Tampilkan postingan dengan label Tarbiyyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarbiyyah. Tampilkan semua postingan

Pesan Untuk Anakku

Anakku..., jauh sebelum kau hadir dalam kehidupan ayah dan ibu, kami senantiasa bermohon kepada Allah Swt agar dikaruniai keturunan yang sholeh dan sholihah, yang taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua, rajin beribadah dan belajar, serta dapat menjadi penerus dakwah Ilallaah.

Banyak rencana yang kami rancang, agar kelak bila kau hadir, kami sudah siap menjadi orang tua yang baik dan mampu mendidikmu dengan didikan yang sesuai dengan Diinul Islam, tuntunan kita seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW kepada kita. Ayah dan Ibu ingin, kelak bila Allah mengamanahkan kepada kami seorang putri, maka dia akan berakhlaq seperti akhlaqnya Fatimah Az-Zahraa putri Rasulullah, dan bila Allah mengamanahkan seorang putra, maka dia akan seperti Ali bin Abi Thalib.

Setelah tanda kehadiranmu mulai tampak, Ibu sering mual, muntah-muntah, sakit kepala dan sering mau pingsan, Ibu dan Ayah bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya, kami menjagamu sepenuh hati, serta senantiasa berharap, kelak kau lahir sebagai anak yang sehat, sempurna dan menyenangkan. Sejak dalam rahim, kami mencoba menanamkan kalimat-kalimat tauhid kepadamu dan berupaya mengenalkanmu kepada Rabb Sang Pencipta, dengan bacaan ayat-ayat suci-Nya, dengan senandung-senandung shalawat Nabi, dengan nasyid-nasyid yang membangkitkan semangat da’wah dan rasa keimanan kepada Allah yang Esa.

Saat kau akan lahir, Ibu merasakan sakit yang amat sangat, seolah berada antara hidup dan mati, namun Ibu tidak mengeluh dan putus asa, karena bayangan kehadiranmu lebih Ibu rindukan dibanding dengan rasa sakit yang Ibu rasakan. Ibu tak henti-hentinya berdo’a, memohon ampunan dan kekuatan kepada Allah. Ayahpun tidak tidur beberapa malam untuk memastikan kehadiranmu, menemani dan menguatkan Ibu, agar sanggup melahirkanmu dengan sempurna. Bacaan dzikir dan istighfar, mengiringi kelahiranmu.

Begitu kau lahir, sungguh rasa sakit yang amat sangat sudah terlupakan begitu saja. Setelah tangismu terdengar, seolah kebahagiaan hari itu hanya milik Ibu dan Ayah. Air mata yang tadinya hampir tak henti mengalir karena menahan sakit, berganti menjadi senyum bahagia menyambut kelahiranmu. Ibu dan Ayah bersyukur kepada Allah Swt, kemudian Ayah melantunkan adzan dan iqomat di telingamu, agar kalimat yang pertama kali kau dengar adalah kalimat tauhid yang harus kau yakini dan kau taati selama hidupmu.

Saat pertama kali kau isap air susu Ibu, Ibu merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada tara. Ibu ingin memberikan semuanya kepadamu, agar kau segera tumbuh besar dan sehat. Ibu berupaya supaya ASI ini dapat mencukupi kebutuhanmu. Ibu berupaya untuk selalu dekat denganmu, dan selalu mengajakmu kemanapun Ibu pergi, supaya kapanpun kau lapar, Ibu selalu siaga memberikan air surgawi karunia Ilahi itu kepadamu. Ibu berusaha untuk selalu siap siaga menjagamu, kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun. Saat malam sedang tidur lelap, Ibu akan terjaga bila kau tiba-tiba menangis karena popokmu basah atau karena kau lapar.

Saat sedang makan dan kau buang air besar, Ibu dengan rela menghentikan makan dan mengganti popokmu dulu. Dan semuanya, Ibu lakukan dengan senang hati, tanpa rasa risih dan jijik. Sejak kau masih dalam ayunan, Ibu senantiasa membacakan do’a dalam setiap kegiatan yang akan kau lakukan. Ibu bacakan do’a mau makan ketika kau hendak makan, do’a mau tidur ketika kau mau tidur, dan do’a apa saja yang harus kau tahu dan kau amalkan dalam kehidupan keseharianmu. Ibu bacakan selalu Ayat Kursi dan surat-surat pendek satu persatu setiap malam, dikala mengantarmu tidur, ayat per ayat dan Ibu ulang berkali-kali hingga kau sanggup mengingatnya dengan baik, dengan harapan kau besar nanti menjadi penghafal Al Qu’ran.

Ketika kau sudah mampu berbicara, subhanallah, tanpa kami duga, kau telah hafal berbagai macam do’a dan beberapa surat pendek. Ibu bersyukur dan bangga kepadamu. Muncul harapan dalam hati ini, kelak kau tumbuh menjadi anak yang pintar dan rajin belajar. Tatkala kau mulai belajar sholat, dan usai sholat kau lantunkan do’a untuk orang tua, walau dengan bacaan yang masih belum sempurna, bercucur air mata ibu karena kau telah mampu melafalkan do’a itu. Timbul harapan dihati yang paling dalam, kelak hingga ketika Ibu dan Ayah tiada, kau tetap melantunkan do’a itu, karena do’amu akan memberikan kepada Ibu dan Ayah pahala yang tak henti-hentinya di Yaumil Akhir. Kaulah asset masa depan bagi Umi dan Abi. Kau akan mampu menolong Umi dan Abi di Yaumil Akhir nanti, bila kau menjadi anak yang sholehah. Nak, kehadiranmu pun memberikan kepada Ibu dan Ayah pelajaran yang sangat berharga, kau mengingatkan kami tatkala masih sepertimu. Mengingatkan dengan lebih kuat lagi, betapa besar pengorbanan yang dilakukan oleh Kakek dan Nenekmu kepada kami, hingga Ibu dan Ayah tumbuh dewasa dan bahkan sampai menjadi orang tua seperti mereka.
Ibu dan Ayah sangat menyayangimu, karena kami ingin kaupun menjadi anak yang penyayang terhadap sesama. Kami hampir selalu menyertakan kata sayang dibelakang namamu saat memanggilmu, supaya hatimu senang dan gembira bersama Ibu dan Ayah. Saat kau memasuki usia sekolah, Kami carikan sekolah yang baik untukmu. Sekolah yang memiliki visi pendidikan seperti yang Ibu dan Ayah inginkan.

Alhamdulillaah, saat kau mulai sekolah, telah banyak berdiri sekolah-sekolah Islam Terpadu, sehingga kami tidak kesulitan mencarikan sekolah untukmu. Ayah mengantarmu ke sekolah setiap pagi dan Ibu mendampingimu selalu hingga kau berani ditinggal di sekolah sendiri. Keperluan sekolahmu selalu kami upayakan, walau kadang harus dengan susah payah, agar kau bisa memperoleh pendidikan yang baik dan layak untuk kehidupanmu dimasa yang akan datang. Kami senantiasa berupaya membimbingmu untuk dapat melakukan segala sesuatu, agar saat besar nanti kau mampu melayani dirimu sendiri. Bila Ibu dan Ayah tidak mau melayanimu untuk hal-hal yang sudah dapat kau lakukan sendiri, itu bukan berarti kami tidak menyayangimu, tapi justru sebaliknya. Karena Ibu dan Ayah sayang sekali padamu, kau tidak boleh terlalu dimanjakan, hingga saat kau besar nanti, kau jadi anak yang mandiri dan serba bisa.

Maafkan Ibu dan Ayah bila sekali waktu (atau bahkan sering) memarahimu ketika kau membuat kesalahan yang berulang-ulang. Sungguh, sebenarnya Ibu dan Ayah tak ingin memarahimu, namun kamipun sadar bahwa kau harus tahu dan harus dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, agar saat kau dewasa dan telah bergaul dengan masyarakat umum nanti, kau bisa memilih untuk selalu melakukan yang haq dan meninggalkan yang bathil. Semoga kau tidak salah sangka. Maafkan pula bila Ibu dan Ayah selalu membatasi tontonan dan bacaanmu, karena dewasa ini sangat banyak media yang dapat merusak pendidikan yang sudah kami terapkan kepadamu. Itu semua kami lakukan, agar kau terpelihara dari hal-hal negatif yang akan mendangkalkan akhlaq dan perilakumu. Ibu dan Ayah ingin, kau menjadi anak yang faqih dalam hal agama, menjadi generasi Qur’ani, dan menjadi penerus dakwah Ilallaah. Inilah harapan Ibu dan Ayah kepadamu, sangat banyak dan sangat ideal. Oleh karenanya, kami senantiasa memohon petunjuk dan bimbingan dari Allah Yang Esa, yang Berkuasa dan Maha Agung, agar tidak salah langkah dalam mendidikmu.

Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyyaatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lilmuttaqiina imaaman, Amiin...

Demikian mudah-mudahan bermanfaat.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Koreksi Terhadap Ucapan Salam

السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة

Arti ucapan salam
Ucapan salam merupakan anjuran dalam agama yang sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan umat beragama seseorang. Hikmah dari ucapan salam dapat menjalin ikatan persaudaraan dan kasih sayang antar sesama, karena orang yang mengucapkan salam berarti saling mendo’akan agar mereka mendapatkan keselamatan, rahmat dan keberkahan dari Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat. Salam adalah ucapan penghormatan dan do’a kebaikan. Apabila kita dihormati dengan suatu penghormatan maka kita harus membalasnya dengan penghormatan yang lebih baik, atau paling tidak balaslah dengan ucapan yang serupa. Sesungguhnya Allah akan memperhitungkan setiap yang kita kerjakan. Mengucapkan salam hukumnya adalah sunnah yang sangat dianjurkan, sedangkan bagi yang mendengarnya wajib untuk menjawabnya. Sebelum Islam, orang-orang Arab terbiasa menggunakan ungkapan salam yang lain seperti ”Hayakallah” (semoga Allah menjagamu tetap hidup). Namun setelah Islam datang, ucapan itu diganti menjadi ”Assalaamu ‘alaikum” (artinya semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa).

Keutamaan salam
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan saling mencintai. Maukah aku tunjukkan satu amalan bila dilakukan akan membuat kalian saling mencintai ? Yaitu, sebarkanlah salam di antara kalian” (HR Muslim dari Abi Hurairah).
Abu Umamah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Orang yang lebih dekat kepada Allah SWT adalah yang lebih dahulu memberi Salam.” (Musnad Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi).
Abdullah bin Mas’ud ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Salam adalah salah satu Asma Allah SWT yang telah Allah turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam. Ketika seseorang memberi salam kepada yang lain, derajatnya ditinggikan di hadapan Allah. Jika jama’ah suatu majlis tidak menjawab ucapan salamnya maka makhluk yang lebih baik dari merekalah (yakni para Malaikat) yang menjawab ucapan salam.” (Musnad Al Bazar, Al Mu’jam Al Kabir oleh At Tabrani).
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Orang kikir yang sebenar-benarnya kikir ialah orang yang kikir dalam menyebarkan salam.” Allah SWT berfirman didalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 86 : ”Demikianlah Allah SWT memerintahkan agar seseorang membalas dengan ucapan yang setara atau yang lebih baik.”
Ketentuan dalam hal mengucapkan salam sudah diatur oleh Allah dan diajarkan kepada Rasul-Nya. Dalam suatu pertemuan dengan Rasulullah SAW, seorang sahabat datang dan melewati Beliau sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum”. Rasulullah SAW lalu bersabda, “Orang ini mendapat 10 pahala kebaikan”. Tak lama kemudian datang lagi sahabat lain, ia pun mengucapkan, “Assalamu‘alaikum Warahmatullaah.” Kata Rasulullah SAW, “Orang ini mendapat 20 pahala kebaikan.” Kemudian lewat lagi seorang sahabat lain sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum warahmatullaah wa barakaatuh.” Rasulullah SAW bersabda, “Ia mendapat 30 pahala kebaikan.” (HR. Ibnu Hibban dari Abi Hurairah).
Dari ketiga contoh pengucapan (ada yang disingkat) itu silahkan pilih mana yang kita inginkan, bukan dengan menyingkatnya sendiri yang justru dapat menghilangkan nilai pahala salam. Satu hal yang perlu juga diingat adalah ketika menuliskan kata Assalamu'alaikum, perlu diperhatikan agar jangan sampai huruf ”L”-nya tertinggal sehingga menjadi Assaamu'alaikum, mengapa ? Diriwayatkan bahwa dahulu ada seorang Yahudi yang memberi salam kepada Nabi dengan ucapan, "Assaamu 'alaika ya Muhammad" (Semoga kematian ditimpakan kepadamu). Dan kata assaamu ini artinya kematian. Kata ini adalah plesetan dari "Assalaamu 'alaikum". Maka Nabi bersabda, "Kalau orang kafir mengatakan padamu ’assaamu 'alaikum’, maka jawablah dengan wa 'alaikum (Dan semoga atas kalian pula)." (HR. Bukhari).

Kekeliruan dalam ucapan salam
Banyak diantara kita yang tidak memahami makna dari pengucapan salam, sehingga sering kita jumpai (dengar) perbedaan dalam mengucapkan lafadz salam tersebut. Bahkan ada juga yang mungkin karena kesibukan, diantara kita sering menyingkat ucapan salam yang maksud sebenarnya adalah mendo’akan keselamatan, rahmat dan keberkahan tetapi justru sebaliknya mempunyai arti yang sangat tidak baik, menjadi cacian dan bahkan kata-kata yang tidak sepantasnya (jorok). Bagaimana bisa ?
Beberapa perbedaan bentuk ucapan salam yang sering kita jumpai dan ini harus segera diperbaiki diantaranya :
1. Assamualaikum
2. Assemelekum
3. Menyingkat salam dengan ; Asw/ Aslm/Ass wr wb/ Aslmwrwb/ atau Ass.
4. dan banyak lagi.

Ketentuan ucapan salam yang diajarkan Rasulullah SAW dalam Kitab Hadist Shahih Muslim mengenai adab dalam pengucapan salam diantaranya :
1. Rasulullah SAW Bersabda : Apabila Ahli Kitab mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah : Wa`alaikum. (Shahih Muslim No.4024)
2. Hadis Riwayat Ibnu Umar ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya orang Yahudi itu bila mengucapkan salam kepada kalian mereka mengucapkan: "Assaamu `alaikum" (kematian atas kalian), maka jawablah dengan: "Wa`alaika" (semoga menipa kamu). (Shahih Muslim No.4026)
3. Hadis Riwayat Aisyah ra : Sekelompok orang Yahudi meminta izin untuk menemui Rasulullah SAW, lalu mereka mengucapkan: "Assaamu `alaikum" (kematian atas kalian). Aisyah menyahut: "Bal `alaikumus saam" (sebaliknya semoga kalianlah yang mendapatkan kematian). Rasulullah SAW menegur : Hai Aisyah, Sesungguhnya Allah menyukai keramahan dalam segala hal. Aisyah berkata : Tidakkah engkau mendengar apa yang mereka ucapkan? Rasulullah SAW bersabda : Aku telah menjawab : "Wa `alaikum" (semoga menimpa kalian). (Shahih Muslim No.4027)
Dari ketiga hadist di atas cukuplah jelas bagi kita bahwa :
1. Apabila ada orang non-muslim yang mengucapkan salam, maka dijawab dengan kata wa’alaikum saja.
2. Apabila ada non-muslim yang mengucapkan salam dengan lafaz “assaamu’alaikum” maka cukup dijawab dengan “wa’alaika”. Karena ‘assaamu’alaikum’ berarti kematian atas kalian. Dan dijawab dengan ‘wa’alaika’ yang berarti “semoga menimpa kalian”.
3. Namun apabila ada orang muslim yang mengucapkan lafaz salam seperti itu maka harus kita beritahukan bagaimana cara pengucapan salam yang benar tersebut.

Adapun singkatan salam yang terakhir (Ass..), ini singkatan yang paling umum dan sering digunakan oleh banyak orang yang tidak tahu, misalnya ketika menulis sms, email, status dan komentar di situs pertemanan (jejaring sosial), dsb. Ini adalah singkatan ucapan salam yang paling tidak enak untuk dibaca terutama bagi yang telah mengetahui artinya. Padahal kalau kita buka dalam kamus linguistik (misalnya Kamus Bahasa Inggris John M. Echols & Hassan Shadily), akan kita dapati arti dari kata ”Ass” itu sebagai berikut :
Pertama, kb.(animal) yang artinya keledai.
Kedua, orang yang bodoh. Don't be a silly (janganlah sebodoh itu), dan
Ketiga, Vulg (pantat).
Dari ketiga arti tersebut tidak satupun yang berhubungan dengan maksud mendo’akan kebaikan sebagaimana yang dikehendaki dari ucapan salam tersebut, tetapi semuanya mempunyai arti yang tidak baik bahkan tidak etis. Keledai juga sering digunakan sebagai binatang simbol yang menggambarkan orang yang dungu (bodoh). Kita maklumi, banyak diantara kita yang sangat sibuk dan ingin cepat atau buru-buru dalam menulis pesan. Karenanya dengan dalih efisiensi dan efektifitas singkatan itu bisa mempercepat pekerjaan kita. Mungkin ada benarnya, tatapi apakah dengan singkatan itu kita mau mempertaruhkan do’a kebaikan ditukar dengan ucapan kata-kata kotor, melaknat , atau mendo’akan kejelekan kepada sesama ? Ucapan salam yang dilecehkan itu sudah dilakukan oleh orang-orang Yahudi pada masa Rasulullah SAW. Dan konon, ucapan ”Ass” juga sebagai produk pelecehan kembali terhadap umat Islam yang sengaja dipopulerkan oleh orang yang tidak suka kepada Islam. Oleh karenanya, jika memang keadaan sedang tidak memungkinkan untuk menulis salam lewat SMS dengan kalimat lengkap, bukankah lebih baik cukup menulis pesan to the point saja, daripada kita harus memaksakan diri menggunakan singkatan dari do’a keselamatan dan keberkahan (Assalamu'alaikum) menjadi "Ass" yang sudah jelas tidak baik artinya ?.

Oleh : Zaenal Muttaqin Noor

Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Jangan Remehkan Kebaikan

Arti kebaikan
Kebaikan dalam terminologi Islam sering disebut dengan ”al-birru” atau ”al-ma’ruf”, yaitu segala sesuatu yang mendatangkan keridhaan Allah baik berupa keyakinan, sikap, ucapan atau perbuatan. Jika kebaikan dikerjakan dengan ikhlas Allah akan menyediakan balasan kebaikan pula kepada pelakunya baik di dunia maupun di akhirat nanti. Rasulullah SAW memotivasi kita agar gemar melakukan kebaikan dan tidak meremehkannya sekecil apapun walau hanya sekedar tersenyum atau menampakkan wajah berseri kepada sesama. Terlebih lagi pada hal-hal pokok dalam agama seperti masalah aqidah, ibadah, mu’amalah dan akhlak.
Yang kita sebut dengan kebaikan ternyata tidak mudah dikerjakan apalagi dibiasakan. Ketika kesempatan berbuat kebaikan sudah jelas ada, ladang amal shaleh terbentang luas di depan mata kebanyakan dari kita tidak langsung menyambutnya dengan suka cita kemudian menunaikannya. Bahkan yang lebih memprihatinkan kadang ada yang tidak suka dengan suatu kebaikan tapi malah membenci orang lain yang istiqomah mengerjakannya, padahal mereka adalah orang-orang beriman yang sama-sama mengharapkan surga. Misalnya saja ketika terdengar seruan adzan, apakah kita langsung menyambutnya dengan senang hati kemudian menunaikan shalat berjamaah di masjid ? Jika ya, bersyukurlah kepada Allah bahwa dengan rahmat-Nya kita masih mampu membuktikan kebenaran iman kita. Tetapi jika belum, inilah yang menjadi tugas penting kita untuk segera memperbaikinya.
Karakteristik suatu kebaikan yang diantara hikmahnya akan mendatangkan keberkahan hidup dan balasan surga bagi pelakunya kebanyakan terasa tidak enak, tidak menyenangkan, dan terasa berat. Karenanya hanya orang yang beriman dan benar-benar ikhlaslah yang dapat mewujudkannya. Sebaliknya hal-hal yang tidak baik biasanya terasa ringan, menyenangkan dan mengasyikan sehingga banyak orang yang mahir mengerjakannya bahkan menganggapnya sebagai hal yang sudah lumrah dan biasa. Nabi SAW bersabda :
Surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai , sementara neraka dikelilingi dengan syahwat. (HR. Muslim, At-Tirmidzi, dan Ad-Daarimi).

Contoh kebaikan dan hikmahnya
Orang yang benar-benar beriman akan mendasari semua yang dilakukannya dengan motivasi iman dan niat beribadah untuk memperoleh ridha dan pahala dari Allah SWT. Diantara buah manisnya adalah lebih mencintai Allah dan Rasulnya, mengakarnya yaqdzah (kesadaran) dalam hati dan sikap husnudzan kepada Allah Sang Pembuat Syari’at bahwa dibalik taklif syari’at dari Allah dan Rasul-Nya tersimpan rahasia dan hikmah yang luas sekali. Misalnya, Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa senyum kepada sesama adalah shadaqah. Bukankah tersenyum itu hal yang mudah kita lakukan ? Tersenyum yang hanya menggunakan 2 otot saja (bandingkan dengan marah yang menggunakan 13 otot dan bicara yang menggunakan 44 otot ), ternyata hanya bisa dilakukan oleh orang yang hatinya sehat, netral dan tiada beban. Tersenyum merupakan suatu daya dari kemampuan otak kanan kita yang perlu dilatih dan dibiasakan. Coba kita bandingkan dengan tersenyum di depan benda mati (kamera), mengapa terasa agak sulit ? Orang yang hatinya sakit oleh karena sifat hasad, benci, marah atau dendam sangat sulit sekali untuk tersenyum dengan tulus seolah ada dinding tebal yang menghalanginya untuk tersenyum. Penyakit hati merupakan ganjalan jiwa yang biasanya mengajak kepada tendensi negatif, ketiadaan netralitas dan sikap tidak obyektif. Senyum menjadi bernilai shadaqah apabila ia merupakan refleksi psikis yang dapat berfungsi sebagai instrumen pemecah masalah, perekat ukhwah (persaudaraan), pemelihara sillaturrahim, pengikat hubungan baik dengan teman dan tetangga, alat untuk menciptakan budaya berpikir positif dan husnudzan, dan banyak manfaat lainnya.
Contoh lain, ketika kita bersin Rasulullah SAW menganjurkan kita agar menutup mulut dan memuji Allah dengan membaca ”alhamdulillah”, sedangkan ketika menguap kita dianjurkan menahan sebisa mungkin (agar tidak jadi menguap) atau menutup mulut dengan punggung tangan kiri dan membaca ”astaghfirullaahal’adziim”. Beliau bersabda :
Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Maka apabila seseorang bersin, hendaklah ia memuji Allah (dengan mengucapkan alhamdulillah) dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim (yang mendengarnya) untuk mendo’akannya. Adapun menguap ia berasal dari setan, maka tahanlah semampu mungkin dan apabila (seseorang menguap) bersuara ”haa”, maka tertawalah setan. (Shahih Bukhari : 6223).
Juga sabdanya :
Jika salah seorang dari kalian menguap, maka tutuplah mulut dengan tangannya karena sesungguhnya setan masuk (ke dalam mulut yang terbuka). (Shahih Muslim : 2995)
Rasulullah memerintahkan atau melarang sesuatu bukan karena kemauan dan kehendaknya sendiri, melainkan atas bimbingan wahyu dari Allah SWT. Hikmahnya adalah ketika kita bersin dengan kuasa dan ilmu-Nya tubuh secara reflek otomatis mengeluarkan udara semi otonom yang mengandung bakteri/ kuman/ mikroba/ debu kotoran dari dalam rongga antar hidung, telinga dan tenggorokan dengan kecepatan 160,9 km/ jam (bahkan ada yang menyebutnya 250 km/ jam, wallaahu a’lam). Para pakar kesehatan merekomendasikan agar jangan bersin terlalu keras karena konon dapat meretakkan tulang iga. Juga jangan pernah mencoba menahan bersin, sebab menahan bersin berarti tubuh harus menahan kecepatan bersin tersebut secara tiba-tiba. Menurut John Pan MD, Kepala Pusat Pengobatan Integratif di George Washington University Medical Center bahwa menahan bersin akan memaksa bakteri/ kuman/ mikroba/ debu kotoran kembali masuk ke dalam rongga hidung dan kanal telinga sehingga bisa menimbulkan infeksi, dalam kondisi parah dapat menyebabkan pecahnya gendang telinga. Sedangkan Dr. Michael Roizen Kepala Wellness Officer Clevelend Clinics menjelaskan bahwa menahan bersin sangat membahayakan kesehatan, diantaranya dapat menyebabkan patahnya tulang rawan hidung, mimisan, pecahnya gendang telinga, vertigo, terlepasnya retina mata, atau emfisema yang berpotensi mematikan. Subhaanallah...itulah sebabnya mengapa kita diperintahkan untuk memuji Allah karena dengan bersin secara sunnatullah kita dihindarkan dari hal-hal yang membahayakan tubuh atau paling tidak terhindar dari bahaya yang lebih besar. Senada dengan anjuran mendo’akan kebaikan, di negara-negara yang berbahasa Inggris juga sering dikatakan ucapan ”God bless you” (semoga Tuhan memberkatimu) kepada orang yang bersin.
Sedangkan menguap (umumnya diasumsikan sebagai pertanda tubuh capai dan perlu istirahat) merupakan gejala yang menunjukkan bahwa otak dan tubuh membutuhkan asupan oksigen dan nutrisi. Menguap terjadi karena tubuh dalam keadaan lembab lagi kering dan residu alveoli di paru-paru miskin (kekurangan) oksigen. Ketika menguap organ pernafasan berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya melalui mulut, padahal mulut bukan difungsikan untuk itu. Jika menghirup udara dengan mulut, maka bakteri/ kuman/ mikroba/ debu kotoran (haba’) akan ikut masuk ke dalam organ pernafasan tanpa filterisasi yang mestinya melalui hidung, juga dapat menyebabkan oksigen (O2) yang kita hirup terkontaminasi oleh karbon dioksida (CO2).
Menguap merupakan isyarat pemikiran yang lalai dan tumpul (sulit berkonsentrasi), dibuai rasa ngantuk dan pertanda kemalasan. Setan akan senang bila kita malas dan tidak beribadah kepada Allah atau tidak melakukan aktifitas lain yang bermanfaat. Pada saat mulut kita terbuka setan tertawa dan masuk ke dalam tubuh kemudian dengan leluasa mengganggu kita. Kita diperintahkan menutup mulut dengan punggung tangan kiri karena menguap termasuk kebiasaan tidak baik dan merupakan perilaku yang salah secara ilmiah. Oleh sebab itu kita diperintahkan membaca istighfar memohon ampun kepada Allah dari perbuatan yang tidak baik tersebut. Sedangkan Rasulullah sendiri seperti perkataan Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kitab Fathul Baari, menyebutkan bahwa para sahabat tidak pernah melihat Rasulullah SAW menguap.
Contoh lain dari kebaikan dan hikmahnya, misalnya tentang kebiasaan makan atau minum dua orang yang berbeda. Orang pertama sering makan sesuatu sambil berdiri, terbiasa dengan tangan kiri, mungkin lupa membaca basmalah dan berdo'a sebelumnya, dan bila makanan/ minuman masih panas ia biasa meniupnya agar menjadi dingin, terasa nyaman dan tidak menyiksa lidahnya. Fenomena kebiasaan ini sepertinya sudah dianggap hal yang lumrah dan seolah telah menjadi budaya yang dibenarkan. Bukti pemandangan ini sering kita saksikan di rumah, di sekolah, di kantor, di tempat bekerja, atau di tempat-tempat umum lainnya mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, bahkan orang tua. Coba kita amati dalam tayangan televisi (yang mewakili komunitas lingkungan di luar diri kita) disadari atau tidak hampir sebagian besar kebiasaan makan/ minum seperti di atas sudah dianggap biasa. Sedangkan orang kedua sudah terbiasa makan sambil duduk, selalu dengan tangan kanan, selalu membaca basmalah dan berdo'a, serta terbiasa mununggu makanan/ minuman sampai dingin atau hangat baru kemudian dimakan.
Pada ilustrasi contoh di atas orang pertama mungkin akan berargumen bahwa kebiasaan atau cara makan itu tidaklah penting, yang penting adalah kualitas makanan ditinjau dari aspek kandungan gizinya. Esensi dari makan adalah proses pemenuhan kebutuhan nutrisi oleh tubuh untuk mensuplai kebutuhan energi, stabilitas suhu tubuh, dan regenarasi sel-sel yang secara ilmiah harus mengandung unsur-unsur yang dibutuhkan seperti karbohidrat, lemak, protein, mineral, vitamain, dsb. Alasan tersebut memang tidak salah, hanya saja ada hal yang terabaikan yakni nilai ”keberkahan” dalam makanan itu. Sedangkan orang kedua tidak menafikan esensi dan manfaat ilmiah dari makanan karena itu sebuah keniscayaan, tetapi ia juga berusaha meraih hikmah yang lebih banyak yang tidak diperoleh orang pertama. Kelebihannya antara lain :
1) Orang kedua mendasarkan niat bahwa dengan makan tubuhnya menjadi lebih kuat untuk menunaikan kewajiban beribadah, karenanya ia dapat pahala.
2) Ia melestarikan sunnah-sunnah Rasulullah SAW sebagai bukti cinta dan taat kepadanya. Taat kepada Rasullullah berarti taat kepada Allah. Inilah hakekat cinta dan ketaatan yang sesungguhnya yang karenanya ia akan selalu dicintai oleh Allah dan diampuni dosa-dosanya.
3) Ia makan dengan tangan kanan karena menyelisihi setan yang makan dengan tangan kiri. Dalam sebuah tulisan disebutkan bahwa orang yang terbiasa melakukan aktifitas dengan tangan kanan itu 9 tahun lebih panjang usianya daripada orang kidal yang populasinya hanya 13 % di dunia.
4) Ia makan sambil mengharapkan keselamatan dan keberkahan. Dengan membaca basmalah setan tidak ambil bagian dalam makanan. Apabila keberkahan ia peroleh maka hidupnya akan terasa menyenangkan karena selalu bertambah kebaikannya dan dijauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkannya.
5) Ia akan merasakan manfaat kesehatan yang plus, sebab diantara hikmah Nabi SAW melarang sesuatu pasti ada maksud dan tujuannya. Secara ilmiah medis, ketika kita bernafas dan mengeluarkan kembali udara melalui mulut maka asupan udara yang kita peroleh dan yang kita keluarkan itu berbeda. Yang kita hirup adalah oksigen (O2) dan disaring melalui hidung, sedangkan yang keluar itu udara kotor yang mengandung karbon dioksida (CO2). Jika kita meniup makanan sama artinya kita melekatkan zat karbon itu pada makanan dan kemungkinan juga melekatnya bakteri/ kuman/ mikroba/ debu kotoran (haba’) pada makanan. Disamping itu secara fisiologis posisi ideal bagi lambung dan organ pencernaan saat kita makan adalah sambil duduk, bukan dengan berdiri apalagi sambil berjalan.
Mengapa keberkahan makanan itu penting untuk kita peroleh ? Berkah secara harfiyah berarti bertambahnya kebaikan atau mendatangkan banyak kebaikan. Makanan yang berkah itu makanan yang mendatangkan manfaat kebaikan yang banyak sekali, baik di dunia bahkan sampai akhirat. Sebaliknya makanan yang tidak berkah akan mendatangkan banyak mudharat dan kerugian. Untuk itu marilah kita sadari betapa ruginya apabila kebaikan yang terlihat kecil itu sering kali kita remehkan. Sebaliknya, sekecil apapun kebaikan yang pernah kita kerjakan pasti tidak akan sia-sia melainkan sejatinya kita telah menanam benih yang akan tumbuh menjadi lebih besar dan kita akan memanen buahnya kelak di akhirat. Yang lebih menguntungkan lagi bila kita mengajak kebaikan kepada orang lain kemudian orang lain mau melakukannya, maka kita akan memperoleh pahala dari amal kebaikan yang dikerjakan oleh orang lain tersebut selama ia mengerjakannya. Berikut adalah beberapa etika lain yang harus kita biasakan dalam hal makan/ minum seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW :
1. Mencuci tangan sebelum makan
2. Membaca basmalah sebelum makan, dan membaca hamdalah sesudahnya. Jika lupa tidak membaca kita tetap diperintahkan membaca basmalah ketika teringat.
3. Makan/ minum dengan tangan kanan dan mengambil makanan yang terdekat. Rasulullah SAW bersabda :
Bacalah basmalah (jika akan makan/ minum), makanlah dengan tangan kananmu, dan ambillah makanan yang terdekat. (HR. Bukhari dan Muslim)
4. Makan/ minum secukupnya, tidak berlebihan (kekenyangan) dan tidak membuang makanan. Karena hal tersebut merupakan perilaku tabdzir (pemborosan) yang disukai setan.
5. Makan dan minum sambil duduk, tidak sambil tiduran, tidak berdiri, apalagi berjalan. Sabdanya :
Janganlah salah seorang diantara kamu minum sambil berdiri. Barangsiapa lupa hendaklah menumpahkan apa yang telah diminumnya. (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
6. Makan mulai dari pinggir makanan jangan dari tengah agar keberkahan makanan itu sempurna.
7. Ketika minum janganlah bernafas dalam gelas dan jangan sekaligus, tetapi diminum dua atau tiga kali.
8. Tidak boleh mencela makanan, karena hal itu pertanda kita tidak bersyukur kepada Allah.
9. Jika makan bersama orang yang lebih tua, sebaiknya kita persilahkan mereka terlebih dahulu.
10. Dan masih banyak yang lainnya.

Demikianlah beberapa kebaikan yang harus kita biasakan dalam keseharian kita meskipun kadang terasa berat atau belum terbiasa. Sesuatu akan terasa berat apabila kita tidak terbiasa atau belum melakukannya. Agar sesuatu itu bisa dikerjakan, maka harus terbiasa. Dan sesuatu itu menjadi terbiasa, awalnya harus dipaksa. Ada ungkapan ”Possible thing is usual, and usual thing is forced”, Wallaahu a'lam. Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.

Oleh : Zaenal Muttaqin Noor

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaana-Ka Allaahumma wabihamdi-Ka asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta astaghfiru-Ka waatuubu ilai-Ka.

Shalat Mendidik Disiplin

Kedisiplinan adalah modal penting untuk mencapai keberhasilan. Jika kita ingin menjadi orang sukses, maka harus disiplin dalam segala hal. Di dunia ini banyak sekali orang yang berhasil, tapi ternyata jauh lebih banyak orang yang tidak berhasil. Mengapa demikian, padahal waktu yang diberikan oleh Allah kepada kita sama yaitu 24 jam dalam sehari ? Dalam Al Qur’an surat Al ’Ashr Allah sampai bersumpah atas nama waktu (demi waktu). Ini sebagai bukti perhatian Allah tentang pentingnya menghargai waktu. Sutan Taqdir Alisyahbana bahkan pernah berucap, bahwa kesuksesan seseorang itu tergantung
pada kemampuannya dalam mengatur waktu. Orang yang menghargai waktu dan mampu
memanfaatkannya dengan baik untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat pasti akan mendapatkan banyak hasil, meskipun dari hal-hal yang kita anggap kecil. Sebaliknya orang
yang suka menyia-nyiakan waktu hanya untuk bermalas-malasan, bersantai-ria banyak
ngobrol yang tidak ada manfaatnya, berpangku tangan, dan banyak berangan-angan pasti
akan mendapatkan kegagalan. Hal demikian disebabkan waktu yang sudah berlalu tidak akan pernah bisa kita lewati lagi.
Lebih jauh Allah mengingatkan bahwa manusia yang sudah diberi waktu (kesempatan) semuanya akan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh serta saling menasehati dalam menetapi kebenaran dan kesabaran. Jadi, kriteria sukses menurut pandangan Al-Qur’an adalah tercapainya kebahagiaan hidup dunia dan akhirat, bukan kehidupan duniawi saja yang oleh banyak orang -sadar atau tidak- dipersepsikan selama ini. Sekarang, bagaimana caranya agar kita disiplin menghargai waktu ? Perintah sholat lima waktu merupakan amal ibadah yang mendidik pelakunya agar disiplin dalam mengerjakannya. Allah berfirman yang artinya :
”Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”(QS. An Nisa :103). Ayat di atas menjelaskan bahwa sholat itu hukumnya wajib atas setiap mukmin yang harus dikerjakan tepat pada waktunya, disamping memenuhi syarat dan rukun tertentu lainnya. Idealnya dan ini yang paling utama, sholat itu harus dikerjakan di awal waktu, dengan berjamaah, di shaf pertama, serta dengan tuma’ninah dan penuh kekhusyuan. Ini menunjukkan bahwa perintah sholat mewajibkan kita agar disiplin dalam mengerjakannya, tidak boleh asal-asalan atau sesuka kita. Apabila salah satu syarat atau rukun sholat tidak dipenuhi, maka sholat kita tidak akan sah atau sia-sia. Dalam keadaan lalai kita sering beranggapan bahwa seolah-olah Allah yang butuh sholat kita, padahal kita sendiri yang butuh terhadap sholat. Artinya Allah tidak akan rugi atau tidak akan berkurang keagungan dan kemulian-Nya jika kita tidak sholat, tapi kita sendiri yang rugi terutama di akhirat kelak.
Jika raga kita ini dianalogikan sebagai perangkat keras (hardware), maka sholat merupakan program (software) untuk perawatan agar kita tetap sehat dan stabil, baik jasmani maupun rohani. Ketika kita sedang asyik tidur misalnya, kemudian terdengar panggilan adzan shubuh, maka kita harus bangun untuk mendirikan sholat shubuh meskipun terasa berat. Seluruh kewajiban yang Allah bebankan kepada hamba-Nya pasti terkandung hikmah dan kebaikan yang banyak sekali. Ketika Allah mewajibkan sholat, hakekatnya Allah akan memberikan manfaat yang luar biasa kepada kita. Dalam bacaan tatswib adzan shubuh ada ungkapan, "Ashsholaatu khoirun minan naum”(Sholat itu lebih baik daripada tidur), apa maksudnya ? Ternyata dari hasil kajian ilmiah disebutkan bahwa dengan sholat shubuh tubuh kita melakukan auto proteksi terhadap gangguan penyakit jantung (kardiovaskuler) dan kanker. Waktu sepertiga malam terakhir sampai waktu shubuh adalah saat tubuh harus memproduksi zat Nitrik Oksida untuk melawan efek hormon Nor Adrenalin (yang memicu naiknya tekanan darah dan pembekuan trombosit sehingga terjadi penyempitan pembuluh darah). Maka, dengan aktifitas yang dimulai dengan wudhu, shalat sunnah fajar, berjalan menuju ke masjid, kemudian sholat shubuh berjamaah merupakan proteksi terhadap gangguan penyakit jantung (kardiovaskuler) dan kanker. Coba bandingkan dengan kebiasaan orang Amerika yang demi hajat hidup kemanusiaan mampu mendorong mereka untuk bangun pagi-pagi atau tidak sedikit dari mereka yang rela bangun demi binatang kesayangan (anjing)nya agar bisa menghirup udara segar di pagi hari. Mengapa seorang mukmin tidak mengerahkan segenap potensinya untuk bangun pagi memenuhi kewajiban yang nyata-nyata mendatangkan banyak keuntungan? Disamping itu, gerakan-gerakan yang direkomendasikan oleh para pakar kesehatan, hampir semuanya tercakup dalam gerakan sholat. Seperti halnya olah raga, gerakan sholat juga akan membantu memperingan kinerja jantung, memperlancar asupan oksigen ke dalam tubuh dan membuat otak menjadi segar bugar. Makanya, setelah sholat kita biasa merasakan kondisi otak kita menjadi lebih fresh kembali.
Kesimpulannya, sholat itu merupakan ibadah yang sangat tepat untuk mendidik disiplin diri. Mukmin yang taat menjalankan sholat lima waktu terutama dengan berjamaah, itu membuktikan bahwa dirinya disiplin dalam menunaikan tugas atau kewajiban. Sekarang bagaimana halnya dengan mukmin yang tidak disiplin menegakkan sholat ? Itu jelas menandakan dirinya sebagai pribadi mukmin yang tidak mantap imannya sehingga mudah sekali meremehkan kewajiban. Padahal meremehkan suatu kebaikan –apalagi yang wajib- merupakan modal untuk menjadi orang yang gagal. Namun perlu digaris bawahi, bukan berarti mukmin yang rajin sholat ada jaminan kehidupan duniawinya menjadi lebih baik atau sukses. Sebab menunaikan sholat itu tidak ada hubungannya dengan kadar rezeki seseorang menjadi bertambah atau berkurang. Sebaliknya, bisa jadi orang yang tidak sholat tapi rezekinya justru melimpah, dan ini yang terkadang meracuni sebagian besar para pencari anugerah rezeki yang lupa terhadap Tuhannya . Tetapi sekali lagi, kebahagiaan yang hendak kita raih itu meliputi kebahagiaan hidup dunia dan lebih utama di akhirat kelak. Maka tidak sepantasnya seorang mukmin karena alasan apapun berani meninggalkan sholat. Sebab, sholat merupakan simbol keislaman seseorang dan faktor terpenting yang akan dihisab untuk menentukan keselamatan di sisi Rabbnya. Lebih tegas Imam Ibnul Qoyyim menyebutkan bahwa meninggalkan sholat fardhu dengan sengaja merupakan dosa besar terparah yang dosanya di sisi Allah lebih besar daripada dosa membunuh, mengambil harta orang lain, perzinaan, pencurian dan meminum khomer. Dan yang kadang sulit diterima akal sehat orang dengan mudah beralasan tidak sholat karena kesibukannya dalam bekerja atau karena tugas-tugas penting (kewajiban) lainnya. Padahal sebenarnya Allah sangat Maha Bijaksana memberikan taklif kewajiban sholat kepada kita hanya lima waktu yang kalau kita kerjakan seluruhnya tidak sampai satu jam. Apakah kita masih merasa rugi dengan sisa waktu 23 jam lainnya dalam sehari ? Dan yang pasti sholat sebagai pertanda keislaman seseorang merupakan batas yang membedakan antara muslim dengan musyrik. Rasulullah menegaskan : ”Perjanjian antara kita dengan mereka (kaum musyrik) adalah sholat, maka barang siapa meninggalkannya sungguh ia telah kafir.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan An Nasa’i). Mudah-mudahan kita termasuk mukmin yang mengindahkan kewajiban sholat, sehingga dapat meraih kesuksesan hidup baik di dunia lebih-lebih di akhirat, Amiin.

Oleh : Zaenal Muttaqin Noor

Wallaahu a'lam. Mudah-mudahan bermanfaat, Amiin...
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.
Powered by Blogger