Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan

Membangun Iman


ALHAMDULILLAH, keimanan masih melekat dalam diri kita. Sekalipun kita tinggal di gubug reot, di hotel prodeo, di hutan belantara, di padang sahara atau hotel, asal masih ada nikmat iman, itu jauh lebih berharga daripada dunia dan seisinya. Karena iman ini hanya diberikan oleh Allah SWT kepada hamba yang dipilih dan dicintai-Nya.
Rasulullah Muhammad pernah berpesan :

لَوْ كاَنَتِ الدُّنْياَ تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ ماَ سَقَى مِنْهاَ شُرْبَةَ ماَءٍ
“Kalau sekiranya kenikmatan dunia masih ada nilainya di sisi Allah seberat sayap nyamuk, Allah tidak akan memberi minum orang kafir meskipun seteguk air.” (HR. At Tirmidzi).

Sebaliknya betapa sengsara dan menderitanya hidup ini jika lepas dari iman. Apa gunanya harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, posisi yang strategis, hidup enak, tidur nyeyak, jika tidak ditemani oleh iman. Semua itu akan menggali lubang kehancuran bagi kita sendiri (istidraj). Bahkan, di dunia ini kita tidak akan mampu memaknai dan menikmati kepemilikan kita, jika iman tidak mendominasi dan menjadi panglima di dalamnya.
Oleh karena itu, mumpung kita masih sehat, memiliki harta, ada momentum dan kesempatan, mari kita mengerahkan tenaga, pikiran, waktu, dan segala potensi yang kita miliki untuk membangun keimanan kita. Pengorbanan yang kita lakukan untuk meraih manisnya iman (halawatul iman), akan mendatangkan kelezatan spiritual di dunia dan keselamatan di akhirat.

Membangun iman dalam perspektif Islam diletakkan dalam skala prioritas dalam perencanaan pembangunan, baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Pembangunan dalam aspek keyakinan ini dilakukan dengan penuh keseriusan, bukan asal-asalan. Pembangunan iman juga dilakukan secara sistemik. Seluruh komponen umat terlibat dalam menseriusi pekerjaan ini. Hal ini tercermin jelas pada perencanaan hingga sampai alokasi sumber dana dan sumber daya.
Segala kegiatan yang kontra produktif bagi akselerasi pembangunan iman ditiadakan dari diskursus perencanaan pembangunan. Jangan sampai terjadi, dengan alasan pembangunan, maksiat di buka lebar-lebar, demoralisasi dan dehumanisasi dibiarkan hanya karena perlindungan HAM. Sekedar contoh, demi menghindari mewabahnya HIV/AIDS dipersilahkan orang memakai kondom terhadap pasangannya (tanpa melihat sah dan tidaknya pasangan tersebut). Demi stabilitas politik dan keamanan politik machiavelli di halalkan.
Iman yang ditegakkan dalam kehidupan adalah iman yang hakiki, bukan iman yang bersifat formalistik. Tidak sekedar puas dengan melaksanakan kegiatan ritual, seremonial, upacara keagamaan, peringatan hari-hari besar Islam, tabligh akbar, tetapi KKN tetap dilestarikan. Membangun masjid di mana-mana, tempat ibadah megah, tetapi praktek kekerasan dan kezhaliman politik dan ketidakadilan distribusi ekonomi tetap berlangsung.

Limpahan Berkah
Pembangunan iman merupakan landasan gerak, motivasi, titik tolak (muntholaq), dalam membangun sistem kehidupan. Mengakui keberadaan Allah dan hubungan yang berketuhanan, humanisme, mengedepankan nilai-nilai kesucian, moral, keadilan, kebenaran, dan supremasi hukum. Iman memposisikan Allah sebagai Dzat yang mutlak, Maha Kuasa, Maha Adil, dan Maha Mengetahui tentang apa dan bagaimana yang terbaik bagi manusia. Tuhan memiliki segala sifat kesempurnaan dan jauh dari segala sifat kekurangan. Karenanya, topeng-topeng kemunafikan tidak lagi ditoleransi dalam pembagunan iman. Iman melahirkan manusia yang berguna sekecil apapun potensi (thoqoh) yang dimilikinya, bakat (syakilah) yang diberikan oleh Allah Swt. Iman melahirkan kekuatan dalam segala aspek kehidupan. Kekuatan material dan spiritual, idealisme dan realistik, individual dan kolektifitas. Termasuk otak dan bathin, intlektual dan keyakinan.
Iman menumbuhkan kepedulian, dedikasi, wawasan jauh ke depan, kedisiplinan, amanah, jujur, militan, integritas dan keadilan. Dengan iman mengantarkan manusia menjadi produktif, dinamis, inovatif dan kreatif. Karenanya, iman yang benar akan jauh dari sikap mental malas dan konsumtif.
Membangun iman memerlukan pengorbanan, perjuangan dan kerja keras. Pengorbanan jiwa, harta yang dilakukan untuk meraih manisnya beriman (halawatul iman) akan dibeli oleh Allah dengan surga.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.\"(QS. At Taubah : 111).

Dia telah membeli harta dan jiwa orang-orang beriman dengan surga, ini adalah permisalan dalam puncak keindahan gaya bahasa dan sastra untuk memberikan ganjaran bagi mujahid. Allah membuat perumpamaan bahwa balasan mereka dengan surga atas pengorbanan harta dan jiwa di jalan-Nya dalam bentuk transaksi jual beli.
Berkata Al Hasan : Allah membeli mereka dengan harga yang mahal, perhatikanlah kemurahan Allah. Dia yang menciptkan jiwa, Dia pula yang membelinya. Dia yang memberikan rezeki harta, Dia pula yang menghibakannya kepadanya, kemudian Dia membelinya dengan harga yang mahal demi memberikan keuntungan yang berlipat (Shafwatut Tafasir I : 564).
Iman menjadikan manusia, tenang, bahagia, lapang dada, karena telah berbuat kebaikan. Iman menyadarkan kita bahwa dunia adalah lahan ujian keikhlasan dan cobaan serta penuh dengan tantangan (QS. Al Mulk : 2).
Bahkan memandang problem sebagai peluang dan tantangan untuk meningkatkan kualitas. Dengan iman melihat setiap kejadian dengan kacamata positif dan mengembalikan seluruh persoalan kepada Allah Swt. Jika sedang tertimpa musibah dia mengatakan : innaa lillaahi wa innaa ilaihi roji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya dikembalikan). Dan apabila sedang sukses bersyukur kepada Allah. Ini adalah karunia dari Rabbku untuk mengujiku apakah saya bersyukur atau ingkar (QS. An Naml : 40).

Iman secara otomatis membuat orang lebih sabar, tahan uji dalam kesulitan dan bersyukur pada saat lapang. “Ash Shabru qorinul yaqin” (shabar adalah teman akrab keyakinan). Iman memandang fluktuasi kehidupan dengan semangat yang sama. Kegagalan dan kesuksesan akan dipergilirkan dan digulirkan oleh Allah kepada yang di kehendaki-Nya. Iman mengajarkan sikap independen. Iman melahirkan sikap optimisme dan kekuatan rohani yang maha dahsyat dalam menghadapi persoalan yang melilit kehidupan. Karena tidak ada daya dan kekuatan selain kekuatan dari Allah. Tidak ada persoalan rumit yang tidak ditemukan solusinya, jika Allah turun tangan (tadakhul rabbani).
Walhasil, iman yang mencerahkan tadi, akan membukakan limpahan berkah dari langit dan bumi. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS. Al A’raf : 96).

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl : 97). *

Oleh : Shalih Hasyim

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka wa-atuubu ilaika.

Penyumbat Saluran Rezeki


Allah SWT menciptakan semua makhluk telah sempurna dengan pembagian rezekinya. Tidak ada satu pun yang akan ditelantarkan-Nya, termasuk kita. Karena itu, rezeki kita yang sudah Allah jamin pemenuhannya. Yang dibutuhkan adalah mau atau tidak kita mencarinya. Yang lebih tinggi lagi benar atau tidak cara mendapatkannya. Rezeki di sini tentu bukan sekadar uang. Ilmu, kesehatan, ketenteraman jiwa, pasangan hidup, keturunan, nama baik, persaudaraan, ketaatan termasuk pula rezeki, bahkan lebih tinggi nilainya dibanding uang.

Walau demikian, ada banyak orang yang dipusingkan dengan masalah pembagian rezeki ini. “Kok rezeki saya seret banget, padahal sudah mati-matian mencarinya?” “Mengapa ya, saya gagal terus dalam bisnis?” “Mengapa hati saya tidak pernah tenang?” Ada banyak penyebab, mungkin cara mencarinya yang kurang profesional, kurang serius mengusahakannya, atau ada kondisi yang menyebabkan Allah Azza wa Jalla “menahan” rezeki yang bersangkutan. Poin terakhir inilah yang akan kita bahas. Mengapa aliran rezeki kita tersumbat? Apa saja penyebabnya?
Saudaraku, Allah adalah Dzat Pembagi Rezeki. Tidak ada setetes pun air yang masuk ke mulut kita kecuali atas izin-Nya. Karena itu, jika Allah SWT sampai menahan rezeki kita, pasti ada prosedur yang salah yang kita lakukan. Setidaknya ada lima hal yang menghalangi aliran rezeki.

PERTAMA, lepasnya ketawakalan dari hati. Dengan kata lain, kita berharap dan menggantungkan diri kepada selain Allah. Kita berusaha, namun usaha yang kita lakukan tidak dikaitkan dengan-Nya. Padahal Allah itu sesuai prasangka hamba-Nya. Ketika seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah, maka keburukan-lah yang akan ia terima. Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Demikian janji Allah dalam QS Ath Thalaaq [63] ayat 3.

KEDUA, dosa dan maksiat yang kita lakukan. Dosa adalah penghalang datangnya rezeki. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seseorang terjauh dari rezeki disebabkan oleh perbuatan dosanya.” (HR Ahmad). Saudaraku, bila dosa menyumbat aliran rezeki, maka tobat akan membukanya. Andai kita simak, do’a minta hujan isinya adalah permintaan tobat, do’a Nabi Yunus saat berada dalam perut ikan adalah permintaan tobat, demikian pula do’a memohon anak dan Lailatul Qadar adalah tobat. Karena itu, bila rezeki terasa seret, perbanyaklah tobat, dengan hati, ucapan dan perbuatan kita.

KETIGA, maksiat saat mencari nafkah. Apakah pekerjaan kita dihalalkan agama? Jika memang halal, apakah benar dalam mencari dan menjalaninya? Tanyakan selalu hal ini. Kecurangan dalam mencari nafkah, entah itu korupsi (waktu, uang), memanipulasi timbangan, praktik mark up, dsb akan membaut rezeki kita tidak berkah. Mungkin uang kita dapat, namun berkah dari uang tersebut telah hilang. Apa ciri rezeki yang tidak berkah? Mudah menguap untuk hal sia-sia, tidak membawa ketenangan, sulit dipakai untuk taat kepada Allah serta membawa penyakit. Bila kita terlanjur melakukannya, segera bertobat dan kembalikan harta tersebut kepada yang berhak menerimanya.

KEEMPAT, pekerjaan yang melalaikan kita dari mengingat Allah. Bertanyalah, apakah aktivitas kita selama ini membuat hubungan kita dengan Allah makin menjauh? Terlalu sibuk bekerja sehingga lupa shalat (atau minimal jadi telat), lupa membaca Al-Qur’an, lupa mendidik keluarga, adalah sinyal-sinyal pekerjaan kita tidak berkah. Jika sudah demikian, jangan heran bila rezeki kita akan tersumbat. Idealnya, semua pekerjaan harus membuat kita semakin dekat dengan Allah. sibuk boleh, namun jangan sampai hak-hak Allah kita abaikan. Saudaraku, bencana sesungguhnya bukanlah bencana alam yang menimpa orang lain. Bencana sesungguhnya adalah saat kita semakin jauh dari Allah.

KELIMA, enggan bersedekah. Siapapun yang pelit, niscaya hidupnya akan sempit, rezekinya mampet. Sebaliknya, sedekah adalah penolak bala, penyubur kebaikan serta pelipat ganda rezeki. Sedekah bagaikan sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat (QS Al Baqarah [2]: 261). Tidakkah kita tertarik dengan janji Allah ini? Maka pastikan, tiada hari tanpa sedekah, tiada hari tanpa kebaikan. Insya Allah, Allah SWT akan membukakan pintu-pintu rezeki-Nya untuk kita. Amin.


Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka wa-atuubu ilaika.

Untuk Kita Renungkan


Setelah sholat malam, di tengah heningnya malam coba diri ini merenung sejenak tentang :

1. Kepala kita, Apakah ia sudah kita tundukkan, rukukkan dan sujudkan dengan segenap kepasrahan seorang hamba yang tiada daya di hadapan Allah Yang Maha Perkasa, atau ia tetap tengadah dengan segenap keangkuhan, kecongkakan dan kesombongan seorang manusia?

2. Mata kita, Apakah ia sudah kita gunakan untuk menatap keindahan dan keagungan ciptaan-ciptaan Allah Yang Maha Kuasa, atau kita gunakan untuk melihat segala pemandangan dan kemaksiatan yang dilarang?

3. Telinga kita, Apakah ia sudah kita gunakan untuk mendengarkan suara adzan, bacaan Al Qur’an, seruan kebaikan, atau kita gunakan utk mendengarkan suara-suara yang sia-sia tiada bermakna?

4. Hidung kita, Apakah sudah kita gunakan untuk mencium sajadah yang terhampar di tempat sholat, mencium anak-anak tercinta serta mencium kepala anak-anak yatim piatu yang sangat kehilangan kedua orangtuanya dan sangat mendambakan cinta bunda dan ayahnya?

5. Mulut kita, Apakah sudah kita gunakan untuk mengatakan kebenaran dan kebaikan, nasehat-nasehat bermanfaat serta kata-kata bermakna atau kita gunakan untuk mengatakan kata-kata tak berguna, sia-sia dan bahkan kadang berbisa, mengeluarkan tahafaul lisan alias penyakit lisan seperti : ghibah, memfitnah, mengadu domba, berdusta bahkan menyakiti hati sesama?

6. Tangan kita, Apakah sudah kita gunakan utk bersedekah kepada dhu’afa, membantu sesama yang terkena musibah, membantu sesama yang membutuhkan bantuan, menciptakan karya yang berguna bagi ummat atau kita gunakan untuk mencuri, korupsi, mendzalimi orang lain serta merampas hak-hak serta harta orang yang tak berdaya?

7. Kaki kita, Apakah sudah kita gunakan untuk melangkah ke tempat ibadah, ke tempat-tempat menuntut ilmu bermanfaat, ke tempat-tempat pengajian yang semakin mendekatkan perasaan kita kepada Allah Yang Maha Penyayang atau kita gunakan untuk melangkah ke tempat maksiat dan kejahatan?

8. Dada kita, Apakah di dalamnya tersimpan perasaan yang lapang, sabar, tawakal dan keikhlasan serta perasaan selalu bersyukur kepada Allah Yang Maha Bijaksana, atau di dalamnya tertanam ladang jiwa yang tumbuh subur daun-daun takabur, biji-biji bakhil, benih iri hati dan dengki serta pepohonan berbuah riya?

9. Perut kita, Apakah di dalamnya diisi oleh makanan halal dan makanan yang diperoleh dengan cara yang halal sehingga semua terasa nikmat dan berkah. Atau di dalamnya diisi oleh makanan yang diperoleh dengan cara yang tidak halal, dengan segala ketamakan dan kerakusan kita?

10. Diri kita, Apakah kita sering tafakur, tadabur, dan selalu bersyukur atas karunia yang kita terima dari Allah Yang Maha Perkasa?

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaana-Ka Allaahumma wabihamdi-Ka asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta astaghfiru-Ka waatuubu ilai-Ka.

Renungan Desember

Sungguh kondisi sebagian ummat Islam dewasa ini sudah sangat memprihatinkan. Betapa tidak, Allah di dalam Kitabullah Al-Quranul Karim jelas-jelas memerintahkan kita untuk mengajak Ahli Kitab (yakni kaum penganut Yahudi dan Nasrani) agar hanya menyembah Allah semata, namun dalam realitanya justru tidak sedikit ummat Islam yang setiap tahun ketika memasuki bulan Desember malah berbondong-bondong mengucapkan selamat atas perayaan hari Natal. Sudahkah mereka benar-benar merenungi dampak dari ucapan "Selamat Natal" yang mereka layangkan kepada ummat Kristiani tersebut? Mari kita coba mendalami hal ini dengan hati yang tenang dan fikiran yang jernih.
Marilah kita lihat apa yang Allah perintahkan kepada kita ummat Islam di dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا
Katakanlah, "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu apapun." (QS. Ali Imran [3] : 64)

Jelas di dalam ayat di atas Allah menyuruh kita mengajak kaum Nasrani untuk bertauhid yaitu hanya mengesakan dan menyembah Allah semata dan agar tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun di muka bumi ini. Dan tidak ada seorangpun muslim yang tidak kenal surah Al-Ikhlas —bahkan hafal sejak masih duduk di bangku SD— di mana di dalamnya terdapat firman Allah sebagai berikut:

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
"Dia (Allah) tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia (Allah)." (QS. Al-Ikhlas [112] : 3-4)

Bagi seorang muslim keyakinan bahwa Allah subhaanahu wa ta’aala itu Maha Esa adalah perkara yang sudah selesai dan mantap diyakininya. Allah tidak punya anak dan Allah tidak punya orang-tua. Bahkan tidak ada sesuatupun atau seseorangpun di muka bumi ini, baik di masa lalu, masa kini maupun di masa depan yang bisa dan boleh disetarakan atau diserupakan dengan Allah subhaanahu wa ta’aala.
Lalu mengapa Allah menyuruh ummat Islam untuk mengajak ahli Kitab —termasuk kaum Nasrani di dalamnya— agar bersepakat dengan ajaran tauhid? Bahwa tidak boleh ada di dunia ini yang disembah selain Allah dan bahwa tidak boleh ada apapun atau siapapun di dunia ini yang dipersekutukan dengan Allah subhaanahu wa ta’aala. Allah menyuruh kita mengajak mereka kepada kalimat Tauhid sebab pada asalnya kalimat ini pulalah yang telah diajarkan oleh Yesus Kristus (kata mereka) atau Nabiyullah Isa ‘alaihis salaam (kata Allah dan ummat Islam) kepada Bani Israel. Nabiyullah Isa ‘alaihis salaam tidak pernah menyatakan bahwa dirinya adalah anak tuhan apalagi tuhan itu sendiri. Nabiyullah Isa ‘alaihis salaam tidak pernah menyuruh ummatnya untuk mempersekutukan Allah dengan dirinya dan diri ibundanya Maryam.

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ
"Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, "Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?'" Isa menjawab, 'Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya).'" (QS. Al-Maidah [5] : 116)

Adalah suatu dusta besar bila ada yang menyangka apalagi meyakini bahwa seorang Nabi yang diutus Allah akan menyuruh ummatnya untuk menyembah dirinya dan bukan menyembah Allah subhaanahu wa ta’aala yang telah mengutus dirinya menjadi seorang Nabiyullah.

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia, "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." (QS. Ali Imran [3] : 79)

Sehingga Nabiyullah Isa ‘alaihis salaam sendiri ketika ditanya Allah mengenai dusta besar yang telah dilakukan oleh sebagian ummatnya, menjawab sebagai berikut:

مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ
"Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu, 'Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu'." (QS. Al-Maidah [5] : 117)

Jadi sebenarnya peringatan dan perayaan hari kelahiran Yesus Kristus bukanlah suatu peringatan hari ulang tahun biasa sebagaimana ulang tahun manusia lain pada umumnya. Bagi sebagian besar ummat Kristiani di seluruh dunia Hari Natal atau kelahiran Yesus setiap tanggal 25 Desember diyakini merupakan hari lahirnya anak tuhan bahkan hari lahirnya tuhan itu sendiri...! Subhaanallahi ‘amma yusyrikun (Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan). Ummat Nasrani meyakini bahwa setiap tanggal tersebut mereka menegaskan kembali keyakinan keliru mereka bahwa Allah punya anak atau Allah boleh diserupakan dengan seorang manusia, dalam hal ini Yesus atau kita menyebutnya Isa ‘alaihis salaam.
Dan Allah dengan tegas memvonis kafir bagi siapa saja yang mengucapkan kalimat sesat tersebut:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." (QS. Al-Maidah [5] : 72)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلا إِلَهٌ وَاحِدٌ
"Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, 'Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga', padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa." (QS. Al-Maidah [5] : 73)

Bila Allah memvonis mereka karena ucapan batilnya itu, lalu mengapa ummat Islam malah turut mengucapkan selamat kepada mereka atas kebatilan keyakinan mereka itu? Alih-alih kita mengajak mereka untuk bertaubat dan hanya menyembah Allah sebagaimana Allah perintahkan kita dan Nabiyullah Isa ‘alaihis salaam atau Yesus telah menyuruh mereka, malah sebagian ummat Islam dewasa ini turut memberikan dukungan dan ucapan selamat atas kekeliruan, kekafiran dan kemusyrikan mereka itu.
Bukankah ucapan selamat dari ummat Islam justeru akan melestarikan keyakinan sesat mereka? Mereka tidak diingatkan bahwa itu keliru malah mereka diberikan kalimat ucapan selamat? Alangkah tega dan zalimnya perbuatan orang-orang yang mengucapkan selamat Natal kepada ummat Kristiani yang merayakan hari kelahiran anak tuhan bahkan kelahiran tuhan itu sendiri. Kita tahu bahwa itu adalah kebatilan tetapi kita malah memberikan reinforcement dengan Christmas Greeting yang diucapkan, baik melalui ucapan langsung, facebook, email, kartu Natal atau Televisi. Ibaratnya seorang muslim yang seperti itu sedang menyatakan kepada seorang Nasrani, “Selamat ya Anda telah menjadi seorang yang kafir di mata Allah Tuhan Yang Sebenarnya.” Na’udzubillahi min dzaalika...!
Bahkan di dalam ayat-ayat berikut Allah sangat murka dengan orang-orang yang meyakini bahwa Allah Yang Maha Pemurah telah mengambil seorang anak. Sehingga Allah mengancam dengan berbagai bentuk bencana alam dahsyat dikarenakan adanya orang-orang yang mengucapkan claim batil tersbut.

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الأرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ إِلا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا
"Dan mereka berkata, 'Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.' Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba." (QS. Maryam [19] : 88-93)

Sekali lagi, alangkah tega dan zalimnya bila ada seorang muslim yang mengaku menjadikan Allah sebagai Tuhan Yang Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak bisa diserupakan dengan apapun dan siapapun, kemudian melihat ada orang-orang yang meng-claim bahwa Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pemurah) punya anak lalu malah turut mengucapkan selamat pada hari dimana mereka merayakan peringatan hari kelahiran anak tuhan atau bahkan tuhan mereka itu.
Tidak mengucapkan "Selamat Natal" kepada kaum Nasrani bukan berarti kita tidak bisa bergaul dan berlaku baik kepada mereka. Silahkan berlaku baik kepada mereka sepanjang tahun. Tapi pada giliran tiba bulan Desember, khususnya tanggal tertentu, tunjukkanlah sikap Tauhid kita dengan tidak ikut serta melegitimasi kekeliruan keyakinan mereka dengan mengucapkan Christmas Greetings.
Mungkin ada yang bertanya, "Tetapi kenapa kita tidak mengucapkan 'Christmas Greetings' kepada mereka sedangkan mereka mengucapkan 'Selamat Hari Raya Idul Fitri' kepada kita?" Saudaraku, sungguh tidaklah sama antara Perayaan Natal dengan Hari Raya Idul Fitri. Hari Raya Idul Fitri merupakan sebuah momen dimana ummat Islam bersyukur telah sebulan penuh beribadah Ramadhan dengan shaum di siang hari, taraweh di malam hari dan berburu lailatul qadar. Ini semua merupakan perintah-perintah Allah untuk dilaksanakan dan dijanjikanNya akan mendatangkan keselamatan di dunia maupun di akhirat bagi pelakunya. Artinya memang seorang muslim yang mentaati Allah dengan beribadah Ramadhan adalah fihak yang selamat dan patut diberikan ucapan selamat. Sementara fihak yang merayakan peringatan hari lahirnya 'anak tuhan' atau lahirnya 'tuhan' bagaimana bisa dikatakan selamat sedangkan Allah sangat murka dengan claim batil tersebut? Lalu apa perlunya diberikan ucapan selamat kepadanya? Malah semestinya —jika sanggup— kita mengajak mereka untuk bertaubat dari claim batil tersebut dan kembali kepada ajaran murni Yesus alias Nabiyullah Isa ‘alahis salaam, yakni ajaran Tauhid.
Malah seharusnya kita malu kepada Allah karena kita belum kunjung melaksanakan perintahNya untuk mengajak mereka kepada kalimat yang disepakati antara kita dengan mereka:

تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا
Katakanlah, "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu apapun." (QS. Ali Imran [3] : 64)

Ya Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengampun, ampunilah kami yang belum kunjung sanggup secara terbuka melaksanakan perintahMu di atas bahkan sebagian kami justeru malah melegitimasi kesesatan Ahli Kitab dari kalangan kaum Nasrani. Amin ya Rabbal ‘aalamiin.

Oleh : Ihsan Tandjung

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaana-Ka Allaahumma wabihamdi-Ka asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta astaghfiru-Ka waatuubu ilai-Ka.

Syirik dan Bencana


Musibah dan bencana datang secara beruntun silih berganti melanda negeri ini. Tsunami di Aceh dan Mentawai, gempa di Nias, Padang, Yogyakarta, Tasikmalaya, banjir bandang Wasior, gunung Merapi, tanah longsor, angin puting beliung, banjir di mana-mana, semburan lumpur panas, kecelakaan alat transportasi di darat, laut, udara dan masih banyak lagi bencana lain yang tak terhitung jumlahnya. Mengapa bencana demi bencana terus menimpa tanah air kita ini?
Sebagai orang beriman yang bertakwa, sudah sepatutnya kita mengambil pelajaran berharga dari kejadian-kejadian ini. Selang beberapa saat setelah bencana besar terjadi, berbondong-bondonglah para pejabat atau kepala daerah mendatangi daerah bencana tersebut. Ucapan yang biasanya dilontarkan para pemimpin kepada rakyatnya yang sedang terkena bencana, "Sabar, tabah, tawakal, dan lain-lain..." yang pada intinya menghimbau agar rakyat bersabar dalam menghadapi bencana.

Kalau kita kembali ke zaman Khalifah Umar bin Khattab, yang juga merupakan Sahabat Rasulullah SAW. pada zaman tersebut juga pernah terjadi bencana berupa gempa dahsyat yang menimpa salah satu daerah yang dipimpinnya. Dan beliaupun mengunjungi daerah yang tertimpa gempa tersebut. Tetapi yang sangat berbeda dengan para pemimpin sekarang adalah perkataan yang dilontarkan oleh beliau. Khalifah Umar berkata, "Wahai rakyatku, dosa besar apakah yang kalian lakukan sehingga Allah menimpakan azab seperti ini?!".
Sebagian orang mungkin akan berpikir bahwa perkataan seperti itu sangatlah kasar dan kurang berkenan, apalagi kepada orang yang sedang tertimpa musibah. Tetapi, Khalifah Umar berkata demikian bukanlah tanpa sebab. Umar bin Khattab lebih mengajak rakyatnya agar mengintrospeksi diri, dan inilah yang seharusnya kita lakukan.
Dalam Al-Quran Surat Hud ayat 109 berbunyi : "Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara dzalim, sedangkan penduduknya orang-orang yang berbuat KEBAIKAN". Kemudian dalam Surat Al-Qashash ayat 59 disebutkan : "... dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan KEZALIMAN".

Lalu dosa besar apa yang telah dilakukan, sehingga Allah menimpakan bencana beruntun ini ? Yang paling kelihatan dan mencolok adalah dosa syirik (menyekutukan Allah). Sebelum bencana beruntun ini terjadi, sudah berpuluh-puluh tahun masyarakat daerah tertentu sering melakukan ritual “melarung kepala kerbau” ataupun melakukan “ruwatan” sebagai ritual tolak bala’ dengan tujuan agar terhindar dari berbagai bencana (padahal justru perbuatan syirik seperti inilah yang bisa mengakibatkan bencana). Perbuatan syirik semacam ini terjadi di banyak tempat di Indonesia. Ritual-ritual syirik seperti ini dan ritual-ritual lainnya yang tidak diajarkan oleh agama Islam sepertinya sudah menjadi tradisi bangsa ini dan tidak (atau kurang) diingatkan oleh ulama dan pemimpin negeri ini bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan yang sangat dibenci dan dimurkai oleh Allah SWT. Syirik merupakan dosa yang amat besar yang tidak terampuni, bahkan sampai-sampai Allah akan menghapus semua amalan yang telah dilakukannya jika seseorang melakukan dosa syirik. Seperti yang telah tertuang dalam QS. Az-Zumar (39) ayat yang 65 :
"... Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”.
Orang yang melakukan dosa syirik, selain amalannya dihapus semua oleh Allah, dosa-dosanya juga tidak akan diampuni oleh Allah. Dalilnya bisa kita lihat dalam surat yang ke empat surat An-Nisa ayat 48 : "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah membuat dosa yang besar".

Dan perbuatan syirik merupakan suatu KEZALIMAN yang besar. Hal ini disebutkan dalam QS. Luqman (31) ayat 13 :
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah nyata-nyata kezaliman yang besar".
Dan ini sangatlah sesuai jika kita kembali surat Al-Qashash ayat 59 disebutkan :
"... dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kedzaliman".
Jadi jangan heran jika Allah menimpakan azab pada penduduk yang telah berbuat kedzaliman.
Lalu bagaimana dengan kota-kota lainnya? Dosa-dosa besar apakah yang telah mereka lakukan? Apakah syirik, korupsi, suap menyuap, jual beli hukum, narkoba, minuman keras, judi, perzinaan, ... dan masih banyak lagi dosa-dosa bangsa ini yang tidak mungkin disebutkan satu per satu. Jadi mari kita cermati saja kesalahan apa yang kita lakukan sehingga banyak terjadi bencana di Indonesia. Mungkin ini merupakan peringatan Allah pada bangsa ini secara keseluruhan yang banyak bergelimang dosa. Atau mungkin ini sebagai wujud kasih sayang Allah untuk mengingatkan kita agar kembali mendekat kepada-Nya. Marilah kita renungi bersama dosa-dosa yang telah kita lakukan, jangan sampai Allah menimpakan adzab-Nya yang lebih keras lagi. Dan semoga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang amat berharga dari bencana ini. Jika kita mengaku sebagai seorang muslim, jangan sampai berbuat syirik, karena syirik merupakan salah satu pembatal keislaman seseorang. Dan sebagai penutup marilah kita berdo’a :

"Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita makan, minum dan mencukupi kita, serta memberi kita tempat tinggal. Betapa banyak orang yang tidak mendapatkan yang mencukupi dia serta memberi dia tempat tinggal". (HR. Muslim dari Anas bin Malik).
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin, hinakanlah kesyirikan dan kaum musyrikin, serta hancurkanlah musuh-musuh agama kami. Ya Allah, ringankanlah musibah yang menimpa saudara-saudara kami di manapun mereka berada, kuatkanlah mereka wahai Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah.
Ya Allah, tenangkanlah rasa takut mereka, obatilah kelaparan dan dahaga mereka, tutupilah aurat mereka, karuniakanlah kepada mereka tempat tinggal yang baik, wahai Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah.
Ya Allah, kembalikanlah kami dan mereka kepada-Mu dengan baik, berilah kami taufik untuk bertaubat kepada-Mu, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang beriman dan mengikuti rasul-Mu Shallallahu alaihi wa Sallam, juga karuniailah kami -wahai Yang Maha Agung lagi Maha Pemurah- taufik untuk mengerjakan hal-hal yang Engkau cintai dan ridhai, bantulah kami untuk melakukan kebaikan dan ketakwaan, janganlah Engkau jadikan kami bergantung kepada diri sendiri, meskipun hanya sekejap mata.
Ya Allah, ampunilah segala dosa kami, baik yang kecil maupun yang besar, yang terdahulu maupun yang akan datang, serta yang tersembunyi maupun yang terlihat. Ya Allah, sesungguhnya kami telah mendzalimi diri kami, jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihi, niscaya kami akan menjadi orang-orang yang merugi.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaana-Ka Allaahumma wabihamdi-Ka asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta astaghfiru-Ka waatuubu ilai-Ka.

100 Kb Pembawa Dosa

Begitu banyak orang berusaha menghindari daging babi, alkohol, dan makanan yang haram. Akan tetapi dia terjatuh ke dalam dosa besar karena kekhilafannya. Apakah kekhilafan itu karena kebenciannya? Tidak selalu. Terkadang karena kecintaan dengan sesuatu, bisa jadi dia jatuh ke dalam dosa besar ini. Kecintaan dengan pendapat yang diyakini kebenarannya, dia bela mati-matian apa yang dia anggap benar itu. Padahal dia sudah terjatuh ke dalam ghibah.
Terkadang dengan “ringan” nya kita seolah sedang memakan daging bangkai saudara kita sendiri dengan argumen pembenaran akan kebenaran dan keyakinannya. Berapa daging bangkai? 2 atau kah 3 dalam sehari? Astaghfirullohaladziim. Kenapa?

Marilah kita simak firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 12, yang artinya sebagai berikut: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang .” (QS. Al-Hujurat:12)
Demikianlah Allah mengumpamakan antara menggunjing (ghibah) dengan orang yang memakan daging bangkai saudaranya sendiri. Lalu Apakah ghibah itu ?
Sesuai apa yang diterangkan Nabi SAW pada hadits riwayat Muslim, Abu Daud : Nabi SAW bersabda : “Tahukah kamu apa ghibah itu ? Jawab Sahabat : Allaahu warasuuluhu a’lam (Allah dan Rasulullah yang lebih tahu).
Kemudian Nabi SAW bersabda : Menceritakan hal saudaramu yang ia tidak suka diceritakan pada orang lain. Lalu Sahabat bertanya : Bagaimana jika memang benar sedemikian keadaan saudaraku itu ? Jawab Nabi SAW : “Jika benar yang kau ceritakan itu, maka itulah ghibah, tetapi jika tidak benar ceritamu itu, maka itu disebut buhtan (tuduhan palsu, fitnah) dan itu lebih besar dosanya”.
Dalam kitab al adzkar, Imam An-Nawawy memberikan definisi : ‘Ghibah, adalah menyebutkan hal-hal yang tidak disukai orang lain, baik berkaitan kondisi badan, agama, dunia, jiwa, perawakan, akhlak, harta, istri, pembantu, gaya ekspresi rasa senang, rasa duka dan sebagainya, baik dengan kata-kata yang gamblang, isyarat maupun kode.

Dalam era informasi yang canggih sekarang ini, bentuk-bentuk ghibah dapat dilakukan dengan model yang lebih baru. Tulisan, sms, email, bahkan lewat bahasa tubuh. Di internet, tulisan yang berupa elektronik sangatlah ringan. Sebuah email biasanya tidak lebih dari 100 Kb. Sangat kecil sekali dibanding sebuah flash disk yang mampu menyimpan 4 GB data.
Coba mari kita fikirkan kalau tulisan kita adalah ghibah ? sudah tersebar ke mana-mana, yang akhirnya kita tidak mampu menghapus tulisan itu sendiri. Ditambah kalau tulisan kita sudah masuk ke lingkaran milis-milis. Tulisan itu akan tetap tersimpan rapi di dunia internet, tanpa kita dapat menghapuskannya. Sudah berapa dosa yang telah kita perbuat dengan Ghibah yang kita lakukan ?
Dalam buku kecil Provision for the seekers, ada hadits pendek yang berbunyi, “Laa yadkhulul jannata qottaatun”(Tidak akan masuk surga orang yang melakukan qattaat). Qattaat bisa disinonimkan dengan nammam, artinya orang yang mendengarkan pembicaraan sekelompok orang yang kemudian dia menyebarkan pembicaraan tersebut ke orang lain. Baik dengan terang-terangan atau dengan sindiran, tanpa dia dapat mengontrol penyebaran pembicaraan yang dia lakukan. Yang akhirnya menarik pro dan kontra pembaca, baik yang tahu permasalahan atau pun tidak.
Itulah bahayanya email dan dunia internet. Bisa jadi kita shalat, zakat, shaum di waktu bangun, akan tetapi sebenarnya di waktu tidur pun anda melakukan dosa besar dengan bentuk ghibah karena Qattaat yang kita sebarkan. Bagaimana cara menghapus ini semua ? Jelas tidak mungkin. Email dan tulisan kita akan tersimpan di setiap harddisk orang yang menerima email kita. Atau tersimpan di server bang Yahoo dan paman Google. Sampai kapan ? Mungkin sampai hari kiamat !!
Kalau kita tidak dapat menghapusnya, dengan apa kita akan masuk surga kelak? Maukah kita melakukan dosa sepanjang tahun? Tidak bukan? Berhati-hatilah dengan 100 Kb!!

Oleh : Tatang Sutardi

Wallaahu a’lamu bish-Shawaab.
Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka wa-atuubu ilaika.

7 Pintu Neraka

"Neraka mempunyai tujuh pintu, untuk masing-masing pintu di huni (sekelompok pendosa yang ditentukan)" (QS. Al- Hijr : 44)

Diriwayatkan bahwa ketika Jibril turun membawa ayat di atas, Nabi Muhammad saw memintanya untuk menjelaskan kondisi neraka. Jibril menjawab : "Wahai Nabi Allah, sesungguhnya di dalam neraka itu ada tujuh pintu, jarak antara masing-masing pintu sejauh tujuh puluh tahun, dan setiap pintu lebih panas dari pintu yang lain, nama-nama pintu tersebut adalah :
1. Hawiyah (arti harfiahnya : jurang), pintu ini untuk orang munafik dan kafir.
2. Jahim, pintu ini untuk kaum musyrik (yang menyekutukan Allah).
3. Pintu ketiga untuk kaum Shabian (penyembah api).
4. Lazza, pintu ini untuk setan dan para pengikutnya serta para penyembah api.
5. Huthamah (menghancurkan hingga berkeping-keping), pintu ini untuk kaum Yahudi.
6. Sa'ir (arti harfiahnya : api yang menyala-nyala), pintu ini untuk kaum kafir.

Tatkala sampai pada penjelasan pintu yang ketujuh, Jibril terdiam. Nabi saw meminta ia untuk menjelaskan pintu yang ketujuh, Jibril pun menjawab : "Pintu ini untuk umatmu yang angkuh", yang mati tanpa menyesali dosa-dosa mereka.
Lalu, Nabi saw mengangkat kepalanya dan begitu sedih, sampai beliau pingsan. Ketika siuman beliau berkata : "Wahai Jibril, sesunggguhnya engkau telah menyebabkan kesusahanku dua kali lipat. Akankah umatku masuk Neraka?"
Kemudian Nabi saw mulai menangis. Setelah kejadian itu, beliau tidak berbicara dengan siapapun selama beberapa hari, dan ketika sholat beliau menangis dengan tangisan yang sangat memilukan. Karena tangisannya ini, semua Sahabat ikut menangis, kemudian mereka bertanya : "Mengapa beliau begitu berduka?", namun beliau tidak menjawab.
Saat itu, Imam Ali ra sedang pergi melaksanakan satu misi, maka para Sahabat pergi mengahadap sang wanita cahaya penghulu wanita syurga, Sayyidah Fathimah ra, mereka mendatangi rumah suci beliau, dan pada saat itu Sayyidah Fatimah ra sedang mengasah gerinda sambil membaca ayat, "Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal" (QS. Al-A'la : 17). Para Sahabat pun menceritakan keadaan ayahnya (Rasulullah saw). Setelah mendengar semua itu, Sayyidah Fatimah ra bangkit lalu mengenakan jubahnya (cadur) yang memiliki dua belas tambalan yang dijahit dengan daun pohon korma. Salman al-Farisi yang hadir bersama orang-orang ini terusik hatinya setelah melihat jubah Sayyidah Fathimah ra, lalu berkata : " Aduhai..., Sementara putri-putri kaisar dan Kisra (penguasa Persia kuno) duduk di atas singgasana emas, putri Nabi ini tidak mempunyai pakaian yang layak untuk dipakai".
Ketika Sayyidah Fathimah ra sampai di hadapan sang ayah, Ia melihat keadaannya yang menyedihkan dan juga keadaan para Sahabatnya, kemudian ia berkata : "Wahai Ayahanda, Salman terkejut setelah melihat jubahku yang sudah penuh dengan robekan, aku bersumpah, demi Tuhan yang telah memilihmu menjadi Nabi, sejak lima tahun lalu kami hanya memiliki satu helai pakaian di rumah kami, pada waktu siang kami memberi makan unta-unta dan pada waktu malam kami beristirahat, anak-anak kami tidur beralaskan kulit dengan daun-daun kering pohon kurma. Nabi berpaling ke arah Salman dan berkata "Apakah engkau memperhatikan dan mengambil pelajaran?".
Sayyidah Fathimah Az-Zahra melihat -karena tangisan yang tidak terhenti- wajah Nabi menjadi pucat dan pipinya menjadi cekung. Sebagaimana yang di ceritakan oleh Kasyfi, bahwa bumi tempat beliau duduk telah menjadi basah dengan air mata. Sayyidah Fathimah ra berkata kepada ayahnya, semoga hidupku menjadi tebusanmu, "Mengapa Ayahanda menangis?" Nabi saw menjawab, "Ya Fathimah, mengapa aku tidak boleh menangis?, karena sesungguhnya Jibril telah menyampaikan kepadaku sebuah ayat yang menggambarkan kondisi neraka. Neraka mempunyai tujuh pintu, dan pintu-pintu itu mempunyai tujuh puluh ribu celah api. Pada setiap celah ada tujuh puluh ribu peti mati dari api, dan setiap peti berisi tujuh puluh ribu jenis azab".
Ketika Sayyidah Fathimah mendengar semua ini, beliau berseru, "Sesungguhnya orang yang dimasukkan ke dalam api ini pasti menemui ajal". Setelah mengatakan ini beliau pingsan. Ketika siuman, beliau ra berkata, "Wahai yang terbaik dari segala mahluk, siapakah yang patut mendapat azab yang seperti itu?" Nabi saw menjawab, "Umatku yang mengikuti hawa nafsunya dan tidak memelihara sholat, dan azab ini tidak seberapa bila dibandingkan dengan azab-azab yang lainya.
Setelah mendengar ucapan ini setiap Sahabat Nabi saw menangis dan meratap, "Derita perjalanan alam akhirat sangat jauh, sedangkan perbekalan sangat sedikit". Sementara sebagian lagi menangis dan meratap, "Aduhai seandainya ibuku tidak melahirkanku, maka aku tidak akan mendengar tentang azab ini", Ammar bin Yasir berkata, "Andaikan aku seekor burung, tentu aku tidak akan ditahan (di hari kiamat) untuk di hisab". Bilal yang tidak hadir di sana datang kepada Salman dan bertanya sebab-sebab duka cita itu. Salman menjawab, "Celakalah engkau dan aku, sesungguhnya kita akan mendapat pakaian dari api, sebagai pengganti dari pakaian katun ini dan kita akan diberi makan dengan zaqqum (pohon beracun di Neraka).
Maha Adil Allah, begitu demokratisnya memberikan kebebasan pada manusia untuk memilih antara iman dan kufur dengan tanpa ada paksaan " laa ikrooha fiddin...".
Akhirnya pilihan yang kita ambil, mendapatkan konsekuensi adil dari Dzat Yang Maha Adil. Jalan menuju sorga berliku nan mendaki, tapi saat sampai tujuan maka akan mendapatkan keindahan yang "tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, tidak dapat dibayangkan oleh hati. Sedangkan jalan menuju neraka, indah mempesona...akhirnya sampai pada kondisi yang mengerikan.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaana-Ka Allaahumma wabihamdi-Ka asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta astaghfiru-Ka waatuubu ilai-Ka.

Kemaksiatan dan Pengaruhnya

Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan dosa, maka terbentuklah noda hitam dalam hatinya. Jika ia melepaskan dosa, istighfar dan taubat, bersihlah hatinya. Ketika mengulangi dosa lagi, bertambahlah noda hitamnya, sehingga menguasai hati. Itulah Roon (rona) yang disebutkan dalam Al-Qur’an, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (HR At-Tirmidzi).
Maksiat dan dosa mempunyai pengaruh yang sangat dahsyat dalam kehidupan umat manusia. Bahayanya bukan hanya berpengaruh di dunia tetapi sampai dibawa ke akhirat. Bukankah Nabi Adam a.s. dan istrinya Siti Hawa dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke dunia karena dosa yang dilakukannya? Dan demikianlah juga yang terjadi pada umat-umat terdahulu.
Disebabkan karena dosa, penduduk dunia pada masa Nabi Nuh a.s. dihancurkan oleh banjir yang menutupi seluruh permukaan bumi. Karena maksiat, kaum ‘Aad diluluh lantakkan oleh angin puting beliung. Karena ingkar pada Allah, kaum Tsamud ditimpa oleh suara yang sangat keras memekakkan telinga sehingga memutuskan urat-urat jantung mereka dan mati bergelimpangan. Karena perbuatan keji kaum Luth, buminya dibolak-balikkan dan semua makhluk hancur, sampai Malaikat mendengar lolongan anjing dari kejauhan. Kemudian diteruskan dengan hujan bebatuan dari langit yang melengkapi siksaan bagi mereka. Dan kaum yang lain akan mendapatkan siksaan yang serupa. Jika tidak terjadi di dunia, maka di akhirat akan lebih pedih lagi. (Al-An’am: 6)

Desember 2005 dunia juga baru menyaksikan musibah yang maha dahsyat terjadi di Asia, yaitu Tsunami yang menghancurkan ratusan ribu umat manusia. Terbesar menimpa Aceh. Semua itu harus menjadi pelajaran yang mendalam bagi seluruh umat manusia, bahwa Allah Maha Kuasa. Disebutkan dalam musnad Imam Ahmad dari hadits Ummu Salamah, saya mendengar Rasulullah saw bersabda, “Jika kemaksiatan sudah mendominasi umatku, maka Allah meratakan adzab dari sisi-Nya”. Saya berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah di antara mereka ada orang-orang shalih?” Rasulullah menjawab,”Betul.” “Lalu bagaimana dengan mereka?” Rasul menjawab, “Mereka akan mendapat musibah sama dengan yang lain, kemudian mereka mendapatkan ampunan dan keridhaan Allah.”

Akar Kemaksiatan
Semua kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia, baik yang besar maupun yang kecil, bermuara pada tiga hal. Pertama; terikatnya hati pada selain Allah, kedua; mengikuti potensi marah, dan ketiga; mengikuti hasrat syahwat. Ketiganya adalah syirik, zhalim, dan keji. Puncak seseorang terikat pada selain Allah adalah syirik dan menyeru pada selain Allah. Puncak seseorang mengikuti amarah adalah membunuh; dan puncak seseorang menuruti syahwat adalah berzina. Demikianlah Allah swt. menggabungkan pada satu ayat tentang sifat ‘Ibaadurrahmaan, ”Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (Al-Furqaan: 68)
Dan ciri khas kemaksiatan itu saling mengajak dan mendorong untuk melakukan kemaksiatan yang lain. Orang yang berzina maka zina itu dapat menyebabkan orang melakukan pembunuhan, dan pembunuhan dapat menyebabkan orang melakukan kemusyrikan. Dan para pembuat kemaksiatan saling membantu untuk mempertahankan kemaksiatannya. Setan tidak akan pernah diam untuk menjerumuskan manusia untuk melakukan dosa dan kemaksiatan. Setan senantiasa mengupayakan tempat-tempat yang kondusif untuk menjadi sarang kemaksiatan.
Oleh karena itu agar terhindar dari jebakan kemaksiatan, manusia harus melakukan perlawanan dari ketiganya, yaitu : pertama; menguatkan keimanan dan hubungan hati dengan Allah swt. dengan senantiasa mengikhlaskan segala amal perbuatan hanya karena Allah. Kedua; mengendalikan rasa marah, karena marah merupakan pangkal sumber dari kezhaliman yang dilakukan oleh manusia. Dan ketiga; menahan diri dari syahwat yang menggoda manusia sehingga tidak jatuh pada perbuatan zina.

Pengaruh Maksiat
Seluruh manusia mengakui bahwa kesalahan yang terkait dengan hubungan antar manusia di dunia secara umum dapat mengakibatkan kerusakan secara langsung. Orang-orang yang membabat hutan hingga gundul akan menyebabkan kerusakan lingkungan seperti longsor dan kebanjiran. Sopir yang mengendalikan mobilnya secara ugal-ugalan dan melintasi rel kereta api yang dilalui kereta, berakibat sangat parah, ditabrak oleh kereta. Orang yang membunuh orang tanpa hak, maka dia akan senantiasa dalam kegelisahan dan penderitaan. Orang yang senantiasa bohong, hidupnya tidak akan merasa tenang.
Dan pada dasarnya pengaruh kesalahan, dosa, dan kemaksiatan bukan saja yang terkait antar sesama manusia, tetapi antara manusia dengan Allah. Siapakah orang yang paling zhalim, ketika mereka diberi rezki oleh Allah dan hidup di bumi Allah kemudian menyekutukan Allah, tidak mentaati perintah-Nya, dan melanggar larangan-Nya. Jika kesalahan yang dibuat antar sesama manusia akan menimbulkan bahaya, maka kesalahan akibat tidak melaksanakan perintah Allah atau melanggar larangan-Nya, maka akan lebih berbahaya lagi, di dunia sengsara dan di akhirat disiksa. “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”

Beberapa pengaruh maksiat diantaranya:

1. Lalai dan keras hati
Al-Qur’an menyebutkan bahwa orang-orang yang bermaksiat hatinya keras membatu. “Karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ma-idah: 13)
Berkata Ibnu Mas’ud ra, “Saya menyakini bahwa seseorang lupa pada ilmu yang sudah dikuasainya karena dosa yang dilakukan.”
Orang yang banyak berbuat dosa, hatinya keras, tidak sensitif, dan susah diingatkan. Itu suatu musibah besar. Bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa orang yang senantiasa berbuat dosa, hatinya akan dikunci mati, sehingga keimanan tidak dapat masuk, dan kekufuran tidak dapat keluar.

2. Terhalang dari ilmu dari rezeki
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba diharamkan mendapat rezeki karena dosa yang dilakukannya” (HR Ibnu Majah dan Hakim)
Berkata Imam As-Syafi’i, “Saya mengadu pada Waqi’i tentang buruknya hafalanku. Beliau menasihatiku agar meninggalkan maksiat. Dan memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat.”
Orang yang banyak melakukan dosa waktunya banyak dihabiskan untuk hal-hal yang sepele dan tidak berguna. Tidak untuk mencari ilmu yang bermanfaat, tidak juga untuk mendapatkan nafkah yang halal. Banyak manusia yang masuk dalam model ini. Banyak yang menghabiskan waktunya di meja judi dengan menikmati minuman haram dan disampingnya para wanita murahan yang tidak punya rasa malu. Sebagian yang lain asyik dengan hobinya. Ada yang hobi memelihara burung atau binatang piaraan yang lain. Sebagian lain, ada yang hobi mengumpulkan barang antik meski harus mengeluarkan biaya tak sedikit. Sebagian yang lain hobi belanja atau sibuk bolak-balik ke salon kecantikan. Seperti itulah kualitas hidup mereka.

3. Kematian hati dan kegelapan di wajah
Berkata Abdullah bin Al-Mubarak, “Saya melihat dosa-dosa itu mematikan hati dan mewariskan kehinaan bagi para pelakunya. Meninggalkan dosa-dosa menyebabkan hidupnya hati. Sebaik-baiknya bagi dirimu meninggalkannya. Bukankah yang menghancurkan agama itu tidak lain para penguasa dan ahli agama yang jahat dan para rahib.”
Sungguh suatu musibah besar jika hati seseorang itu mati disebabkan karena dosa-dosa yang dilakukannya. Dan perangkap dosa yang dikejar oleh mayoritas manusia adalah harta dan kekuasaan. Mereka mengejar harta dan kekuasaan seperti laron masuk ke kobaran api unggun.
Tanda seorang bergelimangan dosa terlihat di wajahnya. Wajah orang-orang yang jauh dari air wudhu dan cahaya Al-Qur’an adalah gelap tidak enak dipandang.

4. Terhalang dari penerapan hukum Allah
Penerapan hukum Allah berupa syariat Islam di muka bumi adalah rahmat dan karunia Allah dan memberikan keberkahan bagi penduduknya. Ketika masyarakat banyak yang melakukan kemaksiatan, maka mereka akan terhalang dari rahmat Islam tersebut. (Lihat Al-Maa-idah: 49 dan Al-A’raaf: 96)

5. Hilangnya nikmat Allah dan potensi kekuatan
Di antara nikmat yang paling besar yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah pertolongan dan kemenangan. Sejarah telah membuktikan bahwa pertolongan Allah dan kemenangan-Nya diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang taat. Sebaliknya, kekalahan dan kehancuran disebabkan karena maksiat dan ketidaktaatan.
Kisah Perang Uhud harus menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman. Ketika sebagian pasukan perang sibuk mengejar harta rampasan dan begitu juga pasukan pemanah turun gunung ikut memperebutkan harta rampasan. maka terjadilah musibah luar biasa. Korban berjatuhan di kalangan umat Islam. Rasulullah saw pun berdarah-darah.
Kisah penghancuran Kota Baghdad oleh pasukan Tartar juga terjadi karena umat Islam bergelimang kemaksiatan. Khilafah Islam pun runtuh, selain dari faktor adanya konspirasi internasional yang melibatkan Inggris, Amerika Serikat, dan Israel, juga karena umat Islam berpecah belah dan kemaksiatan yang mereka lakukan.
Umar bin Khattab berwasiat ketika melepas tentara perang : ”Dosa yang dilakukan tentara (Islam) lebih aku takuti dari musuh mereka. Sesungguhnya umat Islam dimenangkan karena maksiat musuh mereka kepada Allah. Kalau tidak demikian kita tidak mempunyai kekuatan, karena jumlah kita tidak sepadan dengan jumlah mereka, perlengkapan kita tidak sepadan dengan perlengkapan mereka. Jika kita sama dalam berbuat maksiat, maka mereka lebih memiliki kekuatan. Jika kita tidak dimenangkan dengan keutamaan kita, maka kita tidak dapat mengalahkan mereka dengan kekuatan kita.”
Oleh karena itu umat Islam dan para pemimpinnya harus berhati-hati dari jebakan-jebakan cinta dunia dan ambisi kekuasaan. Jauhi segala harta yang meragukan apalagi yang jelas haramnya. Karena harta yang syubhat dan meragukan, tidak akan membawa keberkahan dan akan menimbulkan perpecahan serta fitnah. Kemaksiatan yang dilakukan oleh individu, keluarga, dan masyarakat akan menimbulkan hilangnya nikmat yang telah diraih dan akan diraih. Dan melemahkan segala potensi kekuatan. Waspadalah!

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka wa atuubu ilaika.

Tanda-tanda Lemahnya Iman

Keimanan manusia itu tidak seperti imannya Malaikat, juga tidak seperti Iblis la'natullah. Keimanan manusia itu dinamis, kadang naik dan kadang turun sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW," Al-iimaanu yaziidu wayanqush jaddiduu" (iman itu kadang naik dan kadang turun, maka perbaharuilah iman itu).
Berikut di bawah ini tanda-tanda lemahnya iman seseorang :

1. Terus menerus melakukan dosa dan tidak merasa bersalah
2. Berhati keras dan tidak berminat untuk membaca Al-Qur'an
3. Lambat (menunda-nunda) dalam melakukan kebaikan, seperti terlambat untuk melakukan shalat
4. Meninggalkan hal-hal yang sunnah
5. Suasana hati yang goyah, seperti bosan dalam kebaikan dan sering gelisah
6. Tidak merasakan apapun ketika ayat-ayat Al-Qur'an dibacakan, seperti ketika Allah mengingatkan tentang hukuman-Nya dan janji-janji-Nya tentang kabar baik
7. Kesulitan dalam berdzikir dan mengingat Allah
8. Tidak merasa risau ketika keadaan berjalan atau melakukan sesuatu bertentangan dengan syari'at
9. Menginginkan jabatan dan kekayaan
10. Kikir dan bakhil dan tidak mau berbagi rezeki yang telah dikaruniakan oleh Allah
11. Memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan, sementara dirinya tidak melakukannya
12. Merasa senang ketika urusan orang lain tidak berjalan semestinya
13. Hanya memperhatikan yang halal dan yang haram, dan tidak menghindari yang makruh
14. Mengolok-olok orang yang berbuat kebaikan kecil, seperti terhadap orang yang membersihkan masjid
15. Tidak mau memperhatikan kondisi kaum muslimin
16. Tidak merasa bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu demi kemajuan Islam
17. Tidak bersabar terhadap musibah yang menimpanya, seperti menangis dan meratap-ratap di kuburan
18. Suka berdebat hanya untuk berbantah-bantahan tanpa memiliki bukti
19. Merasa asyik dan sangat tertarik dengan kehidupan duniawi dan merasa resah atau sedih ketika kehilangan sesuatu materi kebendaan
20. Merasa bangga (‘ujub) dan terobsesi pada diri sendiri

Hal-hal berikut yang harus dilakukan untuk meningkatkan keimanan kita :

1. Tilawah Al-Qur'an dan mentadabburi maknanya, dengan suara yang lembut, hening dan tidak tinggi maka Insya Allah hati kita akan lembut. Untuk mendapatkan keuntungan yang optimal, hadirkan dalam hati keyakinan bahwa Allah sedang berbicara dengan kita
2. Menyadari keagungan Allah. Segala sesuatu berada dalam kekuasaan-Nya. Banyak hal di sekitar kita yang kita lihat, yang menunjukkan keagungan-Nya kepada kita. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendakNya. Allah maha memperhatikan dan memelihara segala sesuatu, bahkan seekor semut hitam yang bersembunyi di balik batu hitam dalam kepekatan malam sekalipun.
3. Berusaha menambah ilmu (pengetahuan), terutama hal-hal dasar yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara berwudlu dengan benar. Mengetahui arti dari nama-nama dan sifat-sifat Allah. Diantara sifat orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang berilmu.
4. Menghadiri majlis-majlis dzikir untuk mengingat Allah dan majlis-majlis ilmu. Karena Malaikat mengelilingi dan mendo’akan kebaikan kepada majlis-majlis seperti itu.
5. Selalu menambah perbuatan baik. Sebuah perbuatan baik akan melahirkan perbuatan-perbuatan baik lainnya. Allah akan memudahkan jalan bagi seseorang yang bershadaqah dan juga memudahkan jalan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.
6. Merasa takut akan akhir hayat yang buruk (su’ul khatimah). Mengingat kematian akan mengingatkan kita dari kesibukan dan terlena terhadap kesenangan dunia.
7. Mengingat fase-fase kehidupan akhirat, seperti ketika kita diletakkan dalam kubur, ketika dihisab, dan fase ketika kita dihadapkan pada dua kemungkinan surga atau neraka.
8. Berdo'a seraya menyadari bahwa kita membutuhkan Allah dan merasa kecil di hadapan-Nya.
9. Cinta kita kepada Allah harus kita tunjukkan (buktikan) dengan amal perbuatan. Kita berharap semoga Allah berkenan menerima shalat-shalat kita, dan selalu merasa takut ketika akan melakukan kejelekan. Malam hari sebelum tidur, seyogyanya kita bermuhasabah memperhitungkan perbuatan kita sepanjang hari itu.
10. Menyadari akibat dari berbuat dosa dan pelanggaran. Iman seseorang akan bertambah dengan melakukan kebaikan, dan menurun dengan melakukan perbuatan buruk.
11. Semua yang terjadi adalah karena Allah menghendaki. Ketika musibah menimpa kita, itupun dari Allah.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka wa atuubu ilaika.

Siksaan bagi orang yang meninggalkan shalat fardhu

Hukum meninggalkan satu kali shalat :
1. Shalat Shubuh : satu kali meninggalkan shalat Shubuh akan dimasukkan ke dalam neraka selama 30 tahun yang sama dengan 60.000 tahun di dunia.
2. Shalat Dzuhur : satu kali meninggalkan shalat Dzuhur dosanya sama dengan membunuh 1.000 orang umat Islam.
3. Shalat Ashar : satu kali meninggalkan shalat Ashar dosanya sama dengan menutup/ meruntuhkan Ka’bah.
4. Shalat Maghrib : satu kali meninggalkan shalat Maghrib dosanya sama dengan berzina dengan orang tuanya sendiri.
5. Shalat Isya : satu kali meninggalkan shalat Isya tidak akan diridhoi oleh Allah SWT tinggal di bumi atau di bawah langit ini, serta makan dan minum dari nikmat-Nya.

Siksaan di dunia bagi orang yang meninggalkan Shalat Fardhu :
1. Allah SWT mengurangi keberkahan umurnya.
2. Allah SWT akan mempersulit rezekinya.
3. Allah SWT akan menghilangkan tanda/ cahaya shaleh dari raut wajahnya.
4. Orang yang meninggalkan shalat tidak mempunyai tempat di dalam Islam.
5. Amal kebaikan yang pernah dilakukannya tidak akan mendapatkan pahala dari Allah SWT.
6. Allah tidak akan mengabulkan do’anya.

Siksaan bagi orang yang meninggalkan Shalat Fardhu ketika sakratul maut :
1. Orang yang meninggalkan shalat akan menghadapi sakratul maut dalam keadaan hina.
2. Meninggal dunia dalam keadaan yang sangat lapar.
3. Meninggal dunia dalam keadaan yang sangat haus.

Siksaan bagi orang yang meninggalkan Shalat Fardhu di dalam kubur :
1. Allah SWT akan menyempitkan kuburannya sesempit-sempitnya.
2. Orang yang meninggalkan shalat kuburannya akan sangat gelap.
3. Akan disiksa sampai hari kiamat tiba.

Siksaan bagi orang yang meninggalkan Shalat Fardhu ketika bertemu Allah :
1. Orang yang meninggalkan shalat di hari kiamat akan dibelenggu oleh Malaikat.
2. Allah SWT tidak akan memandangnya dengan kasih sayang.
3. Allah SWT tidak akan mengampuni dosa-dosanya dan akan diazab sangat pedih di neraka.

Mengenai balasan bagi orang yang meninggalkan Shalat Fardu : "Rasulullah SAW, diperlihatkan pada suatu kaum yang membenturkan kepala mereka pada batu, setiap kali benturan itu menyebabkan kepalanya pecah, kemudian ia kembali kepada keadaan semula dan mereka tidak berhenti terus melakukannya. Lalu Rasulullah SAW bertanya : "Siapakah orang ini wahai Jibril"? Jibril menjawab : "Mereka ini adalah orang yang berat kepalanya untuk menunaikan Shalat Fardhu". (Hadits Riwayat Thabrani, dengan sanad shahih)

Sumber : Dari Buku Himpunan Fadhilah Amal - Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandhalawi hal 107.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Tafakur

‘Tafakkur (merenung) satu jam, itu lebih baik dari ibadah satu tahun”. Sepintas, ungkapan Imam Syafi’i itu berlebihan. Bagaimana mungkin sebuah amal yang dilakukan hanya dalam rentang satu jam, bisa lebih baik daripada ibadah selama satu tahun ?
Ungkapan Imam Syafi’i tersebut tentu tidak disampaikan dalam konteks perbandingan yang saling menafikan antara satu dengan yang lainnya. Imam Syafi’i tidak mengajak agar orang melaksanakan tafakkur satu jam, kemudian tidak perlu beribadah selama satu tahun. Beliau hanya ingin menekankan pentingnya merenung, menghisab diri, introspeksi, mengevaluasi amal yang telah lalu, menekuri hidup dan seterusnya. Sikap ini sangatlah penting dan bahkan menjadi syarat seseorang agar mampu memiliki kualitas ibadah yang lebih baik.
Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan agar kita terbiasa mengambil pelajaran dari masa lalu, baik dari apa yang telah dilakukan diri sendiri, maupun oleh orang lain.

Pertama; Merenung, bermuhasabah atau mengevaluasi amal dalam satu hari.
Kebiasaan seperti inilah yang dilakukan oleh para Sahabat yang menurut Rasulullah mereka sebagai ahli surga. Dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah menyinggung kedatangan sahabat calon penghuni surga itu di dalam majelis para sahabat. Ahli surga itu ternyata bukan ahli ibadah yang kuantitas ibadahnya melebihi para sahabat lain. Ia hanya kerap melakukan evaluasi diri menjelang tidurnya setiap malam lalu ia hapus semua rasa gundahnya pada sesama muslim.
Dalam kitab ‘Bukaaul Mabrur’ yang mengulas tentang tangisan orang-orang sholih disebutkan perkataan salafussholih : “Para orang tua kami selalu menghitung diri dari apa yang mereka perbuat dan apa yang mereka ucapkan, kemudian mereka menulisnya dalam sebuah daftar. Setelah sholat ‘Isya, mereka mengeluarkan daftar amal dan ucapannya tersebut kemudian menimbangnya. Jika amalan yang diperbuat itu buruk, maka mereka segera bertaubat dan beristighfar memohon ampun kepada Allah. Namun jika amalan itu baik dan perlu disyukuri, merekapun bersyukur kepada Allah hingga mereka tidur. Kami pun mengikuti jejak mereka. Kami mencatat apa yang kami perbuat dan menimbangnya”.

Kedua; Memiliki agenda harian untuk mengevaluasi amal-amal yang telah dilakukan.
Agenda harian ini berisi daftar amal harian yang dianggap wajib untuk dilakukan. Misalnya; memulai suatu pekerjaan dengan Bismillah, membaca Istighfar minimal 100 kali, membaca Al-Qur’an sekian halaman, dsb. Sebaliknya catat pula alasan, masalah dan hambatan yang menjadikan kita tidak mampu menunaikan amal-amal harian tersebut. Mencatat hambatan amal-amal baik akan menjadi bahan pengalaman agar bisa diantisipasi pada waktu selanjutnya.
Sebagaimana setiap orang akan menerima lembaran-lembaran amalnya selama di dunia pada pengadilan akhirat nanti, setiap muslim sangat dianjurkan untuk menghitung-hitung sendiri amal-amalnya sejak di dunia. Tujuannya jelas, agar segala keburukan tidak terulang lagi, dan segala kebaikan terpelihara bahkan lebih baik lagi. Sahabat Umar r.a memberi nasehat, “Haasibuu anfusakum qobla an tuhaasabuu”. Hisablah amal-amal kalian sendiri, sebelum amal-amal kalian di hisab (oleh Allah di hari kiamat).”
Imam Hasan Al Bashri mengatakan, “Sesungguhnya penghisaban di hari kiamat akan ringan bagi kaum yang telah menghisab amalannya di dunia, begitu pula sebaliknya penghisaban di hari kiamat akan berat bagi orang yang tidak menghisab amalannya di dunia”.

Ketiga; Biasakan menilai dan mempertajam pengendalian diri sendiri.
Seseorang yang takjub dengan pribadi Hasan Al-Bashri pernah bertanya, “Siapa yang mendidikmu memiliki pribadi seperti ini ?”. Hasan Al-Bashri menjawab pendek. “Diriku sendiri”. “Bagaimana bisa seperti itu?”, tanya orang itu lagi. Hasan menguraikan, “Jika aku melihat keburukan pada orang lain, aku berusaha menghindarinya. Jika aku melihat kebaikan pada orang lain, aku berusaha mengikutinya. Dengan begitulah aku mendidik diriku sendiri…”
Sikap Ulama sholih generasi tabi’in itu jelas menekankan pentingnya seseorang mengambil pelajaran dari sebuah peristiwa. Teorinya sederhana, yaitu meniru yang baik dan menghindari yang tidak baik. Tapi hasilnya, prinsip itulah yang menghadirkan pribadi yang menakjubkan. Apa yang melatarbelakangi Hasan Al-Bashri berprinsip seperti itu ? Tidak lain untuk menghindari kekeliruan masa lalu, baik yang dilakukan diri sendiri maupun orang lain. Itu kuncinya, sehingga dari hari ke hari ia selalu berupaya memperbaiki kepribadiannya..

Keempat; Sadarilah bahwa belajar dari pengalaman akan menambah kedewasaan dan kebijakan dalam menyikapi hidup.
Semakin banyak orang bercermin terhadap masa lalu, maka ia akan semakin bijaksana dalam menentukan langkah. Saat mendapat kelapangan, seseorang tidak mudah larut oleh kesenangan. Ia berfikir bahwa rizki manusia ada kalanya lapang dan ada kalanya sempit. Saat medapat kesulitan, ia juga tidak mudah hanyut. Karena ia berfikir bahwa kesulitan akan silih berganti dengan kemudahan. Perbandingan seperti ini membuat seorang mukmin tetap bersyukur apapun kondisi yang ia alami. Itulah variasi dan itulah wujud kesempurnaan hidup sehingga saling melengkapi. Tanpa sikap seperti ini orang akan mudah terkena penyakit jiwa. Mudah gelisah dan selalu merasa tidak puas. Ia bahkan sulit merasa bahagia karena selalu terombang-ambing oleh dinamika hidup itu sendiri.

Kelima; Ketahuilah bahwa dalam batas tertentu kesalahan dan kekeliruan adalah lumrah.
Allah SWT tidaklah menciptakan manusia sempurna. Selalu saja ada manusia yang lebih disini dan kurang disana. Atau sebaliknya, lebih disana dan kurang disini. Sehingga prinsipnya jangan takut gagal dalam beramal. Tidak jarang, kegagalan dan kesalahan merupakan batu loncatan ke arah kebaikan. Setidaknya ia menjadi semangat dan motifasi untuk melakukan penebusan. Makna ini antara lain yang terkandung dalam pesan Rasulullah agar kita mengiringi segala keburukan yang kita lakukan dengan kebaikan. “Bertakwalah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada. Dan ikutilah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan”. (HR.Bukhari dan Muslim)

Keenam; Selami (pelajari) sejarah orang-orang yang hidup di masa lalu.
Dengan mengetahui masa lalu, berarti seseorang memiliki modal informasi berharga sebagai bekal perjalanan yang ia lakukan di masa mendatang. Peristiwa apapun, baik dilakukan oleh sebuah generasi maupun orang perorang, harus menjadi cermin perbandingan melangkah ke depan. Kehidupan ini tak ubahnya cermin pengulangan masa lalu. Silih berganti antara keberhasilan dan kegagalan, kemenangan dan kekalahan, kebahagiaan dan kesedihan. Semua berputar dan berganti bagai pergantian siang dan malam. Firman Allah SWT, “Dan hari-hari itu kami pergilirkan di antara manusia…” (QS.Al Imran:140).
Itulah hikmah penjabaran sejarah perjuangan para Rasul dan Nabi yang tertuang dalam Al-Qur’an. Allah SWT membina mental perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya melalui uraian panjang tentang perjuangan para Nabi dan Rasul sebelum mereka. Jejak sejarah perjuangan itulah yang akan menjadi rambu bagi umat manusia sepanjang zaman dalam menegakkan kebenaran.
Fir’aun hanya satu tokoh sejarah yang diungkapkan Al-Qur’an. Ia merupakan simbol penguasa yang melakukan kekejaman dan penindasan terhadap rakyat, sekaligus memusuhi ajaran Allah SWT yang dibawa oleh nabiyullah Musa as. Melihat sejarah sepak terjang Fir’aun, manusia diajak memahami bagaimana bahayanya kejahatan yang datang dari sebuah kekuasaan. Lebih berbahaya dari kejahatan berupa pembunuhan atau perampokan. Kisah Fir’aun juga memberi gambaran kepada para penegak kebenaran bahwa mereka akan selalu menghadapi gembong-gembong kejahatan. Karena setiap zaman memiliki ‘Fir’aun’ nya sendiri.

Ketujuh; Seringlah berdiskusi, bertukar pengalaman, saling menasehati dengan orang-orang sholih tentang berbagai fenomena hidup.
Seorang pemikir menyebutkan, “Manusia itu ibarat burung yang bersayap sebelah”. Tak mungkin bisa terbang, jika ia tak memiliki sayap pasangannya. Maka, ia hanya bisa terbang kalau mau berpelukan erat-erat dan berkerjasama dengan orang lain. Begitulah analoginya, setiap orang memerlukan bantuan orang lain untuk bisa berhasil dalam hidup. Apa artinya?
Setiap orang harus saling memberi dan membantu satu sama lain. Rasulullah mengistilahkan hal ini dengan sabdanya, “Setiap mukmin adalah cermin bagi saudaranya yang lain”. Cermin, sumber informasi paling akurat dan jujur tentang berbagai fenomena. Cermin tempat memperoleh penilaian tentang diri, kapanpun dan dimana pun. Cermin juga pandai menyimpan informasi hanya pada pihak yang langsung terkait dengan informasi itu.
Roda kehidupan takkan pernah berhenti bergulir. Hari demi hari terus berjalan. Tugas kita adalah memanfaatkan kesempatan hari ini untuk menyongsong hari esok. Terlalu banyak pelajaran yang seharusnya membuat kita menjadi lebih baik dari yang telah lalu. Terlalu banyak pelajaran yang seharusnya menjadikan kita berhati-hati dan berhitung matang untuk melangkah. Terlalu banyak peringatan untuk menyadarkan kita agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Rasulullah saw. pernah bersabda, “Tafakkaruu fii khalqillaahi wa-laa tafakkaruu fiilaahi, berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah.” Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas ini menurut Syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’ish Shaghir dan Silsilatu Ahaadits Ash-Shahihah berderajat hasan.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Ummat Akhir Zaman

Kondisi ummat Islam zaman sekarang ini sangatlah memprihatinkan. Banyak diantara kita yang tidak menganggap penting ajaran agama. Agama haq yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah mudah sekali dilalaikan sehingga terkadang menjadi sesuatu yang mahjur (ditinggalkan) sama sekali. Hal ini pernah diisyaratkan oleh Nabi Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dalam sebuah sabdanya, "Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali sebagaimana ia muncul dalam keadaan asing. Maka beruntunglah orang-orang yang asing". [HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman (232)].
Keadaan seperti ini diantaranya disebabkan oleh kurangnya perhatian kita kaum muslimin terhadap agama dan sunnah-sunnah Rasulullah SAW, serta kurang mendakwahkannya karena berbagai kesibukan dunia yang memalingkan kita. Disamping itu kita juga kurang perhatian terhadap majlis-majlis ilmu (majlis ta’lim), bahkan terkadang sengaja atau tidak seperti terkesan menjauhinya. Akibatnya, agama dan sunnah Rasulullah SAW terasa asing dan aneh dalam kehidupan kita.
Memang kadang kita sempat mendatangi majlis ta’lim, namun ketika kita sudah hadir di dalamnya, nampaklah pada diri kita raut wajah lelah, tidak bersemangat, loyo dan tidak bergairah untuk menimba ilmu. Sepertinya yang menjadi tujuan adalah hanya sekedar hadir (yang penting hadir). Maka tidaklah heran ketika sudah berada di dalam majlis ta’lim, muncullah bermacam-macam sikap dan keadaan kita. Ada yang asyik bercerita dan bercanda dengan temannya, sehingga mengganggu majlis. Ada yang sengaja duduk di belakang untuk sembunyi. Ada juga yang mengantuk, bahkan tertidur pulas seolah tidak ada beban. Jika terasa mengantuk dan tertidur ia menyembunyikan wajahnya di balik punggung kawannya. Pada keadaan lain kadang kita mau menghadiri majlis ta’lim, tetapi kita pilah-pilih pembicara yang sesuai dengan selera kita. Jika pembicaranya menghibur, banyak menarik canda tawa kita betah berlama-lama di dalam majlis. Tetapi jika pembicaranya serius berbicara tentang penekanan pentingnya aqidah, hukum Islam, akhlaq seolah menjadi suasana yang menjemukan.
Namun jika yang kita dengar adalah hal keuntungan duniawi, serta merta mata kita sontak terbelalak. Bahkan perasaan mengantuk sedikitpun tidak ada. Mengapa yah…? Apakah karena keuntungan duniawi lebih nyata bisa diraih dalam waktu dekat daripada kesenangan akhirat yang masih bersifat ghaib ? Betul sekali, dunia ini adalah nikmat anugerah yang Allah SWT berikan kepada kita. Namun janganlah dunia ini dijadikan sebagai tujuan hidup dan pusat perhatian kita. Dunia seyogyanya merupakan bagian yang diambil sekedar sebagai bekal perjalanan menuju Allah SWT. Allah SWT tidak memberikan nikmat dan anugerah kepada seorang hamba-Nya, kecuali agar nikmat itu dijadikan sebagai alat dan sarana untuk beribadah dan beramal sholeh untuk mengharap ridha dan pahala-Nya. Dunia dengan segala nikmatnya bukanlah merupakan tujuan akhir bagi seorang muslim. Akan tetapi merupakan tempat persinggahan mengambil bekal menuju perjalanan akhir pada kehidupan yang sebenarnya yaitu kehidupan akhirat yang ada awalnya dan tiada akhirnya. Fenomena berlombanya kaum muslimin dan kebanyakan manusia dalam memperbanyak harta benda dan fasilitas kesenangan duniawi -sehingga membuat kita lupa terhadap agama- merupakan sebab-sebab terjadinya banyak kemaksiatan dan kemunkaran. Jika semakin hari semakin tersebar kemaksiatan dan bertambah banyak kemunkaran, maka ketahuilah bahwa ini adalah salah satu diantara ciri dan tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat. Nabi SAW bersabda :
“Diantara tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu, dan kokohnya (banyaknya) kemaksiatan atau kejahilan”. [HR. Al-Bukhori (80), Muslim (2671)].
Di akhir zaman nanti, sebelum datangnya hari kiamat akan ada hari-hari yang di dalamnya turun dan tersebar kemaksiatan/ kejahilan yang disebabkan oleh malasnya manusia dan enggannya mendakwakan agama dan sunnah-sunnah Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Sesungguhnya di depan hari kiamat ada hari-hari yang kejahilan diturunkan di dalamnya, dan ilmu diangkat”. [HR. Al-Bukhori (6654)].
“Zaman akan saling mendekat, diangkatnya ilmu, munculnya berbagai fitnah (masalah), diletakkan kerakusan, dan banyaknya peperangan”. [HR. Al-Bukhoriy (989) dan Muslim (157)]
Kejahilan dan kemaksiatan yang memasyarakat di negeri kita bukan hanya dilakukan oleh rakyat jelata yang tak berpendidikan agama, bahkan juga dilakukan oleh kaum terpelajar dan kelompok elit. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW, “Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan sekali mencabutnya dari manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mematikan para ulama’ sehingga apabila Allah tidak menyisakan lagi seorang ulama’pun, maka manusiapun mengangkat pemimpin-pemimpin yang jahil. Mereka (para pemimpin tersebut) ditanyai, lalu merekapun memberikan fatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (manusia)” .[HR.Al-Bukhory (100) dan Muslim (2673)]
Al-Imam Abu Zakariya An-Nawawiy -rahimahullaah- berkata ketika menjelaskan makna hadits di atas, "Hadits ini menjelaskan maksud tercabutnya ilmu dalam hadits-hadits lalu yang mutlak (umum), bukan menghapusnya dari dada para penghafal (pemilik) ilmu itu. Akan tetapi maknanya, para pembawa ilmu itu (yakni para ulama) akan mati. Lalu manusia mengangkat orang-orang jahil (sebagai pemimpin dalam agama). Orang-orang jahil itu memutuskan perkara berdasarkan kejahilan-kejahilannya. Lantaran itu ia sesat, dan menyesatkan orang". [dalam Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim ibn Al-Hajjaj]
Nabi SAW bersabda : "Sesungguhnya akan ada beberapa kaum dari ummatku akan menghalalkan zina, kain sutra, minuman keras (khomer), dan musik". [HR. Al-Bukhori dalam Kitab Al-Asyribah (5590)]
Realita ummat hari ini membuat dahi kita berkerut dan akal dalam kepala kita berpikir berulang-ulang karena kemaksiatan dan kejahilan sudah ada dimana-mana, tak pelak lagi jika banyak menimbulkan berbagai masalah. Maka tidaklah heran jika terkadang ada sunnah Nabi SAW yang ingin diamalkan di zaman ini, kita seolah merasakannya sebagai suatu yang asing, ada yang berusaha menolaknya, menganggapnya bukan dari Islam, malah berani mengumpat dengan perkataan bid'ah, sesat dan khurafat !!! Bahkan memusuhi dan menyakiti sebagian hamba-hamba Allah SWT yang istiqamah mengamalkannya.
Jika ummat Islam semakin sibuk dengan dunia, sibuk dengan peternakan, pertanian, perdagangan -apalagi riba- sehingga lupa mempelajari agama dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka Allah SWT akan timpakan kehinaan. Inilah kehinaan yang tak mungkin akan tercabut dari tubuh ummat kecuali mereka mau kembali kepada agamanya dengan ilmu agama yang benar dan berguna. Nabi SAW bersabda :
"Jika kalian berjual-beli dengan cara ‘inah (salah satu bentuk riba), kalian memegang ekor-ekor sapi, ridho dengan bercocok tanam, dan meninggalkan jihad (dakwah), maka Allah akan menimpakan kepada kalian suatu kehinaan yang tak akan dicabut oleh Allah sampai kalian kembali kepada agama kalian". [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (3462)].
Keasyikan dan sibuk dengan dunia menyebabkan kita semakin bertambah cinta kepadanya, dan takut kepada mati menghadap Allah SWT. Seakan-akan kita mengharapkan diri dan harta benda yang melalaikan kita agar kekal di dunia, tanpa menghadapi hisab di akhirat nanti. Abu Hurairah -radhiyallaahu ‘anhu- berkata, Rasulullah SAW bersabda : "Hampir saja ummat-ummat saling memanggil (menyerang) menuju kalian sebagaimana orang-orang yang mau makan saling memanggil kepada nampannya". Ada yang bertanya, "Apakah karena kita sedikit saat itu ?" Beliau bersabda, "Bahkan kalian saat itu banyak, tapi kalian adalah buih laksana buih ombak. Allah benar-benar akan mencabut perasaan segan terhadap kalian dari dada musuh kalian. Allah akan mencampakkan kelemahan dalam hati kalian". Ada yang bertanya, "Apa kelemahan itu?" Beliau menjawab, "Cinta dunia, dan takut mati".[HR. Abu Dawud dalam Kitab Al-Malahim (4297)] .

Wahai kaum muslimin… Marilah kita luruskan aqidah kita, mantapkan ilmu diin kita, kemudian berlomba-lombalah dalam menggapai mahabbah-Nya dan berusaha mendasarkan apapun yang kita kerjakan dengan niat ibadah mengharap ridha dan pahala dari Allah SWT. Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amiin yaa Rabbal’aalamiin.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Nafsu Manusia

Nafsu manusia kadang seperti air. Tak pernah berhenti untuk selalu mengalir. Selama masih ada celah, di situlah air mengalir. Bedanya dengan air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah, nafsu terus mengalir ke arah sebaliknya. Manusia bisa dibilang makhluk yang jarang cepat puas. Selalu saja ujung dari sebuah pencarian lagi-lagi bertemu pada satu titik : KURANG. Keadaan itu sama persis seperti orang yang selalu mendongak ke atas. Dan lengah untuk menatap ke bawah. Itulah sebabnya mengapa orang tanpa sadar kehilangan daya peka. Kepekaannya dengan lingkungan sekitarnya menjadi tumpul. Bahkan mungkin, di tengah hiruk pikuknya mengejar yang di atas, tanpa terasa (disadari) kalau yang di bawah terinjak-injak. Jadi, pisau kepekaan bukan sekadar tumpul, bahkan sudah berkarat sama sekali.
Orang menjadi tidak mampu menyelami apa yang terjadi di sekelilingnya. Sulit merasakan kalau di saat kita terlelap dalam keadaan kenyang, sejumlah tetangga terus terjaga karena menahan perut yang lapar. Sulit menangkap keinginan anak-anak tetangga untuk tetap bersekolah, ketika sebagian kita tengah sibuk mencari sekolah top buat anak-anak, berapa pun mahalnya. Ketidakpekaan itu akhirnya menggiring diri untuk tampil tak peduli. Kesederhanaan menjadi barang langka. Ada semangat tampil serba “wah”. Ada bahasa yang sedang menjadi trend diungkapkan, “Saya memang beda dengan kalian!”.
Ketika terjadi proses melengkapi kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, perumahan, pendidikan, dan mungkin hal-hal lain seperti alat komunikasi; ada pergeseran yang nyaris tanpa terasa. Sebuah pergerseran dari nilai fungsi kepada nilai gengsi. Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok itu tidak lagi menimbang sekadar fungsi, tapi lebih kepada gengsi. Ada sesuatu yang sedang dikejar dari proses pemenuhan itu: trend dan gengsi. Dan biasanya, nilai gengsi itulah yang jauh lebih mahal dari nilai fungsi. Bahkan, bias jadi berkali-kali lipat.
Di sisi lain, ada semacam ketergantungan dengan penampilan mode yang tentu saja datang dari negeri pedagang budaya. Mereka begitu pintar mengemas barang dagangan dalam bentuk yang sangat menarik. Halus, tanpa kesan menggurui. Kemasan bisa digencarkan melalui film, berita mode dan sebagainya. Tanpa sadar, orang sedang terhipnotis dalam cengkeraman para pedagang budaya. Repotnya, ketika pedagang budaya sebagian besar menuhankan hidup materialistis. Semua tanpa sadar menuhankan gengsi. Mungkinkah kecenderungan perilaku konsumtif seperti itu hinggap dalam diri pribadi umat Islam? Masalahnya memang bukan sekadar muslim atau bukan. Tapi sejauh mana umat Islam memahami nilai budaya Islam. Dan membumikannya dalam kenyataan hidup sehari-hari.
Mereka yang tidak paham dengan Islam biasanya memang tidak peduli dengan urusan orang lain. Walaupun itu satu keyakinan. Tidak ada ajaran yang menyentuh hati mereka untuk mau memperhatikan nasib saudaranya. Hidup bagi mereka adalah diri mereka sendiri. Tidak ada hubungannya dengan orang lain. Sementara Islam, sangat menjunjung tinggi nilai persaudaraan. Bahkan nilainya bisa sama dengan keimanan kepada Allah SWT dan hari akhir. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari Muslim)
Selain tumpulnya kepekaan dan kungkungan trend budaya orang lain, ada sebab lain yang membuat orang itu jauh dari sikap sederhana. Itulah imperiority, atau merasa rendah di hadapan orang lain. Rasa rendah diri itu memompa segala daya yang dimiliki untuk tampil melebihi orang yang dianggap lebih. Paling tidak, ada kepuasan diri jika bias tampil bisa dianggap lebih.
Penyakit seperti itu biasa hinggap di negeri-negeri jajahan. Mereka biasa hidup susah. Sementara para penjajah hidup mewah. Ketika kesempatan hidup mewah terbuka lebar, sifat rendah diri berubah menjadi jiwa eksploitasi. Apa pun yang bisa diraih, diambil sebanyak-banyaknya demi kepuasan tampil lebih. Hal itulah yang diwaspadai Khalifah Umar bin Khaththab ketika mencermati para gubernurnya. Ia khawatir, di saat kesempatan terbuka lebar, para gubernur hilang kesadaran. Umar pernah menghukum Amru bin Ash, sang gubernur Mesir kala itu yang berbuat semena-mena terhadap seorang rakyatnya yang miskin.
Seorang gubernur yang bertugas di Hamash, Abdullah bin Qathin pernah dilucuti pakaiannya oleh Umar bin Khattab. Sang Khalifah menyuruh menggantinya dengan baju gembala. Bukan itu saja, si gubernur diminta menjadi penggembala domba sebenarnya untuk beberapa saat. Hal itu dilakukan Umar karena sang gubernur membangun rumah mewah buat dirinya. “Aku tidak pernah menyuruhmu membangun rumah mewah”, ucap Umar begitu tegas.
Teladan lain pernah diperlihatkan sahabat Rasul yang bernama Mush’ab bin Umair. Pemuda kaya ini tiba-tiba berubah drastis ketika memeluk Islam. Ia yang dulu selalu tampil trendi, serba mewah, menjadi pemuda sederhana yang hampir seratus persen berbeda dengan sebelumnya. Bahkan Mush’ab rela meninggalkan segala kekayaannya demi menunaikan dakwah di Madinah.
Ada yang menarik dari seorang mantan duta besar Jerman untuk Al-Jazair. Beliau bernama Wilfred Hoffman. Setiap kali mengunjungi pesta kalangan diplomat atau pejabat negara, isterinya selalu menjadi pusat perhatian. Pasalnya, di acara-acara bergengsi seperti itu, isterinya tidak pernah mengenakan busana dan perhiasan mewah. Sebuah kenyataan di luar kelaziman buat kalangan petinggi negara seperti Jerman. Bagaimana mungkin seorang duta besar negara kaya bisa tampil ala kadarnya. Padahal, para pejabat dari negara miskin saja bisa tampil gemerlap. Ada apa? Ternyata, Hoffman dan isterinya memang sengaja seperti itu. Ia lebih memilih hidup sederhana, ketimbang tampil mewah. Justru, dengan tampilan seperti itulah, Hoffman dan isterinya lebih dianggap daripada dubes dan pejabat lain yang hadir.
Meraih segala kemampuan materi memang sulit. Tapi lebih sulit lagi mengendalikannya menjadi tampilan sederhana. Karena nafsu memang tidak pernah berhenti mengalir ke segala arah.

Mudah-mudahan dengan rahmat-Nya, kita diberi kemampuan untuk memperkaya diri dengan akhlaqul mahmudah dan nafsu muthmainnah, yang selalu rindu mengharap pahala, ridha, dan perjumpaan dengan-Nya di akhirat kelak. Amiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Koreksi Terhadap Ucapan Salam

السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة

Arti ucapan salam
Ucapan salam merupakan anjuran dalam agama yang sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan umat beragama seseorang. Hikmah dari ucapan salam dapat menjalin ikatan persaudaraan dan kasih sayang antar sesama, karena orang yang mengucapkan salam berarti saling mendo’akan agar mereka mendapatkan keselamatan, rahmat dan keberkahan dari Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat. Salam adalah ucapan penghormatan dan do’a kebaikan. Apabila kita dihormati dengan suatu penghormatan maka kita harus membalasnya dengan penghormatan yang lebih baik, atau paling tidak balaslah dengan ucapan yang serupa. Sesungguhnya Allah akan memperhitungkan setiap yang kita kerjakan. Mengucapkan salam hukumnya adalah sunnah yang sangat dianjurkan, sedangkan bagi yang mendengarnya wajib untuk menjawabnya. Sebelum Islam, orang-orang Arab terbiasa menggunakan ungkapan salam yang lain seperti ”Hayakallah” (semoga Allah menjagamu tetap hidup). Namun setelah Islam datang, ucapan itu diganti menjadi ”Assalaamu ‘alaikum” (artinya semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa).

Keutamaan salam
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan saling mencintai. Maukah aku tunjukkan satu amalan bila dilakukan akan membuat kalian saling mencintai ? Yaitu, sebarkanlah salam di antara kalian” (HR Muslim dari Abi Hurairah).
Abu Umamah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Orang yang lebih dekat kepada Allah SWT adalah yang lebih dahulu memberi Salam.” (Musnad Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi).
Abdullah bin Mas’ud ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Salam adalah salah satu Asma Allah SWT yang telah Allah turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam. Ketika seseorang memberi salam kepada yang lain, derajatnya ditinggikan di hadapan Allah. Jika jama’ah suatu majlis tidak menjawab ucapan salamnya maka makhluk yang lebih baik dari merekalah (yakni para Malaikat) yang menjawab ucapan salam.” (Musnad Al Bazar, Al Mu’jam Al Kabir oleh At Tabrani).
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Orang kikir yang sebenar-benarnya kikir ialah orang yang kikir dalam menyebarkan salam.” Allah SWT berfirman didalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 86 : ”Demikianlah Allah SWT memerintahkan agar seseorang membalas dengan ucapan yang setara atau yang lebih baik.”
Ketentuan dalam hal mengucapkan salam sudah diatur oleh Allah dan diajarkan kepada Rasul-Nya. Dalam suatu pertemuan dengan Rasulullah SAW, seorang sahabat datang dan melewati Beliau sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum”. Rasulullah SAW lalu bersabda, “Orang ini mendapat 10 pahala kebaikan”. Tak lama kemudian datang lagi sahabat lain, ia pun mengucapkan, “Assalamu‘alaikum Warahmatullaah.” Kata Rasulullah SAW, “Orang ini mendapat 20 pahala kebaikan.” Kemudian lewat lagi seorang sahabat lain sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum warahmatullaah wa barakaatuh.” Rasulullah SAW bersabda, “Ia mendapat 30 pahala kebaikan.” (HR. Ibnu Hibban dari Abi Hurairah).
Dari ketiga contoh pengucapan (ada yang disingkat) itu silahkan pilih mana yang kita inginkan, bukan dengan menyingkatnya sendiri yang justru dapat menghilangkan nilai pahala salam. Satu hal yang perlu juga diingat adalah ketika menuliskan kata Assalamu'alaikum, perlu diperhatikan agar jangan sampai huruf ”L”-nya tertinggal sehingga menjadi Assaamu'alaikum, mengapa ? Diriwayatkan bahwa dahulu ada seorang Yahudi yang memberi salam kepada Nabi dengan ucapan, "Assaamu 'alaika ya Muhammad" (Semoga kematian ditimpakan kepadamu). Dan kata assaamu ini artinya kematian. Kata ini adalah plesetan dari "Assalaamu 'alaikum". Maka Nabi bersabda, "Kalau orang kafir mengatakan padamu ’assaamu 'alaikum’, maka jawablah dengan wa 'alaikum (Dan semoga atas kalian pula)." (HR. Bukhari).

Kekeliruan dalam ucapan salam
Banyak diantara kita yang tidak memahami makna dari pengucapan salam, sehingga sering kita jumpai (dengar) perbedaan dalam mengucapkan lafadz salam tersebut. Bahkan ada juga yang mungkin karena kesibukan, diantara kita sering menyingkat ucapan salam yang maksud sebenarnya adalah mendo’akan keselamatan, rahmat dan keberkahan tetapi justru sebaliknya mempunyai arti yang sangat tidak baik, menjadi cacian dan bahkan kata-kata yang tidak sepantasnya (jorok). Bagaimana bisa ?
Beberapa perbedaan bentuk ucapan salam yang sering kita jumpai dan ini harus segera diperbaiki diantaranya :
1. Assamualaikum
2. Assemelekum
3. Menyingkat salam dengan ; Asw/ Aslm/Ass wr wb/ Aslmwrwb/ atau Ass.
4. dan banyak lagi.

Ketentuan ucapan salam yang diajarkan Rasulullah SAW dalam Kitab Hadist Shahih Muslim mengenai adab dalam pengucapan salam diantaranya :
1. Rasulullah SAW Bersabda : Apabila Ahli Kitab mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah : Wa`alaikum. (Shahih Muslim No.4024)
2. Hadis Riwayat Ibnu Umar ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya orang Yahudi itu bila mengucapkan salam kepada kalian mereka mengucapkan: "Assaamu `alaikum" (kematian atas kalian), maka jawablah dengan: "Wa`alaika" (semoga menipa kamu). (Shahih Muslim No.4026)
3. Hadis Riwayat Aisyah ra : Sekelompok orang Yahudi meminta izin untuk menemui Rasulullah SAW, lalu mereka mengucapkan: "Assaamu `alaikum" (kematian atas kalian). Aisyah menyahut: "Bal `alaikumus saam" (sebaliknya semoga kalianlah yang mendapatkan kematian). Rasulullah SAW menegur : Hai Aisyah, Sesungguhnya Allah menyukai keramahan dalam segala hal. Aisyah berkata : Tidakkah engkau mendengar apa yang mereka ucapkan? Rasulullah SAW bersabda : Aku telah menjawab : "Wa `alaikum" (semoga menimpa kalian). (Shahih Muslim No.4027)
Dari ketiga hadist di atas cukuplah jelas bagi kita bahwa :
1. Apabila ada orang non-muslim yang mengucapkan salam, maka dijawab dengan kata wa’alaikum saja.
2. Apabila ada non-muslim yang mengucapkan salam dengan lafaz “assaamu’alaikum” maka cukup dijawab dengan “wa’alaika”. Karena ‘assaamu’alaikum’ berarti kematian atas kalian. Dan dijawab dengan ‘wa’alaika’ yang berarti “semoga menimpa kalian”.
3. Namun apabila ada orang muslim yang mengucapkan lafaz salam seperti itu maka harus kita beritahukan bagaimana cara pengucapan salam yang benar tersebut.

Adapun singkatan salam yang terakhir (Ass..), ini singkatan yang paling umum dan sering digunakan oleh banyak orang yang tidak tahu, misalnya ketika menulis sms, email, status dan komentar di situs pertemanan (jejaring sosial), dsb. Ini adalah singkatan ucapan salam yang paling tidak enak untuk dibaca terutama bagi yang telah mengetahui artinya. Padahal kalau kita buka dalam kamus linguistik (misalnya Kamus Bahasa Inggris John M. Echols & Hassan Shadily), akan kita dapati arti dari kata ”Ass” itu sebagai berikut :
Pertama, kb.(animal) yang artinya keledai.
Kedua, orang yang bodoh. Don't be a silly (janganlah sebodoh itu), dan
Ketiga, Vulg (pantat).
Dari ketiga arti tersebut tidak satupun yang berhubungan dengan maksud mendo’akan kebaikan sebagaimana yang dikehendaki dari ucapan salam tersebut, tetapi semuanya mempunyai arti yang tidak baik bahkan tidak etis. Keledai juga sering digunakan sebagai binatang simbol yang menggambarkan orang yang dungu (bodoh). Kita maklumi, banyak diantara kita yang sangat sibuk dan ingin cepat atau buru-buru dalam menulis pesan. Karenanya dengan dalih efisiensi dan efektifitas singkatan itu bisa mempercepat pekerjaan kita. Mungkin ada benarnya, tatapi apakah dengan singkatan itu kita mau mempertaruhkan do’a kebaikan ditukar dengan ucapan kata-kata kotor, melaknat , atau mendo’akan kejelekan kepada sesama ? Ucapan salam yang dilecehkan itu sudah dilakukan oleh orang-orang Yahudi pada masa Rasulullah SAW. Dan konon, ucapan ”Ass” juga sebagai produk pelecehan kembali terhadap umat Islam yang sengaja dipopulerkan oleh orang yang tidak suka kepada Islam. Oleh karenanya, jika memang keadaan sedang tidak memungkinkan untuk menulis salam lewat SMS dengan kalimat lengkap, bukankah lebih baik cukup menulis pesan to the point saja, daripada kita harus memaksakan diri menggunakan singkatan dari do’a keselamatan dan keberkahan (Assalamu'alaikum) menjadi "Ass" yang sudah jelas tidak baik artinya ?.

Oleh : Zaenal Muttaqin Noor

Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.
Powered by Blogger