuni tempat-tempat hiburan dan musik. Iblis Arabad dan Jasûr ibn al-Luth mencampur baurkan antara laki-laki dan wanita. Al-Buhaits ibn al-Maqham menghuni pasar-pasar, serta Al-Duwaif ibn al-Qalqal yang menghuni kedai-kedai minuman keras.

(Hadist Riwayat : Al-Hakim, At-Tirmidzi }

Mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Iman kepada Hari Akhir


A. Pengertian beriman kepada Hari Akhir
Beriman kepada Hari Akhir adalah percaya atau meyakini dengan sepenuh hati bahwa Hari Akhir itu pasti akan terjadi atas kehendak Allah SWT. Hari Akhir yaitu hari berakhirnya (hancurnya) segala sesuatu yang ada di alam dunia ini. Tidak ada satupun makhluk yang mengetahui secara pasti kapan terjadinya Hari Akhir itu, hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Iman kepada Hari Akhir merupakan rukun iman yang kelima, barangsiapa yang tidak mempercayai kedatangannya maka ia kafir. Tentang Hari Akhir yang pasti terjadi itu, Allah menegaskan dalam Al-Qur’an :

Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan sungguh Allah akan membangkitkan semua orang di dalam kubur. (QS. Al-Hajj : 7)

Pada saat terjadinya Hari Akhir semua makhluk yang ada di bumi ini akan musnah, matahari digulung, bintang-bintang berjatuhan, langit runtuh, gunung-gunung dihancurkan, lautan dipanaskan (meluap), dan bumi memuntahkan segala isinya. Perhatikan firman Allah berikut :

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya. (QS. Al-Hajj : 1-2)

Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dijadikan meluap. (QS. At-Takwir : 1-6)

Hari Akhir juga sering disebut dengan nama-nama lain, diantaranya yaitu :
• Yaumul Qiyamat artinya hari kebangkitan
• Yaumul Jaza’ artinya hari pembalasan
• Yaumul Ba’ats artinya hari kebangkitan
• Yaumud Din artinya hari pertanggung jawaban agama • Yaumul Hisab artinya hari perhitungan amal
• Yaumul Mizan artinya hari penimbangan amal
• Yaumul Khulud artinya hari keabadian (kekal)
• Yaumul Hasyr artinya hari dikumpulkan
• Yaumut Taghobun artinya hari penyesalan

B. Hal-hal yang berkaitan dengan Hari Akhir
1. Alam Barzakh, yaitu batas antara alam fana (dunia) dengan alam baqa’ (akhirat). Alam barzakh disebut juga alam kubur. Di alam barzakh manusia akan mengalami dan merasakan kehidupan sesuai dengan amal baik/ buruk selama di dunia. Apabila baik amalnya ia akan merasakan nikmat kubur, sebaliknya apabila buruk amalnya ia akan merasakan siksa kubur. Kehidupan di alam barzakh berlangsung sampai datangnya hari kebangkitan (Yaumul Ba’ats)
2. Yaumul Ba’ats, yaitu hari dibangkitkannya seluruh umat manusia sejak zaman Nabi Adam as hingga manusia terakhir dari alam kubur. Peristiwa ini terjadi setelah Malaikat Isrofil meniup sengkakala yang kedua
3. Yaumul Makhsyar, hari berkumpulnya seluruh umat manusia sejak manusia pertama hingga manusia paling akhir setelah mereka dibangkitkan dari alam kubur. Pada hari tersebut matahari didekatkan sehingga panasnya akan terasa menyiksa bagi manusia yang tidak beriman dan buruk amalnya. Sedangkan orang beriman yang baik amalnya akan mendapatkan naungan/ perlindungan dari Allah SWT
4. Yaumul Mizan, yaitu hari penimbangan amal baik dan buruk yang dilakukan oleh manusia selama hidup di dunia. Apabila timbangan amal baiknya lebih berat daripada amal buruknya, ia akan memperoleh balasan berupa kesenangan hidup di surga. Sebaliknya apabila timbangan amal buruknya lebih berat dari amal baiknya, maka ia akan merasakan kesengsaraan hidup di neraka (Hawiyah)
5. Yaumul Hisab, yaitu hari penghitungan amal baik dan buruk yang dilakukan manusia selama hidup di dunia. Semua manusia akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya.

C. Kiamat Sughro dan Kubro
1. Kiamat Sughro (kiamat kecil), yaitu proses berpisahnya antara raga dan nyawa atau berakhirnya kehidupan setiap makhluk. Semua makhluk hidup pasti akan mengalami kematian (ajal) karena tidak yang kekal dan abadi selain Allah
2. Kiamat Kubro (kiamat besar), yaitu peristiwa berakhirnya kehidupan seluruh makhluk di alam dunia ini secara serempak. Tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya hari yang mengerikan itu, kecuali Allah SWT. Para Malaikat dan Rasul tidak diberitahu secara pasti waktu terjadinya hari kiamat tersebut. Para Rasul hanya diberitahu oleh Allah beberapa tanda datangnya hari kiamat. Tanda-tanda datangnya hari kiamat itu antara lain :

Tanda-tanda kiamat besar :
1. Keluarnya Dajjal
2. Turunnya Nabi Isa as
3. Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj
4. Keluarnya Binatang (yang bisa berbicara) dari perut bumi
5. Terbitnya matahari dari arah barat
6. Munculnya Dukhan (kabut asap)
7. Gerhana dan gempa di timur
8. Gerhana dan gempa di barat
9. Gerhana dan gempa di Jazirah Arab
10. Keluarnya api dari tanah Yaman

Tanda-tanda kiamat kecil :

1. Wafatnya Rasulullah SAW
2. Disia-siakannya amanat
3. Orang yang hina menduduki jabatan terhormat
4. Penaklukan Baitul Maqdis oleh Muslimin
5. Sungai Efrat berubah menjadi emas
6. Banyak pemimpin yang fasiq dan jahat
7. Banyak para pembela kedzaliman
8. Fitnah merajalela dan banyak terjadi pembunuhan
9. Perang antara Yahudi dan umat Islam
10. Banyak terjadi gempa bumi
11. Banyak terjadi kematian mendadak
12. Banyak orang shaleh yang meninggal
13. Munculnya banyak kekejian, putusnya kekerabatan, dan hubungan dengan tetangga yang tidak baik
14. Negara Arab menjadi subur dipenuhi rumput dan sungai
15. Bulan sabit kelihatan menjadi besar
16. Banyak pasar yang saling berdekatan
17. Dicabutnya ilmu dan dominannya kebodohan
18. Orang mengucapkan salam hanya kepada yang kenal saja
19. Terjadinya jual beli hukum
20. Tersebarnya alat musik dan khamer
21. Saling berlomba dalam meninggikan bangunan
22. Berwewah-mewahan dalam menghiasi masjid-masjid
23. Peredaran alam dan tata surya mulai tidak teratur
24. Jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki
25. Banyak wanita berpakaian menyerupai laki-laki dan sebaliknya
26. Banyak wanita berpakaian tetapi hakikatnya telanjang
27. Umat terakhir melaknat umat terdahulu
28. Merebaknya perzinaan dan kemaksiatan
29. Merebaknya riba dan harta haram
30. Banyak anak yang durhaka kepada orang tuanya
31. Banyak terjadi dusta dan sumpah palsu
32. Perkataan dusta dianggap hal biasa
33. Dan masih banyak lagi.


D. Balasan amal baik dan buruk
Semua amal perbuatan manusia selama di dunia akan mendapatkan balasan dari Allah sekecil apapun amal itu. Orang yang berbuat baik sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya akan mendapat balasan baik berupa surga dengan segala kenikmatannya dan kekal di dalamnya. Sebaliknya orang yang selama hidupnya banyak melakukan keburukan, inkar (kufur) terhadap Allah, atau berbuat kesyirikan mereka akan mendapatkan balasan siksa neraka. Mereka akan diberi makan buah zaqqum (buah yang paling buruk, rasanya pahit, busuk, dan berduri). Minumannya air panas mendidih yang berasal dari nanah. Makanan dan minuman di neraka tidak pernah mengenyangkan dan tidak pernah menghilangkan dahaga.

E. Hikmah beriman kepada Hari Akhir
Dengan beriman kepada Hari Akhir kita akan mendapatkan banyak sekali hikmah dan manfaat, antara lain :
1. Bertambah iman dan taqwa kita kepada Allah SWT
2. Kita menyadari bahwa kehidupan dunia itu sementara dan semua akan binasa
3. Kita menyadari bahwa akhirat itu lebih baik daripada dunia, sehingga ada keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat
4. Kita menyadari bahwa hidup di dunia seperti musafir atau pengembara menuju ke suatu tempat. Tidak menjadikan dunia sebagai tujuan, sehingga tidak terpedaya olehnya
5. Dunia itu fana, sedangkan akhirat itu kekal. Untuk itu perbanyaklah mencari bekal dengan ibadah dan amal shaleh untuk kehidupan akhirat
6. Selalu berhati-hati dalam setiap perbuatan, sebab semuanya akan mendapatkan balasan yang sesuai dengan amal perbuatan kita
7. Berusaha meningkatkan amal ibadah menjadi semakin bertambah baik
8. Selalu mawas diri dalam setiap tindakan dan tidak sembrono
9. Dan sebagainya.

Oleh : Zaenal Muttaqin Noor

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaana-Ka Allaahumma wabihamdi-Ka asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta astaghfiru-Ka waatuubu ilai-Ka.
Powered by Blogger