Membentengi diri dari Setan

Berikut beberapa cara yang sesuai dengan Syariat Islam, untuk membentengi rumah dan penghuninya dari gangguan setan, semoga Allah menjaga kita dari kejahatan dan tipu dayanya.

1. Berdoa ketika hendak masuk rumah dan makan
Diriwayatkan dari sahabat Jabir ra, ia mendengar Nabi SAW bersabda : “Apabila seseorang hendak memasuki rumah, kemudian ia berdo’a ketika masuk rumah dan berdo’a ketika makan, maka setan mengatakan : ‘tidak ada tempat menginap dan makan malam untuk kalian’. Sebaliknya apabila ia memasuki rumah tanpa do’a, maka setan mengatakan : ‘Ada tempat menginap bagi kalian’, begitu pula apabila ia tidak berdo’a ketika makan malam, maka setan mengatakan : ‘Tersedia tempat menginap dan ada jatah makan malam untuk kalian.” (HR. Muslim)

2. Berdoa ketika masuk kamar kecil (toilet)
Sahabat Anas bin Malik berkata : dahulu Nabi SAW ketika hendak masuk kamar kecil (toilet) membaca do’a yang artinya : “Semoga Allah melindungiku dari setan laki-laki dan setan perempuan.“ (Muttafaqun Alaih).

3. Membersihkan rumah dari anjing dan gambar
Diriwayatkan dari sahabat Abu Tholhah, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Malaikat tidak akan masuk rumah yang ada anjing dan gambarnya.” (Muttafaqun Alaih)
Juga sebagaimana sabdanya : “Para malaikat tidak akan masuk rumah yang ada gambarnya.” (HR. Muslim).
Nabi SAW juga bersabda : “Anjing hitam adalah setan” (HR. Muslim).
Akan tetapi ada keringanan untuk anjing pemburu dan anjing penjaga, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Barangsiapa memelihara anjing -kecuali anjing pemburu dan anjing penjaga- maka pahalanya akan berkurang dua qiroth setiap harinya.” (Muttafaqun Alaih).

4. Membersihkan rumah dari salib
Siti Aisyah mengatakan : “Nabi SAW tidak pernah membiarkan ada salib di dalam rumahnya, kecuali beliau merusaknya.” (HR. Bukhori).

5. Membersihkan rumah dari lonceng
Lonceng di sini mencakup bell yang berbau musik, ataupun bell yang suaranya mirip lonceng gereja, karena Rasulullah SAW bersabda : “Lonceng adalah alunan setan.” (HR. Muslim).

6. Menjauhkan rumah dari musik dan lagu
Lagu adalah suara dan alunan setan, Allah ta’ala berfirman (ketika menyuruh setan) :
“Perdayakanlah siapa saja -diantara mereka- yang kau (iblis) sanggupi dengan suaramu (yang memukau).” (QS. Al-Israa’ : 64).
Mujahid (seorang ahli tafsir) menerangkan bahwa yang dimaksud dengan suara setan di ayat ini adalah hiburan dan lagu.
Allah SWT juga berfirman : “Diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan lahwul hadits (perkataan kosong) untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah.” (QS. Luqman : 6).
Sahabat Ibnu Mas’ud mengatakan : maksud dari lahwul hadits dalam ayat tersebut adalah nyanyian.

7. Menutup pintu, menutup wadah, dan memadamkan lentera

Hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Jabir ra : Rasulullah SAW bersabda : “Tutuplah pintu-pintu, dan sebutlah nama Allah, karena sesungguhnya setan tidak akan membuka pintu yang tertutup. Balikkanlah tempayan-tempayanmu dan sebutlah nama Allah, tutuplah wadah-wadahmu dan sebutlah nama Allah, agar tidak dimasukkan apa-apa padanya, serta padamkanlah lentera-lenteramu.”(HR. Muslim).

8. Memadamkan api sebelum tidur

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Jangan biarkan api menyala di rumah, ketika kalian sedang tidur.”(Muttafaqun Alaih).
Jangan tidur sampai pagi (tapi bangunlah untuk sholat malam)
Sahabat Ibnu Mas’ud ra berkata : Nabi SAW pernah dilapori ada orang yang tidur malam sampai pagi (sehingga tidak sholat malam, subuh), maka beliau bersabda: “Itu adalah orang yang dikebiri setan di kedua telinganya.”(Muttafaqun Alaih).

9. Jangan biarkan setan anda menjadi gemuk
Yaitu dengan menyia-nyiakan nikmat dan membuang makanan di sampah, karena sahabat Jabir ra meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda : “Apabila suapanmu jatuh maka ambillah, singkirkan kotoran yang ada padanya kemudian makanlah, jangan sampai ia sisakan untuk makanan setan.”(HR. Muslim).

10. Shalat sebagai pelindung dari gangguan setan
Shalat tersebut adalah shalat shubuh, karena sabda Rasulullah SAW : “Barangsiapa shalat shubuh maka ia dalam jaminan Allah, maka jangan sampai Allah menuntutmu karena kamu meninggalkan kewajiban. Karena barangsiapa yang demikian, niscaya Allah akan menemukannya dan menyungkurkan wajahnya ke dalam neraka Jahannam.” (HR. Muslim).

11. Surat al-Baqoroh bisa mengusir setan dari rumah
Surat ini merupakan benteng yang kuat untuk mengusir setan dari rumah, sebagaimana keterangan Nabi SAW dalam sabdanya : “Janganlah kalian jadikan rumah-rumahmu seperti kuburan, karena sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-baqoroh di dalamnya.” (HR. Muslim)

Rasulullah SAW juga bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT telah menulis kitab-Nya sejak 2000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, dan menurunkan dengannya dua ayat yang menjadi penutup surat Al-Baqarah. Rumah yang dibacakan dua ayat tersebut tidak akan didekati oleh setan selama tiga hari.” (HR. Hakim, ia menshohihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).

12. Membaca Ayat Kursi sebelum tidur

“Barangsiapa yang membacanya (sebelum tidur) akan selalu dalam penjagaan Malaikat Allah, dan setan tidak akan mendekatinya hingga pagi tiba.” (HR. Bukhori)

Semoga risalah ini bermanfaat untuk kita semua. Beruntung yang sempat membacanya dan semoga lebih beruntung bagi yang mau menyampaikan dan mengamalkannya.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Ummat Akhir Zaman

Kondisi ummat Islam zaman sekarang ini sangatlah memprihatinkan. Banyak diantara kita yang tidak menganggap penting ajaran agama. Agama haq yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah mudah sekali dilalaikan sehingga terkadang menjadi sesuatu yang mahjur (ditinggalkan) sama sekali. Hal ini pernah diisyaratkan oleh Nabi Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dalam sebuah sabdanya, "Islam muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali sebagaimana ia muncul dalam keadaan asing. Maka beruntunglah orang-orang yang asing". [HR. Muslim dalam Kitab Al-Iman (232)].
Keadaan seperti ini diantaranya disebabkan oleh kurangnya perhatian kita kaum muslimin terhadap agama dan sunnah-sunnah Rasulullah SAW, serta kurang mendakwahkannya karena berbagai kesibukan dunia yang memalingkan kita. Disamping itu kita juga kurang perhatian terhadap majlis-majlis ilmu (majlis ta’lim), bahkan terkadang sengaja atau tidak seperti terkesan menjauhinya. Akibatnya, agama dan sunnah Rasulullah SAW terasa asing dan aneh dalam kehidupan kita.
Memang kadang kita sempat mendatangi majlis ta’lim, namun ketika kita sudah hadir di dalamnya, nampaklah pada diri kita raut wajah lelah, tidak bersemangat, loyo dan tidak bergairah untuk menimba ilmu. Sepertinya yang menjadi tujuan adalah hanya sekedar hadir (yang penting hadir). Maka tidaklah heran ketika sudah berada di dalam majlis ta’lim, muncullah bermacam-macam sikap dan keadaan kita. Ada yang asyik bercerita dan bercanda dengan temannya, sehingga mengganggu majlis. Ada yang sengaja duduk di belakang untuk sembunyi. Ada juga yang mengantuk, bahkan tertidur pulas seolah tidak ada beban. Jika terasa mengantuk dan tertidur ia menyembunyikan wajahnya di balik punggung kawannya. Pada keadaan lain kadang kita mau menghadiri majlis ta’lim, tetapi kita pilah-pilih pembicara yang sesuai dengan selera kita. Jika pembicaranya menghibur, banyak menarik canda tawa kita betah berlama-lama di dalam majlis. Tetapi jika pembicaranya serius berbicara tentang penekanan pentingnya aqidah, hukum Islam, akhlaq seolah menjadi suasana yang menjemukan.
Namun jika yang kita dengar adalah hal keuntungan duniawi, serta merta mata kita sontak terbelalak. Bahkan perasaan mengantuk sedikitpun tidak ada. Mengapa yah…? Apakah karena keuntungan duniawi lebih nyata bisa diraih dalam waktu dekat daripada kesenangan akhirat yang masih bersifat ghaib ? Betul sekali, dunia ini adalah nikmat anugerah yang Allah SWT berikan kepada kita. Namun janganlah dunia ini dijadikan sebagai tujuan hidup dan pusat perhatian kita. Dunia seyogyanya merupakan bagian yang diambil sekedar sebagai bekal perjalanan menuju Allah SWT. Allah SWT tidak memberikan nikmat dan anugerah kepada seorang hamba-Nya, kecuali agar nikmat itu dijadikan sebagai alat dan sarana untuk beribadah dan beramal sholeh untuk mengharap ridha dan pahala-Nya. Dunia dengan segala nikmatnya bukanlah merupakan tujuan akhir bagi seorang muslim. Akan tetapi merupakan tempat persinggahan mengambil bekal menuju perjalanan akhir pada kehidupan yang sebenarnya yaitu kehidupan akhirat yang ada awalnya dan tiada akhirnya. Fenomena berlombanya kaum muslimin dan kebanyakan manusia dalam memperbanyak harta benda dan fasilitas kesenangan duniawi -sehingga membuat kita lupa terhadap agama- merupakan sebab-sebab terjadinya banyak kemaksiatan dan kemunkaran. Jika semakin hari semakin tersebar kemaksiatan dan bertambah banyak kemunkaran, maka ketahuilah bahwa ini adalah salah satu diantara ciri dan tanda-tanda dekatnya Hari Kiamat. Nabi SAW bersabda :
“Diantara tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu, dan kokohnya (banyaknya) kemaksiatan atau kejahilan”. [HR. Al-Bukhori (80), Muslim (2671)].
Di akhir zaman nanti, sebelum datangnya hari kiamat akan ada hari-hari yang di dalamnya turun dan tersebar kemaksiatan/ kejahilan yang disebabkan oleh malasnya manusia dan enggannya mendakwakan agama dan sunnah-sunnah Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Sesungguhnya di depan hari kiamat ada hari-hari yang kejahilan diturunkan di dalamnya, dan ilmu diangkat”. [HR. Al-Bukhori (6654)].
“Zaman akan saling mendekat, diangkatnya ilmu, munculnya berbagai fitnah (masalah), diletakkan kerakusan, dan banyaknya peperangan”. [HR. Al-Bukhoriy (989) dan Muslim (157)]
Kejahilan dan kemaksiatan yang memasyarakat di negeri kita bukan hanya dilakukan oleh rakyat jelata yang tak berpendidikan agama, bahkan juga dilakukan oleh kaum terpelajar dan kelompok elit. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi SAW, “Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan sekali mencabutnya dari manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mematikan para ulama’ sehingga apabila Allah tidak menyisakan lagi seorang ulama’pun, maka manusiapun mengangkat pemimpin-pemimpin yang jahil. Mereka (para pemimpin tersebut) ditanyai, lalu merekapun memberikan fatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (manusia)” .[HR.Al-Bukhory (100) dan Muslim (2673)]
Al-Imam Abu Zakariya An-Nawawiy -rahimahullaah- berkata ketika menjelaskan makna hadits di atas, "Hadits ini menjelaskan maksud tercabutnya ilmu dalam hadits-hadits lalu yang mutlak (umum), bukan menghapusnya dari dada para penghafal (pemilik) ilmu itu. Akan tetapi maknanya, para pembawa ilmu itu (yakni para ulama) akan mati. Lalu manusia mengangkat orang-orang jahil (sebagai pemimpin dalam agama). Orang-orang jahil itu memutuskan perkara berdasarkan kejahilan-kejahilannya. Lantaran itu ia sesat, dan menyesatkan orang". [dalam Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim ibn Al-Hajjaj]
Nabi SAW bersabda : "Sesungguhnya akan ada beberapa kaum dari ummatku akan menghalalkan zina, kain sutra, minuman keras (khomer), dan musik". [HR. Al-Bukhori dalam Kitab Al-Asyribah (5590)]
Realita ummat hari ini membuat dahi kita berkerut dan akal dalam kepala kita berpikir berulang-ulang karena kemaksiatan dan kejahilan sudah ada dimana-mana, tak pelak lagi jika banyak menimbulkan berbagai masalah. Maka tidaklah heran jika terkadang ada sunnah Nabi SAW yang ingin diamalkan di zaman ini, kita seolah merasakannya sebagai suatu yang asing, ada yang berusaha menolaknya, menganggapnya bukan dari Islam, malah berani mengumpat dengan perkataan bid'ah, sesat dan khurafat !!! Bahkan memusuhi dan menyakiti sebagian hamba-hamba Allah SWT yang istiqamah mengamalkannya.
Jika ummat Islam semakin sibuk dengan dunia, sibuk dengan peternakan, pertanian, perdagangan -apalagi riba- sehingga lupa mempelajari agama dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka Allah SWT akan timpakan kehinaan. Inilah kehinaan yang tak mungkin akan tercabut dari tubuh ummat kecuali mereka mau kembali kepada agamanya dengan ilmu agama yang benar dan berguna. Nabi SAW bersabda :
"Jika kalian berjual-beli dengan cara ‘inah (salah satu bentuk riba), kalian memegang ekor-ekor sapi, ridho dengan bercocok tanam, dan meninggalkan jihad (dakwah), maka Allah akan menimpakan kepada kalian suatu kehinaan yang tak akan dicabut oleh Allah sampai kalian kembali kepada agama kalian". [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (3462)].
Keasyikan dan sibuk dengan dunia menyebabkan kita semakin bertambah cinta kepadanya, dan takut kepada mati menghadap Allah SWT. Seakan-akan kita mengharapkan diri dan harta benda yang melalaikan kita agar kekal di dunia, tanpa menghadapi hisab di akhirat nanti. Abu Hurairah -radhiyallaahu ‘anhu- berkata, Rasulullah SAW bersabda : "Hampir saja ummat-ummat saling memanggil (menyerang) menuju kalian sebagaimana orang-orang yang mau makan saling memanggil kepada nampannya". Ada yang bertanya, "Apakah karena kita sedikit saat itu ?" Beliau bersabda, "Bahkan kalian saat itu banyak, tapi kalian adalah buih laksana buih ombak. Allah benar-benar akan mencabut perasaan segan terhadap kalian dari dada musuh kalian. Allah akan mencampakkan kelemahan dalam hati kalian". Ada yang bertanya, "Apa kelemahan itu?" Beliau menjawab, "Cinta dunia, dan takut mati".[HR. Abu Dawud dalam Kitab Al-Malahim (4297)] .

Wahai kaum muslimin… Marilah kita luruskan aqidah kita, mantapkan ilmu diin kita, kemudian berlomba-lombalah dalam menggapai mahabbah-Nya dan berusaha mendasarkan apapun yang kita kerjakan dengan niat ibadah mengharap ridha dan pahala dari Allah SWT. Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua. Amiin yaa Rabbal’aalamiin.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Nafsu Manusia

Nafsu manusia kadang seperti air. Tak pernah berhenti untuk selalu mengalir. Selama masih ada celah, di situlah air mengalir. Bedanya dengan air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah, nafsu terus mengalir ke arah sebaliknya. Manusia bisa dibilang makhluk yang jarang cepat puas. Selalu saja ujung dari sebuah pencarian lagi-lagi bertemu pada satu titik : KURANG. Keadaan itu sama persis seperti orang yang selalu mendongak ke atas. Dan lengah untuk menatap ke bawah. Itulah sebabnya mengapa orang tanpa sadar kehilangan daya peka. Kepekaannya dengan lingkungan sekitarnya menjadi tumpul. Bahkan mungkin, di tengah hiruk pikuknya mengejar yang di atas, tanpa terasa (disadari) kalau yang di bawah terinjak-injak. Jadi, pisau kepekaan bukan sekadar tumpul, bahkan sudah berkarat sama sekali.
Orang menjadi tidak mampu menyelami apa yang terjadi di sekelilingnya. Sulit merasakan kalau di saat kita terlelap dalam keadaan kenyang, sejumlah tetangga terus terjaga karena menahan perut yang lapar. Sulit menangkap keinginan anak-anak tetangga untuk tetap bersekolah, ketika sebagian kita tengah sibuk mencari sekolah top buat anak-anak, berapa pun mahalnya. Ketidakpekaan itu akhirnya menggiring diri untuk tampil tak peduli. Kesederhanaan menjadi barang langka. Ada semangat tampil serba “wah”. Ada bahasa yang sedang menjadi trend diungkapkan, “Saya memang beda dengan kalian!”.
Ketika terjadi proses melengkapi kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, perumahan, pendidikan, dan mungkin hal-hal lain seperti alat komunikasi; ada pergeseran yang nyaris tanpa terasa. Sebuah pergerseran dari nilai fungsi kepada nilai gengsi. Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok itu tidak lagi menimbang sekadar fungsi, tapi lebih kepada gengsi. Ada sesuatu yang sedang dikejar dari proses pemenuhan itu: trend dan gengsi. Dan biasanya, nilai gengsi itulah yang jauh lebih mahal dari nilai fungsi. Bahkan, bias jadi berkali-kali lipat.
Di sisi lain, ada semacam ketergantungan dengan penampilan mode yang tentu saja datang dari negeri pedagang budaya. Mereka begitu pintar mengemas barang dagangan dalam bentuk yang sangat menarik. Halus, tanpa kesan menggurui. Kemasan bisa digencarkan melalui film, berita mode dan sebagainya. Tanpa sadar, orang sedang terhipnotis dalam cengkeraman para pedagang budaya. Repotnya, ketika pedagang budaya sebagian besar menuhankan hidup materialistis. Semua tanpa sadar menuhankan gengsi. Mungkinkah kecenderungan perilaku konsumtif seperti itu hinggap dalam diri pribadi umat Islam? Masalahnya memang bukan sekadar muslim atau bukan. Tapi sejauh mana umat Islam memahami nilai budaya Islam. Dan membumikannya dalam kenyataan hidup sehari-hari.
Mereka yang tidak paham dengan Islam biasanya memang tidak peduli dengan urusan orang lain. Walaupun itu satu keyakinan. Tidak ada ajaran yang menyentuh hati mereka untuk mau memperhatikan nasib saudaranya. Hidup bagi mereka adalah diri mereka sendiri. Tidak ada hubungannya dengan orang lain. Sementara Islam, sangat menjunjung tinggi nilai persaudaraan. Bahkan nilainya bisa sama dengan keimanan kepada Allah SWT dan hari akhir. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari Muslim)
Selain tumpulnya kepekaan dan kungkungan trend budaya orang lain, ada sebab lain yang membuat orang itu jauh dari sikap sederhana. Itulah imperiority, atau merasa rendah di hadapan orang lain. Rasa rendah diri itu memompa segala daya yang dimiliki untuk tampil melebihi orang yang dianggap lebih. Paling tidak, ada kepuasan diri jika bias tampil bisa dianggap lebih.
Penyakit seperti itu biasa hinggap di negeri-negeri jajahan. Mereka biasa hidup susah. Sementara para penjajah hidup mewah. Ketika kesempatan hidup mewah terbuka lebar, sifat rendah diri berubah menjadi jiwa eksploitasi. Apa pun yang bisa diraih, diambil sebanyak-banyaknya demi kepuasan tampil lebih. Hal itulah yang diwaspadai Khalifah Umar bin Khaththab ketika mencermati para gubernurnya. Ia khawatir, di saat kesempatan terbuka lebar, para gubernur hilang kesadaran. Umar pernah menghukum Amru bin Ash, sang gubernur Mesir kala itu yang berbuat semena-mena terhadap seorang rakyatnya yang miskin.
Seorang gubernur yang bertugas di Hamash, Abdullah bin Qathin pernah dilucuti pakaiannya oleh Umar bin Khattab. Sang Khalifah menyuruh menggantinya dengan baju gembala. Bukan itu saja, si gubernur diminta menjadi penggembala domba sebenarnya untuk beberapa saat. Hal itu dilakukan Umar karena sang gubernur membangun rumah mewah buat dirinya. “Aku tidak pernah menyuruhmu membangun rumah mewah”, ucap Umar begitu tegas.
Teladan lain pernah diperlihatkan sahabat Rasul yang bernama Mush’ab bin Umair. Pemuda kaya ini tiba-tiba berubah drastis ketika memeluk Islam. Ia yang dulu selalu tampil trendi, serba mewah, menjadi pemuda sederhana yang hampir seratus persen berbeda dengan sebelumnya. Bahkan Mush’ab rela meninggalkan segala kekayaannya demi menunaikan dakwah di Madinah.
Ada yang menarik dari seorang mantan duta besar Jerman untuk Al-Jazair. Beliau bernama Wilfred Hoffman. Setiap kali mengunjungi pesta kalangan diplomat atau pejabat negara, isterinya selalu menjadi pusat perhatian. Pasalnya, di acara-acara bergengsi seperti itu, isterinya tidak pernah mengenakan busana dan perhiasan mewah. Sebuah kenyataan di luar kelaziman buat kalangan petinggi negara seperti Jerman. Bagaimana mungkin seorang duta besar negara kaya bisa tampil ala kadarnya. Padahal, para pejabat dari negara miskin saja bisa tampil gemerlap. Ada apa? Ternyata, Hoffman dan isterinya memang sengaja seperti itu. Ia lebih memilih hidup sederhana, ketimbang tampil mewah. Justru, dengan tampilan seperti itulah, Hoffman dan isterinya lebih dianggap daripada dubes dan pejabat lain yang hadir.
Meraih segala kemampuan materi memang sulit. Tapi lebih sulit lagi mengendalikannya menjadi tampilan sederhana. Karena nafsu memang tidak pernah berhenti mengalir ke segala arah.

Mudah-mudahan dengan rahmat-Nya, kita diberi kemampuan untuk memperkaya diri dengan akhlaqul mahmudah dan nafsu muthmainnah, yang selalu rindu mengharap pahala, ridha, dan perjumpaan dengan-Nya di akhirat kelak. Amiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Seni menata hati dalam bergaul

Oleh-oleh dari Abdullah Gymnastiar

Pergaulan yang asli adalah pergaulan dari hati ke hati yang penuh keikhlasan, yang insya Allah akan terasa sangat indah dan menyenangkan. Pergaulan yang penuh rekayasa dan tipu daya demi kepentingan yang bernilai rendah tidak akan pernah langgeng dan cenderung menjadi masalah.

1. Aku Bukan Ancaman Bagimu
Kita tidak boleh menjadi seorang yang merugikan orang lain, terlebih kalau kita simak Rasulullah Saw. bersabda, "Muslim yang terbaik adalah muslim yang muslim lainnya selamat/merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya." (HR. Bukhari)

Hindari penghinaan
Apapun yang bersifat merendahkan, ejekan, penghinaan dalam bentuk apapun terhadap seseorang, baik tentang kepribadian, bentuk tubuh, dan sebagainya, jangan pernah dilakukan, karena tak ada masalah yang selesai dengan penghinaan, mencela, merendahkan, yang ada adalah perasaan sakit hati serta rasa dendam.

Hindari ikut campur urusan pribadi
Hindari pula ikut campur urusan pribadi seseorang yang tidak ada manfaatnya jika kita terlibat. Seperti yang kita maklumi setiap orang punya urusan pribadi yang sangat sensitif, yang bila terusik niscaya akan menimbulkan keberangan.

Hindari memotong pembicaraan
Sungguh dongkol bila kita sedang berbicara kemudian tiba-tiba dipotong dan disangkal, berbeda halnya bila uraian tuntas dan kemudian dikoreksi dengan cara yang arif, niscaya kita pun berkecenderungan menghargainya bahkan mungkin menerimanya. Maka latihlah diri kita untuk bersabar dalam mendengar dan mengoreksi dengan cara yang terbaik pada waktu yang tepat.

Hindari membandingkan
Jangan pernah dengan sengaja membandingkan jasa, kebaikan, penamplan, harta, kedudukan seseorang sehingga yang mendengarnya merasa dirinya tidak berharga, rendah atau merasa terhina.

Jangan membela musuhnya, mencaci kawannya
Membela musuh maka dianggap bergabung dengan musuhnya, begitu pula mencaci kawannya berarti memusuhi dirinya. Bersikaplah yang netral, sepanjang diri kita menginginkan kebaikan bagi semua pihak, dan sadar bahwa untuk berubah harus siap menjalani proses dan tahapan.

Hindari merusak kebahagiannya
Bila seseorang sedang berbahagia, janganlah melakukan tindakan yang akan merusak kebahagiaanya. Misalkan ada seseorang yang merasa beruntung mendapatkan hadiah dari luar negeri, padahal kita tau persis bahwa barang tersebut buatan dalam negeri, maka kita tak perlu menyampaikannya, biarlah dia berbahagia mendapatkan oleh-oleh tersebut.

Jangan mengungkit masa lalu
Apalagi jika yang diungkit adalah kesalahan, aib atau kekurangan yang sedang berusaha ditutupi.
Ingatlah bahwa setiap orang memiliki kesalahan yang sangat ingin disembunyikannya, termasuk diri kita, maka jangan pernah usil untuk mengungkit dan membeberkannya, hal seperti ini sama dengan mengajak bermusuhan.

Jangan mengambil haknya
Jangan pernah terpikir untuk menikmati hak orang lain, setiap gangguan terhadap hak seseorang akan menimbulkan asa tidak suka dan perlawanan yang tentu akan merusak hubungan. Sepatutnya kita harus belajar menikmati hak kita, agar bermanfaat dan menjadi bahan kebahagiaan orang lain.

Hati-hati dengan kemarahan
Bila anda marah, maka waspadalah karena kemarahan yang tak terkendali biasanya menghasilkan kata dan perilaku yang keji, yang sangat melukai, dan tentu perbuatan ini akan menghancurkan hubungan baik di lingkungan manapun. Kita harus mulai berlatih mengendalikan kemarahan sekuat tenaga dan tak usah sungkan untuk meminta maaf andai kata ucapan dirasakan berlebihan.

Jangan menertawakannya
Sebagian besar dari sikap menertawakan seseorang adalah karena kekurangannnya, baik sikap, penampilan, bentuk rupa, ucapan dan lain sebagainya, dan ingatlah bahwa tertawa yang tidak pada tempatnya serta berlebihan akan mengundang rasa sakit hati.

Hati-hati dengan penampilan, bau badan dan bau mulut
Tidak ada salahnya kita selalu mengontrol penampilan, bau badan atau mulut kita, karena penampilan atau bau badan yang tidak segar akan membuat orang lain merasa terusik kenyamanannya, dan cenderung ingin menghindari kita.

2. Aku menyenangkan bagimu
Wajah yang selalu cerah ceria
Rasulullah senantiasa berwajah ceria, beliau pernah besabda, "Janganlah terlalu membebani jiwamu dengan segala kesungguhan hati. Hiburlah dirimu dengan hal-hal yang ringan dan lucu, sebab bila hati terus dipaksakan memikul beban-beban yang berat, ia akan menjadi buta". (Sunan Abu Dawud).

Senyum tulus
Rasulullah senantiasa tersenyum manis sekali dan ini sangat menyenangkan bagi siapapun yang menatapnya. Senyum adalah sedekah, senyuman yang tulus memiliki daya sentuh yang dalam ke dalam lubuk hati siapapun, senyum adalah nikmat Allah yang besar bagi manusia yang mencintai kebaikan. Senyum tidak dimiliki oleh orang-orang yang keji, sombong, angkuh, dan orang yang busuk hati.

Kata-kata yang santun dan lembut
Pilihlah kata-kata yang paling sopan dengan dan sampaikan dengan cara yang lembut, karena sikap seperti itulah yang dilakukan Rasulullah, ketika berbincang dengan para sahabatnya, sehingga terbangun suasana yang menyenangkan. Hindari kata yang kasar, menyakitkan, merendahkan, mempermalukan, serta hindari pula nada suara yang keras dan berlebihan.

Senang menyapa dan mengucapkan salam
Upayakanlah kita selalu menjadi orang yang paling dahulu dalam menyapa dan mengucapkan salam. Jabatlah tagan kawan kita penuh dengan kehangatan dan lepaslah tangan sesudah diepaskan oleh orang lain, karena demikianlah yang dicontohkan Rasulullah.

Jangan lupa untuk menjawab salam dengan sempurna dan penuh perhatian.
Bersikap sangat sopan dan penuh penghormatan
Rosulullah jikalau berbincang dengan para sahabatnya selalu berusaha menghormati dengan cara duduk yang penuh perhatian, ikut tersenyum jika sahabatnya melucu, dan ikut merasa takjub ketika sahabatnya mengisahkan hal yang mempesona, sehingga setiap orang merasa dirinya sangat diutamakan oleh Rasulullah.

Senangkan perasaannya
Pujilah dengan tulus dan tepat terhadap sesuatu yang layak dipuji sambil kita kaitkan dengan kebesaran Allah sehingga yang dipuji pun teringat akan asal muasal nikmat yang diraihnya, nyatakan terima kasih dan do’akan. Hal ini akan membuatnya merasa bahagia. Dan ingat jangan pernah kikir untuk berterima kasih.

Penampilan yang menyenangkan
Gunakanlah pakaian yang rapi, serasi dan harum. Menggunakan pakaian yang baik bukanlah tanda kesombongan, Allah Maha Indah dan menyukai keindahan, tentu saja dalam batas yang sesuai syariat yang disukai Allah.

Maafkan kesalahannya
Jadilah pemaaf yang lapang dan tulus terhadap kekurangan dan kesalahan orang lain kepada kita, karena hal ini akan membuat bahagia dan senang siapapun yang pernah melakukan kekhilafan terhadap kita, dan tentu hal ini pun akan mengangkat citra kita dihatinya.

3. Aku Bermanfaat Bagimu
Keberuntungan kita bukanlah diukur dari apa yang kita dapatkan tapi dari nilai manfaat yang ada dari kehadiran kita, bukankah sebaik-baik di antara manusia adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi hamba-hamba Allah lainnya.

Rajin bersilaturahmi
Silaturahmi secara berkala, penuh perhatian, kasih sayang dan ketulusan walaupun hanya beberapa saat, benar-benar akan memiliki kesan yang mendalam, apalagi jikalau membawa hadiah, insya Allah akan menumbuhkan kasih sayang.

Saling berkirim hadiah
Seperti yang telah diungkap sebelumnya bahwa saling memberi dan berkirim hadiah akan menumbuhkan kasih sayang. Jangan pernah takut miskin dengan memberikan sesuatu, karena Allah yang Maha Kaya telah menjanjikan ganjaran dan jaminan tak akan miskin bagi ahli sedekah yang tulus.

Tolong dengan apapun
Bersegeralah menolong dengan segala kemampuan, harta, tenaga, waktu atau setidaknya perhatian yang tulus, walau perhatian untuk mendengar keluh kesahnya.
Apabila tidak mampu, maka do’akanlah, dan percayalah bahwa kebaikan sekecil apapun akan diperhatikan dan dibalas dengan sempurna oleh Allah.

Sumbangan ilmu dan pengalaman
Jangan pernah sungkan untuk mengajarkan ilmu dan pengalaman yang dimiliki, kita harus berupaya agar ilmu dan pengalaman yang ada pada diri kita bisa menjadi jalan bagi kesuksesan orang lain.
Insya Allah jikalau hidup kita penuh manfaat dengan tulus ikhlas maka, kebahagiaan dalam bergaul dengan siapapun akan terasa nikmat, karena tidak mengharapkan sesuatu dari orang melainkan kenikmatan kita adalah melakukan sesuatu untuk orang lain. Semata karena Allah Swt.

Ya Allah aku memohon kepadaMu Ilmu yang bermanfaat, yang mendekatkan diri kami kepadaMu dan kami berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat Ilmu yang menjauhkan kami dariMu. Allahumma Amiin.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Koreksi Terhadap Ucapan Salam

السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة

Arti ucapan salam
Ucapan salam merupakan anjuran dalam agama yang sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan umat beragama seseorang. Hikmah dari ucapan salam dapat menjalin ikatan persaudaraan dan kasih sayang antar sesama, karena orang yang mengucapkan salam berarti saling mendo’akan agar mereka mendapatkan keselamatan, rahmat dan keberkahan dari Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat. Salam adalah ucapan penghormatan dan do’a kebaikan. Apabila kita dihormati dengan suatu penghormatan maka kita harus membalasnya dengan penghormatan yang lebih baik, atau paling tidak balaslah dengan ucapan yang serupa. Sesungguhnya Allah akan memperhitungkan setiap yang kita kerjakan. Mengucapkan salam hukumnya adalah sunnah yang sangat dianjurkan, sedangkan bagi yang mendengarnya wajib untuk menjawabnya. Sebelum Islam, orang-orang Arab terbiasa menggunakan ungkapan salam yang lain seperti ”Hayakallah” (semoga Allah menjagamu tetap hidup). Namun setelah Islam datang, ucapan itu diganti menjadi ”Assalaamu ‘alaikum” (artinya semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa).

Keutamaan salam
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan saling mencintai. Maukah aku tunjukkan satu amalan bila dilakukan akan membuat kalian saling mencintai ? Yaitu, sebarkanlah salam di antara kalian” (HR Muslim dari Abi Hurairah).
Abu Umamah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Orang yang lebih dekat kepada Allah SWT adalah yang lebih dahulu memberi Salam.” (Musnad Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi).
Abdullah bin Mas’ud ra meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Salam adalah salah satu Asma Allah SWT yang telah Allah turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam. Ketika seseorang memberi salam kepada yang lain, derajatnya ditinggikan di hadapan Allah. Jika jama’ah suatu majlis tidak menjawab ucapan salamnya maka makhluk yang lebih baik dari merekalah (yakni para Malaikat) yang menjawab ucapan salam.” (Musnad Al Bazar, Al Mu’jam Al Kabir oleh At Tabrani).
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Orang kikir yang sebenar-benarnya kikir ialah orang yang kikir dalam menyebarkan salam.” Allah SWT berfirman didalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 86 : ”Demikianlah Allah SWT memerintahkan agar seseorang membalas dengan ucapan yang setara atau yang lebih baik.”
Ketentuan dalam hal mengucapkan salam sudah diatur oleh Allah dan diajarkan kepada Rasul-Nya. Dalam suatu pertemuan dengan Rasulullah SAW, seorang sahabat datang dan melewati Beliau sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum”. Rasulullah SAW lalu bersabda, “Orang ini mendapat 10 pahala kebaikan”. Tak lama kemudian datang lagi sahabat lain, ia pun mengucapkan, “Assalamu‘alaikum Warahmatullaah.” Kata Rasulullah SAW, “Orang ini mendapat 20 pahala kebaikan.” Kemudian lewat lagi seorang sahabat lain sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum warahmatullaah wa barakaatuh.” Rasulullah SAW bersabda, “Ia mendapat 30 pahala kebaikan.” (HR. Ibnu Hibban dari Abi Hurairah).
Dari ketiga contoh pengucapan (ada yang disingkat) itu silahkan pilih mana yang kita inginkan, bukan dengan menyingkatnya sendiri yang justru dapat menghilangkan nilai pahala salam. Satu hal yang perlu juga diingat adalah ketika menuliskan kata Assalamu'alaikum, perlu diperhatikan agar jangan sampai huruf ”L”-nya tertinggal sehingga menjadi Assaamu'alaikum, mengapa ? Diriwayatkan bahwa dahulu ada seorang Yahudi yang memberi salam kepada Nabi dengan ucapan, "Assaamu 'alaika ya Muhammad" (Semoga kematian ditimpakan kepadamu). Dan kata assaamu ini artinya kematian. Kata ini adalah plesetan dari "Assalaamu 'alaikum". Maka Nabi bersabda, "Kalau orang kafir mengatakan padamu ’assaamu 'alaikum’, maka jawablah dengan wa 'alaikum (Dan semoga atas kalian pula)." (HR. Bukhari).

Kekeliruan dalam ucapan salam
Banyak diantara kita yang tidak memahami makna dari pengucapan salam, sehingga sering kita jumpai (dengar) perbedaan dalam mengucapkan lafadz salam tersebut. Bahkan ada juga yang mungkin karena kesibukan, diantara kita sering menyingkat ucapan salam yang maksud sebenarnya adalah mendo’akan keselamatan, rahmat dan keberkahan tetapi justru sebaliknya mempunyai arti yang sangat tidak baik, menjadi cacian dan bahkan kata-kata yang tidak sepantasnya (jorok). Bagaimana bisa ?
Beberapa perbedaan bentuk ucapan salam yang sering kita jumpai dan ini harus segera diperbaiki diantaranya :
1. Assamualaikum
2. Assemelekum
3. Menyingkat salam dengan ; Asw/ Aslm/Ass wr wb/ Aslmwrwb/ atau Ass.
4. dan banyak lagi.

Ketentuan ucapan salam yang diajarkan Rasulullah SAW dalam Kitab Hadist Shahih Muslim mengenai adab dalam pengucapan salam diantaranya :
1. Rasulullah SAW Bersabda : Apabila Ahli Kitab mengucapkan salam kepadamu, maka jawablah : Wa`alaikum. (Shahih Muslim No.4024)
2. Hadis Riwayat Ibnu Umar ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : Sesungguhnya orang Yahudi itu bila mengucapkan salam kepada kalian mereka mengucapkan: "Assaamu `alaikum" (kematian atas kalian), maka jawablah dengan: "Wa`alaika" (semoga menipa kamu). (Shahih Muslim No.4026)
3. Hadis Riwayat Aisyah ra : Sekelompok orang Yahudi meminta izin untuk menemui Rasulullah SAW, lalu mereka mengucapkan: "Assaamu `alaikum" (kematian atas kalian). Aisyah menyahut: "Bal `alaikumus saam" (sebaliknya semoga kalianlah yang mendapatkan kematian). Rasulullah SAW menegur : Hai Aisyah, Sesungguhnya Allah menyukai keramahan dalam segala hal. Aisyah berkata : Tidakkah engkau mendengar apa yang mereka ucapkan? Rasulullah SAW bersabda : Aku telah menjawab : "Wa `alaikum" (semoga menimpa kalian). (Shahih Muslim No.4027)
Dari ketiga hadist di atas cukuplah jelas bagi kita bahwa :
1. Apabila ada orang non-muslim yang mengucapkan salam, maka dijawab dengan kata wa’alaikum saja.
2. Apabila ada non-muslim yang mengucapkan salam dengan lafaz “assaamu’alaikum” maka cukup dijawab dengan “wa’alaika”. Karena ‘assaamu’alaikum’ berarti kematian atas kalian. Dan dijawab dengan ‘wa’alaika’ yang berarti “semoga menimpa kalian”.
3. Namun apabila ada orang muslim yang mengucapkan lafaz salam seperti itu maka harus kita beritahukan bagaimana cara pengucapan salam yang benar tersebut.

Adapun singkatan salam yang terakhir (Ass..), ini singkatan yang paling umum dan sering digunakan oleh banyak orang yang tidak tahu, misalnya ketika menulis sms, email, status dan komentar di situs pertemanan (jejaring sosial), dsb. Ini adalah singkatan ucapan salam yang paling tidak enak untuk dibaca terutama bagi yang telah mengetahui artinya. Padahal kalau kita buka dalam kamus linguistik (misalnya Kamus Bahasa Inggris John M. Echols & Hassan Shadily), akan kita dapati arti dari kata ”Ass” itu sebagai berikut :
Pertama, kb.(animal) yang artinya keledai.
Kedua, orang yang bodoh. Don't be a silly (janganlah sebodoh itu), dan
Ketiga, Vulg (pantat).
Dari ketiga arti tersebut tidak satupun yang berhubungan dengan maksud mendo’akan kebaikan sebagaimana yang dikehendaki dari ucapan salam tersebut, tetapi semuanya mempunyai arti yang tidak baik bahkan tidak etis. Keledai juga sering digunakan sebagai binatang simbol yang menggambarkan orang yang dungu (bodoh). Kita maklumi, banyak diantara kita yang sangat sibuk dan ingin cepat atau buru-buru dalam menulis pesan. Karenanya dengan dalih efisiensi dan efektifitas singkatan itu bisa mempercepat pekerjaan kita. Mungkin ada benarnya, tatapi apakah dengan singkatan itu kita mau mempertaruhkan do’a kebaikan ditukar dengan ucapan kata-kata kotor, melaknat , atau mendo’akan kejelekan kepada sesama ? Ucapan salam yang dilecehkan itu sudah dilakukan oleh orang-orang Yahudi pada masa Rasulullah SAW. Dan konon, ucapan ”Ass” juga sebagai produk pelecehan kembali terhadap umat Islam yang sengaja dipopulerkan oleh orang yang tidak suka kepada Islam. Oleh karenanya, jika memang keadaan sedang tidak memungkinkan untuk menulis salam lewat SMS dengan kalimat lengkap, bukankah lebih baik cukup menulis pesan to the point saja, daripada kita harus memaksakan diri menggunakan singkatan dari do’a keselamatan dan keberkahan (Assalamu'alaikum) menjadi "Ass" yang sudah jelas tidak baik artinya ?.

Oleh : Zaenal Muttaqin Noor

Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Fitnah Dajjal

Ciri-ciri fisik dan sifat Dajjal
Diantara tanda-tanda kiamat besar adalah keluarnya Dajjal. Siapakah Dajjal itu ? Dajjal adalah laki-laki keturunan Adam. Ia seorang berkulit merah, bertubuh pendek, berambut keriting, dahinya lebar, pundaknya bidang, matanya yang sebelah kanan buta, tidak menonjol keluar dan juga tidak tenggelam seperti buah anggur yang masak. Pada mata sebelah kirinya terdapat daging yang tumbuh lebih tebal dari sudutnya, diantaranya kedua matanya terdapat tulisan huruf ka-fa-ra secara terpisah yang dapat dibaca oleh setiap mu’min baik yang buta huruf maupun yang pandai menulis, ia mandul dan tidak punya anak.

Waktu dan tempat munculnya Dajjal
Dajjal akan keluar dari arah timur ( Khurasan ) dari kampung Yahudiah Asbahan (sekarang berada di perbatasan Iran dan Rusia). Kemudian ia mengembara ke seluruh negeri, tidak ada negeri yang selamat dari genggaman fitnahnya kecuali Mekkah dan Madinah, karena keduanya selalu dijaga oleh para Malaikat, ia keluar setelah kaum muslimin berhasil menaklukkan Konstantinopel.(lihat Fathul Baari 13 : 91 )

Tanda-tanda kemunculan Dajjal
Dalam hadits yang diriwayatkan dari Tamim ad-Daari disimpulkan bahwa diantara tanda-tanda kemunculan Dajjal adalah pohon-pohon kurma di desa Nakhl Baisan (Palestina) tidak bisa berbuah lagi, keringnya air danau Thabariah di Palestina dan keringnya mata air Zughar (Syiria) yang biasa mengairi perkebunan sekitarnya. ( HR Muslim 18 : 83).

Dimanakah Dajjal saat ini
Pendapat yang shahih bahwa Dajjal sudah diciptakan, saat ini ia berada di sebuah pulau terpencil dan sedang menunggu ketentuan Allah untuk dapat keluar. Hal itu sebagaimana hadits Tamim Ad-Daari yang pernah berjumpa dengan Dajjal di sebuah pulau terpencil saat perahu yang ia naiki bersama teman-temanya karam di laut. Tamim bertemu dengan Dajjal dan Al-Jasasah, sedang Dajjal saat itu kedua tanggannya terbelenggu ke kuduknya, antara kedua lutut dan mata kakinya diikat dengan rantai besi ( HR Muslim 18 : 78-83)

Keadaan dunia sebelum keluarnya Dajjal
Rasulullah SAW bersabda : “ Sesungguhnya sebelum keluarnya Dajjal adalah tempo waktu 3 tahun yang sangat sulit, dimana pada waktu itu manusia akan ditimpa oleh kelaparan yang sangat. Allah memerintahkan kepada langit pada tahun pertama untuk menahan 1/3 dari hujannya dan kepada bumi untuk menahan 1/3 dari tanamannya. Kemudian Allah memerintahkan langit pada tahun kedua agar menahan 2/3 dari hujannya dan bumi untuk menahan 2/3 dari tanamannya. Kemudian pada tahun ke 3 darinya Allah memerintahkan kepada langit untuk menahan semua air hujan, lalu ia tidak meneteskan setitik air pun dan memerintahkan bumi agar menahan seluruh tanamannya, setelah itu tidak tumbuh satu tanaman hijau pun dan semua binatang berkuku akan mati kecuali yang dikehendaki Allah SWT. Lalu dengan apa manusia hidup pada saat itu ? Beliau SAW menjawab : “ Tahlil, takbir dan tahmid adalah sama bagi mereka dengan makanan. (HR. Ibnu Majah, shahih. Lihat Ash-Shahihain No. 2457).

Lamanya Dajjal menetap di bumi
Dajjal akan tinggal di bumi selama 40 hari. Satu hari pertama bagai 1 tahun, satu hari kedua bagai 1 bulan, satu hari ke 3 bagai satu pekan. Hari-hari berikutnya sebagaimana hari biasa. Dalam keadaan seperti ini setiap muslim tetap melaksanakan shalat sebagaimana hitungan satu tahun, satu bulan, dan satu pekan. ( HR Muslim ).

Fitnah Dajjal
Dajjal akan datang dengan membawa fitnah yang sangat dahsyat, sehingga banyak manusia yang akan tertipu oleh fitnahnya. Diantara fitnah Dajjal adalah :
1. Dajjal datang dengan membawa surga dan neraka, siapa yang masuk ke surga Dajjal sesungguhnya itu adalah neraka Allah, dan siapa yang bersabar dengan neraka Dajjal, ia akan masuk sorga yang hakiki.
2. Dajjal mampu menghidupkan orang yang telah mati sehingga banyak manusia menyangka bahwa ialah Tuhan yang sesungguhnya.
3. Penduduk negeri yang disinggahi Dajjal lalu mengingkarinya, sawah ladangnya akan hancur, hewan ternaknya akan mati kelaparan, dan negerinya menjadi gersang. Sedang yang beriman pada Dajjal akan memperoleh berbagai kesenangan hidup, makanan yang melimpah, tanaman yang subur, binatang yang memiliki banyak susu.
4. Diantara fitnahnya adalah ia akan memaksa seorang manusia, lalu membunuh dan memotongnya dengan gergaji hingga tubuhnya terbelah menjadi dua, lalu ia hidupkan kembali orang tersebut dan memaksanya agar beriman kepadanya.

Para pengikut dan pendukung Dajjal
Pendukung utama Dajjal adalah 70.000 Yahudi Asbahan yang berpakaian tanpa jahitan, juga diikuti suatu kaum bermuka gelap seperti tembaga. Orang luar Arab juga banyak yang mendukung Dajjal, juga orang Turki dan manusia dari berbagai negara yang kebanyakan dari orang Arab dusun dan kaum wanita.

Terbunuhnya Dajjal di tangan Isa Al-Masih as
Pada hari terakhir dari pengembaraannya di bumi, sampailah Dajjal di Palestina, lalu bertemu dengan pasukan Al-Mahdi yang baru kembali dari penaklukkan Konstantinopel. Saat itu Al-Mahdi telah bersama Nabi Isa as. Ketika Dajjal melihat Nabi Isa as, tubuhnya meleleh seperti melelehnya garam dalam air, lalu Nabi Isa as mengejar sampai pada sebuah tempat bernama lodd, di situlah Nabi Isa as menikam Dajjal dengan tombaknya. Kemudian tombak yang berlumuran darah itu ditunjukkan kepada kaum muslimin. 70.000 kaum Yahudi pengikut Dajjal akan dibunuh semua hingga mereka bersembunyi di pohon dan batu-batu, namun benda itu dapat berbicara dan memberi tahu keberadaan orang Yahudi yang bersembunyi di baliknya, kecuali pohon Ghorqod. ( Alfitan wal- Malahim 1:128-129).

Cara berlindung dari fitnah Dajjal
Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada setiap mu’min cara berlindung dari fitnah Dajjal diantaranya adalah :
1. Membaca 10 ayat pertama dan terakhir surat Al-Kahfi
2. Membaca do’a perlindungan dari fitnah Dajjal, khususnya pada saat sujud terakhir sebelum tasyahud
3. Memantapkan iman dengan mempelajari hakikat dan fitnah Dajjal sehingga saat kemunculan ia akan mengetahui kebohongannya
4. Menetap di kota Mekkah atau Madinah
5. Berlari dan bersembunyi jika mengetahui bahwa Dajjal mendatanginya meskipun ia seorang yang kuat imannya, karena fitnah Dajjal sangat dahsyat.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Istri Tercinta

Ada sebuah pertanyaan kecil yang sering kita dengar, adakah istri yang tidak cerewet ? Sulit sekali menemukannya. Bahkan istri seorang Khalifah sekaliber Umar bin Khattab pun sama. Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman Khalifah Umar bin Khattab. Ia bermaksud ingin mengadu dan menanyakan pada Khalifah karena tidak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah Khalifah, laki-laki itu berhenti dan tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel dan marah-marah. Cerewetnya melebihi istrinya yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tidak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut Khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan perangai istrinya pada Umar. Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, hanya berdiam diri saat istrinya mengomel ? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana ia adalah orang yang selalu tegas pada siapapun ? Umar bin Khattab berdiam diri karena ingat 5 (lima) hal .

1. Benteng Penjaga Api Neraka
Kelemahan laki-laki ada di matanya. Apabila ia tidak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan meluncur berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apa saja demi terpuasnya satu hal, yaitu syahwat. Adalah sang istri yang selalu berada di sisi suami, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan adzab yang kelak diterimanya, bahkan ia malah mendapatkan dua kenikmatan, dunia dan akhirat. Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liukan yang sama, malah mungkin lebih indah dan membawanya ke langit biru, melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang shalihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah
Pagi hingga sore sang suami lelah bekerja. Berpeluh, terkadang sampai mejelang malam mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu dan terkadang tidak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Setelah mendapatkan uang, ia beli ini dan beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga dan memeliharanya. Agar harta yang diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tidak menguap sia-sia. Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran. Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sanggup ? Berapa pula ia mau dibayar ? Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih ulet, tekun, dan telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu, maka tidak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan
Umumnya laki-laki tidak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tidak sepadan. Untunglah suami punya peñata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tidak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu.

4. Pengasuh Anak-anak
Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh dan mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tidak berhenti sampai di situ, ia juga merawat tunas itu agar tumbuh menjadi besar, kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan suami lebih dulu maju ke depan mengaku, akulah yang membuatnya begitu. Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tidak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan
Pulang kerja suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami cuma tahunya beres ada hidangan; ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi dan lalapan. Tidak terpikir olehnya harga ayam melambung, tadi pagi istrinya sempat bersusah payah menawar karena harga melebihi anggaran. Tidak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tidak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasanya pas di lidah. Yang suami tahu hanyalah ada makanan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan, menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disukai dan dibenci suami. Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tidak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah. Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tidak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tidak terpuji. Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar bin Khattab ini. Ia tidak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya.

Mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Keutamaan Al-Fatihah


Arti Al-Fatihah
Disebut sebagai surat Al-Fatihah maknanya adalah pembuka kitab secara tertulis. Dengan surat inilah dibukanya bacaan dalam shalat. Surat ini disebut juga ummul kitab (induk al-Qur’an) berdasarkan pendapat jumhur ulama.
At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dan ia menshahihkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Alhamdulillaahi Rabbil’aalamin adalah Ummul Qur’aan, Ummul Kitaab dan as-Sab’ul Matsaani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) dan al-Quraanul ‘Azhiim.”
Surat Al-Fatihah disebut juga al-Hamdu dan ash-Shalah, berdasarkan sabda Rasulullah saw, ketika meriwatkan dari Rabb-Nya, Allah Swt berfirman : “Aku membagi ash-Shalaah antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Jika seseorang hamba mengucapkan ‘Alhamdulillahi Rabbil’aalamin, maka Allah Ta’ala berfirman :”Hamba-Ku telah memuji-Ku.”
Surat Al-Fatihah disebut sebagai ash-Shalaah karena termasuk syarat sahnya shalat. Surat Al-Faatihah disebut Ar-ruqyah berdasarkan hadits Abu Sa’id ketika sedang meruqyah seorang anak laki-laki yang terkena sengatan binatang berbisa dengan surat ini, maka Rasulullah SAW bersabda : “Tidakkah engkau tahu bahwa al Fatihah itu Ruqyah.”

Mengapa dinamakan Ummul Kitaab ?
Al-Bukhari berkata di awal kitab tafsir : Disebut Ummul Kitaab karena Al-Fatihah ditulis pada permulaan Al-Qur’an dan dibaca pada permulaan shalat.
Imam Ahmad meriwatkan dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW bahwa beliau berkata tentang Ummul Qur’an : “ Dia adalah Ummul Qur’an, dia adalah as-Sab’ul Matsani dan dia adalah Al-Qur’anul ‘azhim”
Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari meriwayatkan dari abu Hurairah ra dari Rasulullah SAW beliau bersabda :
“ ia adalah Ummul Qur’an, ia adalah faatihul kitaab dan ia adalah as-Sab’ul Matsani.”

Keutamaan Al-Fatihah
Imam Ahmad bin Hanbal ra, meriwayatkan dalam Musnadnya dari Abu Sa’id bin Al- Mu’alla ra ia berkata “ aku pernah mengerjakan shalat, kemudian rasulullah memanggilku, tetapi aku tidak menjawabnya hingga aku menyelesaikan shalat. Setelah itu aku mendatangi beliau, maka beliau bertanya : apa yang menghalangi untuk datang kepadaku ? maka aku menjawab : wahai Rasulullah, sesengguhnya tadi aku sedang mengerjakan shalat. Lalu beliau bersabda : bukanlah Allah SWT berfirman : hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada apa yang memberi kehidupan kepadamu (QS.Al-Anfaal : 24)
Hadits lain diriwayatkan oleh Bukhari dalam fadhaa-ilul Qur’an dari Abu Sa’id Al-Khudri ra : kami pernah melakukan perjalanan lalu kami singgah, kemudian datanglah seorang budak wanita seraya berkata : sesungguhnya kepala suku kami tersengat, dan orang-orang kami sedang tidak ada di tempat, apakah diantara kalian ada yang bisa meruqyah? Maka berangkatlah bersamanya seorang laki-laki yang kami tidak pernah menyangka bahwa ia bisa meruqyah. Kemudian ia membacakan ruqyah dan kepala suku itu pun sembuh. Lalu kepala suku itu memerintahkan agar ia diberi tiga puluh ekor kambing dan kami diberi minum susu. Setelah kembali kami bertanya kepadanya : apakah engkau memang pandai dan biasa meruqyah ?. Maka ia menjawab : aku tidak meruqyah kecuali dengan ummul kitaab (Al-Fatihah). Kami katakan : ”jangan melakukan apapun hingga kita menemui Rasulullah dan menanyakan hal itu kepada beliau. Sesampainya di Madinah kami menceritakan hal itu kepada Nabi SAW maka beliau bersabda : ”Bagaimana ia tahu bahwa surat Al-Fatihah itu adalah ruqyah ?”. Bagi-bagilah kambing itu dan berikan satu bagian kepadaku”
(Ringkasan Shahih Tafsir Ibnu Katsir jilid 1, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor 2008).

Banyak keuntungan yang kita dapatkan dari membaca, memahami, mengamalkan dengan hati yang ikhlas surat Al-Fatihah itu secara keseluruhan..
1. Surat Al-Fatihah dapat dijadikan bacaan dalam penyembuhan penyakit gigitan serangga dan sebagainya (Ruqyah)
2. Surat Al-Fatihah dapat menjadi bacaan dalam mengobati penyakit hati, keresahan, karena tipisnya keimanan.
3. Surat Al-Fatihah mencakup Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Rububiyah.
4. Surat Al-Fatihah merupakan doa dan permohonan kepada Allah SAW agar selalu berada dalam lindungan-Nya dan dalam hidayah-Nya sehingga dapat menempuh jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT.

Demikian mudah-mudahan bermanfaat. Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Dicabutnya Keberkahan

Arti berkah :
Berkah menurut bahasa adalah sesuatu yang tumbuh dan bertambah. Berkah berarti bertambahnya kebaikan atau mendatangkan banyak kebaikan. Sedangkan tabarruk adalah do’a seorang manusia atau selainnya untuk memohon berkah dari Allah SWT. Allah menjadikan berkah atau menurunkan keberkahan hanya kepada hamba-Nya yang beriman, bertaqwa dan beramal shaleh. Firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya :
“Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…”.( QS. Al-A’raaf : 96).

Beberapa sebab dicabutnya keberkahan :

1. Tidak bertaqwa dan tidak takut kepada Allah SWT.
2. Tidak ikhlas dalam beramal.
3. Tidak menyebut nama Allah SWT dalam setiap perbuatan dan tidak melakukan dzikir serta ibadah kepada-Nya. Setiap perbuatan yang tidak diawali dengan Bismillah, maka perbuatan itu terputus untuk memperoleh kebaikan dan berkah, bahkan perbuatan tersebut akan disertai setan.
4. Memakan barang yang haram dan yang dihasilkan dari perbuatan haram.
5. Tidak berbakti kepada kedua orang tua dan menyia-nyiakan hak anak.
6. Memutus tali silaturrahim dan hubungan kekerabatan.
7. Sikap bakhil dan tidak mau berinfak. Allah SWT tidak akan memberkahi harta yang hanya disimpan oleh pemiliknya dan enggan untuk menginfakkannya, karena perbuatan tersebut adalah perbuatan bakhil yang sangat tercela dan dibenci.
Allah SWT Berfirman :
"Jika kamu menampakkan sedekah (mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang - orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan - kesalahanmu dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan". (QS. Al-Baqarah(2) : 271)
Fiman Allah SWT :
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir, Seratus biji. Allah melipat gandakan(ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui". (QS. Al-Baqarah(2) : 261)
8. Tidak bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya.
9. Tidak ridha terhadap apa yang diberikan Allah dan tidak pernah merasa puas (tidak qana’ah).
10. Melakukan perbuatan maksiat dan dosa, serta enggan bertaubat dan beristighfar.
11. Tidak mendidik anak dengan ajaran agama. Anak kita adalah tumpuan hati kita, pengharum jantung kita, pewangi aroma dunia dan buah kehidupan kita. Siapa saja yang berlaku buruk terhadap anak maka ia telah merugi dan telah melakukan sesuatu yang tidak sepantasnya. Anak kita adalah madu dalam kehidupan kita.
12. Berbuat kerusakan dan keburukan dimuka bumi.
13. Tidak bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya.
14. Pertengkaran dan perselisihan antara suami dan istri.
15. Mendoakan kecelakaan bagi diri sendiri, anak-anak dan harta benda.
Tidak ada kebaikan dan keberkahan pada dirimu, anak-anakmu atau harta bendamu jika engkau mendoakannya dengan kecelakaan, karena terkadang Allah mengabulkan do’amu pada saat itu, maka terjadilah musibah dan engkau menyesal ketika penyesalan tak berguna lagi.

Mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Dosa Meninggalkan Shalat

Pendahuluan
Para pembaca yang semoga selalu dirahmati oleh Allah Ta’ala. Kita semua pasti tahu bahwa shalat adalah perkara yang amat penting. Bahkan shalat termasuk salah satu rukun Islam yang utama yang bisa membuat bangunan Islam tegak. Namun, realita yang ada di tengah umat ini sungguh sangat berbeda. Kalau kita melirik sekeliling kita, ada saja orang yang dalam KTP-nya mengaku Islam, namun biasa meninggalkan rukun Islam yang satu ini. Mungkin di antara mereka, ada yang hanya melaksanakan shalat sekali sehari, itu pun kalau ingat. Mungkin ada pula yang hanya melaksanakan shalat sekali dalam seminggu yaitu shalat Jum’at. Yang lebih parah lagi, tidak sedikit yang hanya ingat dan melaksanakan shalat dalam setahun dua kali yaitu ketika Idul Fithri dan Idul Adha saja.
Memang sungguh prihatin dengan kondisi umat saat ini. Banyak yang mengaku Islam di KTP, namun kelakuannya semacam ini. Oleh karena itu, pada tulisan yang singkat ini kami akan mengangkat pembahasan mengenai hukum meninggalkan shalat. Semoga Allah memudahkannya dan memberi taufik kepada setiap orang yang membaca tulisan ini.
Para ulama sepakat bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar yang lebih besar dari dosa besar lainnya
Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah, hal. 7)
Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir, Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.” (Al Kaba’ir, hal. 25)
Adz Dzahabi rahimahullah juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan shalat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan shalat secara keseluruhan -yaitu satu shalat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Karena meninggalkan shalat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh karena itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).” (Al Kaba’ir, hal. 26-27)

Apakah orang yang meninggalkan shalat, kafir alias bukan muslim?
Dalam point sebelumnya telah dijelaskan, para ulama bersepakat bahwa meninggalkan shalat termasuk dosa besar bahkan lebih besar dari dosa berzina dan mencuri. Mereka tidak berselisih pendapat dalam masalah ini. Namun, yang menjadi masalah selanjutnya, apakah orang yang meninggalkan shalat masih muslim ataukah telah kafir?
Asy Syaukani rahimahullah mengatakan bahwa tidak ada beda pendapat di antara kaum muslimin tentang kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya. Namun apabila meninggalkan shalat karena malas dan tetap meyakini shalat lima waktu itu wajib -sebagaimana kondisi sebagian besar kaum muslimin saat ini-, maka dalam hal ini ada perbedaan pendapat (Lihat Nailul Author, 1/369).
Mengenai meninggalkan shalat karena malas-malasan dan tetap meyakini shalat itu wajib, ada tiga pendapat di antara para ulama mengenai hal ini.
Pendapat pertama, mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat harus dibunuh karena dianggap telah murtad (keluar dari Islam). Pendapat ini adalah pendapat Imam Ahmad, Sa’id bin Jubair, ‘Amir Asy Sya’bi, Ibrohim An Nakho’i, Abu ‘Amr, Al Auza’i, Ayyub As Sakhtiyani, ‘Abdullah bin Al Mubarrok, Ishaq bin Rohuwyah, ‘Abdul Malik bin Habib (ulama Malikiyyah), pendapat sebagian ulama Syafi’iyah, pendapat Imam Syafi’i (sebagaimana dikatakan oleh Ath Thohawiy), pendapat Umar bin Al Khothob (sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hazm), Mu’adz bin Jabal, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Hurairah, dan sahabat lainnya.
Pendapat kedua, mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat dibunuh dengan hukuman had, namun tidak dihukumi kafir. Inilah pendapat Malik, Syafi’i, dan salah salah satu pendapat Imam Ahmad.
Pendapat ketiga, mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat karena malas-malasan adalah fasiq (telah berbuat dosa besar) dan dia harus dipenjara sampai dia mau menunaikan shalat. Inilah pendapat Hanafiyyah. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 22/186-187)
Jadi, intinya ada perbedaan pendapat dalam masalah ini di antara para ulama termasuk pula ulama madzhab. Bagaimana hukum meninggalkan shalat menurut Al Qur’an dan As Sunnah? Silakan simak pembahasan selanjutnya.

Pembicaraan orang yang meninggalkan shalat dalam Al Qur’an
Allah Ta’ala berfirman yang artinya :
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui al ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam: 59-60)
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam. (Ash Sholah, hal. 31)
Dalam ayat ini, Allah menjadikan tempat ini –yaitu sungai di Jahannam- sebagai tempat bagi orang yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti syahwat (hawa nafsu). Seandainya orang yang meninggalkan shalat adalah orang yang hanya bermaksiat biasa, tentu dia akan berada di neraka paling atas, sebagaimana tempat orang muslim yang berdosa. Tempat ini (ghoyya) yang merupakan bagian neraka paling bawah, bukanlah tempat orang muslim, namun tempat orang-orang kafir.
Pada ayat selanjutnya juga, Allah telah mengatakan :

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا

“...kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.”
Maka seandainya orang yang menyiakan shalat adalah mukmin, tentu dia tidak dimintai taubat untuk beriman.
Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ

“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (QS. At Taubah [9] : 11). Dalam ayat ini Allah Ta’ala mengaitkan persaudaraan seiman dengan mengerjakan shalat. Berarti jika shalat tidak dikerjakan, bukanlah saudara seiman. Konsekuensinya orang yang meninggalkan shalat bukanlah mukmin karena orang mukmin itu bersaudara sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al Hujurat [49]: 10)

Pembicaraan orang yang meninggalkan shalat dalam Hadits
Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257)

Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu -bekas budak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ

“Pemisah Antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.” (HR. Ath Thobariy dengan sanad shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targib wa At Tarhib no. 566).
Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2825. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi). Dalam hadits ini, dikatakan bahwa shalat dalam agama Islam ini adalah seperti penopang (tiang) yang menegakkan kemah. Kemah tersebut bisa roboh (ambruk) dengan patahnya tiangnya. Begitu juga dengan islam, bisa ambruk dengan hilangnya shalat.
Para sahabat ber-ijma’ (bersepakat) bahwa meninggalkan shalat adalah kafir. Umar mengatakan :

لاَ إِسْلاَمَ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ

“Tidaklah disebut muslim bagi orang yang meninggalkan shalat.”
Dari jalan yang lain, Umar berkata :

ولاَحَظَّ فِي الاِسْلاَمِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ

“Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” (Dikeluarkan oleh Malik. Begitu juga diriwayatkan oleh Sa’ad di Ath Thobaqot, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Iman. Diriwayatkan pula oleh Ad Daruquthniy dalam kitab Sunan-nya, juga Ibnu ‘Asakir. Hadits ini shohih, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 209). Saat Umar mengatakan perkataan di atas tatkala menjelang sakratul maut, tidak ada satu orang sahabat pun yang mengingkarinya. Oleh karena itu, hukum bahwa meninggalkan shalat adalah kafir termasuk ijma’ (kesepakatan) sahabat sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim dalam kitab Ash Sholah.
Mayoritas sahabat Nabi menganggap bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir sebagaimana dikatakan oleh seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq. Beliau mengatakan :

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ

“Dulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.” Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy seorang tabi’in dan Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. (Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52)
Dari pembahasan terakhir ini terlihat bahwasanya Al Qur’an, hadits dan perkataan sahabat bahkan ini adalah ijma’ (kesepakatan) mereka menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir (keluar dari Islam). Itulah pendapat yang terkuat dari pendapat para ulama yang ada.
Ibnul Qayyim mengatakan, “Tidakkah seseorang itu malu dengan mengingkari pendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, padahal hal ini telah dipersaksikan oleh Al Kitab (Al Qur’an), As Sunnah dan kesepakatan sahabat. Wallahul Muwaffiq (Hanya Allah-lah yang dapat memberi taufik).” (Ash Sholah, hal. 56)
Berbagai kasus orang yang meninggalkan shalat
[Kasus Pertama] Kasus ini adalah meninggalkan shalat dengan mengingkari kewajibannya sebagaimana mungkin perkataan sebagian orang, “Sholat oleh, ora sholat oleh.” [Kalau mau shalat boleh-boleh saja, tidak shalat juga tidak apa-apa]. Jika hal ini dilakukan dalam rangka mengingkari hukum wajibnya shalat, orang semacam ini dihukumi kafir tanpa ada perselisihan di antara para ulama.
[Kasus Kedua] Kasus kali ini adalah meninggalkan shalat dengan menganggap gampang dan tidak pernah melaksanakannya. Bahkan ketika diajak untuk melaksanakannya, malah enggan. Maka orang semacam ini berlaku hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan kafirnya orang yang meninggalkan shalat. Inilah pendapat Imam Ahmad, Ishaq, mayoritas ulama salaf dari shahabat dan tabi’in.
[Kasus Ketiga] Kasus ini yang sering dilakukan kaum muslimin yaitu tidak rutin dalam melaksanakan shalat yaitu kadang shalat dan kadang tidak. Maka dia masih dihukumi muslim secara zhohir (yang nampak pada dirinya) dan tidak kafir. Inilah pendapat Ishaq bin Rohuwyah yaitu hendaklah bersikap lemah lembut terhadap orang semacam ini hingga dia kembali ke jalan yang benar. Wal ‘ibroh bilkhotimah [Hukuman baginya dilihat dari keadaan akhir hidupnya].
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Jika seorang hamba melakukan sebagian perintah dan meninggalkan sebagian, maka baginya keimanan sesuai dengan perintah yang dilakukannya. Iman itu bertambah dan berkurang. Dan bisa jadi pada seorang hamba ada iman dan nifak sekaligus. Sesungguhnya sebagian besar manusia bahkan mayoritasnya di banyak negeri, tidaklah selalu menjaga shalat lima waktu. Dan mereka tidak meninggalkan secara total. Mereka terkadang shalat dan terkadang meninggalkannya. Orang-orang semacam ini ada pada diri mereka iman dan nifak sekaligus. Berlaku bagi mereka hukum Islam secara zhohir seperti pada masalah warisan dan semacamnya. Hukum ini (warisan) bisa berlaku bagi orang munafik tulen. Maka lebih pantas lagi berlaku bagi orang yang kadang shalat dan kadang tidak.” (Majmu’ Al Fatawa, 7/617)
[Kasus Keempat] Kasus ini adalah bagi orang yang meninggalkan shalat dan tidak mengetahui bahwa meninggalkan shalat membuat orang kafir. Maka hukum bagi orang semacam ini adalah sebagaimana orang jahil (bodoh). Orang ini tidaklah dikafirkan disebabkan adanya kejahilan pada dirinya yang dinilai sebagai faktor penghalang untuk mendapatkan hukuman.
[Kasus Kelima] Kasus ini adalah untuk orang yang mengerjakan shalat hingga keluar waktunya. Dia selalu rutin dalam melaksanakannya, namun sering mengerjakan di luar waktunya. Maka orang semacam ini tidaklah kafir, namun dia berdosa dan perbuatan ini sangat tercela sebagaimana Allah berfirman :
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Maa’un [107] : 4-5) (Lihat Al Manhajus Salafi ‘inda Syaikh Nashiruddin Al Albani, 189-190)

Penutup
Sudah sepatutnya kita menjaga shalat lima waktu. Barangsiapa yang selalu menjaganya, berarti telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang sering menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi.
Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agama. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.”
Imam Ahmad –rahimahullah- juga mengatakan perkataan yang serupa, “Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu.” (Lihat Ash Sholah, hal. 12)
Oleh karena itu, seseorang bukanlah hanya meyakini (membenarkan) bahwa shalat lima waktu itu wajib. Namun haruslah disertai dengan melaksanakannya (inqiyad). Karena iman bukanlah hanya dengan tashdiq (membenarkan), namun harus pula disertai dengan inqiyad (melaksanakannya dengan anggota badan).
Ibnul Qoyyim mengatakan, “Iman adalah dengan membenarkan (tashdiq). Namun bukan hanya sekedar membenarkan (meyakini) saja, tanpa melaksanakannya (inqiyad). Kalau iman hanyalah membenarkan (tashdiq) saja, tentu iblis, Fir’aun dan kaumnya, kaum sholeh, dan orang Yahudi yang membenarkan bahwa Muhammad adalah utusan Allah (mereka meyakini hal ini sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka), tentu mereka semua akan disebut orang yang beriman (mu’min-mushoddiq).”
Al Hasan mengatakan, “Iman bukanlah hanya dengan angan-angan (tanpa ada amalan). Namun iman adalah sesuatu yang menancap dalam hati dan dibenarkan dengan amal perbuatan.” (Lihat Ash Sholah, 35-36)
Semoga tulisan yang singkat ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga kita dapat mengingatkan kerabat, saudara dan sahabat kita mengenai bahaya meninggalkan shalat lima waktu. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Ya Allah aku memohon kepada-Mu Ilmu yang bermanfaat, yang mendekatkan diri kami kepadaMu dan kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat Ilmu yang menjauhkan kami dari-Mu. Allahumma Amiin.

Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal
Dimuroja’ah oleh: Ustadz Aris Munandar

Mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

70 Dosa-dosa Besar

70 DOSA-DOSA BESAR
MENURUT AL-QUR’AN DAN AS- SUNNAH

Tidak ada pelanggaran dan dosa yang dilakukan oleh manusia sepanjang sejarah yang lebih parah dari zaman sekarang ini. Bahkan dosa-dosa besar seperti sudah menjadi aktivitas dan kebiasaan rutin kebanyakan manusia seharí-hari. Diantara mereka ada yang berbuat dosa karena tidak mengerti hukum dan akibatnya, ada pula yang karena lalai di luar kesadarannya, namun ada juga yang telah mengerti namun meremehkannya. Padahal sudah jelas-jelas dimengerti bahwa semua dosa besar merupakan penyebab siksa dan ancaman, terutama di akhirat kelak yang tak seorang pun mengetahui kedahsyatannya kecuali Allah SWT. Dosa-dosa besar tersebut antara lain:

1. Syirik ( mempersekutukan Allah)
2. Membunuh
3. Sihir
4. Meninggalkan sholat
5. Tidak membayar zakat
6. Berbuka di siang hari pada Bulan Ramadhan tanpa udzur
7. Meningglakan Haji padahal mampu
8. Durhaka kepada kedua orang tua
9. Memutuskan hubungan kerabat
10. Zina
11. Liwath (homoseksual)
12. Riba
13. Memakan harta anak yatim dan mendzaliminya
14. Berbuat dusta terhadap Allah dan Rasulullah
15. Melarikan diri dari medan perang
16. Pemimpin yang menipu dan menganiaya rakyat
17. Sombong dan yang sejenisnya
18. Kesaksian palsu
19. Meminum minuman keras (khamr)
20. Berjudi
21. Menuduh wanita mu’minah berbuat zina
22. Ghulul terhadap harta Ghanimah, Baitul Mal, dan Zakat
23. Mencuri
24. Menyamun
25. Sumpah palsu
26. Berbuat aniaya
27. Memungut cukai
28. Memakan barang haram
29. Bunuh diri
30. Banyak berdusta
31. Hakim yang jahat
32. Menerima suap
33. Perempuan menyerupai laki-laki dan sebaliknya
34. Lelaki yang membiarkan istrinya berbuat serong ( Dayyuts)
35. Muhallil dan Muhallil Lahu
36. Tidak menjaga diri dengan seksama terhadap air seni
37. Riya
38. Menuntut ilmu untuk dunia dan menyembunyikan ilmu
39. Khianat
40. Mengungkit-ungkit pemberian
41. Mendustakan takdir
42. Menguping rahasia orang lain
43. Namimah (mengadu domba)
44. Banyak melaknat
45. Menipu dan mengingkari janji
46. Membenarkan dukun dan tukang ramal
47. Durhaka kepada suami
48. Menggambar dan melukis
49. Memukul wajah, menjerit-jerit, merobek-robek baju, menggunduli kepala, dan bersumpah serapah ketika mengalami musibah
50. Bertindak melampaui batas
51. Bertindak semena-mena terhadap orang yang lemah, budak, istri, dan binatang
52. Menyakiti tetangga
53. Menyakiti orang-orang Islam dan mencela mereka
54. Menyakiti hamba Allah dan bertindak dzalim terhadap mereka
55. Isbal (menjulurkan kain dibawah mata kaki dengan sombong)
56. Memakai kain sutera dan emas bagi kaum lelaki
57. Budak yang melarikan diri dari tuannya
58. Menyembelih karena selain Allah
59. Menasabkan kepada selain bapaknya sendiri
60. Berdebat dan bersengketa
61. Menahan kelebihan air dari orang yang memerlukannya
62. Mengurangi timbangan dan takaran
63. Merasa aman dari Makar Allah
64. Berputus asa dari Rahmat Allah
65. Meninggalkan sholat jama’ah lalu mengerjakan sendirian tanpa udzur
66. Terus menerus meninggalkan sholat jum’at dan sholat jama’ah tanpa halangan
67. Mendatangkan kerugian dalam wasiat
68. Makar dan tipu daya
69. Memata-matai orang Islam dan membeberkan rahasia mereka
70. Mencela salah seorang sahabat Nabi.

Wahai kaum Muslimin dan Muslimat sampaikanlah berita ini kepada saudara-saudara kita agar senantiasa waspada dan berhati-hati, tidak terjerumus dalam murka Allah dan adzab-Nya yang mengerikan.

Diambil dari Buku Dosa-Dosa Besar (Al-Kabair) oleh Imam Adz-Dzahab.

Mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

12 Menteri Iblis

Nama-nama Menteri Iblis :
Mereka (Iblis) terdiri dari 12 menteri. Di bawah kekuasaan masing-masing menteri terdapat 100.000 panglima. Kemudian di bawah kekuasaan masing-masing panglima ada 100.000 prajurit. Setiap prajurit memiliki berbagai perilaku jahat. Sebagaimana (halnya) akal merupakan raja ma’rifat, maka hawa nafsu merupakan raja iblis. Nama para menterinya yang berjumlah dua belas itu adalah sebagai berikut :
Pertama, Kirâm ibnu Karîm. Ia pemilik akhlak terpuji dalam mencegah keburukan serta dalam memerintahkan dan melakukan kebaikan.
Kedua, Hâmah ibnu Iblis. Ia penguasa dosa-dosa besar.
Ketiga, Syaithân ibn Sauqân. Ia adalah penguasa pasar yang memerintahkan pengurangan takaran.
Keempat, Al-Zuwaygh ibn Dâmigh. Ia selalu berusaha mengadu domba dan menyebarkan fitnah.
Kelima, Ummu Rawbin. Ia menjadi provokator peperangan antar manusia dan yang selalu memerintahkan pembunuhan.
Keenam, Syaythath ibn Luwayth. Ia selalu menyerukan permusuhan dan perbuatan keji. Ketujuh, Syawqath ibn Wahab. Ia yang mencampur baurkan antar manusia serta menanggalkan nasihat dan sikap istiqamah.
Kesebelas, Qâbizh ibn Qawthil. Ia yang memerintahkan segala kejahatan, cacian, dan kebencian.
Kedua belas, Azârîn Hasûb. Ia penguasa tempat-tempat hiburan dan tempat minum-minuman keras (khamr). Ia berdiam di sana seraya memerintahkan kejahatan. Ia memiliki pasukan telanjang dan pekerja lain yang menggoda dan melenakan manusia lewat musik dan hiburan.

Dari menteri iblis yang kedua belas inilah berbagai macam jenis hiburan bermula. Ada nama pekerja, pemusik, dan pemilik tempat hiburan di antara iblis ini. Mereka adalah makhluk terlaknat yang paling utama. Salah satu di antara mereka adalah Abû Samlaqah. Abû Samlaqah inilah yang pertama kali memeras air hujan, lalu membuat ragi, meminumnya, dan bernyanyi. Ia pula yang pertama kali berkeringat. Dengan kedua telapak tangannya, ia memetik anggur, memerah air anggur, dan meminum dari air perasan anggur itu. Kemudian ia meletakkannya di bawah anggur, menutupi kepalanya dengan sebuah daun, dan beberapa hari kemudian ia kembali. Saat kembali, minuman tersebut tampak mengeluarkan busa. Ia meminumkan kepada saudaranya Shihâb hingga mabuk. Lalu ia bernyanyi. Oleh karena itulah, saudaranya disebut ‘Azâf alias Hafâf (nama sebelumnya adalah Masqash).

Wamzah ibn al-Harts, pemain Barbath yang pertama kali.
Suatu saat Wamzah mendatangi Hafâf. Lalu Hafâf memberinya minum dari minumannya. Seketika itu, ia terbang dan jatuh pada sebuah pulau di lautan. Ia menetap di dalamnya selama setahun dan berpikir tentang sesuatu yang bisa dilakukannya.
Tiba-tiba pada suatu hari, ia mendengar suara sendu dan indah. Ia mendengar suaranya dan tertarik padanya. Ia pun segera meraut sebatang kayu yang diikat dengan benang dari kulit pohon. Kemudian ia membentuknya menjadi seperti sebuah kecapi. Setelah itu, ia mengambil senar dari ekor kuda.


Lûqas ibn Lâqis, pemain seruling pertama.
Suatu hari ia melewati Hafâf yang sedang memainkan musik. Ia mendengar suara yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Ia pun mendekat dan meminum minuman yang tidak pernah ia minum sebelumnya. Akibatnya, ia melayang hingga menuju negeri Babil. Ia berdiam di sana selama setahun seraya berpikir untuk membuat sesuatu. Kemudian pada suatu malam ia mendengar suara lalat. Ia lalu mengambil sebatang bambu dan melubanginya. Setelah itu, ia meniupnya.
Abu Laysam, pemain gendang pertama.
Ia adalah yang pertama kali membuat gendang. Alkisah, pada suatu hari ia menghamparkan ekornya ke wadah kaca milik Hafâf. Lalu Hafâf memukul wadah tersebut dengan tangannya. Ternyata wadah tadi berbunyi. Mendengar itu, ia pun segera mengganti ekor tersebut dengan kulit.

Iblis yang menghuni tempat-tempat tertentu :
Iblis yang bernama Al-Qashqâm ibn al-Qast menghuni tempat sampah. Ia memercikkan air kencing ke pakaian. Setan bernama Dafûf ibn al-Qârib menghuni dapur. Ia menyibukkan para wanita untuk membuat marah majikan dan suami, serta menghuni periuk dengan menggaraminya. Lalu Al-Riyâdh ibn al-Damdân yang mengurusi harta dan simpanan. Al-Râqtib Syû menghuni kamar kecil. Al-Dahhâk ibn al-Maqthâb menghuni gang dan jalan dengan mengantar orang-orang yang mabuk menuju rumah mereka. Al-‘Ashûf ibn al-Jadd menghuni tempat-tempat hiburan dan musik. Iblis Arabad dan Jasûr ibn al-Luth mencampur baurkan antara laki-laki dan wanita. Al-Buhaits ibn al-Maqham menghuni pasar-pasar, serta Al-Duwaif ibn al-Qalqal yang menghuni kedai-kedai minuman keras.

(Hadist Riwayat : Al-Hakim, At-Tirmidzi }

Mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaanaka Allaahumma wabihamdika asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka waatuubu ilaika.

Tasamuh


Pengertian Tasamuh

Tasamuh (toleransi) adalah rasa tenggang rasa atau sikap menghargai dan menghormati terhadap sesama, baik terhadap sesama muslim maupun dengan non muslim. Sikap tasamuh juga berarti sikap toleran yaitu tidak mementingkan diri sendiri dan juga tidak memaksakan kehendak. Dalam falsafah Jawa sikap tasamuh ini sering disebut dengan tepo seliro, artinya mengukur segala sesuatu dengan introspeksi pada diri sendiri. Kalau aku senang orang lain pun senang, kalau aku tidak suka orang lain juga tidak suka. Orang yang tasamuh senantiasa berusaha membina persaudaraan dan menghindari konflik dengan orang lain. Ia memiliki prinsip hidup dan falsafah, ”Teman seribu terasa kurang, musuh satu terlalu banyak”. Juga istilah dalam falsafah Jawa, “Yen kowe dijiwit krasa lara, aja njiwit wong liya”.

Islam mengajarkan bahwa sesama muslim harus bersatu serta tidak boleh bercerai-berai, bertengkar, dan bermusuhan. Karena sesama muslim adalah saudara. Terhadap pemeluk agama lain, kita diperintahkan agar bersikap tasamuh. Sikap tasamuh terhadap non muslim itu hanya terbatas pada urusan yang bersifat duniawi, tidak menyangkut masalah akidah, syari’ah dan ubudiyah. Firman Allah SWT :

1). Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, 2). Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. 3). Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. 4). Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, 5). Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. 6). Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." ( QS. Al-Kaafirun : 1-6 )

Ciri-ciri dan contoh sikap tasamuh

Orang yang berjiwa tasamuh itu memiliki ciri-ciri diantaranya tidak sombong, tidak egois, tidak memaksakan kehendak, tidak pernah meremehkan orang lain, mau menghormati (sikap, pendapat, dan saran) orang lain, mau berbagi ilmu dan pengalaman, saling pengertian, berjiwa besar, terbuka menerima saran dan kritik, senang menerima nasehat orang lain, dan sebagainya.

Contoh sikap tasamuh di tengah kehidupan bermasyarakat misalnya seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ketika membangun masyarakat Madinah yang pada waktu itu di Madinah terdapat tiga golongan pemeluk agama, yaitu Islam, Yahudi, dan Nasrani. Mereka saling bekerja sama dan bergotong royong dalam membangun Kota Madinah, tetapi hanya dalam hal-hal yang bersifat urusan duniawi, tidak menyangkut urusan agama. Contoh sikap tasamuh antar umat beragama (umat Islam dengan non muslim) adalah dengan cara tidak ikut campur dalam masalah peribadatan masing-masing pemeluk agama. Cukup dengan cara menghormati dan menghargai perbedaan keyakinan beragama masing-masing dan tidak saling mengganggu. Tasamuh antar sesama umat Islam ( antar interen umat beragama) misalnya dengan cara menghormati perbedaan kelompok, madzhab, jama’ah, organisasi keagamaan, dan perbedaan furu’iyah lainnya.

Manfaat dan hikmah sikap tasamuh

a. Menjalin ukhuwah, persatuan, dan kesatuan dalam bermasyarakat

b. Menciptakan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat

c. Terwujudnya kerukunan dan terhindar dari perpecahan

d. Terwujudnya ketenangan dan terhindar dari ketegangan dan konflik

e. Menghilangkan hasud, fitnah, kebencian, dendam dan permusuhan

f. Menciptakan rasa aman, tenang, tenteram, dan damai di masyarakat

g. Menimbulkan sikap saling menghormati antar sesama.


Oleh : Zaenal Muttaqin Noor

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaana-Ka Allaahumma wabihamdi-Ka asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta astaghfiru-Ka waatuubu ilai-Ka.

Qana'ah

Pengertian Qana’ah

Qana’ah ialah sikap rela menerima dan merasa cukup dengan apa saja (harta) yang telah diberikan oleh Allah disertai dengan perasaan ikhlas dan tidak merasa kekurangan. Sifat qana’ah termasuk salah satu dari akhlaqul mahmudah (perilaku yang terpuji). Nabi Muhammad SAW bersabda :

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ اَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا اٰتَاهُ ( رواه مسلم)

Artinya :

Sungguh beruntung orang yang berserah diri (Islam) , mendapat rizki secukupnya, dan ia merasa cukup dengan apa yang telah Allah berikan kepadanya. (HR. Muslim)

Orang yang mempunyai sifat qana’ah berpendirian bahwa segala sesuatu yang ada pada dirinya dan segala sesuatu yang diperoleh atas usahanya merupakan ketentuan dan pemberian dari Allah SWT. Orang yang berjiwa qana’ah dalam menyikapi sesuatu yang berhubungan dengan masalah harta senantiasa melihat kepada orang yang berada di bawahnya. Apa yang diterima dari Allah merupakan nikmat dan karunia yang tiada terhingga, sehingga ia terima dengan penuh bersyukur karena Allah SWT telah menjamin rizki hamba-hamba-Nya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an :

Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).(QS. Huud : 6)

Adapun sebaliknya, orang yang tidak memiliki sifat qana'ah disebut orang yang tamak (sifat merasa kurang atau tidak pernah merasa cukup). Orang yang tamak tidak pernah merasa puas dengan harta yang dimilikinya, bahkan semakin banyak harta yang diperoleh semakin merasa kurang. Sifat ini diibaratkan seperti orang yang meminum air laut, semakin banyak minum maka semakin bertambah rasa haus. Walaupun seseorang hidupnya bergelimang harta, tetap saja merasa kurang sehingga demi menumpuk kekayaan tidak sedikit orang yang menghalalkan segala cara demi untuk memenuhi ambisi keserakahannya. Orang seperti ini selamanya tidak akan pernah merasa puas (merasa cukup) dengan harta benda yang ada, sebelum perutnya dipenuhi oleh tanah atau mati. Contoh dalam hal ini seperti Qarun yang akhirnya ditenggelamkan oleh Allah beserta seluruh hartanya ke dalam perut bumi. Kekayaan menurut Islam, bukanlah kaya secara materi melainkan kaya jiwa atau merasa cukup (kaya hatinya). Sabda Nabi Muhammad SAW :

لَيْسَ اْلغِنٰى عَنْ كَثْرَةِ اْلعَرَضِ وَلٰكِنَّ اْلغِنٰى غِنَى النَّفْسِ (رواه البخاري ومسلم)

Artinya :

Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa. (HR. Bukhari dan Muslim).

Cara agar memiliki sifat Qana’ah

Agar kita dapat memiliki sifat qana’ah dan terhindar dari sifat sebaliknya, maka ada beberapa hal yang harus kita lakukan diantaranya :

  1. Beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT
  2. Selalu mensyukuri nikmat dari Allah SWT
  3. Selalu bersikap sabar terhadap ujian dari Allah
  4. Meyakini bahwa rizki setiap makhluk sudah diatur oleh Allah
  5. Menyadari bahwa harta adalah amanah Allah yang akan ditanya dari mana didapat dan kemana dibelanjakan
  6. Selalu berbaik sangka kepada Allah SWT
  7. Berusaha untuk membersihkan hati dari sifat-sifat tercela seperti hasad dan iri dengki
  8. Dalam urusan dunia selalu melihat kepada orang yang berada di bawahnya
  9. Percaya kepada Qadha dan Qadar Allah
  10. Selalu bertawakkal kepada Allah setelah berusaha.

Manfaat sifat Qana’ah

  1. Hati merasa tenang dan tenteram
  2. Merasa berkecukupan sehingga selalu bersyukur kepada Allah
  3. Memiliki sifat lapang dada dan tidak pernah putus asa
  4. Terhindar dari sifat tamak (serakah)
  5. Terhindar dari sifat bakhil (kikir)
  6. Menjadi orang yang dermawan dan suka menolong
  7. Dalam bekerja selalu mencari rizki yang halal
  8. Diri dan hartanya diberkahi oleh Allah SWT.
  9. Hidupnya diridoi oleh Allah, dan disukai oleh manusia

Oleh : Zaenal Muttaqin Noor

Demikian mudah-mudahan bermanfaat, Amiin.
Subhaana-Ka Allaahumma wabihamdi-Ka asyhadu an-laa ilaaha illaa Anta astaghfiru-Ka waatuubu ilai-Ka.
Powered by Blogger