Tafakur

‘Tafakkur (merenung) satu jam, itu lebih baik dari ibadah satu tahun”. Sepintas, ungkapan Imam Syafi’i itu berlebihan. Bagaimana mungkin sebuah amal yang dilakukan hanya dalam rentang satu jam, bisa lebih baik daripada ibadah selama satu tahun ?
Ungkapan Imam Syafi’i tersebut tentu tidak disampaikan dalam konteks perbandingan yang saling menafikan antara satu dengan yang lainnya. Imam Syafi’i tidak mengajak agar orang melaksanakan tafakkur satu jam, kemudian tidak perlu beribadah selama satu tahun. Beliau hanya ingin menekankan pentingnya merenung, menghisab diri, introspeksi, mengevaluasi amal yang telah lalu, menekuri hidup dan seterusnya. Sikap ini sangatlah penting dan bahkan menjadi syarat seseorang agar mampu memiliki kualitas ibadah yang lebih baik.
Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan agar kita terbiasa mengambil pelajaran dari masa lalu, baik dari apa yang telah dilakukan diri sendiri, maupun oleh orang lain.

Pertama; Merenung, bermuhasabah atau mengevaluasi amal dalam satu hari.
Kebiasaan seperti inilah yang dilakukan oleh para Sahabat yang menurut Rasulullah mereka sebagai ahli surga. Dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah menyinggung kedatangan sahabat calon penghuni surga itu di dalam majelis para sahabat. Ahli surga itu ternyata bukan ahli ibadah yang kuantitas ibadahnya melebihi para sahabat lain. Ia hanya kerap melakukan evaluasi diri menjelang tidurnya setiap malam lalu ia hapus semua rasa gundahnya pada sesama muslim.
Dalam kitab ‘Bukaaul Mabrur’ yang mengulas tentang tangisan orang-orang sholih disebutkan perkataan salafussholih : “Para orang tua kami selalu menghitung diri dari apa yang mereka perbuat dan apa yang mereka ucapkan, kemudian mereka menulisnya dalam sebuah daftar. Setelah sholat ‘Isya, mereka mengeluarkan daftar amal dan ucapannya tersebut kemudian menimbangnya. Jika amalan yang diperbuat itu buruk, maka mereka segera bertaubat dan beristighfar memohon ampun kepada Allah. Namun jika amalan itu baik dan perlu disyukuri, merekapun bersyukur kepada Allah hingga mereka tidur. Kami pun mengikuti jejak mereka. Kami mencatat apa yang kami perbuat dan menimbangnya”.

Kedua; Memiliki agenda harian untuk mengevaluasi amal-amal yang telah dilakukan.
Agenda harian ini berisi daftar amal harian yang dianggap wajib untuk dilakukan. Misalnya; memulai suatu pekerjaan dengan Bismillah, membaca Istighfar minimal 100 kali, membaca Al-Qur’an sekian halaman, dsb. Sebaliknya catat pula alasan, masalah dan hambatan yang menjadikan kita tidak mampu menunaikan amal-amal harian tersebut. Mencatat hambatan amal-amal baik akan menjadi bahan pengalaman agar bisa diantisipasi pada waktu selanjutnya.
Sebagaimana setiap orang akan menerima lembaran-lembaran amalnya selama di dunia pada pengadilan akhirat nanti, setiap muslim sangat dianjurkan untuk menghitung-hitung sendiri amal-amalnya sejak di dunia. Tujuannya jelas, agar segala keburukan tidak terulang lagi, dan segala kebaikan terpelihara bahkan lebih baik lagi. Sahabat Umar r.a memberi nasehat, “Haasibuu anfusakum qobla an tuhaasabuu”. Hisablah amal-amal kalian sendiri, sebelum amal-amal kalian di hisab (oleh Allah di hari kiamat).”
Imam Hasan Al Bashri mengatakan, “Sesungguhnya penghisaban di hari kiamat akan ringan bagi kaum yang telah menghisab amalannya di dunia, begitu pula sebaliknya penghisaban di hari kiamat akan berat bagi orang yang tidak menghisab amalannya di dunia”.

Ketiga; Biasakan menilai dan mempertajam pengendalian diri sendiri.
Seseorang yang takjub dengan pribadi Hasan Al-Bashri pernah bertanya, “Siapa yang mendidikmu memiliki pribadi seperti ini ?”. Hasan Al-Bashri menjawab pendek. “Diriku sendiri”. “Bagaimana bisa seperti itu?”, tanya orang itu lagi. Hasan menguraikan, “Jika aku melihat keburukan pada orang lain, aku berusaha menghindarinya. Jika aku melihat kebaikan pada orang lain, aku berusaha mengikutinya. Dengan begitulah aku mendidik diriku sendiri…”
Sikap Ulama sholih generasi tabi’in itu jelas menekankan pentingnya seseorang mengambil pelajaran dari sebuah peristiwa. Teorinya sederhana, yaitu meniru yang baik dan menghindari yang tidak baik. Tapi hasilnya, prinsip itulah yang menghadirkan pribadi yang menakjubkan. Apa yang melatarbelakangi Hasan Al-Bashri berprinsip seperti itu ? Tidak lain untuk menghindari kekeliruan masa lalu, baik yang dilakukan diri sendiri maupun orang lain. Itu kuncinya, sehingga dari hari ke hari ia selalu berupaya memperbaiki kepribadiannya..

Keempat; Sadarilah bahwa belajar dari pengalaman akan menambah kedewasaan dan kebijakan dalam menyikapi hidup.
Semakin banyak orang bercermin terhadap masa lalu, maka ia akan semakin bijaksana dalam menentukan langkah. Saat mendapat kelapangan, seseorang tidak mudah larut oleh kesenangan. Ia berfikir bahwa rizki manusia ada kalanya lapang dan ada kalanya sempit. Saat medapat kesulitan, ia juga tidak mudah hanyut. Karena ia berfikir bahwa kesulitan akan silih berganti dengan kemudahan. Perbandingan seperti ini membuat seorang mukmin tetap bersyukur apapun kondisi yang ia alami. Itulah variasi dan itulah wujud kesempurnaan hidup sehingga saling melengkapi. Tanpa sikap seperti ini orang akan mudah terkena penyakit jiwa. Mudah gelisah dan selalu merasa tidak puas. Ia bahkan sulit merasa bahagia karena selalu terombang-ambing oleh dinamika hidup itu sendiri.

Kelima; Ketahuilah bahwa dalam batas tertentu kesalahan dan kekeliruan adalah lumrah.
Allah SWT tidaklah menciptakan manusia sempurna. Selalu saja ada manusia yang lebih disini dan kurang disana. Atau sebaliknya, lebih disana dan kurang disini. Sehingga prinsipnya jangan takut gagal dalam beramal. Tidak jarang, kegagalan dan kesalahan merupakan batu loncatan ke arah kebaikan. Setidaknya ia menjadi semangat dan motifasi untuk melakukan penebusan. Makna ini antara lain yang terkandung dalam pesan Rasulullah agar kita mengiringi segala keburukan yang kita lakukan dengan kebaikan. “Bertakwalah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada. Dan ikutilah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan”. (HR.Bukhari dan Muslim)

Keenam; Selami (pelajari) sejarah orang-orang yang hidup di masa lalu.
Dengan mengetahui masa lalu, berarti seseorang memiliki modal informasi berharga sebagai bekal perjalanan yang ia lakukan di masa mendatang. Peristiwa apapun, baik dilakukan oleh sebuah generasi maupun orang perorang, harus menjadi cermin perbandingan melangkah ke depan. Kehidupan ini tak ubahnya cermin pengulangan masa lalu. Silih berganti antara keberhasilan dan kegagalan, kemenangan dan kekalahan, kebahagiaan dan kesedihan. Semua berputar dan berganti bagai pergantian siang dan malam. Firman Allah SWT, “Dan hari-hari itu kami pergilirkan di antara manusia…” (QS.Al Imran:140).
Itulah hikmah penjabaran sejarah perjuangan para Rasul dan Nabi yang tertuang dalam Al-Qur’an. Allah SWT membina mental perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya melalui uraian panjang tentang perjuangan para Nabi dan Rasul sebelum mereka. Jejak sejarah perjuangan itulah yang akan menjadi rambu bagi umat manusia sepanjang zaman dalam menegakkan kebenaran.
Fir’aun hanya satu tokoh sejarah yang diungkapkan Al-Qur’an. Ia merupakan simbol penguasa yang melakukan kekejaman dan penindasan terhadap rakyat, sekaligus memusuhi ajaran Allah SWT yang dibawa oleh nabiyullah Musa as. Melihat sejarah sepak terjang Fir’aun, manusia diajak memahami bagaimana bahayanya kejahatan yang datang dari sebuah kekuasaan. Lebih berbahaya dari kejahatan berupa pembunuhan atau perampokan. Kisah Fir’aun juga memberi gambaran kepada para penegak kebenaran bahwa mereka akan selalu menghadapi gembong-gembong kejahatan. Karena setiap zaman memiliki ‘Fir’aun’ nya sendiri.

Ketujuh; Seringlah berdiskusi, bertukar pengalaman, saling menasehati dengan orang-orang sholih tentang berbagai fenomena hidup.
Seorang pemikir menyebutkan, “Manusia itu ibarat burung yang bersayap sebelah”. Tak mungkin bisa terbang, jika ia tak memiliki sayap pasangannya. Maka, ia hanya bisa terbang kalau mau berpelukan erat-erat dan berkerjasama dengan orang lain. Begitulah analoginya, setiap orang memerlukan bantuan orang lain untuk bisa berhasil dalam hidup. Apa artinya?
Setiap orang harus saling memberi dan membantu satu sama lain. Rasulullah mengistilahkan hal ini dengan sabdanya, “Setiap mukmin adalah cermin bagi saudaranya yang lain”. Cermin, sumber informasi paling akurat dan jujur tentang berbagai fenomena. Cermin tempat memperoleh penilaian tentang diri, kapanpun dan dimana pun. Cermin juga pandai menyimpan informasi hanya pada pihak yang langsung terkait dengan informasi itu.
Roda kehidupan takkan pernah berhenti bergulir. Hari demi hari terus berjalan. Tugas kita adalah memanfaatkan kesempatan hari ini untuk menyongsong hari esok. Terlalu banyak pelajaran yang seharusnya membuat kita menjadi lebih baik dari yang telah lalu. Terlalu banyak pelajaran yang seharusnya menjadikan kita berhati-hati dan berhitung matang untuk melangkah. Terlalu banyak peringatan untuk menyadarkan kita agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Rasulullah saw. pernah bersabda, “Tafakkaruu fii khalqillaahi wa-laa tafakkaruu fiilaahi, berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah.” Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas ini menurut Syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’ish Shaghir dan Silsilatu Ahaadits Ash-Shahihah berderajat hasan.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

0 Response to "Tafakur"

Posting Komentar

Powered by Blogger