Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Kehidupan Dunia


Renungkanlah :
"Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya (karena air itu) tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya dan memakai (pula) perhiasannya dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir". (QS. Yunus : 24)

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu". (QS. Al-Hadid : 20).

1. Dari Abu Abbas Sahl bin Sa'ad As-Sa'idi radhiyallaahu’ anhum, dia berkata : Seseorang mendatangi Rasulullah saw dan berkata : Wahai Rasulullah tunjukkan kepadaku sebuah amalan yang jika aku kerjakan, Allah dan manusia akan mencintaiku, maka beliau bersabda : Zuhudlah terhadap dunia maka engkau akan dicintai oleh Allah dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia maka engkau akan dicintai manusia (Hadits hasan riwayat Ibnu Majah).

2. Dari Abu Sa’id Al-Khudzriy ra ia berkata, Rasulullah saw duduk di atas mimbar dan kami duduk di sekitarnya, kemudian beliau bersabda : Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan terhadap kalian sepeninggalku adalah terbukanya kemewahan dan keindahan dunia (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Dari Abu Sa'id Al-Khudzriy ra ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya dunia ini indah dan mempesonakan, dan sesungguhnya Allah ta'ala telah menyerahkannya kepada kalian, kemudian Allah akan melihat bagaimana kalian berbuat di atas dunia ini. Maka berhati-hatilah dalam urusan dunia dan berhati-hatilah juga terhadap wanita (HR. Muslim).

4. Dari Al-Mustaurid Syaddad ra ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Perbandingan antara dunia dengan akhirat adalah seperti seorang diantara kalian yang memasukan jari- jarinya ke dalam lautan, maka perhatikanlah apa yang dapat ia peroleh (HR. Muslim).

5. Dari Abu Hurairah ra dari Rasulullah saw beliau bersabda : Andaikan aku mempunyai emas sebesar bukit Uhud, aku pasti lebih senang kalau emas itu tidak menginap di tempatku sampai tiga malam, dan masih tersisa di tempatku, kecuali sesuatu yang aku persiapkan untuk membayar hutang (HR. Bukhari dan Muslim).

6. Dari Abu Hurairah ra ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Perhatikanlah orang yang berada di bawahmu dan janganlah kamu memperhatikan orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih pantas, agar kamu semua tidak menganggap remeh nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepadamu (HR Bukhari dan Muslim).

7. Dari Abu Hurairah ra ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir (HR. Muslim).

8. Dari Abdullah bin Asy-Syikhir ra ia berkata, saya mendatangi Rasulullah saw sedangkan beliau sedang membaca surat “AL HAAKUMUT TAKAATSUR”, kemudian beliau bersabda : Anak Adam akan berkata ini adalah harta bendaku, ini adalah harta bendaku, wahai anak Adam , tidak ada harta kekayaan yang kamu miliki, kecuali apa yang kamu makan kemudian habis, atau apa yang kamu pakai kemudian rusak, atau apa yang kamu sedekahkan kemudian menjadi simpanan bagimu (HR. Muslim).

9. Dari Abdullah bin Mughfal ra ia berkata, ada seseorang berkata kepada Nabi saw, wahai Rasulullah, demi Allah saya mencintai engkau, beliau bersabda : Pikirkanlah benar-benar apa yang kamu katakan itu. Ia berkata demi Allah sungguh saya mencintai engkau, ia mengulanginya sebanyakan tiga kali, kemudian beliau bersabda : apabila kamu mencintaiku, bersiap-siaplah untuk menghadapi kemiskinan dengan mengencangkan pinggang; sesungguhnya kemiskinan itu lebih cepat datangnya, bagi orang yang mencintaiku melebihi cepatnya banjir yang mengalir ke jurang (HR. Tirmidzi).

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka wa-atuubu ilaika.

Ayat Kursi dan Setan

Abu Hurairah ra pernah ditugaskan oleh Rasulullah SAW untuk menjaga gudang zakat di bulan Ramadhan. Tiba-tiba muncullah seseorang, lalu mencuri segenggam makanan. Namun kepintaran Hurairah memang patut dipuji, sehingga pencuri itu berhasil ditangkapnya.
"Akan aku adukan kamu kepada Rasulullah SAW," gertak Abu Hurairah. Bukan main takutnya pencuri itu mendengar ancaman Abu Hurairah, hingga kemudian ia pun merengek-rengek : "Saya ini orang miskin, keluarga tanggungan saya banyak, sementara saya sangat memerlukan makanan."

Maka pencuri itu pun dilepaskan. Bukankah zakat itu pada akhirnya akan diberikan kepada fakir miskin? Keesokan harinya, Abu Hurairah melaporkan kepada Rasulullah SAW, maka bertanyalah beliau : "Apa yang kamu lakukan kepada tawananmu semalam, ya Abu Hurairah?". Ia mengeluh, "Ya Rasulullah, bahwa ia orang miskin, keluarganya banyak dan sangat memerlukan makanan," jawab Abu Hurairah. Lalu diterangkan pula olehnya, bahwa ia kasihan kepada pencuri itu, maka ia dilepaskannya.

"Bohong dia," kata Nabi : "Nanti malam ia akan datang lagi."
Karena Rasulullah SAW berkata begitu, maka penjagaan diperketat, dan kewaspadaan pun ditingkatkan. Dan benar juga, pencuri itu kembali lagi, lalu mengambil makanan seperti kemarin. Dan kali ini ia tertangkap. "Akan aku adukan kamu kepada Rasulullah SAW," ancam Abu Hurairah, sama seperti kemarin. Dan pencuri itu sekali lagi meminta ampun : "Saya orang miskin, keluarga saya banyak. Saya berjanji besok tidak akan kembali lagi."

Kasihan juga rupanya Abu Hurairah mendengar keluhan orang itu, dan akhirnya ia kembali dilepaskan. Pada paginya, kejadian itu dilaporkan kepada Rasulullah SAW, dan beliau pun bertanya seperti kemarin. Dan setelah mendapat jawaban yang sama, sekali lagi Rasulullah menegaskan : "Pencuri itu bohong, dan nanti malam ia akan kembali lagi."
Malam itu Abu Hurairah berjaga-jaga dengan kewaspadaan dan kepintaran penuh. Mata, telinga dan perasaannya dipasang baik-baik. Diperhatikannya dengan teliti setiap gerak-gerik di sekelilingnya, karena sudah dua kali ia dibohongi oleh pencuri. Jika pencuri itu benar-benar datang seperti dikatakan oleh Rasulullah dan ia berhasil menangkapnya, ia telah bertekad tidak akan melepaskannya lagi. Hatinya sudah tidak sabar lagi menunggu-nunggu datangnya pencuri jahanam itu. Kenapa pencuri kemarin itu dilepaskan begitu saja sebelum diseret ke hadapan Rasulullah SAW ? Kenapa mau saja ia ditipu olehnya ? "Awas !" katanya dalam hati. "Kali ini tidak akan saya ampuni."

Malam semakin larut, jalanan sudah sepi, tiba-tiba muncul sesosok bayangan yang datang menghampiri onggokan makanan yang dia jaga. "Nah, benar juga ia datang lagi," katanya dalam hati. Dan tidak lama kemudian pencuri itu telah bertekuk lutut di hadapannya dengan wajah ketakutan. Diperhatikannya benar-benar wajah pencuri itu. Ada semacam kepura-puraan pada gerak-geriknya.
"Kali ini kau pasti kuadukan kepada Rasulullah. Sudah dua kali kau berjanji tidak akan datang lagi kemari, tapi ternyata kau kembali juga. Lepaskan saya," pencuri itu memohon. Tapi dari tangan Abu Hurairah yang menggenggam erat-erat dapat difahami, bahwa kali ini ia tidak akan dilepaskan lagi. Maka dengan rasa putus asa ahirnya pencuri itu berkata : "Lepaskan saya, dan akan saya ajari tuan beberapa kalimat yang sangat berguna."

"Kalimat-kalimat apakah itu?" Tanya Abu Hurairah dengan rasa ingin tahu. "Bila tuan hendak tidur, bacalah ayat Kursi : Allaahu laa Ilaaha illaa Huwal-Hayyul Qayyuuumu….. dan seterusnya sampai akhir ayat. Maka tuan akan selalu dipelihara oleh Allah, dan tidak akan ada syaitan yang berani mendekati tuan sampai pagi."
Maka pencuri itu pun dilepaskan oleh Abu Hurairah. Agaknya naluri keilmuannya lebih menguasai jiwanya daripada sebagai penjaga gudang.
Dan keesokan harinya, ia kembali menghadap Rasulullah SAW untuk melaporkan pengalamannya yang luar biasa tadi malam. Ada seorang pencuri yang mengajarinya kegunaan ayat Kursi.

"Apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?" tanya Rasulullah sebelum Abu Hurairah sempat menceritakan segalanya.
"Ia mengajariku beberapa kalimat yang katanya sangat berguna, lalu ia saya lepaskan," jawab Abu Hurairah.
"Kalimat apakah itu?" tanya Nabi SAW.
Katanya : "Kalau kamu tidur, bacalah ayat Kursi : Allaahu laa Ilaaha illaa Huwal-Hayyul Qayyuuumu…..dan seterusnya sampai akhir ayat. Dan ia katakan pula : "Jika engkau membaca itu, maka engkau akan selalu dijaga oleh Allah, dan tidak akan didekati syaitan hingga pagi hari."

Menanggapi cerita Abu Hurairah, Nabi SAW berkata, "Pencuri itu telah berkata benar, meskipun sebenarnya ia tetap pendusta." Kemudian Nabi SAW bertanya pula : "Tahukah kamu, siapa sebenarnya pencuri yang bertemu denganmu tiap malam itu?"
"Entahlah." Jawab Abu Hurairah.
"Itulah syaitan", Nabi SAW menjelaskannya.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaana-Ka Allaahumma wabihamdi-Ka asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta astaghfiru-Ka waatuubu ilai-Ka.

Kita Bertanya, Al-Qur'an Menjawab

Kita selalu bertanya dan Al-Qur'an sudah menjawabnya.

1. KITA BERTANYA : MENGAPA AKU DIUJI?
AL-QUR’AN MENJAWAB :
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan,"Kami telah beriman", sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."
[Surah Al-Ankabut ayat 2-3]

2. KITA BERTANYA : MENGAPA UJIAN SEBERAT INI?
AL-QUR’AN MENJAWAB :
"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya,"
[Surah Al-Baqarah ayat 286]

3. KITA BERTANYA : MENGAPA AKU TAK DAPAT APA YANG AKU IDAM-IDAMKAN?
AL-QUR’AN MENJAWAB :
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
[Surah Al-Baqarah ayat 216]

4. KITA BERTANYA : MENGAPA AKU MERASA FRUSTRASI?
AL-QUR’AN MENJAWAB :
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman."
[Surah Al-Imran ayat 139]

5. KITA BERTANYA : BAGAIMANA AKU HARUS MENGHADAPINYA?
AL-QUR’AN MENJAWAB :
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sholat; dan sesungguhnya shalat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyu"
[Surah Al-Baqarah ayat 45]

6. KITA BERTANYA : APA YANG AKU DAPAT DARIPADA SEMUA INI?
AL-QUR’AN MENJAWAB :
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka.
[Surah At-Taubat ayat 111]

7. KITA BERTANYA : KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?
AL-QUR’AN MENJAWAB :
“Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal."
[Surah At-Taubat ayat 129]

8. KITA BERKATA : AKU TAK TAHAN...
AL-QUR’AN MENJAWAB :
"......dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir."
[Surah Yusuf ayat 12]

9. KITA BERTANYA : MENGAPA HATI INI TIDAK TENANG?
AL-QUR’AN MENJAWAB :
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.”
[Ar-Ra'd ayat 28]

Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Tafsir Surat Al-'Ashr

Menurut MURTADHA MUTHAHHARI Dalam DURUS FIL QUR’ANIL KARIM

Menurut Ibnu Katsir, surat Al-’Ashr merupakan surat yang sangat populer di kalangan para sahabat. Setiap kali para sahabat mengakhiri suatu pertemuan, mereka menutupnya dengan surat Al-’Ashr.
Imam Syafi’i dan juga dalam Tafsir Mizan menyatakan bahwa walaupun surat Al-’Ashr pendek, tapi ia menghimpun hampir seluruh isi Al-Qur’an. Kalau Al-Qur’an tidak diturunkan seluruhnya dan yang turun itu hanya surat Al-’Ashr saja, maka itu sudah cukup untuk menjadi pedoman umat manusia.
Thabathaba’i menyebutkan, “Surat ini menghimpun seluruh pengetahuan Qur’ani. Surat ini menghimpun seluruh maksud Al-Qur’an dengan kalimat-kalimat yang indah dan singkat. Surat ini mengandung ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah, meskipun surat ini lebih tampak sebagai surat Makkiyah.”
Di zaman Rasulullah ada seorang Nabi palsu, namanya Musailamah Al-Kadzab, yang menyaingi Rasulullah dengan mendakwakan dirinya sebagai Nabi. Musailamah Al-Kadzab bersahabat dengan ‘Amr bin Ash, salah satu sahabat Nabi yang termasuk terakhir dalam memeluk Islam. Ketika surat ini turun, ‘Amr bin Ash belum masuk Islam, tetapi ia sudah mendengarnya. Ketika ia berjumpa dengan Musailamah Al-Kadzab, Musailamah bertanya tentang surat ini : “Surat apa yang turun kepada sahabatmu di Mekah itu?”. ’Amr bin Ash menjawab, “Turun surat dengan tiga ayat yang begitu singkat, tetapi dengan makna yang begitu luas.” “Coba bacakan kepadaku surat itu!” Kemudian surat Al-’Ashr ini dibacakan oleh ‘Amr bin Ash. Musailamah merenung sejenak, ia berkata, “Persis kepadaku juga turun surat seperti itu.” ‘Amr bin Ash bertanya, “Apa isi surat itu?” Musailamah menjawab : “Ya wabr, ya wabr. Innaka udzunaini wa shadr. Wa sãiruka hafrun naqr. (Hai kelinci, hai kelinci. Kau punya dada yang menonjol dan dua telinga. Dan di sekitarmu ada lubang bekas galian.)” Mendengar itu ‘Amr bin Ash, yang masih kafir, tertawa terbahak-bahak, “Demi Allah, engkau tahu bahwa aku sebetulnya tahu bahwa yang kamu omongkan itu adalah dusta.”
Jika Imam Syafi’i berkata bahwa seandainya seluruh ayat Al-Qur’an tidak turun, maka surat Al-’Ashr ini sudah cukup untuk menjadi pedoman hidup manusia. Maka dengan demikian kita pun bisa berkata, “Seandainya seluruh ayat Al-Qur’an tidak turun, maka ucapan Musailamah itu sudah cukup untuk membingungkan orang. Karena tidak mempunyai kandungan apa-apa di dalamnya.”

Dalam Al-Qur’an, Allah sering bersumpah dengan benda-benda, misalnya Wasy-Syamsi, Demi Matahari (QS. Al-Syams 1). Allah bersumpah dengan waktu, misalnya Wadh-Dhuhâ, Demi waktu dhuha. Wallaili idzâ sajâ, Demi malam apabila mulai gelap (QS. Al-Dhuha 1-2). Allah juga bersumpah dengan jiwa : Wanafsiw wamâ sawwâhâ. Demi jiwa dan yang menyempurna-kannya (QS. Al-Syams 7). Namun, Allah paling sering bersumpah dengan waktu : Lâ uqsimu bi yaumil qiyâmah. Kami bersumpah dengan hari kiamat. (QS. Al-Qiyamah 1), Wallaili idzâ yaghsyâ, wannahâri idzâ tajallâ. Demi malam apabila gelap dan demi siang apabila terang benderang (QS. Al-Lail 1-2). Dalam surat Al-’Ashr ini Allah juga bersumpah dengan waktu : Wal-’Ashr.
Ada perbedaan di antara para ahli tafsir dalam mengartikan ayat ini. Ada yang mengatakan bahwa ‘Ashr itu adalah waktu ashar, sebaliknya dari waktu dhuha. Waktu dhuha ialah seperempat waktu yang pertama sedangkan waktu ashar adalah seperempat waktu yang terakhir. Sebagian lagi ber-pendapat bahwa ‘Ashr di situ berarti masa, misalnya ‘Ashrush shahãbah (masa sahabat), ‘Ashrur rasul (masa Rasul). Al-’Ashr dalam Bahasa Arab biasanya dipakai untuk menunjukkan babakan atau periodisasi, misalnya ‘Ashrul hadid yang berarti zaman besi di dalam sejarah.
Menurut sebagian besar mufasir, Wal-’Ashr itu menunjukkan zaman Rasul. Allah bersumpah dengan zaman Rasul. Murtadha Muthahhari mengatakan bahwa sebetulnya zaman itu, seperti juga makan (tempat), tidak ada yang baik atau jelek. Tidak ada waktu yang mulia atau waktu yang hina. Tidak ada tempat yang suci dan tidak ada pula tempat yang kotor. Seluruh waktu sama derajatnya dan seluruh tempat juga sama derajatnya. Lalu apa yang menyebabkan satu waktu mempunyai nilai lebih tinggi dari waktu yang lain? Hal itu karena adanya peristiwa yang berkaitan dengan waktu itu. Satu tempat juga menjadi lebih mulia dari tempat yang lainnya bukan karena tempatnya itu, melainkan karena tempat itu berkaitan dengan suatu kejadian atau peristiwa.
Jika Rasulullah saw tidak turun di Mekah atau Ibrahim as tidak membangun Ka’bah di situ, maka kota Mekah itu mungkin sama nilainya dengan kota-kota lain. Mekah itu menjadi mulia karena di situ ada peristiwa besar. Waktu-waktu dalam hidup kita sama semuanya, tetapi ada waktu-waktu tertentu dalam sejarah hidup kita yang punya nilai lebih tinggi. Kita menghormati waktu tersebut, karena di dalamnya berkenaan dengan peristiwa yang sangat penting yang terjadi dalam hidup kita. Ada orang yang menganggap hari pernikahan-nya adalah hari yang sangat penting. Sehingga apabila ia melihat tanggal tersebut pada kalender, ia tersentak karena ingat bahwa tanggal itu ialah tanggal yang historis.
Mengapa kita suka memperingati hari-hari tertentu? Itu bukan karena keistimewaan harinya, tetapi karena ada peristiwa pada hari itu. Hal ini kita anggap sebagai hal yang wajar-wajar saja. Ketika orang kembali ke tempat-tempat tertentu hanya sekedar mengenang kembali peristiwa masa lalu, karena tempat itu punya makna yang tersendiri buat dirinya. Jadi, dalam hal ini makna waktu dan makna tempat itu bersifat nisbi atau relatif (bergantung pada orangnya).
Oleh karena itu, ada hari-hari yang penting buat umat Islam, tetapi tidak penting menurut umat yang lain. Ada zaman-zaman tertentu yang begitu penting menurut kelompok Islam tertentu, tetapi tidak begitu penting bagi kelompok Islam yang lain. Bagi Ahlu Sunnah misalnya, ‘Ashrush shahãbah (zaman sahabat) adalah zaman yang penting. Ke zaman itulah Ahlu Sunnah merujuk.
Surat ini diawali dengan kata Wal-’Ashr, demi masa (Rasulullah). Masa Rasulullah dianggap seluruh mazhab sebagai masa yang paling penting. Dikarenakan masa itu ialah ‘Ashrut tasyri’ (masa ditetapkannya syari’at), masa diturunkannya Al-Qur’an, dan masa dikembangkannya agama Islam. Selanjutnya Thabathaba’i menyatakan, “Inilah masa terbitnya Islam di tengah-tengah masyarakat manusia dan masa munculnya kebenaran di atas kebatilan.”

Ayat kedua menyebutkan, “Innal insãna lafi khusr” yang artinya : sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kata insan, menurut Muthahhari, mengandung penafsiran bahwa di dalam manusia itu ada dua sifat, yaitu sifat Hayawaniyah dan sifat Insaniyah (sifat-sifat kebinatangan dan sifat-sifat kemanusiaan). Manusia dalam sifat kebinatangannya sama dengan binatang yang lain, misalnya ingin makan, minum, menghindari hal yang menyakitkan, dan ingin memperoleh kenikmatan dalam hidup. Muthahhari membedakan antara istilah kenikmatan dan kebahagiaan (pleasure dan happiness). Binatang itu tidak pernah memiliki happiness, tetapi memiliki pleasure. Dari segi ini, kita pun sama halnya dengan binatang. Kalau Anda makan yang enak, Anda belum tentu bahagia, tetapi pasti Anda memperoleh pleasure (kenikmatan). Tapi misalnya jika Anda adalah seorang suami yang pergi jauh merantau dan pulang ke tanah air setelah sekian tahun, ketika Anda turun dari pesawat ke lapangan terbang, di seberang sana Anda melihat isteri dan anak Anda. Anda akan berlari dan mencium anak isteri Anda. Saat itu Anda bukan hanya merasakan pleasure, tetapi juga happiness.
Jadi apa yang membedakan kebahagiaan dengan kenikmatan? Kenikmat-an itu sifatnya hayawaniyah sedangkan kebahagiaan bersifat insaniyah.
Pada segi-segi kebinatangan, kita sama dengan mahluk-mahluk yang lain. Bahkan bila dibandingkan dengan mahluk yang lain, dalam segi jasmaniah kita adalah mahluk yang lemah, “ Wa khuliqal Insânu dha’îfâ” (QS An-Nisa 28). Manusia itu dicipta-kan dalam keadaan lemah. Manusia dan binatang ketika keluar dari perut ibunya sudah siap segala sesuatunya secara fisik. Namun, binatang ketika keluar dari perut ibunya, ia sudah berkembang hampir sempurna. Ia tidak memerlukan perkembangan yang lain kecuali perkembangan fisik. Malah dalam perkembangan fisik, binatang itu lebih cepat berkembang dan lebih kuat daripada manusia. Anak ayam, misalnya, yang baru menetas dari telur, beberapa menit kemudian sudah bisa berjalan dan berlari.
Manusia tidak demikian -kecuali Gatotkaca dalam cerita pewayangan. Walau manusia itu sudah bisa berjalan, ia belum dikatakan sebagai manusia, tetapi calon manusia. Kucing itu “menjadi kucing” karena “dibuat menjadi kucing”, tetapi manusia “tidak dibuat menjadi manusia” atau tidak otomatis menjadi manusia. Manusia harus membuat dirinya menjadi manusia. “Kekucingan atau kebinatangan” itu dibuat oleh Allah sedangkan manusia menjadikan “kemanusiaannya” oleh dirinya sendiri. Apakah manusia itu mau menjadi manusia atau tidak, bergantung kepada dirinya sendiri. Binatang memiliki sifat-sifat kebinatangannya itu tidak melalui proses belajar, tidak melalui proses perkembangan kepribadian. Kalau kucing menangkap tikus atau perilaku-perilaku lain seperti layaknya binatang, itu sudah dibuat untuk dapat berperilaku seperti itu. Tetapi manusia harus belajar untuk mengembangkan sifat-sifat kemanusiaannya. Ia harus meningkatkan dirinya dari sifat hayawaniyah kepada sifat insaniyah. Ketika Allah menyatakan innal insãna lafi khusr, maksudnya ialah bahwa manusia itu berbeda dengan binatang yang bisa memperoleh kebinatangannya tanpa melalui proses usaha. Manusia berada dalam kerugian, karena kita harus mengembangkan sifat-sifat kemanusiaan dengan keinginan kita sendiri.

Apa yang bisa mengembangkan sifat-sifat kemanusiaan itu ?
Kalau kita membandingkan binatang yang satu dengan yang lain yang sejenis, kita hanya bisa membedakan dalam segi jasmaniah. Antara kambing yang satu dengan kambing yang lain tidak begitu berbeda nilainya. Paling-paling hanya berbeda beberapa kilogram saja. Namun manusia yang satu dengan manusia yang lain nilainya bukan beberapa kilogram, nilainya kadang-kadang jauh seperti jauhnya langit dan bumi. Misalnya Abu Jahal dengan Rasulullah saw. Dari segi hayawaniyah, kedua manusia itu nilainya sama -mungkin lebih tinggi Abu Jahal beberapa kilogram- tetapi dari segi insaniyah, nilai Abu Jahal itu jauh lebih rendah daripada nilai Rasulullah saw.
Apa yang membedakan nilai seorang manusia yang satu dari manusia yang lain? Yang membedakannya adalah sejauh mana setiap orang mengembangkan nilai kemanusiaannya. Apa yang bisa mengembangkan nilai kita sebagai manusia? “Illalladzîna ãmanu wa ’amilush shãlihat”. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh. (Al-’Ashr 3). Jadi, ada dua hal yang mengembangkan nilai kemanusiaan, pertama iman dan kedua amal shaleh.
Mengapa iman? Binatang memiliki persepsi material. Jika ia mengejar kenikmatan, itu kenikmatan jasmaniah. Oleh karena itu, ia tidak punya happiness. Yang disebut kebahagiaan itu bukan yang bersifat jasmani, tetapi bersifat ruhani. Bisa jadi ada orang lapar, tetapi ia bahagia. Ada pula orang yang bergelimang dalam kenikmatan, tetapi ia tidak bahagia. Dengan imanlah manusia dapat meningkatkan derajat hayawaniyah-nya ke derajat insaniyah, dari pleasure kepada happiness. Imanlah yang dapat menghubungkan manusia dengan sifat-sifat ruhaniah atau spiritual. Karena itu, manusia tanpa iman sama dengan binatang, nilainya sangat rendah. Ia menjadi orang-orang yang mengejar pleasure bukan mengejar happiness. Manusia yang kosong dari iman adalah manusia dalam pengertian majãzi saja dan pada hakekatnya ia adalah binatang.
Kita dapat menemukan orang-orang yang memiliki nilai kebahagiaan yang sangat tinggi. Misalnya ketika Rasulullah berkata kepada Bilal, “Hai Bilal, marilah kita tenteramkan hati kita dengan shalat.” Rasul juga berkata, “Allah jadikan shalat itu sebagai penyejuk batinku.” Al-Qur’an melukiskan orang-orang seperti itu dengan “Qad aflaha man zakkâhâ. Sungguh berbahagia orang yang mensucikan dirinya” (QS. Al-Syams 9). Rasulullah pun bersabda mengenai kebahagiaan orang yang berpuasa, “Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan : ketika berbuka dan ketika ia berjumpa dengan Tuhannya.” Kebahagiaan ketika berbuka bukan karena ia mendapat makanan setelah dilaparkan. Jika demikian, apa bedanya dengan binatang yang setelah dilaparkan lalu diberi makan. Kebahagiaan di situ karena ia telah menyelesaikan puasa hari itu dengan baik. Kalau orang-orang yang berpuasa pada malam Idul Fitri meneteskan air matanya ketika mendengar alunan takbir, itu bukan kenikmatan tetapi kebahagiaan. Karena ia telah menyelesaikan satu bulan penuh dengan keberhasilan dalam melakukan puasanya.

Kemudian yang dapat meningkatkan nilai insaniyah kita adalah “a’mãlush shãlihat” (amal shaleh). Jadi nilai seorang manusia itu diukur dari iman dan amal shalehnya. Dalam Al-Qur’an dinyatakan : “Wa likullin darajâtum mim mâ ‘amilû”. Untuk setiap orang, derajat yang sesuai dengan amalnya (QS Al- An’am 132). Kalau Rasulullah diukur dari segi hayawaniyah-nya, maka beliau tergolong orang yang tidak sukses. Siti A’isyah berkata bahwa Rasulullah itu pernah berhari-hari tidak menemukan sesuatu untuk dimakan.
Menurut Muthahhari, amal shaleh itu memiliki dua ciri. Pertama, ciri asli. Sesuatu disebut amal shaleh karena memang pada zatnya sudah merupakan amal shaleh. Misalnya shalat, zakat, dan berbuat baik kepada orang lain. Kedua, ciri amal shaleh diukur berdasarkan hubungan dengan pelakunya. Misalnya shalat bisa hukumnya wajib, sunnah, malah bisa haram tergantung pada pelakunya. Contohnya seseorang shalat karena ingin dianggap hebat dan ingin dipuji. Nilai orang itu bisa jatuh dari amal shaleh menjadi amal yang jelek. Dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa apabila seseorang meminjam dengan niat untuk tidak mengembalikannya, maka Allah menilainya sebagai pencuri. Bila seseorang ketika mengucapkan ijab kabul dan dalam hatinya berniat untuk tidak membayar mas kawinnya, maka Allah menilainya sebagai pezina. Jadi perilakunya sama, tetapi karena berhubungan dengan pelakunya, maka nilainya bisa berubah.
Muthahhari mengatakan bahwa apabila seseorang menagih utang dan orang yang berhutang itu mau shalat dan mengatakan : “Nanti utang saya bayar setelah saya shalat”, maka Muthahhari menyatakan bahwa shalatnya bukan amal shaleh. Mengapa? Karena orang itu ingin segera utangnya dibayar, sementara waktu shalatnya masih ada. Maka dalam hal itu, dahulukanlah membayar utang daripada melakukan shalat. Contoh lain misalnya suatu waktu kita akan pergi shalat Jum’at, lalu kita melihat orang yang tertabrak. Kalau kita tidak menolong dan malah terus pergi shalat, maka shalat Jum’at pada saat itu bukan amal shaleh. Dalam hal ini kita harus menolong orang yang tertabrak itu dengan mengantarkannya ke rumah sakit. Karena jika kita tidak sempat shalat Jum’at, shalat Jum’at itu bisa kita ganti dengan shalat Dzuhur.
Di sini Islam menjunjung tinggi nilai-nilai kemasyarakatan daripada nilai-nilai individual. Lalu ada orang bertanya, “Bukan-kah hak Allah itu yang harus didahulukan daripada hak terhadap sesama?” Muthahhari menyatakan bahwa orang-orang yang bertanya semacam itu adalah orang-orang yang berpikiran sempit. Dia mengira bahwa hak Allah itu hanya shalat saja, padahal hak Allah juga adalah untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan di dalam waktu yang segera. Jadi amal shaleh itu bukan hanya harus sesuai dengan syari’at, tapi juga harus layak dengan pelakunya.
Muthahhari memberi contoh lebih jauh. Misalnya, ada tiga orang yang setelah dicek secara psikologis, yang satu punya bakat sastra, yang kedua berbakat teknik dan yang ketiga berbakat musik. Misalnya orang yang berbakat sastra dia tidak mau masuk jurusan sastra -karena sulit cari kerja- lalu dia memilih teknik, maka memilih teknik bagi orang itu bukan amal shaleh; karena tidak sesuai dengan predisposisinya (memaksakan diri untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan dirinya).
Sekarang ini dikembangkan sebuah alat ukur. Banyak ditemukan bahwa orang-orang cerdas yang ber-IQ tinggi, hidupnya gagal. Di Amerika hal itu sering terjadi. Para psikolog heran, mestinya orang-orang yang cerdas itu dalam hidupnya berhasil, tetapi ternyata banyak yang gagal. Persentase orang yang bunuh diri bahkan banyak dilakukan oleh orang-orang yang ber-IQ tinggi. Persentase pengidap sakit jiwa juga didominasi oleh orang-orang yang kecerdasannya tinggi. Setelah mereka selidiki, ternyata bahwa kita salah mengukur kecerdasan itu. Kita harus mengukur bukan hanya IQ, tetapi juga harus mengembangkan emotional intelegence. Intelegensi emosional ialah kemampuan mengendalikan dirinya atau kemampuan mengendalikan emosinya. Ternyata yang lebih mendorong orang sukses dalam hidup bukan IQ, tetapi emotional intelegence.
Puasa itu bukan melatih IQ, boleh jadi IQ kita ketika berpuasa malah menurun. Tetapi intelegensi emosional kita yang mungkin meningkat kalau kita berpuasa dengan benar. Iman dan amal shaleh adalah dua hal yang mengembangkan sifat insaniyah manusia secara individual. Sedangkan tawã shaubil haq wa tawã shaubish shabr (Al-’Ashr 3), adalah dua perilaku yang mengembangkan manusia secara sosial.
Nilai suatu masyarakat juga diukur dari iman dan amal shaleh. Masyarakat yang rendah adalah masyarakat yang tidak beriman dan tidak beramal shaleh atau masyarakat barbar, masyarakat biadab.

Menurut surat Al-’Ashr ini, kita punya kewajiban bukan hanya mengembangkan sifat insaniyah kita, tetapi juga kewajiban untuk mengembangkan masyarakat insaniyah atau masyarakat yang memiliki sifat kemanusiaan. Al-Qur’an menyebutkan dua caranya, yaitu “tawãshaubil haq dan tawã shaubish shabr”. Al-Qur’an tidak menggunakan kata “tanãshahû” (saling memberi nasihat), tetapi Al-Qur’an menggunakan kata “saling memberi wasiat”. Mengapa? Wasiat itu lebih dari sekedar nasihat. Nasihat itu boleh dilaksanakan boleh tidak -mungkin juga boleh didengar atau tidak- tapi kalau wasiat harus didengar dan dilaksanakan.
Pada kata tawã shau kita bukan hanya subyek, tetapi sekaligus objek. Kita bukan saja yang menerima wasiat, tetap juga yang diberi wasiat. Apa yang harus diwasiat-kan? Al-Haq dan Ash-Shabr. Sebagaimana iman tidak bisa dipisahkan dengan amal shaleh, maka Al-Haq tidak bisa dipisahkan dengan Ash-Shabr. Jadi orang tidak dikatakan beriman kalau tidak beramal shaleh dan tidak dikatakan membela kebenaran kalau tidak tabah dalam membela kebenaran itu.

Kesimpulannya, dari surat yang pendek ini Allah mengajarkan kepada kita bahwa kita berada pada tingkat yang rendah atau dalam kerugian apabila kita tidak mengembangkan diri kita dengan iman dan amal shaleh. Masyarakat kita juga menjadi masyarakat yang rendah bila kita tidak menegakkan Al-Haq dan Ash-Shabr di tengah-tengah masyarakat kita. (*)

Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Tafsir QS. Al-Baqarah : 119

"Innaa arsalnaaka bil haqqi basyiiran wa nadziiran walaa tus-alu 'an ash-haabil jahiim" (Sesungguhnya Kami telah mengutus engkau (Muhammad) dengan kebenaran sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan engkau tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang penghuni-penghuni neraka) (QS. Al Baqarah, 2:119).
Pada awal ayat ini Allah SWT menegaskan dengan menyatakan: (Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran). Pada ayat ini Allah SWT menyebut diri-Nya dengan kata, "Inna" (Kami). Ayat yang senada banyak sekali ketika Allah SWT menyebut diri-Nya dengan kata, "Kami", selain itu pula terkadang Allah menyebut diri-Nya dengan kata, "Inni"(Aku).
Perlu digarisbawahi bahwa ketika Allah menyebutkan Dzat-Nya dengan kata, "Kami", pertama, biasanya menunjukkan pada perbuatan Allah yang terjadi "tidak hanya" mewakili salah satu sifat Allah, tetapi mewakili seluruh sifat-sifat Allah. Kedua, digunakan kata, "Kami" biasanya ketika perbuatan Allah itu melibatkan makhluk-Nya walaupun si makhluk tersebut mampu berbuat karena kemampuan yang diberikan Allah, hal ini merupakan penghargaan Allah terhadap makhluk. Ketika dalam penciptaan langit dan bumi, Allah menyatakan dirinya dengan kata, "Aku", karena makhluk tidak ikut berperan. Tetapi ketika Allah berbicara perihal kesembuhan atau rezeki, maka Allah menyebutkan dirinya dengan kata, "Kami", karena ketika seseorang sembuh dari sakit ada keterlibatan makhluk (Dokter) atau sampainya rezeki di tangan seseorang juga melibatkan makhluk yang hakikatnya baik kesembuhan maupun rezeki semua datang dari Allah.
Dalam QS. Al Hijr ayat 9 dinyatakan: "Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al Qur'an dan Sesungguhnya Kami memeliharanya". Turunnya Al Qur'an tentu telah mencakup sifat Allah Yang Maha Sempurna dan juga melibatkan makhluk-Nya yakni Malaikat Jibril hingga Al Qur'an (Wahyu) bisa sampai kepada Rasul Saw. Tetapi jika Allah berbicara tentang Dzat-Nya, perihal bagaimana manusia seharusnya beribadah kepada-Nya, maka Allah selalu menyebutkan diri-Nya dengan kata, "Aku". Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah Aku dan dirikan shalat untuk mengingat-Ku" (QS. Thaahaa, 20:14). Demikian pula, ketika Allah pertama kali menciptakan manusia pertama, Adam, maka Allah menyebutkan diri-Nya dengan kata, "Aku" (QS.Al Baqarah, 2:30) karena belum ada peran makhluk, tetapi ketika Allah menciptakan anak keturunan Adam, maka Allah menyebutkan diri-Nya dengan kata, "Kami" (QS. Al Mu'minuun, 23:12-14) karena telah ada peran makhluk-Nya yakni suami-istri.
Pernyataan ayat 119 QS. Al Baqarah ini merupakan sebuah penegasan dari Allah SWT yang telah menetapkan Muhammad sebagai Rasul pembawa kebenaran yang mutlak yakni turunnya risalah Islam lewat Al Qur'an yang kebenarannya mutlak berlaku hingga akhir zaman. Ketika kita berhadapan dengan kebenaran yang mutlak, maka kita harus yakin. Jika dalam diri seseorang masih saja ada pertanyaan "mengapa", berarti dia masih tidak yakin.
Dalam lanjutan ayat dinyatakan: "Basyiiran wa nadziiran" (Kabar gembira dan peringatan). Rasulullah Saw bertugas membawa kebenaran (Al Qur'an) yang isi dari kebenaran tersebut berupa "berita". Adapun beritanya bisa berupa yang menyenangkan (Basyiira) dan bisa juga berita yang tidak menyenangkan (Nadziira). Bagi orang-orang yang mengimani Allah dan risalah-Nya serta menjalankan risalah-Nya dalam kehidupannya maka dia berhak untuk disenangkan oleh Allah dengan berita-berita yang menyenangkan. Sedangkan bagi orang-orang yang kafir juga mendapatkan berita yakni tentang kehidupan mereka di neraka. Setelah manusia mendapatkan berita tersebut, maka terserah manusia untuk memilihnya. Rasul hanya bertugas menyampaikan berita tersebut.
Maka pada penghujung ayat dinyatakan: "Walaa tus-alu 'an ash-haabil jahiim" (Dan engkau (Muhammad) tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang penghuni-penghuni neraka). Allah SWT pada ayat ini mengingatkan Rasul Saw bahwa setelah menyampaikan kepada manusia tentang berita tersebut, maka selesailah tugas Rasul Saw. Beliau tidak akan dituntut oleh sebab orang-orang yang tidak mau mengikuti ajakannya. Pada ayat lain pun Rasul diingatkan : "Maka boleh jadi engkau (Muhammad) membinasakan dirimu karena dukacita atas kelakuan mereka jika mereka tidak beriman dengan Al Qur'an ini" (QS. Al- Kahfi, 18:6). Juga dalam firman-Nya: "Tidaklah kewajiban atasmu menjadikan mereka mendapat petunjuk akan tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki" (QS. Al Baqarah, 2:272). Dan dalam firman-Nya pula: "Boleh jadi engkau (Muhammad) hendak membinasakan dirimu (karena mereka tidak beriman), jika Kami menghendaki, niscaya Kami turunkan kepada mereka suatu ayat dari langit, makajadilah tengkuk-tengkuk mereka tunduk kepadanya" (QS. Asy Syu'araa, 26:3-4). Dimaksudkan jika Allah menghendaki maka dapat saja Allah menjadikan manusia itu semua beriman dengan terpaksa, yang dikehendaki Allah SWT adalah manusia beriman atas kesadarannya sendiri tanpa ada paksaan (QS.Al Baqarah, 2:256).
Pada ayat selanjutnya dinyatakan: "Walan tardhaa 'ankal yahuudu wa-lan nashaaraa hattaa tattabi'a millatahum qul inna hudallaahi huwal hudaa wa la init taba'ta ahwaa-ahum ba'dal ladzii jaa-aka minal 'ilmi maa laka minallaahi miw waliyyiw wa laa nashiir" (Tidak akan pernah ridha terhadapmu (Muhammad) orang-orang Yahudi dan juga "tidak pula" orang-orang Nashara sampai kamu mengikuti keyakinan atau ajaran mereka. Katakanlah, sesungguhnya hidayah atau petunjuk Allah ialah yang sebenar-benarnya petunjuk. Jika kamu mengikuti hawa-hawa nafsu mereka setelah datang ilmu pengetahuan kepadamu, maka tidak ada hak bagimu menjadikan Allah sebagai pelindung dan penolong bagimu" (QS. Al Baqarah, 2:120).
Sebab turunnya ayat ini, diriwayatkan bahwa saat itu orang-orang Yahudi sering mendatangi Rasulullah Saw dengan ungkapan : "Berilah kami petunjuk tentang ajaran yang kamu bawa wahai Muhammad, sehingga dengan petunjuk atau keterangan darimu, kami akan mempertimbangkan apakah kami nanti akan beriman atau tidak". Hanya Allah Yang Maha Mengetahui isi hati mereka, maka turunlah ayat ini untuk mengingatkan Nabi Muhammad Saw bahwa sesungguhnya kedatangan mereka itu tiada lain kecuali berkehendak hanya ingin bersendau-gurau atau mempermainkan saja. Mereka "tidak akan pernah" rela, ikhlas atau ridha kecuali kalau Nabi Muhammad Saw mau meyakini apa yang menjadi keyakinan mereka. Jadi, tidak ada istilah mereka bermaksud untuk mencari kebenaran, maka Allah SWT mengingatkan, "hattaa tattabi'a millatahum" (Sampai kamu sendiri mengikuti aturan atau pedoman hidup mereka).
Jika ayat ini kita cermati, paling tidak, ada "dua" kali pengulangan kata nafi, "la". Penafikan pertama adalah pada kata, "wa lan tardhaa 'ankal yahuudu" (Tidak akan pernah ridha kepadamu (Muhammad) orang-orang Yahudi). Sedangkan penafian kedua adalah pada kata, "wa lan nashaaraa" (Dan "tidak pula" orang-orang Nashara). Menurut kaidah bahasa, sebenarnya cukup saja dikatakan dengan "wau" (dan) tanpa harus ada pengulangan kata nafi, "la". Sehingga ayatnya akan berbunyi, "wa lan tardhaa 'ankal yahuudu wa nashaaraa" (Tidak akan pernah ridha kepadamu orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashara). Tapi, dengan pengulangan kata nafi, "la", maka ayatnya berbunyi, "Tidak akan pernah ridha kepadamu orang-orang Yahudi dan "tidak pula" orang-orang Nashara".
Pertanyaannya, kenapa harus ada kata, "tidak pula", apakah tidak cukup dengan kata "wau" (dan) saja ? Sebab, kalau tidak memakai kata, la, lantas cukup dengan kata, wau (dan) maka akan bermakna lain. Sedangkan kata, 'dan', itu biasanya dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa kalimat yang berikutnya itu sama dengan atau mengikuti kalimat yang disebut sebelumnya. Padahal tidak ridhanya orang-orang Yahudi belum tentu sama dengan tidak ridhanya orang-orang Nashara. Sangat dimungkinkan pada suatu ketika yang satu ridha dan yang satu lagi tidak ridha dalam satu hal atau kedua-duanya sama-sama tidak ridha atau sama-sama tidak senang. Dalam bentuk ketidakridhaannya pun bisa berbeda-beda, karena itu perlu penegasan dengan 'dua' kali penafian, baik terhadap orang Yahudi yang tidak ridha maupun juga terhadap orang Nashara yang sama-sama tidak akan ridha pula.
Memang, terkadang orang Yahudi dan Nashara bisa saja satu suara dalam menghadapi orang Islam, tapi terkadang pula timbul pertentangan di antara mereka. "Dan orang-orang Yahudi berkata: 'Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan', dan orang Nasrani berkata: 'Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan, padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab" (QS. Al Baqarah, 2 : 113). Di sini akhirnya di antara mereka memang saling tuduh, tapi tatkala mereka menghadapi Islam ternyata mereka bisa satu irama. Karenanya, Allah SWT kemudian mengingatkan dengan menyebut "dua" kali kata nafi, "la". Ini dimaksudkan untuk meyakinkan kepada kita bahwa kedua-duanya akan sama-sama, walaupun bentuknya sangat mungkin berbeda dalam ketidakridhaannya. Demikian pula, Allah SWT mengingatkan kita bahwa ridha atau senangnya mereka hanya satu yaitu ketika kita mengikuti apa yang menjadi millah atau kecenderungan mereka. Inilah watak asli mereka.
Dalam lanjutan ayat, Allah SWT memberikan petunjuk kepada Rasulullah Saw untuk mengatakan kepada mereka, "Qul" (Katakanlah) wahai Muhammad kepada mereka, "Inna hudallaahi huwal hudaa" (Sesungguhnya petunjuk Allah itu adalah petunjuk yang sebenarnya). Arti di balik pernyataan ini adalah bahwa semua selain Islam yang telah disampaikan oleh Rasulullah Saw tersebut bukanlah petunjuk dari Allah. Ini merupakan sebuah jawaban sekaligus penegasan yang menunjukkan bahwa apa yang disampaikan dan diyakini oleh Rasulullah Saw dan diajarkan kepada ummatnya itulah petunjuk dari Allah. Artinya, selain itu bukanlah petunjuk dari Allah.
Pertanyaannya, lantas apa yang disebut dengan hudan atau hidayah itu ? Hidayah adalah sesuatu yang membuat seseorang bisa mencapai tujuan dengan menempuh jalan sesingkat mungkin. Dan, itulah yang dimaksud dengan "shiraathal mustaqiim" (Jalan yang lurus). Yakni jalan yang mengantarkan kita secara cepat untuk bisa mencapai tujuan. Memang, tidak menutup kemungkinan masih banyak jalan-jalan lain yang diyakini oleh manusia, tetapi itu bukanlah "hudallaah". Di sini lebih jelas lagi, kenapa Rasulullah Saw harus mengatakan, "inna hudallaahi wal huda". Apakah yang bukan hudallah itu bukan hudan ? Tetapi yang betul-betul hudan itu adalah hanyalah hudallah, yakni hidayah yang datang dari Allah. Dialah yang akan bisa mengantarkan seseorang untuk mencapai tujuan. Artinya petunjuk-petunjuk yang lain itu tidak akan pernah bisa mengantarkan seseorang untuk bisa mencapai tujuan. Seorang mu'min mesti meyakini bahwa petunjuk yang bisa mengantarkan seseorang kepada tujuannya itu harus petunjuk dari Allah.
Dalam lanjutan ayat, kembali Allah SWT memperingatkan kita dengan menyatakan, "wa la init ta-ba'ta ahwaa-ahum" (Seandainya kamu mengikuti hawa-hawa nafsu mereka). Pernyataan ini bermakna, Allah SWT menunjukkan kepada kita bahwa "millah" atau kecenderungan atau pedoman hidup yang mereka yakini sebagai ajaran atau keyakinan itu sebenarnya berisi hawa-hawa nafsu mereka. Kata, "hawa", dalam Islam yang dalam bahasa Arab didefinisikan sebagai sesuatu yang diinginkan oleh jiwa atau diri seseorang secara bathil, tidak benar atau jauh dari kebenaran. Maka, dalam konteks ayat ini jelaslah bagi kita bahwa batillah semua "millah" atau jalan, baik jalan yang ada di dalam Yahudi maupun Nasrani setelah datang kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw.
Pada penghujung ayat, Allah SWT memberikan peringatan keras kepada kita, bahwa jika kita masih mau mengikuti hawa-hawa nafsu mereka, maka tidak ada hak bagi kita menjadikan Allah sebagai pelindung dan penolong kita. Peringatan keras ini hendaknya menjadikan diri kita senantiasa berhati-hati atau waspada dalam mengarungi kehidupan ini, khususnya dalam menghadapi segala tipu daya Yahudi dan Nashara yang akan mengajak kita ke arah kecenderungan hawa-hawa nafsu mereka sehingga kita menjadi orang yang rugi.
Sebuah hikmah tentunya bisa kita petik, bahwa sebab turunnya ayat ini diawali oleh kehendak atau keinginan orang-orang Yahudi untuk berdialog dengan Nabi. Walaupun dialog tersebut tertuju kepada Nabi Muhammad, tentunya hal ini dimaksudkan sebagai peringatan kepada kita sebagai ummatnya. Bahwa dialog dalam bentuk apa pun yang dikehendaki mereka, pada umumnya akhirnya mereka tidak akan pernah rela atau ridha juga kecuali kita harus mau mengikuti hawa-hawa nafsu mereka.
Sebuah keniscayaan pula tentunya bagi kita, bahwa tidaklah cukup aman atau selamat bagi kehidupan dunia dan akhirat kita manakala kita tidak mau membuka selimut kepedulian kita untuk membela saudara-saudara kita dari ancaman pemurtadan yang dilancarkan oleh Yahudi dan Nashara. Kini, tiba saatnya bagi kita untuk berjuang, berkorban, berjihad di jalan Allah untuk bersama-sama dalam satu barisan yang rapi untuk melawan musuh-musuh Allah. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, hidayah dan 'inayah-Nya kepada kita sekalian.

Wallaahu a'lamu bish-shawaab.
Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Keutamaan Al-Fatihah


Arti Al-Fatihah
Disebut sebagai surat Al-Fatihah maknanya adalah pembuka kitab secara tertulis. Dengan surat inilah dibukanya bacaan dalam shalat. Surat ini disebut juga ummul kitab (induk al-Qur’an) berdasarkan pendapat jumhur ulama.
At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dan ia menshahihkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Alhamdulillaahi Rabbil’aalamin adalah Ummul Qur’aan, Ummul Kitaab dan as-Sab’ul Matsaani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) dan al-Quraanul ‘Azhiim.”
Surat Al-Fatihah disebut juga al-Hamdu dan ash-Shalah, berdasarkan sabda Rasulullah saw, ketika meriwatkan dari Rabb-Nya, Allah Swt berfirman : “Aku membagi ash-Shalaah antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Jika seseorang hamba mengucapkan ‘Alhamdulillahi Rabbil’aalamin, maka Allah Ta’ala berfirman :”Hamba-Ku telah memuji-Ku.”
Surat Al-Fatihah disebut sebagai ash-Shalaah karena termasuk syarat sahnya shalat. Surat Al-Faatihah disebut Ar-ruqyah berdasarkan hadits Abu Sa’id ketika sedang meruqyah seorang anak laki-laki yang terkena sengatan binatang berbisa dengan surat ini, maka Rasulullah SAW bersabda : “Tidakkah engkau tahu bahwa al Fatihah itu Ruqyah.”

Mengapa dinamakan Ummul Kitaab ?
Al-Bukhari berkata di awal kitab tafsir : Disebut Ummul Kitaab karena Al-Fatihah ditulis pada permulaan Al-Qur’an dan dibaca pada permulaan shalat.
Imam Ahmad meriwatkan dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW bahwa beliau berkata tentang Ummul Qur’an : “ Dia adalah Ummul Qur’an, dia adalah as-Sab’ul Matsani dan dia adalah Al-Qur’anul ‘azhim”
Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari meriwayatkan dari abu Hurairah ra dari Rasulullah SAW beliau bersabda :
“ ia adalah Ummul Qur’an, ia adalah faatihul kitaab dan ia adalah as-Sab’ul Matsani.”

Keutamaan Al-Fatihah
Imam Ahmad bin Hanbal ra, meriwayatkan dalam Musnadnya dari Abu Sa’id bin Al- Mu’alla ra ia berkata “ aku pernah mengerjakan shalat, kemudian rasulullah memanggilku, tetapi aku tidak menjawabnya hingga aku menyelesaikan shalat. Setelah itu aku mendatangi beliau, maka beliau bertanya : apa yang menghalangi untuk datang kepadaku ? maka aku menjawab : wahai Rasulullah, sesengguhnya tadi aku sedang mengerjakan shalat. Lalu beliau bersabda : bukanlah Allah SWT berfirman : hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada apa yang memberi kehidupan kepadamu (QS.Al-Anfaal : 24)
Hadits lain diriwayatkan oleh Bukhari dalam fadhaa-ilul Qur’an dari Abu Sa’id Al-Khudri ra : kami pernah melakukan perjalanan lalu kami singgah, kemudian datanglah seorang budak wanita seraya berkata : sesungguhnya kepala suku kami tersengat, dan orang-orang kami sedang tidak ada di tempat, apakah diantara kalian ada yang bisa meruqyah? Maka berangkatlah bersamanya seorang laki-laki yang kami tidak pernah menyangka bahwa ia bisa meruqyah. Kemudian ia membacakan ruqyah dan kepala suku itu pun sembuh. Lalu kepala suku itu memerintahkan agar ia diberi tiga puluh ekor kambing dan kami diberi minum susu. Setelah kembali kami bertanya kepadanya : apakah engkau memang pandai dan biasa meruqyah ?. Maka ia menjawab : aku tidak meruqyah kecuali dengan ummul kitaab (Al-Fatihah). Kami katakan : ”jangan melakukan apapun hingga kita menemui Rasulullah dan menanyakan hal itu kepada beliau. Sesampainya di Madinah kami menceritakan hal itu kepada Nabi SAW maka beliau bersabda : ”Bagaimana ia tahu bahwa surat Al-Fatihah itu adalah ruqyah ?”. Bagi-bagilah kambing itu dan berikan satu bagian kepadaku”
(Ringkasan Shahih Tafsir Ibnu Katsir jilid 1, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor 2008).

Banyak keuntungan yang kita dapatkan dari membaca, memahami, mengamalkan dengan hati yang ikhlas surat Al-Fatihah itu secara keseluruhan..
1. Surat Al-Fatihah dapat dijadikan bacaan dalam penyembuhan penyakit gigitan serangga dan sebagainya (Ruqyah)
2. Surat Al-Fatihah dapat menjadi bacaan dalam mengobati penyakit hati, keresahan, karena tipisnya keimanan.
3. Surat Al-Fatihah mencakup Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah.
4. Surat Al-Fatihah merupakan doa dan permohonan kepada Allah SAW agar selalu berada dalam lindungan-Nya dan dalam hidayah-Nya sehingga dapat menempuh jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Tafsir QS. At-Tiin


Terjemahan Surat At-Tiin :

1. Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun[1587]

2. Dan demi bukit Sinai[1588]

3. Dan demi kota (Mekah) Ini yang aman

4. Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya

5. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)

6. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.

7. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?

8. Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?

[1587] Yang dimaksud dengan Tin oleh sebagian ahli tafsir ialah tempat tinggal nabi Nuh, yaitu Damaskus yang banyak pohon Tin; dan Zaitun ialah Baitul Maqdis yang banyak tumbuh Zaitun.

[1588] Bukit Sinai yaitu tempat nabi Musa a.s. menerima wahyu dari Tuhannya.

Isi kandungan :

Surat At-Tiin (surat yang ke 95) terdiri dari 8 ayat, turun setelah surat Al-Buruuj. Surat At-Tiin termasuk ke dalam kelompok surat Makkiyah karena turun sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke kota Madinah. Nama surat ini diambil dari kata at-tiin yang terdapat pada ayat pertama yang berarti buah tin.

Isi kandungan QS. At-Tiin adalah sebagai berikut :

1. Buah tin dan zaitun merupakan kinayah (ungkapan) tentang Damaskus (tempat diutusnya Nabi Nuh as) dan Baitul Maqdis (tempat diutusnya Nabi Isa as).

2. Bukit Sinai yaitu sebuah gunung (bukit) tempat Allah berbicara langsung kepada Nabi Musa as.

3. Yang dimaksud dengan negeri yang aman adalah Kota Mekkah. Allah bersumpah dengan tiga tempat tersebut sebagai isyarat perintah untuk mengetahui dan mempercayai turunnya wahyu Allah kepada para Ulul ‘Azmi dari kalangan Rasul

4. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling baik diantara makhluk lainnya, baik secara jasmaniah maupun rohaniah. Ia dapat berdiri tegak, berbicara, berilmu, mengatur lagi bijak. Hal itu disebabkan manusia dibekali dengan akal pikiran dan hati yang dapat berfungsi dengan baik. Sehingga memungkinkan bagi manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi ini.

5. Manusia akan berubah menjadi makhluk yang hina dan rendah derajatnya di hadapan Allah apabila ia tidak bersyukur, selalu bermaksiat, dan tidak mentaati perintah Allah SWT. Tempat kembalinya adalah neraka yang menyengsarakan.

6. Manusia yang akan selamat dari kehinaan adalah orang yang beriman dengan sungguh-sungguh dan membuktikannya dengan ibadah dan amal shaleh. Mereka akan mendapatkan pahala yang tidak ada putus-putusnya, yaitu balasan surga dengan segala kenikmatannya dan kekal di dalamnya.

7. Melalui Rasulullah sebagai pembawa risalah dan uswatun hasanah, kita menjadi tahu tentang ajaran Islam. Kita tidak boleh mendustakan ajaran yang dibawa oleh beliau, karena mendustakan ajarannya berarti sama saja mendustakan Allah dan balasannya adalah neraka.

8. Allah adalah hakim yang paling adil, manusia akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang telah diusahakannya salama hidup di dunia. Jika baik amalnya maka akan dibalas dengan kebaikan pula yaitu surga dan ridho-Nya, dan jika buruk amalnya maka akan mendapat balasan yang buruk pula yaitu neraka dan murka-Nya.


Oleh : Zaenal Muttaqin Noor

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaana-Ka Allaahumma wabihamdi-Ka asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta astaghfiru-Ka waatuubu ilai-Ka.
Powered by Blogger